
"Sepertinya dia ingin membalas tamparan mu ? apalagi kamu bilang ingin membunuhnya ?" ucap Suzane menggigit ujung jarinya mulai memikirkan hal yang akan terjadi pada sahabatnya.
"Entahlah " ucap Sabina.
****
Sabina menatap gedung yang menjulang tinggi di hadapannya. Sekali-kali Sabina menarik nafasnya, langkah kakinya seolah-olah berat untuk berjalan ke dalam gedung itu.
" Selamat pagi Sabina " sapa Suzane merangkul lengan Sabina.
" selamat pagi" balas Sabina melirik sahabatnya.
" Ada apa dengan wajah mu? ayo tersenyumlah jangan kau tunjukkan kelemahan mu pada bos baru mu itu !" ucap Suzane memberi saran dan semangat pada sahabatnya.
" Trimakasih Suzane, kau memang sahabat terbaik ku " ucap Sabina memeluk sahabatnya.
" Ayo kita masuk, tenang saja aku akan selalu ada untuk mendengarkan keluh kesah mu"
" Aku kira kau akan menjadi penyelamat buat diriku ?" decak Sabina Melangkah masuk ke gedung perusahaan
*****
"Selamat pagi tuan Manfred " sapa Sabina.
" selamat pagi nona Sabina " balas Manfred memegang sebuah buku agenda.
" Nona Sabina, ini daftar agenda untuk tuan Adelio selama satu bulan !" ucap Manfred.
"Trimakasih tuan Manfred, saya akan merevisi ulang agenda taun Adelio" seru Sabina menerima agenda dari tangan Manfred.
" Dan satu lagi nona Sabina, kalau memanggil ku jangan memakai kata tuan! cukup Manfred saja ok" ucap Manfred menggerakkan kedua alisnya.
Membuat Sabina menyunggingkan bibirnya.
" Ehmm...mmmm, Apa aku mengganggu perbicangan kalian? tanya Adelio.
" Tidak tuan, saya sedang memperkenalkan diri saya pada Nona Sabina" ucap Manfred.
Adelio hanya menganggukkan kepalanya saja lalu memasuki ruangannya.
" Ayo kita masuk ! saya akan mengajarkan kepada anda seperti apa tugas sekertaris !" ajak Manfred pada Sabina.
" Selamat pagi tuan Adelio": Manfred menyapa Adelio .
" Nona Sabina, apa kau tidak mau menyapa ku?" Adelio menatap Sabina .
"Selamat pagi tuan Adelio" ucap Sabina dengan nada di paksakan.
Adelio hanya tersenyum mendengar ucapan selamat pagi dari Sabina.
Manfred mulai membacakan agenda hari ini untuk Adelio.
"Aku akan menghadiri undangan tuan Salvador, bersama nona Sabina" balas Adelio .
Sabina membulatkan kedua bola matanya mendengar ucapan Adelio " mengapa harus dengan saya tuan ?" tanya Sabina.
" Apa ada yang salah ? kalau aku mengajak sekertaris ku ? nona Sabina jangan lupa dengan isi kontrak kerja yang sudah di sepakati bersama !" goda Adelio.
Sabina hanya memutarkan kedua bola matanya, menatap jengah pada Adelio.
" Saya permisi tuan " jawab Sabina berlalu pergi ke meja kerjanya.
****
Di Mobil.
Sambil mengendarai mobilnya, mata Adelio tidak berhenti melirik ke arah Sabina. Sementara orang yang di liriknya hanya diam sambil menatap beberapa bangunan yang di lewati .
' Bagaimana kabarnya Lion ?" tanya Adelio .
" Baik " ucap Sabina .
" Apa aku boleh bertemu dengan putra mu ?"
" Bertemu dengan putraku ? tapi untuk apa anda mau bertemu dengan putraku ?"
" Karena kau akan menjadi istri ku, jadi aku harus mendekatkan diri pada putramu !"
"Menjadi istri mu ? sejak kapan anda mengklaim diriku menjadi istri mu?" ucap Sabina memasang wajah datar.
Cieeeet... .
Adelio memberhentikan mobilnya di samping jalan pertokoan,
" Dengarkan aku ! sejak malam itu aku telah mengklaim dirimu sebagai milik ku" ucap Adelio
" Malam itu...menjadi mimpi buruk buat ku, kau menodai diriku Adelio, setiap malam aku tidak bisa tidur nyenyak karna kenangan buruk bersama mu " lirih Sabina sambil membuka pintu mobil Adelio.
" Mau kemana kamu? jangan macam-macam!" Adelio menutup pintu mobilnya.
" Kenapa kau menutup pintunya ? " tanya Sabina.
" Apa kau lupa kita akan menghadiri undangan tuan Salvador !"
Tiba-tiba ponsel Sabina bergetar. tampak tertera di layar nama wali kelas Lion
"Hallo " sapa Sabina.
" Nona Sabina, putra anda jatuh pingsan di taman bermain" seru wali kelas Lion.
"APA..." teriak Sabina membuat Adelio menghentikan seketika mobilnya.