A REAL DREAM

A REAL DREAM
Mantan



"Kamu dimana, Cala? Mama sama papa, abang juga sedih kamu gak ada." Ucap mama nya mencari keberadaan Calandra, namun tidak ketemu. Calandra melihat mama nya, ia juga memanggil nya tetapi mama nya tidak mendengar nya.


"Mama, Cala rindu kalian. Dengar Cala ma, Cala disini ma." Ha jin menangis sambil tetap menutup matanya, Hwan hee terbangun mendengar teriakan Ha jin namun tidak mengerti dengan yang diucapkan.


"Sayang, hey bangunlah!" Hwan hee membangunkan Ha jin yang terus mengigau berteriak sambil menangis.


"Sayang," Hwan hee kembali menepuk-nepuk pelan pipi Ha jin, karena terganggu Ha jin terbangun menatap tunangannya.


"Hwan hee, omma." Hwan hee tahu orang tua Ha jin telah meninggal, ia hanya mengira itu adalah mimpi buruk tentang kematian orang tuanya.


"Omma sudah di surga, dia sudah tenang disana bersama appa." Hwan hee memeluk Ha jin yang kembali menangis di dekapan nya.


Hwan hee menepuk-nepuk Ha jin agar lebih tenang.


"Sudah ya, kamu harus tidur lagi." Hwan hee juga mengantuk.


Ha jin melepas pelukannya dan hendak turun dari ranjang, namun Hwan hee menahan nya karena takut kemana-mana.


"Kamu mau kemana?"


"Kamu gak lihat aku jelek gini abis nangis, aku mau ke kamar mandi abis itu skincare an lagi."


"Kamu gak pernah jelek, dan kamu yang paling cantik karena omma sudah tua." Ucap Hwan hee memuji kecantikan tunangan nya.


Ha jin hanya tersenyum dan lalu beranjak ke kamar mandi, ia menutup pintu kamar mandi rapat-rapat dan menangis dengan menutup mulutnya agar Hwan hee tidak mendengar suara tangisnya.


"Cala rindu sama kalian, Cala tau disini banyak juga yang menyayangi Cala, tapi kalian keluarga asli Cala. Aku gak tahu kenapa bisa masuk ke tubuh orang ini, tapi gimana oppa dan Hwan hee jika aku pergi." Ha jin masih dengan tangisnya sampai merosot terduduk di kamar mandi sambil melihat gelang pemberian kakaknya.


"Sebentar, apa karena gelang ini aku bisa sampai sini?" Ha jin mengelap air matanya menyentuh gelang itu, ia mencoba melepaskan namun tidak bisa.


"Apa maksud kak Vino dengan gelang ini, kenapa memberikan padaku? Kenapa kak Vino jahat, mau memisahkan aku dari mama dan papa."


"Sayang, kenapa lama sekali? Kamu baik-baik saja 'kan?" Tanya Hwan hee mengetuk pintu.


"A-aku baik-baik aja, sebentar lagi aku keluar."


"Jangan lama-lama nanti kamu masuk angin." Ha jin tidak menjawab nya, ia kembali menatap gelang itu dan memikirkan lagi bagaimana jika dia pergi, maka orang yang menyayangi nya akan sedih juga.


Ha jin berdiri dan mencuci wajahnya lalu bercermin. Ia melihat wajahnya memang lebih bersih dan halus berbeda dengan dirinya yang di Indonesia, hanya potongan rambut pendeknya yang sama.


Ha jin membuka pintu kamar mandi, Hwan hee langsung beranjak menghampiri. Ha jin kira tunangannya itu akan kembali tidur, namun perkiraan nya salah ia malah menunggu nya.


"Sayang, kenapa lama sekali?" Tanya Hwan hee.


"Aku hanya bercermin sambil cuci muka, kenapa kamu tidak kembali tidur? Aku segera menyusul setelah memakai skincare."


