Ana

Ana
12.2



“Hei, namanya Stella bukan Ella!” ujar Arthur sewot.


“Suka-sukaku, kenapa kau yang marah? Dia saja tidak marah!” sahut Kelvan cuek.


“Sudah, diam kalian! Namaku sebenarnya Auristella,” Arthur dan Kelvan terdiam saat Stella menatap keduanya tajam.


“Lanjutkan!” celetuk Kelvan buka suara.


“Dan hari kelahiranku sama dengan kedua anak kembar Tuan Max, ibuku meninggal saat dia melahirkan aku,”


Kepala Stella menunduk. Selama ini, dia selalu diliputi oleh rasa bersalah, karena dirinya ibunya harus meregang nyawa untuk melahirkan dia, padahal ayahnya selalu mengatakan padanya kalau itu semua sudah takdir, tapi tetap saja dia masih merasa bersalah.


“Lalu apa hubungannya kamu dengan dia sekarang?”


“Waktu itu, ayahku bercerita, kalau Tuan Max membantunya, karena dia baru saja di PHK, dan ayahku bekerja pada perusahaannya. Dan kebetulan juga, saat aku sudah mulai beranjak remaja, aku sangat suka sekali dengan film action, mungkin karena itu juga aku jadi perempuan tomboi ....”


“.... dan aku meminta dia untuk mengajariku bela diri dan juga menggunakan senjata. Karena dia sangat dekat dengan ayahku, bisa di bilang, ayahku termasuk pada salah satu orang kepercayaannya, dan aku sering minta ikut pada ayahku, membuat aku cukup mengenal dia, dan aku juga tau kalau dia sangat pandai beladiri.”


“Sebenarnya Tuan Thomas yang mengajarkan aku, karena semenjak kedua anak kembar Tuan Max lahir, dia sudah membatasi dirinya di dunia gelap, dan Tuan Thomas yang mengambil alih!”


Kedua laki-laki yang mendengarkan cerita gadis itu, mengangguk-anggukkan kepala mereka.


“Dan bisa dibilang sekarang kau ingin membalas budi?” tanya Kelvan. Stella menggeleng.


“Tidak, aku disini bekerja. Karena memang aku suka pekerjaan ini!”


Kelvan hanya mengangguk saja, sedangkan Arthur diam menatap gadis itu, walaupun dengan wajah datar.


“Nah, karena kami sudah menceritakan masa lalu kami, sekarang giliran mu!” Stella menatap Kelvan, diikuti oleh Arthur.


“Untuk saat ini aku belum bisa, karena aku belum tau yang sebenarnya. Mungkin nanti aku bisa menceritakannya pada kalian!”


Arthur dan Stella memahami itu. Karena keduanya tahu, kalau saat ini Kelvan masih bingung dengan dirinya. Untuk memilih percaya pada siapa, ibunya yang tidak menganggap dia ada, atau Max yang sebenarnya sudah menolongnya.


****


Stef berjalan menuju lift, dia sudah di gantikan oleh Thomas untuk menjaga Mattea. Dan Thomas juga memberitahunya kalau Matt sudah sadar. Dengan langkah lebar dan senyuman, Stef berjalan keluar dari lift dan pergi ke ruang rawat Matt.


“Matt ....” Stef masuk kedalam ruang rawat dengan fasilitas kelas atas itu dengan senyuman lebar. Dia langsung memeluk Matt yang kala itu sedang berbincang ringan dengan Max.


“Sayang, jangan memeluknya seperti itu, dia bisa sesak napas!” Stef mengerucutkan bibirnya saat Max memperingatinya seperti itu. Tapi senyumannya kembali saat melihat mata hitam pekat milik anaknya kini sudah terbuka.


“Apa kalian menginap di rumah sakit ini?” tanya Matt heran. Stef menganggukkan kepalanya.


