A REAL DREAM

A REAL DREAM
Bonus kiss



"Siapa yang mengganggu pagi-pagi sekali seperti ini?" Lee hwan hee mengoceh sambil membuka pintu, ia akan kembali melanjutkan ucapannya namun tidak jadi. Karena yang berdiri di hadapannya adalah kakak dari tunangan nya.


"Apakah aku datang mengganggu? Aku hanya ingin menemui adikku sebelum berangkat ke kantor." Ucapnya menatap Hwan hee yang berdiri salah tingkah.


"Eh, hyeong? Maksudku bukan seperti itu, hanya saja tadi aku kira orang lain dan mengganggu istirahat Ha jin." Hwan hee memaksakan senyumnya, ia padahal memang merasa terganggu.


Sedangkan Song ha joon memicingkan matanya mencari apa calon adik ipar nya itu berkata jujur.


"Hyeong masuk aja, aku ke kamar mandi untuk cuci muka dan segera membeli makan di luar untuk sarapan." Hwan hee bingung sendiri mau ke kamar mandi dan mengantar Ha joon masuk.


"Apa kamu sedang berbuat macam-macam dengan Ha jin? Sampai merasa terganggu seperti itu? Jangan ganggu adikku sebelum kalian menikah, mengerti! Apalagi Ha jin baru saja pulih dan belum mengingat mu." Ha joon tetap ingin menjaga adiknya walaupun itu bersama tunangannya sendiri dan mereka akan menikah, tetap saja lebih baik tidak terjadi apa-apa sebelum menikah.


"Maka dari itu aku berusaha untuk mengingatkan kembali saat bersama ku, hyeong."


"Ingatan seperti apa yang kamu ingatkan pada Ha jin?" Mata Ha joon menelisik tajam ke arah Hwan hee.


"A-aku i-tu hyeong, a-aku -


"Oppa, kenapa masih di luar?" Panggil Ha jin membuat Hwan hee bernafas lega, namun saat Ha joon masuk melewati dirinya, Hwan hee kembali gelisah takut Ha jin mengatakan nya pada Ha joon. Padahal memang mereka tidak berbuat apa-apa.


"Apa yang di lakukan tunangan cunguk mu ini?" Tanya Ha joon karena melihat tingkah aneh Hwan hee.


Song ha jin melirik Lee hwan hee yang berdiri tak jauh darinya, ia masih setia tidak masuk kamar mandi untuk mendengarkan jawaban Ha jin.


"Apa yang oppa tanyakan ini privasi pasangan, tapi karena oppa ingin mengetahui nya maka akan aku beritahu." Lee hwan hee semakin di buat takut dengan Ha joon.


"Tuhan, kalau seperti ini aku lebih memilih tampil di tonton ribuan orang. Akting atau nyanyi menurut ku lebih baik membuat kaki ku tetap tegap, kalau ini seperti kekurangan cairan." Batin Lee hwan hee menunggu lanjutan jawaban dari tunangan nya.


"Hwan hee ini tidur di atas ranjang bersamaku-


"Kau," Song ha joon melirik Hwan hee.


"Oppa, aku belum selesai berbicara."


"Baiklah bagaimana kelanjutan nya?" Ha joon kembali menatap adiknya.


"Itu karena aku yang meminta nya, aku juga ingin mengingatnya dan lihatlah disini, sofa jauh dari tempat tidur ku membuat ku akan kesusahan jika membutuhkan sesuatu yang cepat."


Ha joon menatap ruangan yang memang sofa berada dekat pintu masuk, ada kursi kecil di samping ranjang, namun itu akan membuat tubuh dan kepala Hwan hee terasa sakit saat bangun.


Hwan hee tersenyum menatap tunangan nya, ia kira dirinya akan dimarahi oleh Ha joon, tapi Ha jin membelanya.


Tring tring...


Suara dering ponsel milik Hwan hee berbunyi, ia melihat siapa yang menelepon dan menatap dua saudara di hadapannya bergantian.


"Halo, hyeong." Hwan hee sudah mengangkat telepon yang ternyata manager nya.


"..."


"Ah akan aku usahakan nanti, baiklah aku tutup teleponnya." Hwan hee mematikan sambungan telepon nya dan menatap Ha jin, ia tidak mau meninggalkan Ha jin sendirian.


"Ada apa? Apa itu manager mu? Kalau ia maka itu hal yang penting, aku akan menyuruh sahabat Ha jin kemari jika dia sedang tidak sibuk." Ha joon menatap adiknya dan Ha jin pun mengangguk.


"Tapi aku ingin menemani Ha jin, aku bisa membatalkan syuting untuk hari ini. Lagi pula hanya photoshoot cover film, masih bisa hari lain nya sampai Ha jin benar-benar pulih." Rasanya ia berat untuk meninggalkan Ha jin sendirian, Hwan hee ingin terus bersama Ha jin.


