A Secret

A Secret
Sebuah ide



" Dia butuh istirahat yang banyak !" ucap Peter.


" Bagaimana dengan kandungannya ?" tanya Adelio.


" Ck, Aku bukan dokter kandungan, Adelio " decak Peter.


" Berarti aku harus membawanya ke dokter kandungan ?"tanya Adelio.


" Yap, Kau harus membawa Sabina ke dokter kandungan !"


" Aku takut membawanya ke dokter kandungan ! aku takut, dia tidak mau menerima bayi yang di kandungnya" ucap Adelio dengan lirih.


" Jangan jadi pesimis, kemana Adelio yang aku kenal ? lihatlah putra mu, Lion, yang bukan putra kandungannya, tapi Sabina merawatnya dengan sepenuh hati, apa kau tidak mendengar cerita hidupnya, waktu itu ?" tanya Peter.


Adelio teringat dengan ucapan David, siapa sebenarnya Sabina, bagaimana sampai dia di usir dari rumahnya, karena fitnahan saudari tirinya.


" Aku punya Ide !" ucap Peter memegang pundak Adelio.


Adelio tersadar dari lamunannya.


" Ide...ide apa ?" tanya Adelio menatap wajah Peter dengan penasaran.


" Kau paksa saja Sabina, agar mau menikah dengan mu ! bila perlu kita jauhkan dulu Lion dari Sabina, agar dia mau menikah dengan mu ! aku akan membawa Lion menemui Tante Victoria, bagaimana dengan ide ku " ucap Peter sambi memperbaiki kerah kemejanya, merasa idenya sangat cermelang.


" Ide mu sangat konyol Peter, apa kau ingin Sabina membunuh diriku gara-gara ide konyol mu itu ? kau ingin menjauhkan putraku dengan ibunya "


" pikirkanlah dulu ! apa kau lupa...karna ide konyol ku waktu itu, aku memberikan Sabina pada dirimu, sebagai ucapan selamat datang atas kepulangan mu dari Amerika " goda Peter segera melangkah pergi ke luar dari apartment Adelio.


Adelio hanya mendengus kasar, mendengar ucapan Peter.


____


Perlahan-lahan Sabina membuka kelopak matanya. pertama-tama pandangan matanya hanya tertuju pada langit-langit kamar yang berwarna putih gading. Kesadaran dirinya mulai sempurna, perlahan-lahan Sabina mengangkat punggungnya agar bisa bersandar di kepala tempat tidur.


" Dimana aku ? " mengingat sesuatu " Aku ingat Adelio tadi memeluk ku dan aku...tidak ingat lagi" gumam Sabina.


" Kau sudah bangun ?" tanya Adelio yang masuk ke dalam kamar dan melihat Sabina menyandar di kepala tempat tidur.


" Kepala ku pusing !" ucap Sabina menekan-nekan pelipisnya.


" Istirahatlah ! biar aku yang mengurus Lion !"


" Apa pantas aku merepotkan mu tuan ?" tanya Sabina.


"Cups... Adelio mengecup bibir Sabina. wajah Sabina seketika merah merona pipinya mendapat kecupan kilat dari Adelio.


" Yaaak !" Sabina mendorong tubuh Adelio.


" Kenapa kau mencium bibirku ?" seru Sabina.


" Itu sebagai hukuman buat mu, karena memanggilku dengan sebutan tuan " sahut Adelio


Tak lama kemudian, Sabina merasa perutnya berputar, Sabina merasa mual.


" Di mana kamar mandinya ?" tanya Sabina lalu menutup mulutnya menahan *****hnya. agar tidak keluar dari mulutnya.


Adelio menunjukkan pintu sebelah barat, secepatnya Sabina berlari ke kamar mandi.


Huek...Huek... Huek, yang terdengar di dalam kamar mandi.


" Sabina...apa kau baik-baik saja ?" seru Adelio dari luar kamar mandi.


"Entahlah" jawab Sabina dari dalam kamar mandi.


Adelio masuk kedalam kamar mandi. menyaksikan Sabina menyandar di dinding kamar mandi, tubuhnya terasa tidak bisa di gerakkan lagi, karena beberapa kali memuntahkan isi perutnya.


"Apa yang terjadi ? mengapa kau tidak memanggilku ?" tegur Adelio mendekati Sabina dan segera mengangkat dan membawa ke tempat tidur.


" Maafkan aku, kepalaku terasa pusing " ucap Sabina .


" Tidur lah !" Adelio menarik selimut menutup kali dan pinggang Sabina