Ana

Ana
11



Langkah kaki tegap itu, masuk kedalam ruang bawah tanah yang ada di markas mereka. Stella dan juga Arthur sudah menunggu. Kedua orang yang setiap hari bertengkar itu, menunduk tak kala Max berjalan mendekat pada mereka, diikuti oleh David di belakang. Kalau Thomas, dia tidak bisa ikut karena harus menjaga Mattea, Matteo dan juga Ana tentunya.


Stef harus menenangkan Aira yang terus saja menangis melihat kondisi putrinya, ditambah juga, Thomas harus menjaga Kevano karena Aira yang terlalu syok, membuatnya sedikit melupakan putranya itu.


“Dimana dia?” tanya Max langsung. Arthur maupun Stella menelan ludah gugup.


“Ada di pojok, silahkan Bos,” Arthur membuka kunci pintu besi yang mengurung Kelvan. Max dengan tangan yang mengepal masuk kedalam bersama dengan David. Kedua mata laki-laki itu seperti dapat menguliti lawannya.


“Bangun kau bocah!” wajah penuh lebam itu sedikit terangkat saat sang pemilik tubuh membuka mata.


Mata yang kosong dan hampa itu, menatap Max dan David tanpa minat. Tubuh Kelvan sudah penuh dengan luka, karena saat di tangkap dia memberontak. Max mendekat pada Kelvan, tapi laki-laki muda itu hanya diam. Semangat hidupnya telah hilang, bersama dengan perlakuannya yang membuat Ana terbaring di ranjang rumah sakit.


Ya, begitulah. Penyesalan akan selalu datang di akhir. Karena dendam yang sudah tertanam didada dari lama, membuatnya melupakan kalau ada hati yang akan tersakiti, dan itu adalah hatinya sendiri.


“Kau mau apa? Membunuhku? Silahkan, lakukan sekarang!” mata kosong itu benar-benar tidak ada semangat hidup sedikitpun. Max sedikit terkejut melihat kondisi laki-laki itu, harusnya dia senang karena sudah berhasil menyakiti putranya dan juga gadis yang sudah dia anggap seperti anak sendiri itu.


“Apa sekarang kau sudah puas? Bisa mencelakai putraku, dan juga putriku?” mata tajam nan gelap itu menatap Kelvan penuh amarah. Menatap Max yang sangat marah seperti itu, tidak membuat Kelvan takut sedikitpun.


“Ya, aku puas. Dan sekarang semua impas. Kau bisa menghabisiku sekarang! Karena aku sudah tidak mempunyai tujuan lagi, karena tujuanku memang hanya untuk menghabisi kalian!” senyuman dengan tatapan kosong itu untuk sesaat membuat Max tertegun. Tapi, dia tidak boleh lemah hanya karena tatapan itu, karena saat mengingat kembali putranya yang terbaring di ranjang rumah sakit karena laki-laki yang ada di hadapannya ini, membuat amarah Max kembali memuncak.


“Tidak semudah itu bocah! Kau sudah berniat menghabisi putriku, lalu kau bersikap seolah-olah tidak bersalah saat ini! Apa salahnya padamu?! Hah!” David ikut mendekat pada Kelvan. Amarahnya sama dengan Max, kedua tangannya mengepal menahan emosi yang sudah merasuki dadanya.


“Lalu bagaimana dengan kalian? Menghabisi ayahku tanpa ampun, tanpa mendengar jeritannya, dan kalian bahkan tidak mengingat bagaimana anaknya tumbuh tanpa ayah? Kalian tidak mendengarkan jeritan memohonnya! Kalian kejam, bahkan aku tidak berbuat kejam seperti yang kalian lakukan, tapi kalian sudah se-marah ini! Lalu bagaimana dengan aku, yang ayahnya kalian habisi dengan tangan kalian sendiri!”


Amarah yang terpancar di sana mengambil alih tatapan kosong tadi. Tubuh yang lemah yang semulanya tersandar pada dinding, kini meradang karena emosi. Max dan David diam. Mereka tidak berkata sedikitpun.


“Kenapa kalian diam? Hah?! Kalian merasa kalau kalian bersalah? Terlambat! Sangat terlambat, karena kalian sudah mengambil kebahagiaanku, tanpa aku bisa merasakannya terlebih dahulu!” mata itu berkilat karena marah, air mata yang tertahan selama ini tumpah begitu saja. Sakit yang di simpan sejak lama, akhirnya kini bisa di keluarkan.


