A Secret

A Secret
#Chapter 4#



"Hallo? Kamu bisa mampir kesini gak?


Aku lagi butuh kamu nih.... Ada orang yang nganggu aku terus... Ok. Thanks ya... Jangan lama-lama...",Elen sedang menelepon seseorang.


Tiba-tiba ada seorang cewek cantik berambut pendek menaiki motor yang mendatangi rumah Elen.


Ia membuka pintunya dan melihat dua cowok yang sedang bertengkar di ruang tamu.


Tatapan mata cewek itu sangat menyeramkan.


"Ohhh... Jadi kalian yang udah berani gangguin sahabatku ini?!"


"RIA!!!!", teriak Elen sambil berlari dan memeluk cewek itu ketika ia mendengar suaranya.


"Mereka yang gangguin kamu?",tanya Ria.


Elen mengangguk sambil menunjukkan wajah sedih...


Ria pun menatap kedua cowok itu lagi.


Kedua cowok itu berhenti bertengkar karena terkejut dengan kedatangan Ria.


"Haiihhh... Aku baru tau kalo Elenku bisa direbutin sama dua cowok ganteng ini....", ucap Ria sambil menatap Elen dengan tatapan mengejek.


"Nggak koookk... Aku juga gak tau kenapa mereka bisa kesini.", balas Elen sambil menunjukan wajah cemberut.


"Hmmm.... Cowok gondrong ini bukannya kak Stefan, ya? Terus, yang satu lagi siapa????"


"Nah, itu dia Rii... Cowok itu yang tiba-tiba datang kerumahku terus ngasih kado sebanyak ini... Terus manggil aku Key.. apalah itu...", jelas Elen.


"Baiklah... Kali ini saya yang salah...


Karena kamu, Elen, terlalu mirip dengan pacarku dulu. Dan sekarang dia sudah meninggal", Erick mengakui.


"Elen? Mirip sama pacarmu??", Ria kebingungan.


"Mmm... Ya sudah. Aku tahu kamu cinta banget sama dia. Tapi biarkanlah dia tenang di alam sana. Jika kamu begini, dia pasti sedih dan merasa bersalah sudah meninggalkanmu. Hadiah ini kukembalikan padamu saja ya..", balas Elen pada Erick.


"Dikembaliin?!"


"Iyalah Ri... Kan aku bukan orang yang dia cari..."


"Tapi kan sayang Len..."


"Ehh... Gak usah. Itu buat kamu aja. Sebagai permintaan maaf juga... Saya ikhlas", Erick menolak.


"Ehh?!"


"Hei!!! Ta-ta-... tapi...", Elen merasa tidak enak.


"Saya cabut dulu... Oh iya.. Panggil saya Erick, jangan heii...", ucap Erick sambil keluar dari rumah Elen dengan wajah cemberut and sedih.


"Hhaaah... Akhirnya dia pergi juga... Oya Len, nanti kadonya bagi-bagi ya...",ucap Stefan sambil menghela napas.


"....."


"Len? Kamu gak papa?",Ria khawatir pada Elen yang diam saja.


"Eh..Oh.. G-gak papa koo... aku cuma ngerasa kasian sama cowok itu.", Elen sedikit panik.


"Dihh... Apasih yang perlu dikasihani dari dya?? Kaya raya begitu apapun juga bisa dilakukannya kali... Asalkan ada duitnya lhaa....",Stefan sedikit bingung dengan Elena.


"Tapi dia tanya soal itu aku agak panik... Untung aja cepet tanggapnya. Kalo nggak, bisa keceplosan deh.." , pikir Elen dengan sedikit kekhawatiran.


"Whhaaa!!! Ada coklat!! Sudah kuduga! Elen! Kamu mau gak?? Nanti aku habisin semuanya lhooooo!!",ucap Stefan stengah teriak.


"Heh! Tuh kado buat Elen! Bukan buat kamu!!!",balas Ria sambil mengambil coklat yang akan dimakan Stefan.


"Ihhh!! Riaa!!! Kambalikannn!"


"Loe lebih tua dari kita berdua tapi kok kelakuannya kek gini sihh?!"


"Sabodo... Lagian kan Elen udah sepakat bakal bagi-bagi ke aku kookk!!"


"Sejak kapan nyoongg?? Kan elu yang bilang kek gitu... Elen belum bilang lewat mulutnya sendiri kook!!


Eh Lenn!!! Kok kamu dari tadi bengong aja sihhhh!! Lagi mikirin cowok yang tadi ya?! Udah mulai jatuh cinta sama dia yaa???"


"Hah? Ehh.. Ngg.."," Tydak mungkinn!! Elen ku yang polos ini tydak mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama! Apalagi cowoknya kek gitu... Ya kan Leennn!!!!!"


"Hm? Eh.. Iya kak",jawab Elen dengan lesu.


"Loe kayaknya harus refreshing dulu deh... Kita lan- jalan yukk...", ajak Ria.


"Okkeeee!!!!!*Buk! Aduhhhh!!! Sakitt Rrrriiiiiaaaaa!!!!


"Gw gak ngajak loe bambang... Yookk Lenn!", Ria menarik tangan Elen menuju motornya.


"Wooii!!! Jangan tinggalkan akyu!!!!",*sad Stefan....


*B**ERSAMBUNG*...