
Ha jin masih di luar bersama kakak dan teman-teman Hwan hee, mereka ikut menunggu dokter dan orang tua Hwan hee karena belum juga kembali dari ruang dokter. Teman-teman Hwan hee ingin sekali memberi semangat pada Ha jin dan meminta maaf, namun sepertinya Ha jin marah dengan semuanya.
Min Jia dan appa Lee datang bersama dokter, Ha jin langsung berdiri ingin tahu apa yang dibicarakan di dalam ruangan dokter.
"Eomma, bagaimana?" Tanya Ha jin. Ha joon dan teman-teman Hwan hee juga ikut berdiri.
"Kamu duduklah nak, jangan terlalu dipikirkan tentang Hwan hee, dia baik-baik saja." Eomma min Jia bersama appa Lee bingung ingin menjelaskan apa.
"Baik-baik saja tapi raut wajah eomma dan appa kenapa seperti tidak meyakinkan, bukan berarti Ha jin tidak percaya tapi hanya kurang yakin saja."
"Ha jin, kamu tenang dulu sampai mereka mau menjelaskan nya nanti. Kamu harus tetap tenang." Ha joon menenangkan adiknya, namun Ha jin menatap dokter itu dan mulai bertanya dengan menggunakan bahasa jepang yang tidak di mengerti oleh orang tua Hwan hee.
"Anda sebagai dokter tidak perlu menutupi apa yang sedang terjadi, bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan tunangan saya?" Ha jin ingin tahu apa yang terjadi.
"Saya sudah menjelaskan pada kedua orang tua nya, jadi untuk apa memberitahu mu juga." Dokter itu malah membuat Ha jin naik darah.
"Baiklah, saya akan buat dokter tidak ada di rumah sakit ini seterusnya, jika masih belum mau memberitahu apa yang terjadi dengan Hwan hee. Saya bukan hanya artis di Korea tapi juga influencer yang dikenal di beberapa negara, bukan merasa tinggi, tapi kalau saya tidak memberitahu dokter maka dokter akan semena-mena terhadap saya. Saya hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan tunangan saya, tapi dokter tidak melihat saya sebagai tunangan nya, berarti dokter harus melihat saya yang adalah seorang berpengaruh."
Panjang lebar Ha jin berbicara karena hanya ingin mengetahui itu saja dirinya harus mengeluarkan emosi nya.
"Baiklah saya minta maaf karena saya masih ingin berada di rumah sakit ini. Saya akan beritahu anda apa yang terjadi dengan pasien." Teman-teman Hwan hee sedikit mengerti karena mereka sebagai idol juga pernah lama di Korea mempromosikan grup nya.
"Pasien mengalami benturan cukup kuat, hingga membuat pasien mengalami melupakan beberapa sebagian ingatan nya." Ucap dokter setelah sepersekian detik di jeda.
"Maksudnya? Dokter pasti salah! Tidak mungkin sampai hilang ingatan." Ha jin kekeuh, padahal yang lebih tahu adalah dokter nya. Ha joon menenangkan adiknya, Ha jin memberontak dan memukul kakaknya, namun tetap Ha joon menahannya agar lebih tenang.
Teman-teman Hwan hee yang paham ucapan dokter tersebut juga ikut terkejut, pasalnya memang parah kecelakaan yang terjadi, namun mereka tidak berpikir sampai hilang ingatan.
Eomma memeluk suaminya, karena Ha jin sudah mengetahui keadaan anaknya, ia sangat sedih dan terpukul lebih dari yang Ha jin rasakan, namun mereka ingin melampiaskan kemarahannya pada siapa jika tidak menahannya sendiri. Di tambah sekarang mereka harus menenangkan Ha jin yang menurut mereka calon menantu nya baru saja pulih dari kecelakaan yang juga menyebabkan hilang ingatan.
"Bagaimana caranya membuat Hwan hee kembali mengingat? Sedangkan seseorang yang ingatan nya hilang tidak boleh terlalu di paksakan untuk mengingat."
"Tenang dulu, oppa dan yang lain akan membantu bersama orang tua Hwan hee juga. Kamu tidak sendiri, tenanglah!" Ha joon terus menenangkan adiknya yang mengoceh tak jelas dengan keadaan Hwan hee.
Ha jin mengangguk sambil melihat teman-teman Hwan hee yang masih membuat nya marah karena tidak mengabarinya, dirinya malah lebih tahu belakangan.
"Sekarang boleh jika ingin menjenguk pasien, namun harus pelan-pelan cara menjelaskan siapa diri kalian." Ucap dokter menggunakan bahasa inggris, karena orang tua Hwan hee tidak mengerti bahasa jepang.
"Kamu duluan saja nak, eomma dan appa setelah kamu." Min Jia mengalah demi Ha jin.
"Tidak, eomma dan appa lah yang harusnya menemui Hwan hee lebih dulu dan mengenal siapa orang tuanya." Ha jin tidak mau egois karena memang yang pantas adalah orang tuanya.
Eomma dan appa Lee tersenyum dan masuk untuk menemui Hwan hee, Ha jin kembali memeluk kakaknya demi mengurangi rasa sedihnya. Ha jin tidak tahu cara yang sama untuk ia lakukan seperti waktu dirinya lupa ingatan dulu, banyak cara yang dilakukan Hwan hee agar Ha jin mengingat lagi masa-masa saat bersama nya.
"Hwan hee," ucap eomma Min Jia.
Hwan hee menoleh saat Min Jia dan appa Lee datang, ia hanya menatap saat orang tuanya mendekat.
