A REAL DREAM

A REAL DREAM
Kamu marah?



Sejak tadi Hwan hee menghubungi Ha jin, namun dirinya saat ini ingin me time dan berpikir keras untuk mengingat apa saja yang di lupakan dari ingatan Ha jin asli.


"Aku mau pulang dari sini, aku masih mau tinggal dengan keluarga ku. Mama, papa, sama kak Vino. Kenapa harus aku yang ada disini, coba saja yang lain. Ternyata bersama Hwan hee itu tidaklah mudah, aku berjanji tidak akan mengagumi nya dan ingin bersamanya asal aku bisa kembali kerumah."


Ha jin bicara sendiri sambil menatap ponsel nya yang terus di hubungi Hwan hee.


"Permisi, apa kamu baik-baik saja?" Tanya seseorang yang di samping Ha jin.


"Ah aku baik-baik saja," jawabnya semakin menutup wajahnya dengan topi.


Lalu Ha jin pergi dari restoran itu, ia sudah malas berada di luar dan ingin pulang saja ke rumah. Ha jin jalan kaki menuju rumahnya, tak lama dari restoran ia sampai karena memang di dekat rumahnya.


Ada mobil Hwan hee terparkir disana, ia ingin berbalik dan kembali ke tempat tadi namun bertepatan dengan Hwan hee yang keluar dari rumah yang langsung mengejarnya.


"Sayang, aku mohon jangan menghindar." Hwan hee berlari dan Ha jin hanya bisa diam.


"Aku minta maaf karena menuduh kamu, aku tidak berpikir kamu masih belum pulih total. Tapi aku malah menuduh kamu sembarangan." Hwan hee memeluk Ha jin.


"Sudah?" Tanya Ha jin membuat Hwan hee melepas pelukannya dan menatap wajah Ha jin.


"Kamu marah?" Tanya nya membuat Ha jin ingin sekali menyuruh nya untuk ingat kembali, namu itu terlalu panjang.


"Tidak perlu tanya kamu sudah tahu jawabannya, aku lelah ingin istirahat." Ha jin menuju rumahnya namun lagi-lagi di tahan oleh Hwan hee.


"Apa lagi? Cukup untuk hari ini, tolong jangan temui aku beberapa hari ini."


Ha jin ingin beberapa hari ini Hwan hee juga bisa lebih mengerti dirinya, karena tidak bisa sepenuhnya ia ingat. Namun memang untuk menyuruh nya langsung Ha jin belum bisa karena dirinya hanya menumpang jiwa di tubuh tunangan Hwan hee ini. Terlalu panjang dan rumit jika ia ceritakan sekarang kepada Hwan hee jika dirinya bukan Ha jin asli, jika ia ceritakan sekarang banyak yang harus ia tanggung. Dari tempat tinggal, hubungan nya, dan karir yang bisa saja tidak menerima nya karena bukan Ha jin asli, atau perkiraan orang bisa menilai dirinya sedang mengada dan kurang waras.


Ha jin masuk sedangkan Hwan hee masih di luar melihat kepergian Ha jin berjalan masuk, ia juga tahu dirinya salah dengan sikapnya yang tidak berpikir dua kali menuduh orang.


"Kamu kenapa di luar?" Tanya Ha joon yang baru pulang dari kantor melihat Hwan hee di luar melihat ke arah pintu rumahnya.


"Aku sudah dari dalam, Ha jin marah dengan ku?" Ha joon hanya menaikkan satu alisnya bingung.


"Aku menuduh nya masih berhubungan dengan Ji sung, aku lupa jika dia saja tidak sepenuhnya mengingat ku. Jadi untuk beberapa hari kedepan Ha jin tidak mengizinkan aku menemui nya."


"Aku akan membujuknya agar tidak lagi marah dengan mu."


"Tidak hyeong ini salah ku, aku akan pulang ke rumah menemui keluarga ku. Aku hanya minta tolong sampaikan permintaan maaf ku, karena percuma jika aku menghubungi nya pasti tidak akan di balas." Hwan hee sadar dirinya salah.


