
flashback on
Satu Minggu yang lalu.
Setelah Kepergian Victoria dari kantor Adelio.
Adelio masih memikirkan masalah barunya.
ujung jari kanannya menekan-nekan pelipisnya.
Dari mana dia mendapatkan putraku?
apa putra ku di buang oleh ibu yang telah ya melahirkannya?, tapi wanita mana yang mengandung putraku?.
" Apa kau bahagia ?" tanya Peter.
membuyarkan lamunannya Adelio.
" Bahagia ! tentu aku bahagia, mempunyai seorang putra, tapi aku masih ingin tahu siapa ibu dari putraku ?" ucap Adelio.
"Kau lupa dengan Wanita yang menampar wajah mu ?, dia adalah ibu dari putramu !"' ledek Peter menahan senyumnya.
Adelio tersenyum tipis mengingat insiden di dalam lift, " Bukan, wanita itu bukan ibu kandungnya !" tutur Adelio menatap wajah Peter.
" Hai...apa kau tidak ingat waktu di mansion, putramu memanggil mommy padanya !" sahut Peter.
" Peter, wanita itu belum pernah mengandung dan melahirkan seorang anak "
"Dari mana kau tahu kalau dia belum pernah mengandung dan melahirkan seorang anak?"tanya Peter
" 100% aku tahu dan aku berkata jujur !" jawab Adelio melipat kedua tangannya sambil bersandar di kursi kerjanya.
" ucapan mu terlalu bertele-tele " seru Peter.
" Mengapa tiba-tiba dirimu menjadi bodoh? kau seorang dokter ahli bedah dan memiliki sebuah Rumah Sakit mewah, masih tdk bisa mencerna ucapan ku !!" sahut Adelio.
belum pernah mengandung dan melahirkan?
jangan-jangan... ?
" Aku tahu, malam itu, menjadi malam pertama untuk dirinya ?" seru Peter menunggu jawaban dari sepupunya.
Senyuman lebar terbentuk dari bibir Adelio.
" hahaha, Pantas saja dia ingin sekali membunuh mu" ucap Peter mengingat ucapan Sabina di dalam lift.
" Jujur, aku merasa bersalah pada dirinya, semua itu karena kecerobohan mu Peter"
"Oh...sekarang kau menyalahkan diriku ? seharusnya kau mengucapkan terimakasih kepada ku yang telah memberikan mu bunga segar" goda Peter sambil berdiri dari sofa.
" Bekerja, Kau kira aku seorang pengangguran" ucap Peter berlalu pergi .
Beberapa Hari kemudian, Manfred membawa semua informasi tentang Sabina.
Yang membuat dirinya semakin bingung, hasil rekam medisnya Sabina, yang menyatakan Sabina pernah melahirkan seorang anak laki-laki di kota Graz (Austria).
melahirkan seorang putra di kota Graz ?
wanita ini penuh misteri, bahkan tentang keluarganya tidak bisa di lacak, baiklah biar aku sendiri yang mencari tahu ibu kandung dari putraku.
" Manfred, apa tawaran tuan Gerald Ford masih berlaku buat kita ?" tanya Adelio.
" Iya tuan, apa anda tertarik dengan perusahaan yang tuan Gerald tawakan ?"
" Atur semuanya, setelah itu, aku ingin pindah ke kantor baru kita !!" ucap Adelio memasang wajah datarnya.
flashback off
Tamat riwayatkku, ternyata dia yang menjadi CEO baru perusahaan ini.
" Selamat Siang tuan " sapa Sabina dengan cepat, Sabina tidak ingin menunjukkan rasa terkejutnya dengan kehadiran Adelio di hadapannya.
" Silahkan duduk nona Sabina !" ucap Adelio.
" Terimakasih tuan " sahut Sabina, menempelkan bokongnya di kursi yang berada di depan meja Adelio.
" Nona Mery menyuruh saya menyerahkan map ini untuk anda tanda tangani !" ucap Sabina menundukkan wajahnya.
Tanpa pikir panjang Adelio segera menandatangani berkas yang di bawa oleh Sabina.
Alangkah gembiranya hati Sabina melihat Adelio mau menyetujui pinjaman dana perusahaan pada dirinya. karna pinjaman yang Sabina ajukan sangat besar sekali dan harus di setujui langsung oleh pemilik perusahaan.
Aku tidak menyangka pria mesum ini mempunyai sisi pribadi yang baik .
Sabina menyunggingkan senyuman manis ketika pinjamannya di tanda tangani oleh Adelio.
" Ternyata kau bisa tersenyum " ucap Adelio menatap ke arah wajah Sabina.
Wajah Sabina berubah menjadi merah merona mendengar ucapan Adelio.
" Mulai besok kamu akan menjadi sekertaris ku !" ucap Adelio.
" Sekertaris... apa saya tidak salah dengar ?"
tanya Sabina.