
Lee hwan hee berlari menuju pintu karena Song ha joon sudah berteriak dan mengancam akan mendobrak bersama bodyguard yang menjaga di luar.
"Ah h-hyeong, aku dan Ha jin baru saja bangun mendengar teriakan dari hyeong." Ucapnya terbata karena sudah mengunci pintu dirinya harus mencari alasan.
"Tidur? Hanya sekedar tidur? Kenapa harus kunci pintu?" Tanya Ha joon yang masuk lalu menutup pintu pelan agar orang luar tidak tau dirinya sedang memarahi kunyuk menurut nya.
"Supaya dokter atau perawat tidak menggangu ketenangan kita berdua, hyeong."
"Kamu itu jangan macam-macam sama hyeong, Hwan hee. Jangan sampai terjadi apa-apa lagi dengan Ha jin." Hwan hee mengangguk serius karena memang dirinya tidak bisa menahan diri jika di dekat Song ha jin.
"Oppa, sudahlah! Kita tadi memang tidur dan agar tidur nya nyaman Hwan hee mengunci pintunya."
"Kamu membela kunyuk ini?" Tanya Ha joon.
"Aku tidak membela siapapun oppa, karena itu memang kenyataan nya. Satu hal lagi yang harus jadi nyata."
"Apa itu? Oppa akan usahakan untuk kamu."
"Ha jin ingin pulang, please! Oppa, Hwan hee bujuk dokter nya aku sudah sembuh ya!" Ha jin memohon agar mereka berdua membolehkan dirinya pulang.
"Kalau kalian tidak membolehkan pulang, aku tidak mau bertemu kalian selama sebulan." Tentu saja Ha joon tidak mau, karena ia tidak bisa untuk tidak melihat adiknya. Apalagi Hwan hee sudah pasti uring-uringan tidak boleh bertemu dengan tunangannya.
"Sayang, mana bisa aku tidak bertemu kamu sampai selama itu? Aku akan coba bujuk dokternya." Hwan hee dapat tatapan tajam dari Ha joon.
"Tidak, ini demi kesehatan kamu Ha jin. Oppa tidak mau kamu belum sembuh total sudah pulang dan harus kembali beraktivitas seperti biasa."
"Oppa gak sayang lagi sama Ha jin." Ucapnya sambil berkaca-kaca.
Ha joon langsung membujuk adiknya dan menyuruh Hwan hee untuk menyuruh bodyguard nya agar mengurus surat kepulangan adiknya dari rumah sakit.
"Terima kasih oppa," ucapnya memeluk erat tubuh Ha joon. Ha joon membalas pelukan adiknya dan membelai lembut rambut Ha jin.
Hwan hee hanya duduk melihat adik kakak itu berpelukan.
"Kenapa? Kamu cemburu karena hyeong memeluk Ha jin?"
"Tidak, karena hyeong adalah oppa nya Ha jin. Tapi kalau laki-laki lain akan aku patahkan tangannya." Sebenarnya memang dirinya iri karena Ha jin merasa sangat nyaman dengan oppa nya, dan lebih lama tidak memberontak seperti ke dirinya.
"Bilang aja iri, jangan peluk dia lagi Ha jin! Dia bilang tidak iri kamu di peluk orang lain."
"Hyeong jangan mengompori tunangan ku seperti itu, sudah jelas aku tidak bicara seperti itu tadi." Hwan hee tidak terima, jelas saja kalau sampai terjadi dirinya akan merana.
"Tunangan mu ini adalah adikku." Semakin memanas-manasi Hwan hee.
"Baik oppa." Jawab Ha jin sambil tetap memeluk oppa nya. Mereka seperti sudah janjian untuk mengerjai Hwan hee.
"Permisi tuan Ha joon, semuanya sudah selesai diurus tinggal menunggu dokter untuk mengecek kembali kondisi nona Ha jin."
"Baiklah terima kasih."
"Saya permisi dulu tuan." Ucapnya berpamitan dan Ha joon mengangguk.
"Terima kasih hyeong karena aku boleh pulang," ucapnya sangat bahagia mendengar dirinya akan pulang.
"Kenapa se bahagia itu hanya pulang ke rumah, nanti juga setiap Sabtu atau minggu ke apartemen Hwan hee untuk menginap."
"Hah?
Ha jin melirik Hwan hee dan ia teringat tadi, bagaimana jika dirinya hanya berdua di apartemen? Bisa bahaya.
"Aku akan selalu di rumah untuk bersama oppa."
"Lah sayang, kenapa malah begitu? Kalau berubah aku yang akan menginap di rumah kamu."
"No, tidak diizinkan." Jawab Ha jin cepat, karena di rumahnya pun pasti hanya di kamar saja.