Kelvan merasa lega. Dia sangat lega bisa mengeluarkan isi hatinya selama ini.


“Apa kau sudah tanyakan pada ibumu? Kenapa ayahmu meninggal?” untuk sesaat Kelvan kembali terdiam mendengar pertanyaan Max. David memalingkan wajahnya saat melihat tatapan kesakitan dari Kelvan.


Ibunya? Bahkan wanita itupun juga tidak bisa di sebut ibu. Wanita itu yang mengatakan padanya kalau ayahnya di bunuh oleh Max, dan David. Setelah itu, dia asik dengan kekasih barunya. Wanita itu bahkan tidak memperdulikan Kelvan sebagai anaknya. Bahkan untuk hidupnya pun, Kelvan bekerja sendiri untuk bisa membiayai kuliahnya.


“Aku tidak mempunyai ibu yang jahat seperti dia!” ujar Kelvan kembali dengan tatapan kosong.


“Stella, lepaskan dia!” David yang sedari tadi menatap keduanya, tidak dapat menahan diri. Dia membantu Kelvan untuk bangkit membuat laki-laki muda itu, untuk sesaat terdiam. Dan Max memberikan tatapan hangatnya.


“Kenapa? Kalian mau mengeksekusi aku sekarang?” ada sedikit ketakutan dalam mata Kelvan saat menanyakan itu, tapi kedua orang itu hanya diam, bahkan Stella dan Arthur pun hanya diam.


Kelvan dibawa ke ruang perawatan. Max dan David lah yang merawatnya. Laki-laki itu cukup terkejut saat mendapati itu.


“Kenapa kalian mengobati aku? Kenapa tidak langsung kalian bunuh saja!” mata itu berkilat karena berair. Kelvan tidak pernah mendapatkan perhatian seperti ini sebenarnya, bahkan dari ibunya pun tidak.


“Diamlah kau bocah! Kau harus tetap sehat, karena setelah ini, kau harus menjaga Ana-ku. Kau harus bertanggungjawab atas semua perbuatanmu itu!”


“APAA....?”


“Kenapa tidak kau tanyakan langsung pada ibumu, kenapa ayahmu meninggal? Karena, aku rasa dia yang paling mengetahui ini!”


Kelvan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Max. Dia menatap laki-laki itu dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Kenapa aku harus menanyakannya pada dia?! Aku tidak mempunyai ibu!” ujar Kelvan dingin.


“Kau harus minta penjelasan padanya, kenapa menuduh kami hingga kau melakukan hal ini. Padahal, dialah yang bertanggung jawab penuh dengan kematian ayahmu! Bahkan kami yang dulu menolongnya agar tetap hidup, tapi Tuhan berkehendak lain. Dan sebaiknya kau tanyakan sendiri padanya, dan jangan lupakan, tanyakan pada kekasih ibumu juga!”


Untuk sesaat, Kelvan mematung saat mendengar perkataan Max. Tapi dia kembali tersadar saat merasakan perih pada wajahnya yang tengah di obati oleh David.


“Tapi kenapa kalian mengobati aku? Bukannya kalian harusnya sangat marah padaku?”


“Harusnya begitu, tapi tidak bisa. Dan kau juga harus memakai kembali nama belakangmu!”


“I—itu ....”


“Atau kau mau memakai nama belakangku?”


“Eh?” Kelvan menatap David dengan aneh. Dia masih bertanya-tanya, kenapa sikap kedua orang pria ini menjadi berubah padanya? Harusnya mereka menghabisi dia!


“Sudah, kami mau kembali ke rumah sakit. Kau diamlah disini!” Max dan David keluar dari ruangan itu, meninggalkan Kelvan dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Hingga kedatangan Arthur dan Stella menyadarkannya.


“Hei Bro! Sepertinya kita memiliki nasib yang sama!” ujar Arthur terkekeh, membuat Kelvan heran. Sedangkan Stella hanya mendengus melihat laki-laki itu.


“Apa maksudmu?” tanya Kelvan bingung.


“Kau membenci orang yang salah!” ujar Arthur membuat Kelvan kembali terdiam.


“Benarkah?”


“Intinya, kalian itu sama-sama bodoh!” ujar Stella menyahut, membuat Arthur kembali menatap sengit lawan bertengkarnya itu.


