A Secret

A Secret
As 03



" Selamat Adelio... ternyata kau sudah menjadi seorang ayah sejak lima tahun yang lalu" ucap Peter.


"Trimakasih yah... " ucap Victoria


"Peter belum membaca hasil tesnya mom ! bagaimana dia bisa menyimpulkan kalau anak itu putraku !" sahut Adelio memotong ucapan Victoria.


"Aunty , aku hanya ingin menggodanya saja" ucap Peter. memperlihatkan lipatan kertas yang belum di baca.


" Berikan padaku !" Adelio menarik lipatan kertas dari tangan Peter.


"Biar aku yang membacanya," ucap Adelio.


" Biar Adelio yang membacakan untuk kita !" ucap Victoria.


Adelio membuka lembaran kertas yang terlipat lalu membacanya.


Mata Adelio membulat ketika membaca hasil tes di tangannya.


"Hasil tes DNA. Adelio Marco Rafael dan Lionel Abraham 99% positif, mom...a-aku pu-nya seorang pu-tra ?" ucap Adelio memasang wajah datarnya.


"Iya...sayang, dia putra mu " ucap Victoria menghampiri putranya memeluk Adelio.


Apa benar dia putraku? dan wanita itu mengaku sebagai ibunya ? bagaimana mungkin ? (Adelio)


" Hai... jangan melamun" Peter menepuk bahu Adelio.


"Seharusnya kau berbahagia, menjadi seorang ayah" ucap Peter merangkul pundak Adelio.


Adelio hanya tersenyum tipis.


" Sekarang di mana cucu mommy ?" tanya Victoria.


" Bersama ibunya " jawab Adelio sekenanya.


"Mereka sedang ada masalah Aunty " ucap Peter berbohong.


" Jadi Lion sekarang bersama ibunya?" tanya Victoria.


Adelio hanya menganggukan kepalanya pelan-pelan. bentuk dari jawabannya.


"Sebenarnya mommy ingin bertemu dengan Lion, Dua jam lagi mommy mau pergi ke Berlin. menemani adikmu " ucap Victoria.


" Yah... Alena sangat membutuhkan mommy, apalagi kehamilannya sudah memasuki 32 Minggu" ucap Adelio.


"Adelio, bisakah kau membawa Lion ke Berlin? jika aku merindukannya?" tanya Victoria.


" tentu mom" jawab Adelio.


Satu Minggu berlalu.


" Hasil tesnya?" tanya Sabina.


" Duduk dulu ! dari dulu tidak pernah berubah" ucap David menatap kearah Sabina.


Sebagai mantan kekasihnya, David sangat tahu tingkah laku dan kepribadian Sabina.


namun sayang kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. dan Sabina memilih untuk putus dari David, dan memilih menjadi sahabat buat David, dengan berat hati David menerima dan menghormati keputusan Sabina.


" Lion membutuhkan transplantasi sel punca " jawab David.


Transplantasi sel punca / Transplantasi sumsum tulang belakang. suatu proses di mana sel punca darah yang sehat di suntikkan kedalam tubuh, untuk menggantikan sel punca yang sakit atau rusak.


" Sel punca Allogenic ?" tanya Sabina.


Allogenic (sel dari donor).


Sabina menarik nafasnya. dan merasakan sesak di dadanya, perasaannya sedih memikirkan nasib putranya.


" Hai... jangan sedih, ada aku yang akan mendampingi Lion, aku akan mencarikan Lion pendonor tulang sumsum ! " hibur David mengelus punggung Sabina.


" Trimakasih " ucap Sabina.


*****


Kantor.


"Sabina...hai... Sabina" panggil Clara sambil mencolek lengan Sabina.


Sabina masih tidak bergeming, Sabina masih memikirkan nasib putranya.


" hmm..." gumam Clara melangkah ke hadapan Sabina. Clara menjentikkan kedua jarinya di depan wajah Sabina, sehingga dia tersadar dari lamunannya.


" Ada apa ?" tanya Sabina memasang senyum manisnya.


" Nona Mery memanggil mu !" ucap Clara melangkah ke meja kerjanya.


Sabina bangkit dari kursi kerjanya melangkah ke arah divisi keuangan.


Dua hari yang lalu, Sabina mengajukan pinjaman di perusahaannya, untuk biaya pengobatan Lion.


"semoga perusahaan menyetujui pengajuan pinjaman ku" .


Tok...tok...tok .


" Masuk !" ucap Mery.


"Selamat siang nona Mery" sapa Sabina.


" Silakan duduk!" ucap Merry.


" Bagaimana dengan pengajuan pinjaman saya nona ?" tanya Sabina penuh harapan.


"Pinjaman anda dapat di setujui oleh perusahaan asal anda mau menandatangani kontrak kerja yang baru !!" ucap Mery.


" Kontrak kerja baru ?" ucap Sabina.


" Silakkan anda baca dulu kontrak baru ini, sebelum menandatanganinya ! " ucap Mery menyodorkan sebuah map warna jingga pada Sabina.


" Tidak usah nona Mery saya akan menyetujui kontrak kerja ini " ucap Sabina tanpa berpikir panjang lalu menandatanganinya.


" silahkan anda bawa kontrak ini ke lantai 20 !" ucap Mery menyodorkan map berwarna jingga pada Sabina.


" Lantai 20, ruangan CEO ? kenapa aku yang harus membawa ke sana " gumam Sabina. melangkah ke luar ruangan nona Mery.


Lantai 20.


" Nona Sabina, silakan masuk !" ucap Manfred membuka pintu ruang CEO.


" Tuan nona Sabina ingin bertemu dengan anda " ucap Manfred pada pria yang duduk di membelakangi mereka.


Pria itu menggerakkan jari tangannya, agar Manfred keluar dari ruangannya.


" Hallo nona Sabina, Kita bertemu lagi !" ucap pria itu sambil memutar kursinya ke arah Sabina.


Wajah Sabina berubah menjadi pucat pasi melihat pria yang ada di depannya.