
"Heii! Tungguin aku doong!!",teriak Stefan.
Sedangkan itu.... Ria dan Elen sudah bersiap pergi dengan motor Ria.
"Eiittss! Stoopp! Emang loe mau naik motor ini juga?! Udah penuuhh!! Naik ojek saja sana!", ucap Ria pada Stefan yang mendekati motornya.
"Ya udah! Tungguin lahh..."
......................................
"Di sini gak ada ojek Rii!"
"Ya udah gak usah ikuutt!!"
Tak lama kemudian, ada seorang cowok yang menaiki motor menuju rumah Elen.
"Kak Jhuaannn!!!! Untung ada kakak di sini... Boleh minta tolong ga??",Elen memanggil cowok tersebut.
"Kamu mau ke mana? Minta tolong apa? Jagain rumah kamu??"
"Bukannn!!! Tolong bonceng kak Stefan, sekalian deh kakak juga ikut sama kitaa!!!"
"Hmm?? Eh... Ada Stefan tohh... Ya udah, naiklah. Emang kita mau ke mana??"
"Udahlah cepetan!! Nanti gw kasih tau pas udah nyampe! Pegangan Lenn!!", ucap Ria.
Brrrmmm...
Ria mulai menyalakan motornya. Motornya mulai melaju.
Jhuan dan Stefan pun mengikuti Ria di belakang mereka.
"Riaa! Kita mau kemana? Jauh gak?",tanya Elen.
"Udah... diem aja dulu. Nanti aku jadi gak fokus. Nanti pas udah sampai pasti kamu tahu."
Elen mengangguk dengan sedikit kebingungan. Selama ini dia tidak pernah pergi jauh selain ke sekolahnya.
Stefan dan Jhuan lebih tua 3 tahun dari Elen. Stefan merupakan teman panti Elen. Sedangkan Jhuan adalah teman sekolah Elen saat kelas 3.
Pada waktu itu Jhuan sudah kelas 6 atau menjadi kakak kelas Elen. Pertemanan mereka diawali dari sebuah bola yang ditendang Jhuan dan hampir mengenai Elen.
Ria dan Elen seumuran. Ria juga merupakan seorang yatim piatu. Ia juga berada di panti asuhan yang sama dengan Elen dulu.
Tapi, tak lama kemudian Ria diadopsi oleh sepasang suami istri kaya raya yang tidak mempunyai anak. Saat itu Ria masih berumur 4 tahun.
Akhirnya mereka terpisah selama beberapa tahun.
Setelah 10 tahun berlalu....
Mereka bertemu di sekolah Elen.
Waktu itu Ria menjadi anak baru di sekolah itu. Tetapi saat bertemu, Elen tidak tahu kalau itu adalah Ria teman masa kecilnya.
Maklumi saja, mereka berteman di umur yang masih kecil. Tapi, Ria tahu kalo itu adalah Elen teman masa kecilnya dulu di panti.
Tapi Ia takut salah menyapa atau bahkan dia malah salah orang.
Pada suatu hari, Ria melihat Elen di bully di belakang sekolah. Ia pun datang dan langsung menghajar cewek- cewek yang membully Elen. Ya, Ria bisa dibilang cewek bar bar atau tomboy.
Pada waktu itu Elen langsung kabur. Ia berpikir kalau dia akan dibully juga oleh anak perempuan yang datang itu.Ia takut.
Ria pun kecewa karena Elen tidak mengingatnya. Lalu Ria pun ingat akan luka yang ada di tubuh Elen.
Ria mengejar Elen.
Akhirnya Ria menemukan Elen sedang menangis di dekat gudang sekolah. Ria pun memanggilnya.
"Elen? Kok kamu langsung kabur sih? Tenang aja... Aku gak bakaln nyakitin kamu kok..."
"Hikss.. hikss.. K- kok, kamu mau tolong aku sih?? Padahal aku gak kenal kamu..."
"Kamu udah lupa ya? Ini aku, Ria teman panti kamu dulu."
"Hah?? Kamu... Ria yang itu?"
