A REAL DREAM

A REAL DREAM
Sahabat Ha jin



Sore setelah kelar syuting, Moon Jiyoung dan Kang Nara ke rumah sakit untuk menemui sahabatnya.


Mereka masuk dan mendapati Song ha jin yang sedang menatap langit-langit ruang rawat nya, tidak sadar jika kedua sahabatnya berada di dalam sana.


"Ha jin," sapa mereka tidak seheboh seperti biasanya, karena di rumah sakit dan tidak mau membuat sahabat nya terkejut dengan kedatangan mereka yang tiba-tiba.


Song ha jin sadar ada yang memanggil nya, ia menoleh karena biasanya yang kesana kakak atau tunangannya.


"Ah apa kalian-


"Oh tidak mereka adalah dua sahabat Song ha jin, aku harus pura-pura menjadi Ha jin." Batin nya karena yang ia tempati memang tubuh Song ha jin.


"Kalian mengunjungi ku? Terima kasih. Aku tahu kalian sangat sibuk dan masih sempat untuk menjenguk." Ucap Song ha jin tersenyum menatap kedua sahabatnya yang sudah membuka mantelnya dan duduk di kursi samping brankar.


"Kau ini bicara apa? Kau itu sahabat kita, mana mungkin sampai tidak sempat untuk kesini." Ucap Kang Nara.


"Iya, sesibuk apapun seorang sahabat akan tetap mengunjungi sahabat nya yang sedang sakit. Kapan kamu bisa pulang?" Tanya Moon Jiyoung.


"Karena kamu sudah bertanya kamu harus tanggung jawab Jiyoung, Nara, bawa aku pulang sekarang juga aku bosan di rumah sakit." Ha jin memohon, sedangkan Nara dan Jiyoung saling pandang.


"Kamu lupa atau gimana? Kamu itu baru siuman dan sekarang sudah minta pulang."


"Please bantu aku keluar, kalian tahu makanan rumah sakit itu tawar dan makanannya tidak enak. Berbeda dengan di rumah sendiri makan roti saja sudah seperti makan di restoran mahal." Ha jin benar-benar tidak betah di rumah sakit, apalagi jika ada tunangannya.


"Kita gak mau dapat amarah dari oppa Ha jin, apalagi tunangan bucin mu itu."


"Aisshh kalian benar-benar jahat, aku hanya ingin pulang dan kita bisa main lagi tidak perlu kerumah sakit ini."


Tok tok...


Hanya mengetuk pintu padahal sudah masuk di dalam ruang rawat Ha jin.


"Ck orang ini, malas sekali aku lihatnya." Lirih Ha jin namun masih bisa di dengar kedua sahabatnya.


"Apa kalian sedang bertengkar? Makanya kamu tadi memohon untuk pulang?" Bisik kedua sahabatnya mendekat ke wajah Ha jin.


"Tidak, tapi aku malas saja."


"Bukannya kamu suka dia begitu?" Tanya kang Nara.


"Itu dulu Nara, beda dengan sekarang terlalu dekat dan posesif." Mereka mengangguk dan menjauh dari wajah Ha jin.


"Kalian membicarakan apa sampai bisik-bisik? Kalian ini mencurigakan, jangan membuat tunangan ku berpikir keras."


"Astaga, kita hanya berbicara hal perempuan jadi harus sedikit privasi dari laki-laki."


"Seperti kamu," lanjut nya di dalam batin.


"Sudah mulai saja, orang bucin seperti ini membuat kita seperti nyamuk kalau berada di dekatnya. Sebaiknya kita pulang Jiyoung." Kang Nara mengajak Jiyoung pulang saja, dari pada nanti mereka jadi nyamuk.


"Eh kalian mau kemana? Tidak, aku masih merindukan kalian jadi tetaplah disini atau bawa aku pulang aku sudah sembuh." Ha jin tiba-tiba duduk karena memang dirinya merasa baik-baik saja sekarang.


"Eh? Mana bisa kamu pulang sayang, kamu masih harus tetap disini sampai beberapa hari kedepan." Hwan hee memegang tangan Ha jin yang hendak meraih sahabat nya.


"Ih aku gak mau, disini aneh dan horor apalagi ada orang ini. Kalian pasti tahu kan kalau di rumah sakit itu sepi, apalagi aku sering sendiri. Please!"


"Mana ada aku horor, orang seganteng ini disamain sama demit."


"Ha jin, kalau sempat kita besok akan kembali kesini, tapi kita juga harus istirahat karena lelah seharian syuting." Ucap Kang Nara.