“Diam kau gadis!”


“Kalau aku tidak mau, kau mau apa? Hah?” Stella memberikan tatapan menantang pada Arthur membuat laki-laki itu menghela napas.


“Awas kau, kalau aku sudah lebih jago darimu, aku akan menghabisi gadis berisik sepertimu ini!”


“Cih, aku menantikannya!” ujar Stella dengan bersedekap dada.


“Sombongnya kau ini!”


“Hei, kenapa kalian bertengkar? Kalau mau pacaran jangan disini!”


“Heiii! Siapa juga yang pacaran?! Kau buta ya? Tidak bisa membedakan orang yang bertengkar dengan orang yang sedang pacaran!”


“Bukan aku yang buta! Tapi kalian yang buta dengan perasaan masing-masing! Sudah, kalian keluarlah! Aku mau istirahat.”


****


Max dan David kembali ke rumah sakit. Kedua laki-laki itu melihat kondisi Ana dan Matt yang sudah di letakkan di ruang perawatan. Ana masih belum sadar begitu pula dengan Matt. Laki-laki itu masih betah terpejam menemani sang pujaan hati untuk memejamkan matanya.


Max berlalu ke dalam kamar rawat anaknya, begitupun dengan David yang menuju ruang rawat Ana.


Max duduk di bangku yang ada di sana. Matanya menatap Matt dengan pedih.


“Matt, kau tidak mau bangun? Kau harus bangun jagoan, Ana membutuhkan semangat darimu! Kau harus menyemangati dia, dia baru saja menjalani operasi besar. Kau tidak mau dia kenapa-napa kan?”


Manik hitam itu masih terpejam, seakan memejamkan mata membuatnya sangat tenang.


“Matt, ayo bangun Nak, kau tidak mau Mommy semakin sedih kan? Dia pasti sedih karena kau tidak mau bangun. Kau tidak boleh tidur terlalu lama Matt, itu tidak baik untuk kesehatanmu!” Max menggenggam tangan Matt. Tangan itu dingin, membuat Max menggosokkan tangannya yang hangat pada Matt.


“Ayo sayang, kau tidak mau melihat keponakanmu? Dia sangat cantik Matt, dan Mommy mu sangat menyayangi dia! Kau tidak mau dia merebut kasih sayang Mommy kan?” Max terkekeh saat mengatakan itu, dia mengusap sudut matanya yang berair.


Max merebahkan kepalanya pada tepi ranjang Matt. Dia memejamkan matanya.


“Tuan ....”


“Tuan Max ...?”


“Eh?”


“Kami mau memeriksa kondisi Tuan muda, dia sudah sadar Tuan!” Max mengangkat kepalanya dengan terkejut. Matt yang melihat itu tersenyum tipis, membuat Max melebarkan matanya tidak percaya.


“Berapa lama aku tertidur? Kenapa aku tidak tahu dia sadar?!”


“Sudah sekitar dua jam Tuan,” ujar Suster yang tadi tidak sengaja masuk kedalam ruangan Matt untuk melihat kondisi Matt dan ternyata melihat Max yang tertidur didekat anaknya.


“Aku akan memberitahu Stef dan semuanya dulu!” ujar Max. Dengan langkah lebar, Max keluar dari ruang rawat Matt sebelum Dokter mengatakan kalau dia sudah memberitahu Stef dan juga David.


Dokter melanjutkan pemeriksaan pada Matt, kondisi laki-laki itu sudah stabil, tapi kini dia harus berhati-hati, karena menggunakan gips.


“Dokter, bagaimana dengan keadaan gadis yang bersamaku?” tanya Matt saat mengingat Ana.


“Dia ada di ruang perawatan Tuan muda.”


“Apa dia baik-baik saja?” tanya Max.


“Dia mengalami pendarahan di kepalanya Tuan, kami sudah mengoperasinya, dan sekarang dia ada di ruang perawatan.”


Matt terkejut saat mendengar itu. Tapi kakinya tidak bisa digerakkan karena masih menggunakan gips.


“Dokter, aku mau melihat kondisinya!” Dokter itu menggelengkan kepalanya.


“Tapi tidak untuk sekarang Tuan muda, anda baru saja sadar. Dan kondisi anda belum pulih betul, jadi sebaiknya tunggu nanti saja!”


*


*


*


..**..**