"Yaps... sekarang kamu inget kann... Dari kemarin aku mau nyapa kamu.. Tapi aku takut kalo kamu malah gak inget sama aku... Oya luka kamu cukup parah lho... Aku obatin dulu ya."
"Eh... Ng- ngggak usahh... Udah biasa kok. Nanti juga sembuh sendiri..."
"Tapi Len..."
"Mmm..... Ya udah... Mau pulang bareng? Kamu masih tinggal di panti?"
"Hmm...", Elen meng-iyakan.
"Ya udah ayo. Sekalian aku juga kangen sama anak panti lainnya."
Setelah itu mereka pun pergi ke panti. Ria bermain di panti selama beberapa saat, setelah itu Ia pulang.
1 Tahun pun berlalu. Elen sudah mempunyai rumah sendiri dari hasil tabungannya dan sebagian juga dari Ria. Banyak juga anak panti lain yang sudah besar dan mulai mandiri.
"Dah sampai! Yuk turun!", Ria parkir di parkiran sebuah mall.
"Ehh... Ngapain kita ke mall?? Aku gak bawa duit lho...", Elen masih kebingungan.
"Tenang aja... Aku traktir kook..."
"Berarti kita juga ditraktir doong!", Stefan kegirangan.
"Iyee... Dah yuk, masuk!!"
"Ehh... Tapi aku gak papa nih, ikutan masuk?? Tadi kan aku cuma mau ketemu Elen.", Jhuan merasa tidak enak.
"Udah gak papa... Mumpung aku lagi happy nih mau traktir kalian. Pacarannya belakangan aja!"
"Iiihhh!!! Riaaa!!! Kita gak pacaran kookk!! Cuma temen aja!!", Elen merasa malu.
Mereka pun shopping, bermain dan melakukan hal- hal yang lain bersama dengan riang. Mereka sudah seperti sahabat yang tidak dapat dipisahkan lagi. Authornya aja irii...
Meski banyak perbedaan di antara mereka, mereka tetap mau berteman. Tidak saling membeda-bedakan.
Hari sudah mulai malam.
" Eh... Pulang yuukk!! Udah malam lhoo!", Jhuan mengingatkan pada yang lain yang sedang asyik bermain.
"Eh.. iya. Aku juga udah capek niihh!!", Elen menanggapi ucapan Jhuan.
"Ehh.... Bentar.. Kita foto bareng dulu yukk!! Buat kenang- kenangan... Gimana??", Ria mengusulkan.
Yang lain hanya mengangguk.
Mereka pun pergi ke tempat Photo Booth.
...............
Setelah selesai....
"Bwahhaaahahhha!!!! Kak Stefan mukanya kok gini amat sihhh?!?!? Liat geh Lenn!!", Ria tertawa melihat wajah Stefan dari hasil foto tadi.
"Hihihi.... Kak Stefan juga lagi merem ituu....",Elen ikut tertawa.
"Ejek aja terus....", Stefan malu dengan hasil foto tersebut.
"Dah kuy pulang!", "Dihh... Si Jhuan dari tadi kok ngomong pulang melulu sihh... Ada hal penting ya?", Stefan membalas ucapan Jhuan dengan nada megejek.
"Enggak... Tapi kan ini dah malam...
Kita sih udah lulus sekolah, tapi kan Ria dan Elen masih di bawah umur Stef... Takut ada bahaya..."
" Kan ada kita... Bisa ngejagain adek-adek yang imut ini... Ya kan Len?"
"Iyain aja lah..."
"Udah cepetan naik motor... Aku anterin kamu sampe rumah kamu aja ya Len!"
"Ehh!! Bentar! Aku aja yang anterin Elen. Sekalian ada yang mau aku bicarain.", ucap Jhuan.
" Ya udah! Kak Stef!! Naik!"
"???? Aku aja yang nyetir lahh!! Kamu kira aku gak bisa naik motor?"
"Udah cepet!"
"Len... Ayo!"
"Eh... Iya kak..."
Brrrmmm.....
BERSAMBUNG...