"Pergilah! Aku bisa mengurus diriku sendiri, karir mu lebih penting dari apapun." Jawab Ha jin tersenyum, sedangkan Hwan hee menggelengkan kepalanya.


"Kamu lebih penting dari apapun sekarang, eomma dan appa juga begitu menyayangi mu. Mereka akan marah jika aku kembali pergi tanpa menemani mu disini."


"Mereka tidak akan marah, aku akan baik-baik saja disini. Bersiaplah dan segera berangkat, setelah dari photoshoot bisa langsung kesini 'kan?" Song ha jin sudah dengan lembut menyuruh Hwan hee pergi, karena jika terus disana yang ada Ha jin akan merasa tidak berkutik dengan tindakan dari Hwan hee.


Hwan hee mendekat dan memegang jemari Ha jin, ia memohon agar dirinya diizinkan untuk tetap berada disana, namun Ha jin menggelengkan kepalanya.


"Hufhh baiklah aku kerja, tapi ini terpaksa dan demi masa depan kita dan anak-anak kita nanti."


Hwan hee tersenyum menatap tunangannya nampak malu.


"Haiss kau ini masih saja sempat-sempatnya, kita keluar bareng dan segera berangkat."


"Hyeong, bolehkah tinggalkan kita berdua? aku mau bicara sebentar dengan Ha jin."


"Apa lagi? Biarkan saja dia istirahat, tapi jika penting yasudah aku akan keluar. Oppa akan berangkat ke kantor, nanti akan aku suruh temanmu atau asisten kamu kesini." Ha joon mencium kening adiknya dan beralih menatap Hwan hee yang masih mematung menunggu dirinya pergi.


"Jangan lama-lama!" Hwan hee mengangguk saat Ha joon berkata seperti itu dan keluar.


Hwan hee tidak langsung berbicara pada Ha jin, namun ia mengikuti Ha joon dari belakang untuk mengunci pintu dari dalam.


"Kenapa kamu menguncinya? Apa kamu berniat tidak akan pergi?" Tanya Ha jin saat Hwan hee semakin mendekat.


Cup


"Aku sangat merindukanmu, Ha jin. Kamu baik-baik disini sampai aku kembali, aku terpaksa demi masa depan kita." Mata mereka bertemu dan jarak wajah mereka begitu dekat sehingga hidung mancung mereka bertemu.


"Apa maksud kamu, cepat pergi sana! Aku mau istirahat."


Cup


Cup


Cup


Seluruh wajah Ha jin di cium oleh Hwan hee. Hidung, mata dan pipi. Hingga satu lagi yang belum ia lakukan.


Hwan hee kembali mendekat dan menempelkan bibirnya di bibir Ha jin, ia memaksa masuk dan menggigit kecil bibir Ha jin karena tunangannya itu tidak memberi ruang. Ha jin yang mengerti dan mulai menikmati, terbuai dengan belaian dari Hwan hee dan ******* bibir yang semakin dalam. Ha jin mendorong tubuh Hwan hee, ia tahu ini sudah lebih dari biasanya, apalagi dirinya sedang di rawat di rumah sakit dengan wajah memerah Ha jin mengelap bibirnya dan menghindari tatapan Hwan hee.


"Kenapa saat sakit pun bibirmu terasa manis? Argh ayolah kita cepat menikah, aku tidak akan lagi melepaskan mu. Sembuhlah untukku dan kita akan segera melangsungkan pernikahan." Di pikir-pikir Hwan hee terlihat seperti sangat kebelet nikah sih, dipikiran Ha jin ia hanya bahagia dan juga gelisah karena akan menikah cepat dengan Hwan hee.


"Pergilah! Kamu bisa saja berbuat lebih dari ini, kamu bisa kesini lagi nanti."


"Secara tidak langsung kamu membolehkan aku menciummu 'kan? Lucu sekali calon istri ku." Hwan hee mencubit lembut pipi Ha jin dan mencium keningnya.


"Sayang," rengek nya tidak ingin meninggalkan Ha jin dan itu membuat Ha jin menoleh.


"Cium aku." Tunjuk pada bibirnya dan mendekati Ha jin.


"Aku akan terus menolak kalau kamu masih tidak mau berangkat sekarang juga."


Cup


"Bonus pagi ini agar aku tetap semangat, nanti malam aku mau seperti tadi dengan durasi yang lebih lama." Ucapnya sambil menjauh, karena tahu Ha jin akan marah.


"HWAN HEE...." pekik Ha jin pada Hwan hee yang sudah terbirit pergi membuka pintu.


"Jangan teriak sayang, aku masih disini. Kalau masih ingin aku disini, aku akan hubungi manager ku dan batal hari ini." Ucapnya menatap Ha jin yang kesal sambil menatap tajam dirinya.


"Pergi sana!" Ucapnya mengusir Hwan hee, padahal di dalam hati berbunga-bunga dengan perlakuan manis dari Hwan hee.


Hwan hee juga tersenyum manis meninggalkan Ha jin yang menurut nya sangat kesal.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98


See you...