"Aku mengerti."


Hwan hee tersenyum berpamitan pada Ha joon, ia masuk ke dalam mobilnya melihat ke dalam rumah itu masih berharap jika Ha jin akan menemui nya, lalu ia melajukan mobilnya karena tidak ada tanda-tanda yang ia tunggu.


Ha joon menggelengkan kepalanya lalu masuk untuk melihat adiknya di dalam.


Mengetuk pintu kamar Ha jin, ia ingin masuk namun kali ini pintunya terkunci dari dalam.


"Ha jin, oppa mau bicara sama kamu." Pintu kamarnya terbuka dan Ha joon langsung masuk mengikuti adiknya itu ke ranjang.


"Ha jin, dia tadi kesini hanya ingin meminta maaf. Oppa kasihan karena biasanya kalian sangat sweet, tapi sekarang kalian bertengkar seperti ini."


"Oppa tidak tahu yang terjadi hingga aku seperti ini."


"Oppa tahu, maka dari itu Hwan hee meminta maaf atas semuanya karena tidak bisa menghubungi mu."


"Cih, cuma segitu permintaan maaf nya? Jauh beda dengan yang ada di drama, tidak ada pengorbanan apapun."


Ha joon tertawa mendengar ocehan adiknya.


"Kamu harus mengingat nya jika kamu dan Hwan hee akan segera menikah beberapa bulan lagi."


"Bahkan aku lupa jika punya tunangan, mana mungkin aku bisa ingat akan menikah."


"Kamu ini lucu sekali, Hwan hee akan menemui mu lagi tapi setelah beberapa hari karena dia pulang ke rumah keluarga nya." Ha joon mengacak rambut Ha jin lalu keluar untuk membersihkan diri dan istirahat.


"Kamu pulang, kenapa tidak bersama Ha jin?" Tanya eomma Min Jia.


"Ha jin nanti kesini, tapi belum tahu kapan masih ada di rumah nya soalnya."


"Kenapa kamu biarkan menantu eomma pulang ke rumahnya, dia juga ingin menemui appa biar semakin mengingat keluarga mertuanya. Ingat ya kalian akan segera menikah, jadi apapun masalah nya harus diselesaikan dengan kepala dingin."


"Iya nanti aku kasih tahu Ha jin, aku akan ke kamar setelah latihan tadi aku lelah sekali." Hwan hee masuk ke dalam kamarnya meninggalkan kedua orang tuanya yang masih ingin menanyakan Ha jin.


"Apa mereka bertengkar? Seperti nya tadi pagi baik-baik saja."


"Itu urusan anak muda, biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan masalahnya sendiri kalau memang sedang tidak baik-baik saja." Saran appa Lee membuat eomma Min Jia mengangguk.


...******...


"Sekarang rumah ini jadi sepi, biasanya Cala yang menyambut kedatangan kita dan mama juga sering berada di kamar Cala tidak sempat untuk menunggu kita pulang." Papa Kenzo melihat rumahnya yang terang namun seperti gelap.


"Kita yakin saja Cala cepat sadar pa."


"Melihat kondisi nya yang seperti itu sangat mengkhawatirkan, mana bisa papa bisa se yakin itu dengan kesembuhan Cala." Vino juga tidak tahu apa yang akan di lakukan dirinya supaya adiknya cepat sadar.


Mereka berdua mengintip dari pintu, mama asih hanya meneteskan airmata nya sambil mengelus wajah Cala yang masih setia menutup matanya.


"Kenapa tidak mau membuka matanya, sayang. Mama ada disini, kamu mau apa biar mama kabulin permintaan kamu." Ucapnya sambil terus menatap wajah Calandra, papa Kenzo dan Vino tidak bisa menahan air mata nya tidak menetes, Vino cepat menuju kamarnya tidak sanggup melihat mama nya begitu juga dengan papa Kenzo yang menutup kembali pintu kamar Calandra.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98


See you...