Tak lama dokter datang dan memeriksa keadaan Ha jin, dokter menggelengkan kepalanya takjub dengan keajaiban karena menurut nya saat kejadian kecelakaan yang membuat koma Song ha jin dokter berpikir akan butuh waktu lama untuk penyembuhan, namun sadar lebih cepat dari perkiraan dan juga sudah sangat sehat walafiat.
Mereka bersiap menyuruh asisten Ha jin yang biasa mengikuti nya sudah datang dan membereskan barang bawaan Ha joon.
"Kamu sama Hwan hee dulu ya, oppa ada pertemuan perusahaan dan harus kembali sekarang untuk nanti malam."
"Yah, Ha jin ikut oppa ke kantor aja."
"Tidak, kamu harus ikut Hwan hee banyak bodyguard juga. Jaga baik-baik Ha jin, di depan sudah banyak reporter." Song ha joon lewat arah jalan lain agar adiknya juga nyaman saat keluar.
"Ayo sayang!" Hwan hee memberikan tangannya agar Ha jin menggandengnya, mau tidak mau Ha jin sudah menggandeng tangan Hwan hee dan sudah memakai kacamata lengkap dengan masker begitu juga dengan Hwan hee.
"Perketat keamanan di sebelah Ha jin, jangan sampai mereka membuat Ha jin tak nyaman."
"Tidak, kamu juga perlu keamanan. Kalau aku saja bagaimana dengan kamu?" Tanya Ha jin, bukan karena apa tapi bagaimana dirinya pulang jika Hwan hee menyangkut misalnya karena tidak aman.
"Baiklah, ayo jangan sampai ada sasaeng atau apa menghampiri kami." Hwan hee memeluk Ha jin dari samping untuk berjalan, mereka menuju ke mobil Hwan hee yang memang tidak mau ada sopir yang mengantar. Hwan hee lebih suka berdua dengan tunangannya kecuali sedang ada jadwal syuting atau tampil bersama teman group nya.
"Bagaimana keadaan mu Ha jin sehabis kecelakaan yang menimpamu?"
"Iya, apa ada orang yang berniat mencelakai?"
"Hwan hee apa tidak ingin mencari tahu yang terjadi dengan tunangan mu?"
Banyak reporter memberi pertanyaan pada mereka berdua, namun mereka hanya tersenyum dan Hwan hee memberikan respon cukup baik karena Ha jin baru sembuh maka harus segera istirahat, jika masih bisa di jawab lain waktu saja.
Mereka sudah masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan nya pelan.
"Kita ke apartemen ku aja ya? Soalnya di rumah kamu juga cuma ada asisten dan art, jadi sama aja sekalian nunggu hyeong pulang nanti malam aku antar kamu pulang."
"Ke rumah aja, kalau oppa pulang kamu baru pulang. Aku mau istirahat di kamar aku sendiri." Ha jin sambil bersandar karena berjalan dan duduk di mobil baru terasa agak sedikit pusing.
"Kamu gak apa 'kan? Kenapa pegangin kepala terus." Tangan Hwan hee mengusap lembut wajah Ha jin.
"Aku cuma ngerasa pusing, aku kira sudah sembuh total. Aku mau tidur bentar ya, aku mau muntah." Hwan hee mengangguk, ia juga menghentikan mobilnya sebentar dan membuat kursi Ha jin lebih nyaman untuk istirahat.
Hwan hee turun dan membuka pintu mobil membantu Ha jin turun, asisten nya juga akan membantu namun Hwan hee memberi kode agar dirinya saja yang membawa ke kamar.
"Tolong barang nya nanti di letakkan di ruang biasa, soalnya Ha jin akan langsung istirahat." Hwan hee berpesan agar tidak ada yang mengganggu tunangannya.
"Sayang, kamu masih bisa jalan?" Tanya nya karena melihat Ha jin berjalan sempoyongan.
"Bisa kok." Namun hampir saja terjatuh, untung masih ada Hwan hee yang menahannya.
Tanpa aba-aba Hwan hee menggendong tunangannya menuju ke kamar.
"Kamu pulang aja aku mau tidur."
"Aku akan menjaga kamu disini, kamu istirahat lah." Ha jin berbaring di ranjang nya, ia memejamkan matanya karena kepalanya memang sedikit pusing.
...******...
Malam hari nya Ha jin terbangun dan tidak menemukan Hwan hee di kamar nya, ia berpikir bahwa Hwan hee sudah pulang. Ha jin ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena sudah berapa hari tidak mandi, ia berganti baju tidur yang tadi ia bawa ke kamar mandi.
