
Ha jin terbangun pagi-pagi sekali, ia membasuh wajahnya agar membuat nya segar. Masih dengan pakaian tidurnya, ia ke kamar sebelah mengetuk pintunya agar Ha joon membukanya, namun nihil Ha joon sama sekali seperti tidak terganggu dengan ketukan pintu sang adik, akhirnya Ha jin kembali ke kamar nya dengan membuka ponselnya berharap kali ini Hwan hee dan teman-teman nya bisa di hubungi. Tapi lagi-lagi selalu tidak berpihak padanya, seperti kompak menyiapkan kejutan yang akan mengejutkan dirinya sampai semua orang mematikan ponsel mereka.
"Apa mereka sengaja agar aku tidak bisa menghubungi? Bisa jadi soalnya Seo min lebih tidak bisa menutup mulut, bukan hanya Seo min sebenarnya semua member makanya mungkin Hwan hee menyuruh mereka semua untuk mematikan ponsel nya." Ha jin hanya akan berpikir baik, mereka semua pasti akan memberikan kejutan yang membuat dirinya terharu. Memainkan ponselnya menunggu kakak nya bangun, sampai ia kembali tertidur.
Ha jin kembali terbangun jam 8 pagi, ia mengucek-ucek matanya dan keluar untuk memanggil oppa Ha joon yang belum ada tanda-tanda terbangun.
"Oppa, kamu sedang tidur atau pingsan? Aku mau bertemu dengan Hwan hee, percuma kalau aku kesini tapi tidak menemui nya." Ha jin berteriak memanggil oppa nya, ia dilihat beberapa orang yang lewat serta room service dan room attendant yang lewat merasa heran dengan Ha jin, apalagi masih dengan pakaian tidur dan berbahasa Korea.
Ha jin memanggil oppa nya dengan bahasa jepang, kali ini ia terlihat seperti gadis jepang karena bahasa nya juga sangat fasih. Bagaimana tidak fasih jika dirinya keturunan Jepang, walaupun hanya jiwanya.
Ha joon membuka pintu kamar nya, ia mengucek-ucek matanya mendengar suara Ha jin tapi menggunakan bahasa jepang.
"Aku sudah teriak beberapa kali, tapi oppa tidak bangun sampai aku diperhatiin banyak orang. Bukan hanya sekarang aku memanggil tapi sejak pagi tadi hingga aku kembali lagi ke kamar dan ketiduran."
"Ada apa? Oppa sangat mengantuk."
"Kita sedang berada di luar negeri dan aku hanya ingin menemui Hwan hee, tapi oppa hanya ingin tidur saja?" Tanya Ha jin yang masih di luar pintu.
"Sabar, oppa akan segera bersiap dan kita bertemu Hwan hee." Ha joon akan menutup kembali pintu nya namun Ha jin menahan nya agar dirinya ikut masuk.
"Kamu ngapain mau ikut? Sana ke kamar kamu sendiri."
"Aku hanya ingin memastikan jika oppa kali ini tidak tidur lagi, baru aku akan kembali ke kamar dan bersiap."
"Oppa sudah sadar sepenuhnya untuk bersiap, kamu cepat bersiap karena akan menemui Hwan hee." Ha jin tersenyum dan benar ia kembali ke kamar nya. Ha joon menghela nafas panjang, ia terlihat lesu khawatir dengan senyuman adiknya yang akan berubah menjadi kesedihan.
Ha jin bingung dengan pakaian yang akan ia kenakan, namun jika dirinya terlalu terbuka juga tidak enak dengan adanya appa dan eomma nya Hwan hee apalagi juga pasti ada teman-teman nya. Ha jin memilih mengenakan outfit celana jeans dan atasan crop Sabrina motif bunga, ia terlihat sangat fresh dan cantik dengan riasan yang sederhana ditambah rambut yang di gerai.
Ha jin telah selesai dengan membawa mantel dan tas, ia kembali kesal ketika sang kakak masih belum keluar menunggu, Ha jin harus meneriaki nya sekali lagi.
"Oppa, bisa tidak lebih cepat untuk bersiap? Harusnya Ha jin yang lama, kenapa sekarang gantian."
"Sabar, oppa baru saja berbicara dengan sekretaris di kantor makanya lama di dalam."
"Tapi sekarang sudah selesai 'kan? Ayo cepat berangkat oppa, aku ingin bertemu Hwan hee."
"Iya, tidak perlu sebegitu nya hanya ingin menemui Hwan hee. Kamu harus tenang dan sabar, jangan berlebihan." Ha jin mengangguk.
"Kenapa harus pakai masker sih, orang jepang hanya akan mengenal oppa karena sering berbisnis kesini, disini kamu tidak dikenal."
"Oppa tidak akan tahu kalau aku juga terkenal di Jepang, aku tidak langsung jadi aktris juga tapi pernah bernyanyi walaupun akhirnya memfokuskan diri pada akting."
"Itu namanya suara kamu yang kurang bagus."
"Ih bukan, tapi iya sih. Sebenarnya dikenal disini karena promosi jual pemasaran nya lebih pesat disini dari pada di koreanya sendiri, jadi sangat tidak mungkin jika tidak mengenal seorang Song ha jin." Ha jin semakin menyombongkan diri.
"Baiklah artis terkenal mari kita berangkat saja, jangan menyombongkan diri di depan oppa mu ini yang juga tidak kalah terkenalnya." Ha joon mendahului adiknya berjalan lebih dulu.
Ha joon sudah menyewa mobil untuk dirinya pakai beberapa hari di jepang.