"Tidak masalah akan aku temani." Ha jin tersenyum padahal Hwan hee lelah dengan kesibukan nya syuting dan latihan di dorm.


Jam tujuh pagi Ha jin bangun lebih dulu lagi dari Hwan hee, menurut nya itu sudah kesiangan dari biasanya. Namun Hwan hee malah santai saja dan menambah waktu tidurnya.


Ha jin bangun dengan menjepit rambutnya, ia berjalan keluar untuk membuat sarapan pagi sambil menguap.


Saat membuka pintu kamar ia tidak menyadari ada yang memperhatikan dirinya, sampai akhirnya ia berjalan ke dapur dan mengambil air untuk di minum. Setelah menutup pintu kulkas, ia terlonjak saat seorang perempuan dewasa berdiri di depannya.


"Apa eomma mengejutkan mu?" Tanya nya membuat Ha jin bingung.


"Eomma?" Ha jin kebingungan bertanya dan orang itu juga nampak bertanya-tanya.


"Sayang, kenapa kamu pergi?" Hwan hee keluar kamarnya mencari keberadaan Ha jin.


"Ah sayang, siapa wanita ini? Aku tidak mengingat nya." Ha jin bertanya pada Hwan hee sedangkan wanita itu membuka mulutnya terkejut Ha jin tidak mengingat nya.


Hwan hee mengucek-ucek matanya yang masih nampak buram, ia pikir barusan Ha jin ada dua.


"Eomma," ucapnya ketika sudah jelas penglihatan nya.


"Kenapa Ha jin tidak mengingat eomma?"


"Hwan hee lupa untuk mengabari eomma, kalau waktu itu Ha jin di rawat di rumah sakit beberapa hari dan sampai koma. Setelah itu dia lupa sebagian ingatan nya, ia hanya mengingat oppa nya."


"Oh ya ampun nak, ini eomma mertuamu. Sekarang coba belajar panggil eomma, coba ulangi, eomma." Wanita setengah baya atau berumur sekitar 45 tahun, wanita itu masih terbilang muda dengan penampilan yang juga tidak kalah dengan anak nya. Eomma dari Hwan hee adalah Min Jia, ia mengaku dan malah menganggap dirinya sebagai mertua dari Ha jin.


"Eomma," Ha jin mengikuti Min Jia, karena di ingatan nya lagi-lagi tidak ada eomma Hwan hee.


"Kamu mau ngapain keluar kalau tidak ada jadwal syuting?" Tanya nya.


"Ha jin ingin menyiapkan sarapan pagi untuk ku dan Hwan hee, jadi bangun tanpa cuci muka langsung ke dapur." Hwan hee dan Min Jia saling menatap, kenapa Ha jin terlihat meragukan, apa karena ada Min Jia jadi ia beralasan akan memasak.


"Aku? Pagi ini aku mau masak bibimbap, gyeran mari dan gilgeori toast. Sudah aku pikirkan sejak tadi malam, kenapa kalian seperti tidak percaya." Ha jin menatap ibu dan anak itu memang terlihat terkejut saat Ha jin mengatakan akan memasak.


"Baiklah kalian tunggu, Ha jin yang akan memasak."


"Eomma tadi membeli bahan dapur sebelum kesini, jadi kamu pakai saja jika dibutuhkan. Kamu yakin mau memasak?" Ha jin mengangguk sambil mengambil satu persatu dan meletakkan di tempat nya. Lagi-lagi mana pernah seorang Ha jin merapikan barang itu dengan rapi.


"Kalau eomma kesini, appa bagaimana?" Tanya Ha jin sambil memulai memotong beberapa sayuran untuk ia masak, ia di rumah nya juga sering membantu mama nya.


"Kamu mengingatnya?"


"Tidak, aku hanya bertanya."


"Appa bekerja di perusahaan seperti hyeong Ha joon, jadi sekarang sudah berangkat ke kantor." Ha jin hanya mengangguk sambil memasak dan kembali memotong untuk masakan yang lain, ia terlihat sudah terbiasa di dapur jadi Hwan hee tidak khawatir lagi dengan Ha jin yang tidak bisa memasak.