Saat keluar kamar mandi ternyata ada seseorang masuk ke dalam kamarnya dan itu adalah Hwan hee yang membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Ucapnya dan meletakkan nya di nakas, Ha jin hanya melihat dan menuju meja rias nya untuk mengeringkan rambut yang basah habis keramas tadi.
"Biar aku bantu ya, kamu diam aja aku sering lihat hair style yang biasa membantu ku."
"Tidak, yang ada rambut ku nanti rusak jika kau saja belum pernah melakukannya."
"Kamu tenang saja sayang, aku bisa melakukan apapun apalagi itu untuk kamu. Sekarang kamu diam dan lihat saja hasilnya, setelah itu kita makan." Ucapnya mulai mengambil alih hairdryer dan mengarahkan ke rambut Ha jin. Ha jin juga menurut dan melihat dari pantulan kaca dirinya bersama Hwan hee.
"Ternyata aku berada disini di tubuh Ha jin, aku tidak menyangka impian ku selama ini menjadi kenyataan bisa bersama dia. Tapi aku juga malas jika dia macam-macam." Batin Ha jin menatap Hwan hee dari kaca.
"Aku memang tampan sayang, tidak perlu sampai terpesona seperti itu." Ucapnya dengan cool dan kepedean tingkat nasional.
"Kalau aku tidak melihat kaca mau kemana lagi arah nya? Pede sekali jadi orang." Jawab Ha jin kesal dengan Hwan hee yang hanya dibalas cengengesan ringan. Maybe ada yang berat?
"Oke, sudah selesai."
"Not bad." Memutar ke kanan dan ke kiri melihat rambut nya yang sudah kering.
Hwan hee meletakkan lagi hairdryer nya dibawah, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Ha jin.
"Apa?" Tanya Ha jin bingung.
"Ucapan terimakasih nya karena membantu mengeringkan rambut." Menunjuk pipinya agar Ha jin menciumnya.
"Aku tidak mau." Ha jin berdiri dan menuju ranjang untuk kembali berbaring.
Bukan Hwan hee namanya jika Ha jin menolaknya.
"Sayang, please!" Hwan hee memeluk Ha jin dari belakang.
"Hwan hee, lepas!"
"Sayang, kamu tidak memakai itu?" Tanya nya melepas pelukannya dan menatap dada Ha jin.
"Itu apa?"
"Pelindung mu itu?"
"Aku ingin tidur dengan nyaman, jadi tidak memakai nya."
Cup
"Terlalu lama menunggu kamu mencium ku, tapi cium aku, sayang."
Ha jin ingin mencium pipi Hwan hee, namun Hwan hee menoleh dan mengenai bibirnya.
"Sangat manis. Ayo kita makan dulu."
"Makan dulu? Memangnya setelah makan mau ngapain? Lama-lama berdua sama Hwan hee mengerikan sekali." Batin Ha jin.
Hwan hee mengajak Ha jin untuk makan, dan ia menyuapi sang tunangan. Ha jin juga diam saja diperlukan seperti itu.
Setelah makan Ha jin ke kamar mandi untuk berkumur, lalu kembali ke ranjang untuk istirahat. Hwan hee sudah lebih dulu tidur di ranjangnya.
"Kenapa berdiri disitu, ayo tidur disini sayang." Menepuk tempat di sebelah nya.
"Kamu yang ngapain di ranjang ku, kamu pulang sana." Ha jin menaiki ranjang dan berbaring. Hwan hee tidur di dada Ha jin sambil memeluk nya.
"Jangan manja, harusnya aku yang manja." Ucap Ha jin namun dirinya tetap mengelus rambut Hwan hee lembut.
"Jangan pernah keluar kamar dengan pakaian tidur dan tidak mengenakan pelindung itu. Banyak asisten rumah yang akan melihat bagian tubuh kamu terekspose."
"Sering juga aku keluar dengan pakaian tidur, memangnya kenapa?"
"Sayang, tidak boleh! Hanya aku yang boleh lihat kamu berpakaian kurang bahan terawang dan juga tanpa pelindung itu, hanya aku yang boleh melihat nya."
"Baiklah, sekarang tidurlah karena kamu juga pasti lelah pulang kerja langsung mengurus ku."
"Tidak, aku suka mengurus mu dan memelukmu seperti ini." Hwan hee menatap Ha jin dan mencium keningnya, hal yang tidak pernah dirasakan Calandra dari pasangan hanya dari keluarga.
Mereka mulai tidur saling berpelukan, Ha joon yang baru datang melihat Ha jin ke kamar nya dan tersenyum, ada pemandangan yang menurutnya membuat tenang, karena adiknya sudah mulai merasa nyaman di dekat Hwan hee. Kembali menutup pintu dan dirinya manuju kamar untuk segera beristirahat.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...