"Maaf Ha jin, kita berkabar lewat pesan chat aja ya! Kita akan kesini lagi dan cepatlah sembuh lalu kita akan seperti sebelumnya bisa bermain dan jalan-jalan." Moon Jiyoung sebenarnya tidak ingin pulang cepat, namun Kang Nara mengajaknya pulang dengan alasan ingin segera beristirahat.


"Fiuhhh, baiklah! Kalian juga perlu istirahat, jangan sampai sakit dan berujung disini." Ha jin harus mengerti karena memang mereka juga butuh istirahat saat selesai syuting.


"Jangan sedih gitu dong, aku jadi gak tega mau pulang." Moon Jiyoung yang memang ingin menemani Ha jin.


Ha jin tersenyum menatap kedua sahabatnya, "jangan pikirkan aku, sebaiknya kalian segera pulang dan istirahat."


"Kita pulang dulu ya, semoga cepat sembuh. Besok atau lusa kita akan kesini lagi."


Akhirnya setelah pamitan mereka keluar, Ha jin memanyunkan bibirnya karena sahabat nya sudah pulang.


"Hey kenapa manyun begitu? Kan ada aku disini." Ha jin melirik Hwan hee dan lalu membelakangi nya.


"Sayang, kamu marah sama aku? Aku ada salah apa lagi?"


Salah apa lagi? Apa Hwan hee sering berbuat salah pikir Ha jin.


"Handphone aku rusak, bagaimana aku menghubungi mereka? Kamu atau oppa gak ada gitu mau peka beliin aku handphone baru." Ha jin merasa ada seseorang menaiki brankar nya, benar saja Hwan hee sudah memeluknya dari belakang dan menyelusupkan kepalanya ke rambut Ha jin.


"Hwan hee, geli kalau kamu seperti ini."


"Maaf," lirihnya sedikit serak.


Ha jin membalikkan badannya pelan dan melihat Hwan hee sudah meneteskan air matanya.


"Apa coba pakai nangis segala, ingat umur sudah bukan anak kecil lagi." Ha jin mengomel namun tangannya mulai mengusap air mata Hwan hee.


"Aku belum bisa jadi pasangan yang peka apa yang kamu inginkan, aku minta maaf dengan hal itu." Ucapnya lagi menatap Ha jin.


"Sudahlah, oppa ku juga mampu membelikan handphone. Biar nanti aku menyuruh nya saja tidak perlu minta maaf seperti anak kecil yang merengek minta permen." Ha jin ingin membalikkan badannya seperti sebelumnya, namun di tahan oleh Hwan hee.


"Aku memang menginginkan permen sayang."


"Tinggal beli saja, kenapa memberitahu ku?"


"Karena permen itu ada di kamu."


Ha jin berpikir permen apa yang dirinya punya, selama di rumah sakit dirinya tidak pernah keluar.


"Aku tidak punya permen."


"Kamu pernah lihat tiang infus melayang gak?" Tanya Ha jin yang kesabaran nya sudah teruji secara klinis. Hwan hee menggelengkan kepalanya.


"Kalau gak mau aku lempar ke kepala kamu, gak usah aneh aku gak ada permen."


"Ini sayang, permen kamu yang aku suka." Ucapnya membuat Ha jin melototkan matanya. Bagaimana tidak, ternyata permen yang di maksud Hwan hee adalah gunung kembar milik Ha jin. Tepat diatas benda kenyal itu tangan Hwan hee bertengger.


"Hwan hee, kurang ajar ya kamu." Ha jin menepis tangan Hwan hee kasar.


"Sayang, aku sebelum nya sering mengulum itu, dan kamu mengizinkan nya. Karena itu rasanya tawar, sebagai pemanis nya aku mengecup bibir mu." Ucapnya tanpa merasa bersalah dan membuat Ha jin memerah karena mendengar ucapan Hwan hee.


"Sekarang ubah, aku ingin kamu diam dan tidak menyentuhku!"


"Sayang, mana bisa aku anggurin yang sudah jelas sangat menggoda di depan mata. Aku bisa gila sayang, jangan hukum aku seperti ini." Hwan hee mulai frustasi dengan larangan Ha jin.


"Aku mau pegang dan **** itu, lalu menciummu." Lanjutnya masih terus berusaha tawar menawar dengan Ha jin.


"Setelah aku sembuh-


"Yes aku akan menunggu kamu sembuh."


