
Nona Sabina, putra anda jatuh pingsan di taman bermain" seru wali kelas Lion.
"APA..." teriak Sabina, membuat Adelio menghentikan seketika mobilnya.
" Ada apa dengan mu ? apa kau baik-baik saja?" tanya Adelio.
"'Aku tidak dalam keadaan baik" jawab Sabina yang masih panik.
" David aku harus menghubunginya" gumam Sabina, menekan tombol di ponselnya dengan tangan gemetar.
"David...!" teriak Sabina ketika mendengar suara sahabatnya.
" Ada apa Dengan mu Sabina? mengapa suaramu seperti orang panik?" David.
" Tolong aku Lion terjatuh, lalu pingsan " Sabina.
"APA...!" teriak Adelio mendengar kabar putranya.
"Kenapa kau teriak...bikin kaget saja!" ucap Sabina dengan nada agak tinggi.
"Hallo...hallo... Sabina, apa kau mendengar suara ku?" teriak David dari dalam ponsel.
" Maaf David" Sabina.
"Tenangkan diri mu, aku akan ke sekolahnya Lion" David.
" Jelaskan padaku apa yang terjadi pada Lion ?" tanya Adelio dengan tatapan menyelidik.
" Putraku terjatuh lalu dia pingsan " jawab Sabina menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba Adelio membanting stir kemudinya, lalu berbalik ke arah yang berlawanan, pikirannya sama kacaunya dengan Sabina sama-sama memikirkan Lion.
Tiba-tiba ponsel Adelio berbunyi. tertera nama Peter di layar ponselnya.
Adelio menyalakan ponselnya.
"Adelio cepat datang ke Rumah Sakit ku ! putra mu mengalami pendarahan di bagian kepalanya !" ucap Peter.
" Tolong kau tangani dengan baik ! kalau sampai terjadi apa-apa pada putraku, semua Rumah Sakit mu akan ku ratakan !" Ancam Adelio lalu memutus pembicaraan dengan Peter.
Sepanjang jalan baik Adelio dan Sabina hanya Diam, pikiran mereka sedang melayang ke Lion.
Ting...! suara pesan masuk.
David.
📩Lion sudah berada di rumah sakit.
Jangan khawatir, seorang ahli bedah
sedang menangani putra mu
Sabina
📤 Trimakasih .
Rumah Sakit
Adelio segera berlari ke arah sebelah timur dimana terletak ruang IGD sambil menarik tangan Sabina.
Ternyata arah tujuan kita sama.(Sabina).
Tampak David sedang berdiri di depan pintu menanti ke hadiran sahabatnya.
" David !" panggil Sabina sambil menarik tangan kirinya dari genggaman Adelio.
" Hai David, di mana Peter ?" tanya Adelio .
" Dia di dalam " jawab David menunjuk pintu IGD.
Adelio langsung menerobos masuk kedalam ruang IGD, sambil berteriak-teriak memanggil nama Peter.
Sabina hanya melongo melihat ulah bosnya.
sementara David hanya menyunggingkan senyumnya melihat ulah Adelio.
" Kenapa kau berteriak, ini Rumah sakit ! bukan rumah mu " ucap Peter.
" Bagaimana keadaan putraku?" tanya Adelio.
" Tunggulah di luar, aku sedang menangani putramu" ucap Peter melangkah pergi.
" Bagaimana keadaan putraku David ?" tanya Sabina mata Sabina mulai berkaca-kaca.
David lalu memeluk Sabina, agar perasaan Sabina merasa tenang " Bersabarlah, Peter sedang menangani putramu" ucap David menepuk lembut punggung Sabina.
" Ayo duduklah di situ ! tenangkan pikiran dan perasaan mu !" David mendudukkan Sabina di kursi panjang Rumah Sakit.
Tidak berselang lama, Adelio keluar dari dalam raung IGD. lalu menghampiri Sabina yang sedang duduk bersama David.
" Apa perasaan mu sudah mulai tenang?" tanya Adelio sambil duduk di dekat Sabina.
Sabina hanya menganggukkan kepalanya bersama senyum kecil yang membentuk dari bibirnya.
Wow ternyata dia bisa perhatian terhadap wanita, atau sedang mencari mangsa ( David).
"Apa kalian berdua berpacaran ?" tanya David menyelidik.
"Yah..." Adelio.
" Tidak" Sabina.
" Aku tidak berpacaran dengan dirinya, dia hanya atasan ku saja " jawab Sabina.
" Sayang...kenapa kau malu, mengatakan pada David, kalau kita sepasang kekasih dan sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan " ucap Adelio memegang tangan Sabina.
Mulut Sabina lalu terbuka, ada sesuatu yang ingin dia ucapkan, tapi tidak tahu apa yang harus di ucapkan, hingga Sabina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
" Kenapa kau harus malu kepada ku Sabina " goda David
" ADELIO ! " teriak Peter.
membuat mereka bertiga menoleh ke arah Peter.
" Aku butuh darah mu ! Lion butuh transfusi darah !" ucap Peter.
Membuat ketiganya membulatkan matanya.
Sabina langsung terkulai lemah tak berdaya.
Adelio segera berlari ke arah Peter .
" Cepat ambil darahku, aku tidak ingin terjadi apa-apa pada putraku" ucap Adelio.
" Putraku ? apa aku tidak salah dengar?" gumam David.