A Secret

A Secret
Masih Idenya Peter



"Lama-lama permadani ku menjadi licin, karena langkah kakimu mundur-mandir seperti setrika " tegur Peter bola mata Peter mulai sakit mengikuti gerak langkah tubuh Adelio di hadapannya.


" Apa kau tahu... ? " ucap Adelio


"Tidak tahu " Peter langsung menggelengkan kepalanya


" Kalau aku sedang mencari sebuah ide ! " ucap Adelio, kembali melangkahkan kakinya menuju bar mini. mencari minuman dingin.


" Cih, melihat dari tampang wajahmu, aku yakin kau belum mendapatkan ide untuk menikahi Sabina !" cibir Peter.


" Apa ada ide yang lain lagi, untuk ku ?" tanya Adelio. menatap sendu wajah Peter.


" Oke.. Jangan beritahukan Sabina tentang ke hamilannya ! biarkan dia tahu sendiri, tentang kehamilan nya ! kau... cukup memantaunya saja dari jauh !" ucap Peter


" Tentang Lion, aku tetap akan Mambawanya ke Berlin. dan ini bukan lelucon ! " ucap Peter.


"Ada seorang wanita yang ingin mendonorkan tulang sumsumnya, wanita itu tidak bisa pergi ke negara ini. karena ibunya sakit-sakitan, jadi aku berinisiatif untuk membawa Lion ke Berlin untuk pencocokan sumsum tulang belakang, sekalian jalan-jalan !" ucap Peter menjelaskan secara rinci.


" Ide dan cerita mu itu terlalu banyak, jadi aku pusing memikirkannya " ucap Adelio.


"Cih... Bilang saja kau menyetujui ide ku, tapi kau gengsi mengakuinya !" cibir Peter.


" Aku pusing " ucap Adelio mengurut keningnya.


" Bagaimana kalau kita pergi ke club mu ? mencari wanita cantik dan seksi, agar kepala mu tidak pusing lagi ?" usul Peter hanya untuk menggoda Adelio.


" Aku tidak tertarik untuk pergi ke club " ucap Adelio.


" CK...Biasanya yang paling semangat untuk pergi ke club itu dirimu, sampai-sampai kau mengganggu permainan judi ku " decak Peter.


" Ini juga salah mu, seandainya anak buah mu tidak membawa Sabina ke mansion ku pada malam itu, mungkin aku masih bisa menikmati tubuh wanita seksi yang wajahnya cantik jelita, apa lagi club ku hanya untuk kalangan tertentu saja" gerutu Adelio.


Peter tahu, sejak malam perjumpaan Adelio dan Sabina, semenjak itu Adelio tidak tertarik untuk mendekat atau berhubungan dengan wanita lain.


"Sabina...Dia lebih dari segalanya, kecantikan wajahnya dan seksi tubuhnya tidak ada yang mampu menyaingi dirinya" ucap Adelio.tersenyum lebar mengingat kejadian malam itu.


"Swuit...swuiiitt..." Peter bersiul mendengar ucapan saudaranya.


"Adelio melemparkan bantal kursi ke wajah Peter " nampaknya kau senang mengganggu yah !"


" Sangat senang " ucap Peter menangkap bantal kursi " tidak kena !" seru Peter.


Adelio bangkit dari sofa " aku pulang dulu" ucap Adelio.


" Apa perlu ku antar ?" goda Peter.


" Apartemen ku dan apartemen mu bersebrangan kamar, jangan menggodaku lagi ! Selamat malam Peter "


" Selamat malam Adelio" balas Peter melihat Adelio menutup pintu apartemennya.


Pagi harinya.


Sayup-sayup Sabina mendengar suara tawanya Lion yang sedang bercengkrama dengan seseorang, di selingi Sura tawa Lion.


perlahan-lahan Sabina mengumpulkan kesadaran dirinya, hidungnya mengendus aroma yang membuat perasaan nyaman bagi dirinya, matanya yang masih tertutup merapat masukkan wajahnya ke dalam dada bidang Adelio, semakin menciumnya semakin mengeratkan wajahnya, tanpa dia sadari kalau tubuh Adelio yang di peluknya.


Sambil memejamkan mata, Adelio tersenyum tipis, menikmati tubuh wanita yang mulai mengisi hatinya yang memeluk tubuhnya.


" Aku harap akan begini selamanya " gumam Adelio dalam hatinya. memasang senyum bahagia.


Terimakasih... jangan lupa like dan komentarnya