"Iya hanya boleh menciumku tidak lebih, kalau sampai berani yang lain aku adukan pada oppa Ha joon." Ha jin mengancam karena sangat kesal dengan dirinya sendiri yang itu sebenarnya adalah Calandra, bagaimana bisa Ha jin membolehkan itu.


"Yaudah tapi sekarang boleh nyicip dikit ya, please sayang!" Hwan hee memohon agar Ha jin membolehkan nya untuk membuka sesuatu yang ia lakukan seperti biasanya.


"Hwan hee-


"Sayang, please! Lima menit aja gak lebih."


"Satu menit." Jawab Ha jin karena mendengar Hwan hee selalu merengek.


"Tiga menit sayang." Tawar Hwan hee lagi.


"Satu menit atau tidak seterusnya?"


"Oke satu menit sayang, tapi **** itu tawar setelah nya boleh cium ya untuk menetralisir rasa." Ha jin menatap kesal pria di hadapannya apa tunangannya itu kira makanan.


"Cepat! Aku mau langsung tidur lagi."


"Sebentar." Hwan hee turun berlari menuju pintu dan menutup nya rapat serta tirai nya ia tutup supaya orang di luar tidak melihat yang akan ia lakukan."


"Babe, i'm coming." Hwan hee berlari seperti anak kecil, padahal dirinya dikenal sebagai aktor dan idol yang cool. Hwan hee naik dan membaringkan tubuhnya di samping Ha jin.


"Ready to feel the pleasure again babe?"


"Waktunya sudah tinggal tiga puluh detik lagi."


"Waktunya dihitung saat aku sudah mulai melakukan nya babe, kamu jahat sekali." Hwan hee memulai membuka kancing baju pasien yang dikenakan Ha jin, sangat halus dan putih hampir semua terlihat menonjol. Hwan hee tidak tahu yang sedang Ha jin rasakan saat ini gemetaran dan dag dig dug. Tentu saja ini pertama kali untuknya dan tidak pernah sekalipun ada pengalaman menonton yang terlalu berbau vulgar.


"Sangat indah."


Hap


Hwan hee mulai mengemutnya, Ha jin lagi-lagi terbuai dan memperdalam apa yang dilakukan Hwan hee dengan menekan kepala Hwan hee.


Bukan satu menit saja, mungkin saja lebih karena Hwan hee benar-benar membuat Ha jin terlena dengan yang ia lakukan.


Namun Ha jin menyadari dirinya terlalu terbuai dengan sentuhan Hwan hee. Ha jin melepaskan kepala Hwan hee dari tubuhnya dan mulai mengancing kembali.


"Sayang, aku masih menginginkan nya."


"Kamu sudah lama melakukan nya, sekarang pergilah."


"Belum sayang, aku bahkan belum mencium mu."


"Ck, aku mengizinkan nya hanya sepuluh detik." Hwan hee menggelengkan kepalanya, ia tidak mau karena terlalu sebentar.


"Sayang," rengek nya.


"Cepat Hwan hee sebelum aku kembali berubah pikiran." Benar saja setelah Ha jin mengatakan itu Hwan hee melahap dan meraup nya seperti orang yang kelaparan. Bedanya itu bibir Ha jin bukan makanan. Seperti biasa, tangan Hwan hee tidak akan cukup berdiam, tangan nya juga menjalar dan meremas kembali si kembar racun.


Tok tok


"HWAN HEE...!!!" Pekik Song ha joon dari luar.


Hwan hee langsung melepas pagutannya dan menatap Ha jin yang juga sedang menatap nya.


"Sayang kita pura-pura baru bangun tidur aja, kali ini kita harus bohong."


"Lain kali tidak usah di ulangi lagi, biar tidak perlu berbohong."


"Bukannya kamu juga menikmati? Tapi lain waktu kita akan lakukan lagi dan bohong juga perlu di lakukan asal kita bahagia sayang."


"Lo kali bahagia, gue tertekan." Batin Ha jin.


"HWAN HEE, KALAU KAMU TIDAK MAU BUKA PINTUNYA, HYEONG AKAN MERUSAK PINTU INI."


"I-iya hyeong aku baru bangun."


"Cepat sana, ini tangan kamu kenapa masih disini?" Tanya nya karena tangan Hwan hee masih bertengger cantik di atas sana.


"Eh? Hehe supaya tidak terjatuh." Hwan hee berlari dan membuka pintu, sedangkan Ha jin sudah membenarkan baju dan juga rambutnya.


Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...


Baca juga cerita bebu yang lain 😘


IG : @istimariellaahmad98


See you...