Kurang dari 30 menit Ha jin sudah siap dengan tiga masakan itu, karena ia sigap memotong dan merebus sambil menggoreng lalu memanggang roti.


"Sayang, aku bantu kamu mencuci panci." Hwan hee membantu Ha jin karena tidak mungkin juga seorang artis papan atas menyentuh sabun, ia lupa jika dirinya juga artis dan seorang idol.


"Kalian makanlah dulu dan eomma yang akan bereskan itu, eomma lebih tahu membereskan nya." Min Jia ingin mereka makan dan segera berangkat jika harus syuting.


Hwan hee dan Ha jin serta Min Jia sudah duduk di meja makan untuk mencicipi masakan dari Ha jin, dilihat dari bentuknya juga sangat rapih.


Dengan satu kali suapan Min Jia dan Hwan hee membesarkan kelopak matanya, masakan Ha jin sangat enak setara dengan di restoran ternama Korea.


Hwan hee dan Min Jia memuji masakan nya, Ha jin tersenyum dengan kehangatan yang di berikan oleh Min Jia padanya.


Sudah jam sembilan, Hwan hee dan Ha jin sudah bersiap akan keluar latihan. Lebih tepatnya Hwan hee yang akan latihan, dan Ha jin akan ikut kesana. Min Jia juga sudah pulang, ia tadinya hanya ingin melihat anaknya dan mengurus apartemen yang di khawatirkan kotor, namun sudah di bersihkan Ha jin.


Hwan hee dan Ha jin mengendarai mobil menuju dorm, setelah sampai disana mereka berjalan masuk tidak lupa dengan topi dan masker.


"Sayang," panggil Hwan hee yang berada di belakang Ha jin untuk memotret tunangannya itu. Ha jin menoleh dan tersenyum walau tidak terlihat seperti foto candid yang natural tetap sangat memukau kecantikan nya. Tentu saja Hwan hee mengunggah di akun sosial media miliknya.


Ketika mereka akan sampai Ha jin tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.


"Maaf, saya tidak sengaja." Ucap Ha jin melihat laki-laki itu yang juga seorang idol di agensi yang sama dengan Hwan hee.


"Ha jin."


"Kau mengenalku?" Tanya Ha jin penasaran bagaimana bisa orang itu mengenal nya.


"Sayang, ayo aku sudah di tunggu teman-teman." Hwan hee melirik orang itu dan membawa Ha jin menuju tempat latihan nya.


"Kamu kenapa masih menyapa nya? Aku marah sama kamu."


"Aku menabraknya, jadi aku meminta maaf. Apa itu salah?"


"Tidak, tapi aku cemburu kau menyapa mantan mu."


Hah? Mantan?


"Aku lupa dengan nya, mana bisa kamu cemburu sama dia disaat aku tidak mengingat apapun."


"Tetap saja aku akan marah." Mereka sudah masuk ke tempat latihan dimana mereka di sambut ke empat orang teman Hwan hee, namun wajah yang tidak bersahabat itu hanya meletakkan tas nya dan bersiap untuk latihan.


"Kenapa lagi, eonni?"


"Aku tidak mengerti. Tadi aku nabrak orang di depan, terus aku minta maaf dan ternyata orang itu mengenal ku."


"Apa salahnya dengan itu?"


"Hwan hee bilang dia adalah mantan ku."


"Pantas saja semarah itu, dia pasti cemburu."


Benar saja ke empat temannya langsung bersiap untuk latihan dan tidak lagi bertanya pada Ha jin, mereka tidak mau ikut campur.


Ha jin lalu duduk di sudut ruangan menunggu mereka latihan, ia masih memikirkan lagi apa yang salah dengan meminta maaf? Dirinya juga tidak menyapanya, bukan? Kenapa harus cemburu.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98


See you...