A Secret

A Secret
bertemu.



"Aku juga ingin mem****h dirinya " menatap Adelio penuh kebencian.


Ting... pintu lift tiba-tiba terbuka.


Tangan Adelio menutup cepat pintu lift dan memencet angka 25 menuju ruangan nya.


"Apa yang kau lakukan ?" Sabina mau memencet angka lain namun Adelio menghalangi dan menahan kedua tangan Sabina.


"sebaiknya Anda diam saja nona, cukup jadi penonton saja !" bisik Peter. pada Suzane.


Aku tidak tahu harus berbuat apa gumam Suzane.


Tiba di lantai 25 .


Adelio menarik tangan Sabina menuju ruangannya.


"Lepaskan tanganku !"' ucap Sabina menarik tangannya, namun Adelio tidak mau melepaskan pegangannya.


Alice, sekretaris Adelio hanya terheran-heran melihat bosnya menarik seorang wanita kedalam ruangannya.


"Hai... Alice " ucap Peter, masuk ke dalam ruangan Adelio.


"Aku teman kantornya wanita yang di tarik tuan Adelio" ucap Suzane, ikut masuk ke dalam ruangan Adelio.


Alice hanya memasang wajah tanda tanya.


" Ada apa dengan mereka " gumam Alice kembali melanjutkan pekerjaannya.


Adelio menghempaskan tangan Sabina.


"Ke-na-pa kau berani menamparku?" Adelio membentak Sabina tepat di depan wajahnya.


Sabina hanya menutup kedua matanya, mengerutkan dahinya, ketika wajah Adelio


berada tepat di depan wajahnya.


" Aku menamparmu...karna kau telah me-no-dai ku " lirih Sabina membuka matanya, menatap tajam ke arah wajah Adelio.


untungnya Suzane tidak mendengar ucapan Sabina, karena dirinya baru masuk kedalam ruangan Adelio.


"Sabina, ayo kita jemput Lion !" Suzanne sengaja menyebut nama Lion agar bisa membawa sahabatnya pergi dari sini.


"Baiklah" jawab Sabina.


" Tunggu !" ucap Adelio.


" Apa lagi yang ingin kau lakukan?" bisik Peter.


"Tenang saja " ucap Adelio membuka laci meja kerjanya.


Adelio mengambil buku cek gironya.


Merasa Harga dirinya di jatuhkan Sabina mengambil cek yang Adelio kasih, lalu merobeknya menjadi beberapa bagian.


" cih...Aku tidak butuh uangmu "' Sabina melemparkan robekan cek ke wajah Adelio.


" Ayo Suzane kita pergi dari kantor seorang pecundang " ucap Sabina melangkah pergi.


"Baru kali ini, aku melihat seorang wanita yang tidak menyukai dirimu Adelio" goda Peter.


" Apa kau lupa? bagaimana aku bisa mengenal dirinya ?" ucap Adelio.


" Dan kau menikmati t***hnya " sahut Peter masih menertawai Adelio.


"Maaf tuan di luar, ada..." Alice ingin berbicara tapi di potong ucapan Victoria.


" Selamat siang sayangku !" ucap Victoria.


Menghampiri Adelio lalu memeluk putranya.


"Peter, bagaimana kabarmu hari ini sayang ?" tanya Victoria menghampiri Peter yang masih berdiri di samping Adelio.


" aunty , terlihat sedang berbahagia ?" ucap Peter.


" kau benar Peter, diriku sedang berbahagia" ucap Victoria.


" Adelio di mana cucuku ?" tanya Victoria, mengingataksud tujuannya ke kantor Adelio.


" mommy...dia bukan putraku !" ucap Adelio.


" Jangan menyangkal Adelio ! ini hasil tes DNA Lion dan dirimu " Victoria menyerahkan sebuah amplop pada Adelio.


Peter segera mengambil amplop dari tangan Victoria.


"Aunty, mengapa jantungku berdebar kencang yah " seru Peter, melirik kearah arah Adelio yang sudah duduk di meja kerjanya.


" Ayo Peter buka saja amplop itu! aku juga penasaran dengan hasil tes DNA nya !"ucap Victoria.


" Aunty juga belum melihat hasil tesnya ?" tanya Peter .


"Belim...Tapi aku yakin anak itu, adalah cucuku" ucap Victoria percaya diri.


"Aku kira, aunty sudah melihat hasil tesnya " ucap Peter.


" Lekas buka amplopnya !" ucap Adelio.


" Kenapa kau yang jadi tidak sabaran ?!" ucap Peter. mulai menyobek amplop yang ada di tangannya.


" Selamat Adelio... ternyata kau sudah menjadi seorang ayah sejak lima tahun yang lalu" ucap Peter .