A Secret

A Secret
#Chapter 6#



Brrmm....


Motor mereka mulai melaju.


Ria yang membonceng Stefan akan megantar Stefan ke rumahnya dulu.


Dan Jhuan, ia akan mengantar Elen sekaligus membicarakan sesuatu.


Sementara itu...


*Di rumah Erick.


"Haahh... HP aku ketinggalan lagi... Balik lagi deh...", Erick baru sadar Hp nya tertinggal di rumah Elen. Ia pun memesan taksi karena malas menyetir.


*Erick sampai di rumah Elen.


Erick pun langsung masuk ke rumah Elen.


"Eh... Kok gak bisa di buka nih pintu? Dikunci ya??", Erick tidak bisa membuka pintu rumah Elen.


"Hah... Sial! .... Atau lewat jendela aja ya?"


*Balik ke Jhuan dan Elen.


Jhuan berhenti di dekat taman.


"Yah... Tadi aku kan mau bilang sesuatu ke kamu. Di sini aja ya?"


"Ya udah Kak..."


".... Kamu... udah tau nanti malam?"


"Ini kan udah malem kak..."


"Ah... Bukan. Pas udah larut."


"????", Elen kebingungan.


"Kamu gak tau ya?"


Elen hanya menggeleng pelan.


"Nanti... bulan purnama...", Jhuan mengecilkan suaranya.


"Apa? Suara kakak kok mengecil?", Elen tidak mendengar jelas perkataan Jhuan.


"Bulan purnama.... Nanti.", Jhuan menjadi canggung.


Elen terkejut.


"Eh?! Bukannya minggu depan ya?!"


"Bukan... Sebentar lagi... Seharusnya aku mengatakan ini dari sore tadi..."


"....", Elen tidak dapat berkata apa-apa.


"Atau... Mau kutemani saja?"


"Ng.. Nggak... usah. Nanti kamu malah kena bahaya.", Elen menolak.


"Beneran? Kamu yakin bisa sendiri??", Jhuan khawatir pada Elen.


"Hmm..." ,Elen mengangguk.


" Ya udah... Ku antar pulang ya?"


Elen hanya diam.


SKIPP...


Sampai di depan rumah Elen.


Elen turun dari motor.


"Beneran kamu gak papa??", Jhuan masih khawatir pada Elen.


"Ya... Makasih ya kak... Udah anterin aku pulang. Kakak pun masih bisa khawatir denganku walau aku seperti ini."


"Kita kan temen... Ya kan? Ya udah... Aku pulang dulu ya... Kalo ada apa-apa nanti hubungin aku aja ya!"


Elen mengangguk sambil tersenyum.


Elen membuka pintu rumahnya dan hendak masuk, tetapi....


"Astajiimmm.... Kamu ngapain lagi di sini?!!?", Elen terkejut melihat Erick ada di dalam rumahnya.


"Tadi saya ke sini buat ambil Hp. Rumah mu di kunci. Aku masuk lewat jendela, dan jendelanya ke kunci dari luar pas aku dah masuk....", Erick menjelaskan.


"Pfftt...."


"Apanya yang lucu?!"


"Gak ada..."


Deg!


"Ah... Bulan purnama! Tapi Erick masih ada di sini... Gawatt...", Elen mulai panik.


"Kamu gak papa??", Erick khawatir dengan Elen yang tiba-tiba berkeringat dingin.


"Ahh!! Jangan!! Jangan dekati aku!"


"Why???"


"Pokok nya jangan! Hah.. hah..."


"Kamu sakit??????"


"Tapi... ?!?!?", Erick terkejut dengan warna mata Elen yang berubah menjadi merah darah.


Erick mematung.


"Sebenarnya kamu kenapa???"


Elen menatap Erick. Tatapan nya seperti ingin membunuh Erick.


Elen mendekati Erick lalu... mencium Erick!


"Hey-hei.. Apa yang kau lakukan?"


Elen membuka kancing baju Erick dan.......


Sementara itu...


"Eh.. Bulan purnama!", Stefan langsung panik keetika melihat bulan purnama.


"Ria. Aku turun di sini! Taksii!!!", Stefan bergegas turun.


"Heh... Mau ke mana??", Ria kebingungan dengan tingkah Stefan.


"Udah kamu pulang aja. Aku ada urusan penting! Ayo pak maju!"


"??????", Ria mazih kebingungan.


Stefan pun tiba di rumah Elen.


"Elen!", Stefan langsung masuk.


"El...", Stefan terkejut ketika melihat Erick yang pingsan dan..... berdarah.


"Kak Stef... Hiks... Gimana nih???", Elen menjadi sangat panik.


"Aku hilang kendali tadi... Hiks..."


"Jhuan ke mana?"


"Tadi aku suruh pulang aja... Takut dia celaka. Tapi malah ada yang celaka."


"Hahh... Mau gak mau kita harus rawat dia. Coba kamu bisa kayak leluhur kamu dulu. Bisa ilangin ingatan dia."


"Terus pas dia siuman aku harus jawab apa kak??"


"Oh! Atau... aku beli obat penghilang ingatan aja!"


"Mang ada ya kak?"


"Ehh...."


BERSAMBUNG...