"Halo nak, apa kamu baik-baik saja?" Tanya eomma Min Jia.
"Apa ada yang sakit? Bilang sama appa."
Hwan hee tidak melepas tangannya saat dipegang kedua orang yang tidak ia kenal.
"Kamu kenal sama eomma dan appa?" Tanya Min Jia.
Hwan hee menggelengkan kepalanya, ia benar-benar lupa siapa orang tuanya dan dirinya sendiri pun ia lupa.
"Yeobo," Min Jia sudah tidak tahu ingin menjelaskan apa, dirinya sudah lebih dulu tidak mampu berbicara.
"Hwan hee itu nama kamu, ini eomma dan appa kamu. Hyeri nama adik kamu, sekarang dia di Korea tidak ikut kemari."
"Hwan hee? Eomma dan appa? Hyeri?"
"Iya, kita empat orang. Tapi karena sebentar lagi kamu akan menikah anggota nya nambah jadi 5 orang."
"Menikah? Aku tidak ingat kalau aku akan menikah." Tentu saja tidak ingat, Hwan hee sendiri sedang hilang ingatan.
Sedikit merasa pusing melihat gambar yang di tunjukkan, namun Hwan hee mengambil ponsel appa nya dan ia melihat lebih jelas.
"Dia adalah tunangan kamu, dia seorang artis sama seperti mu. Orang nya baik dan cantik, kamu sangat mencintai nya sangat." Eomma Min Jia ingin anaknya ingat sekarang, semua nya tanpa terkecuali. Namun itu mustahil dan butuh waktu untuk tidak membuat memori ingatan Hwan hee hilang.
"Aku anak eomma dan appa?" Tanyanya lagi.
"Iya kamu Hwan hee, anak eomma dan appa."
Hwan hee mengerti, ia sudah mulai paham jika mereka berdua adalah orang tuanya.
"Aku ingin bertemu," ucap Hwan hee.
Eomma Min Jia dan appa Lee saling pandang.
"Ingin menemui siapa? Di luar ada teman-teman kamu, ada Ha joon dan Ha jin tunangan kamu."
"Aku mau menemui yang nomor 3."
"Eomma tidak ada menyebutkan angka, jadi yang mana kamu ingin temui?" Tanya eomma Min Jia.
"Aku ingin bertemu dengan Ha jin, aku ingin tahu apa jawaban yang diberikan dia sama dengan yang diucapkan eomma dan appa." Hwan hee ingin tahu pasti apakah dirinya benar Hwan hee dan anak dari dua orang di depannya, ditambah Ha jin adalah tunangan nya.
"Sebentar biar eomma yang panggil, kamu tunggu disini sama appa." Hwan hee mengangguk saat eomma nya berdiri dan keluar.
Ha jin dan yang lain menoleh kearah pintu, eomma Min Jia keluar menuju Ha jin.
"Ada apa eomma, apa Ha jin boleh masuk sekarang?" Tanya Ha jin.
"Apa kita juga boleh masuk, eomma?" Tanya teman-teman yang lain.
"Sayangnya eomma harus minta maaf dengan kalian, Hwan hee ingin bertemu dengan Ha jin."
"Disaat hilang ingatan pun, cintanya tetap bisa mengalahkan kita semua. Cinta mereka begitu besar sehingga kita yang lebih lama bersama juga tidak diingat." Seo min tahu jika kebucinan Hwan hee tidak mungkin hilang begitu saja, walaupun ingatan nya hilang.
Min Jia tertawa mendengar penuturan Seo min.
"Kalian yang sabar, Hwan hee juga akan bertemu kalian. Tapi pertama memang Ha jin." Mereka mengangguk dan juga tahu jika lebih baik yang terdekat seperti orang tua dan calon tunangan.
"Ayo eomma."
"Sepertinya ada yang tidak sabar ingin menemui calon suami." Eomma masih sempat untuk menggoda Ha jin.
Mereka tersenyum melihat Ha jin yang masih bertahan untuk menemui Hwan hee, tidak sampai seperti drama yang sering ia perankan ataupun teman artis yang lain langsung pingsan.
"Oppa, Ha jin masuk dulu ya." Ha jin izin masuk pada kakaknya.
Ha joon rela menemani adiknya menemui Hwan hee di jepang, meninggalkan segala pekerjaan di kantor nya demi menjaga adiknya agar tidak sendirian di jepang. Walaupun biasanya Ha jin bepergian sendiri, namun saat itu akan ada Hwan hee. Berbeda dengan saat ini jangankan menjaga, mengingat saja Hwan hee belum pasti mengenal nya.
Ha jin dan eomma Min Jia masuk, ia merasa gugup menemui Hwan hee saat ini. Laki-laki yang selalu mengganggu dirinya, saat ini sama sekali tidak mengenalnya.
"Appa, ayo kita keluar! Biarkan Ha jin dan Hwan hee berbicara berdua."
"Appa dan eomma tunggu diluar nak."
"Jangan terlalu memaksa untuk mengingat semuanya, kita akan pelan-pelan buat kamu ingat semuanya." Pesan eomma Min Jia sebelum keluar, karena mengingat yang sudah hilang dari ingatan seseorang akan berdampak buruk akhirnya.
"Mendekat ke samping Hwan hee, kamu bicaralah dengannya. Buat dia mengingat kamu pelan-pelan, appa keluar sama eomma." Appa Lee dan eomma Min Jia begitu menyayangi Ha jin sebagai pasangan dari anaknya, mereka benar-benar tulus seperti orang tua pada anaknya.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...