"Sebenarnya Hwan hee kemana, kenapa aku hubungi nomornya tidak bisa?"
"Oppa tidak tahu mau menjawab apa, nanti kamu pasti akan tahu sendiri." Ha joon takut memberitahu adiknya.
"Apa terjadi sesuatu? Jangan membuat aku khawatir oppa." Ha jin memandangi kakaknya yang sedang menyetir, Ha joon yang masih menutup mulutnya tidak menoleh sama sekali. Sampai mobil nya berhenti di parkiran, herannya lagi saat Ha jin lihat ternyata seperti tidak asing.
"Rumah sakit?" Ha jin bisa membaca tulisan kanji, karena dirinya keturunan Jepang.
Ha joon hanya diam menatap kedepan dan tidak beranjak sama sekali, ia takut membawa adiknya masuk.
"Oppa, aku bisa baca ini rumah sakit, untuk apa kita ke rumah sakit?"
Mereka berada di ** Tokyo general hospital, Ha jin sekarang merasa khawatir bingung siapa yang sedang di rawat di rumah sakit ini.
"Ayo kita masuk." Ha joon keluar dari mobilnya diikuti oleh Ha jin yang berjalan agak pelan dari Ha joon, ia sudah merasa takut seakan trauma dengan dirinya yang tiba-tiba berada di rumah sakit waktu itu.
Berjalan menelusuri melewati banyak orang, Ha joon berhenti kala ia sudah melihat yang ia kenal.
Ha jin tidak sadar jika Ha joon berhenti, kepalanya menabrak bahu kakaknya.
"Oppa, kenapa berhenti disini?" Tanya Ha jin membuat Ha joon minggir memperlihatkan appa Lee dan eomma Jia bersama yang lain.
"Annyeonghaseyo kenapa pada disini, ada apa eomma dan appa berada disini?" Tanya Ha jin pada mereka.
Lalu Ha jin menatap beberapa orang yang ia kenal, ia hitung member nya hanya ada empat orang. Do hyun, Joon woo, Seo min, dan Seung cheol. Seperti ada yang kurang dan ia inget lagi ternyata tunangan nya yang tidak ada.
"Hwan hee kemana? Apa belum datang? Ha jin takut sekali karena kalian semua berada di rumah sakit." Menghela nafas lega karena sepertinya tidak ada apa-apa.
"Hwan hee sedang di dalam," eomma Ha jin memeluk Ha jin.
"Eomma kenapa sedih, Hwan hee jenguk siapa? Apa jangan-jangan wanita? Tidak masalah eomma, Ha jin tidak akan marah." Eomma min Jia menggelengkan kepalanya di pelukan Ha jin. Mata Ha jin mencari Seo min yang biasa memberi penjelasan tanpa dirinya meminta.
"Nuna, hyeong tidak sedang menjenguk siapa-siapa."
"Lalu sedang apa?"
"Hyeong di periksa dokter karena baru sadarkan diri tadi." Ha jin ber oh ria, namun akhirnya sadar bahwa Hwan hee yang menjadi pasien.
"Sadarkan diri? Aku tidak paham apa yang kamu bilang Seo min."
"Nuna-
"Ha jin, kita duduk dulu." Eomma min Jia membawa Ha jin ke kursi. Ha joon hanya berdiri sambil berjaga-jaga melihat ekspresi adiknya.
"Eomma akan beritahu tapi kamu harus tenang," ucap Min Jia karena takut dengan sakit Ha jin akan tiba-tiba datang.
"Hwan hee baru sadarkan diri dari kritisnya, dia kecelakaan setelah membelikan sesuatu untuk kamu. Mobil melintas cepat membuat nya mental jauh hingga terjadi seperti ini." Ha jin memegang dadanya yang terasa sesak sampai ia untuk bernafas saja terasa susah.
"Ha jin, kamu harus tenang okay, Hwan hee baik-baik saja." Ha joon mencoba menenangkan Ha jin, sedangkan eomma Min Jia menangis melihat calon menantu nya bereaksi tidak sesuai dengan yang ia harapkan.
"Nak, tenang dulu." Min Jia memberikan air pada Ha jin, karena bagaimanapun jiwa Ha jin tetap saja setelah beberapa minggu kecelakaan tidak mungkin langsung sembuh total.
Teman-teman Hwan hee memberikan air dan juga semangat, karena bukan hanya Hwan hee sekarang yang harus mereka perhatikan, tapi juga Ha jin yang mereka anggap sebagai nuna dan adik.
Ha joon menenangkan Ha jin, appa Lee hanya diam namun terlihat sangat khawatir.
Mereka berkerumun hingga tidak sadar jika dokter sudah keluar.
"Permisi,"
"Bagaimana dengan keadaan anak saya?" Tanya appa Lee dengan menggunakan bahasa inggris.
"Saya harus bicara dengan kedua orang tuanya terlebih dahulu sebelum kalian saya izinkan untuk menjenguk pasien."
"Maaf, boleh saya ikut dokter? Saya juga calon istrinya, jadi boleh mendengar apa Hwan hee baik-baik saja atau tidak." Ha jin menggunakan bahasa jepang, dokter tersebut sempat terkejut lantaran mereka dari Korea, namun dokter akhirnya tersenyum dan menolak dengan baik jika Ha jin tidak perlu ikut, cukup kedua orang tua nya saja.
Ha joon menemani Ha jin yang menatap teman-teman Hwan hee, Ha jin nampak marah karena tidak ada salah satu dari mereka yang mau menghubungi Ha jin, mereka justru nonaktifkan telepon.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istjmariellaahmad98
See you...