“Tentu saja Sayang, kami harus menjagamu dan juga menjaga Mattea. Keponakanmu sudah lahir, dia sangat cantik,” mata Matt berbinar saat Stef menyebutkan keponakannya. Tapi setelah itu berubah sendu.


“Aku belum bisa melihatnya Mom,” ujar Matt.


“Besok kau bisa melihatnya Sayang, jadi istirahat ya, kami akan membawanya kesini besok, sebelum pulang dari rumah sakit ini!” Matt berbinar saat mendengar ucapan Stef.


Mata Matt rasanya tidak bisa di pejamkan. Dia menatap langit-langit kamar.


“Kenapa Boy?” tanya Stef saat melihat anak laki-lakinya itu gelisah.


“Aku memikirkan Ana Mom. Aku sangat ingin melihat dia. Bagaimana kondisinya saat ini Mom?” mata Matt yang sendu membuat Stef tidak tega melihatnya.


“Makanya kau istirahat Sayang, biar besok kau punya banyak tenaga. Mommy akan meminta perawat untuk memberikan kau kursi roda, untuk melihat Ana.”


“Benarkah? Kenapa tidak sekarang saja Mom?” tanya Matt tidak sabaran, sedangkan Stef menggelengkan kepalanya.


“No Boy! Sekarang kondisimu masih lemah, dan dokter juga masih melarangnya kan?” Max yang menjawab pertanyaan Matt, karena dokter sendiri yang berkata seperti itu padanya, saat Matt merengek untuk melihat Ana tadi.


“Dengarkan perkataan Daddy mu Matt, jadi sekali istirahat ya Sayang, biar anak Mommy cepat sembuh!”


Matt mengangguk. Dia memejamkan matanya dengan semangat. Hingga tidak lama setelah itu dia sudah tertidur, mungkin karena efek obat juga.


“Sayang, aku mau melihat Ana, dan juga menemani Aira dulu!” Max mengangguk memperbolehkan saat Stef meminta izin padanya.


Stef keluar dari ruang rawat Matt lalu berjalan menuju ruang rawat Ana yang bersebelahan dengan Matt.


Sedangkan saat ini, David sedang membawa anak laki-lakinya untuk berkeliling rumah sakit, karena tadi sempat rewel saat bersama dengan Stef.


“Aira ....” wanita paruh baya itu menoleh pada Stef, dia langsung memeluk Stef yang mendekat padanya.


“Aku sangat takut Stef, dokter bilang Ana sangat lemah, aku sangat takut Stef ....” Stef ikut merasakan sesak saat mendengar perkataan Aira. Karena biar bagaimanapun, dia sangat menyayangi gadis cantik itu, dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri, terlebih lagi putranya mencintai Ana.


“Kita harus banyak-banyak berdoa Aira, aku tau Ana adalah gadis yang sangat kuat, dia tidak akan kenapa-kenapa. Dia pasti akan sadar!” Stef membelai kepala Aira yang menangis didalam pelukannya.


“Tapi Dokter bilang, kalau dia sangat lemah, d—dia lemah— ....”


“Sssttt. Dokter bukan Tuhan Aira, dia sama seperti kita, manusia biasa. Jadi kita harus berdoa pada Tuhan agar Ana selamat dan sehat kembali, kita tidak boleh mendahului Tuhan.” Aira sedikit menjadi tenang saat mendengar perkataan Stef. Perempuan itu melonggarkan pelukannya, lalu menatap Stef dengan tersenyum.


“Kita harus percaya pada Tuhan. Aku yakin Tuhan akan mengabulkan doa kita, bila kita terus meminta padanya!” Aira mengangguk.


“Semoga kau baik-baik saja Ana, cepatlah sadar. Banyak orang yang menyayangimu Nak, dan bukannya cita-citamu masih belum tercapai. Kau tidak mau, Matt menikah dengan gadis lain kan, Sayang?” Stef membatin. Dia sama takutnya dengan Aira, tapi dia tidak boleh lemah.


.


.


.


.


.