
Ha jin melihat Hwan hee sudah selesai latihan, mereka akan istirahat dan Ha jin berdiri untuk memberikan minuman yang sudah disiapkan tadi di apartemen Hwan hee. Namun Hwan hee malah meminum punya Seo min dengan pura-pura tidak melihat Ha jin yang menyodorkan botol minum.
Ha jin yang melihat itu langsung memberikan nya pada Seung cheol yang juga merasa marah dengan Hwan hee.
"Kamu minum aja, tadinya mau aku buang tapi sayang aku buatnya dengan cinta, buat kamu aja ya habisin." Ha jin tersenyum lalu berbalik dengan menahan rasa kesal dengan Hwan hee, padahal dirinya memang tidak ingat siapa mantan yang membuat Hwan hee cemburu itu.
"Nuna, mau kemana?" Pekik Seo min karena Ha jin berjalan pergi.
"Ketemu mantan." Jawab Ha jin mengambil tas dan keluar dari tempat latihan itu, sedangkan Hwan hee yang mendengar langsung terkejut dan ternyata memang benar tunangan nya itu keluar, padahal ia hanya ingin Ha jin membujuknya. Hwan hee mengejar Ha jin yang tidak tahu akan kemana, ia berpikir benar-benar akan ketemu dengan mantan.
"Dia kira siapa mau cuekin aku, awas aja aku cuekin balik nanti nangis."
"Sayang," panggil Hwan hee dari belakang, Ha jin mendengar itu terus saja berjalan tidak menoleh.
Sampai Hwan hee menghentikan nya karena mengejar.
Ha jin diam saja hanya menatap Hwan hee, ia ingin mendengar apa yang akan dikatakan nya.
"Kamu tidak benar-benar ingin menemui nya 'kan? Kamu kesini sama aku, jadi pulang nya juga sama aku." Ha jin tetap tidak menjawab, ia hanya diam mendengar.
"Jawab sayang, kamu dengar aku 'kan?"
"Aku mau pulang, minggir!" Ha jin menolak tangan Hwan hee, namun dia masih saja menahannya.
"Aku bilang pulang sama aku, kamu mau sama siapa pulangnya kalau gak sama aku?"
"Orang itu bukan cuma kamu, aku bisa pulang sendiri gak perlu sama kamu." Ha jin jadi emosi dengan Hwan hee.
"Oh aku tahu, kamu udah janjian sama dia kan?" Tuduhnya yang membuat Ha jin semakin tinggi tingkat emosional nya.
"Jangan sampai aku pergi beneran sama dia, kamu tahu sendiri kalau kamu aja aku tidak begitu ingat apalagi sama mantan yang sudah pasti tidak selayaknya di ingat karena itu hanya masa lalu. Kalau kamu masih beranggapan seperti itu, cari tahu sendiri kalau bisa tanya langsung sama dia." Ha jin sudah kelewat marah karena tuduhan Hwan hee yang tidak jelas, ia kali ini akan pergi sendiri atau menelpon temannya.
Menghentikan taksi dan tidak menghiraukan teriakan Hwan hee, ia masuk dan menghela nafas panjang karena pertengkaran nya. Untung saja masih diarea agensi Hwan hee dan tidak ada fans Sasaeng yang akan menyebarkan berita tidak benar.
"Aku lupa jika Ha jin belum begitu pulih, bagaimana bisa aku bilang jika dia akan menemui mantan yang dia saja tidak ingat. Terlihat dari dia yang tadi minta maaf." Hwan hee hanya takut kehilangan Ha jin, karena untuk mendapatkan nya itu sangat susah di tambah dengan Ha jin waktu itu belum sepenuhnya move on.
Ha jin menghubungi Ji young yang saat ini ada di apartemen nya, ia ada jadwal syuting sore hari. Ponsel Ha jin memang hangus terbakar dan di ganti dengan yang sama persis dan mengembalikan semua nomor dan akun miliknya seperti sebelumnya.
"Ji young, kamu lelah tidak?" Ji young menaikkan satu alisnya dan menatap wajah Ha jin.
"Kamu kenapa? Kalau mau, cerita aja sama aku."
Ha jin menceritakan saat dirinya pertama masuk ke gedung agensi, bertemu dengan mantan nya yang ia tidak mengenalnya sama sekali, benar-benar tidak ada di dalam ingatan miliknya.
"Bingung kenapa Hwan hee bisa marah, padahal aku gak ada menyapa hanya meminta maaf karena menabrak nya." Ha jin bingung dimana letak salahnya, ia hanya terkejut saat orang yang di tabrak mengenal nya.
"Kamu bener lupa sama mantan kamu?" Tanya Ji young.
"Jangankan ingat kalau dia mantan, namanya aja aku lupa." Ha jin berkata jujur jika dirinya memang tidak mengenal mantannya itu.
"Kamu beneran lupa Park Ji-Sung? Bukan karena Hwan hee sedang marah 'kan?"
"Iya, tapi kamu beneran tidak sedang berpura-pura 'kan?" Tanya Ji young sekali lagi.
"Aku harus bilang berapa kali sih sama kamu, mending aku pulang aja deh kalau gak ada yang percaya sama yang aku bilang. Aku beneran cuma ingin mengingat Hwan hee, bukankah aku pasti sudah mencintai nya karena dia tunangan ku?"
Ha jin sangat yakin jika dirinya mencintai Hwan hee begitu juga sebaliknya, namun Ji young nampak tak percaya dengan Ha jin.
"Aku percaya, hanya saja dulu kamu mengatakan belum bisa move on sampai sekarang."
"Aku akan move on dan mencintai Hwan hee kok, mana ada aku tidak move on." gumam nya tidak terdengar Ji young.
Ha jin berpikir, apa itu yang membuat Hwan hee marah? Karena takut dirinya meninggalkan nya bersama Ji sung.
"Apa aku seperti itu, walaupun aku sudah tunangan dengan Hwan hee?"
Ji young mengangguk membenarkan.
"Kamu dan Ji sung sama-sama masih cinta, tapi saat akan masuk menjadi idol dia memutuskan hubungan nya karena agensi disana melarang idol nya memiliki kekasih."
"Ah, benarkah? Lalu Hwan hee?" Ha jin bingung mengapa Hwan hee bisa dan Ji sung tidak.
"Kamu harus tahu jika grup idol Hwan hee adalah tidak bisa diatur, namun mereka sukses. Buktinya walaupun sama kamu tetap saja banyak fans yang mendukung mereka dan tidak menjelekkan Hwan hee yang sudah akan menikah."
"Sudah siang, kamu istirahat lah dulu. Bukannya sore nanti ada jadwal syuting? Aku masih sekitar minggu depan baru ada jadwal, sekarang aku pulang dulu ke rumah."
"Eh aku yang antar kamu pulang, kamu belum pulih benar untuk pulang sendiri." Ji young menawarkan diri untuk mengantar Ha jin.
"Tidak, aku akan pulang sendiri dengan naik taksi. Kamu istirahat lah, Ji young. Jangan membantah!" Ha jin tersenyum pergi karena tidak ingin menyusahkan temannya, Ji young menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ha jin. Dirinya sedikit aneh dengan Ha jin yang benar-benar seperti orang yang sama namun berbeda, entah dirinya pusing hanya untuk memikirkan itu.
Hwan hee berkali-kali menghubungi Ha jin, yang di hubungi hanya acuh dengan ponsel nya dan menyuruh supir taksi menuju rumahnya, tak lupa dengan masker dan topinya.
"Aku ingin sendiri, kalau disini mereka menyalahkan ku harusnya aku lebih memilih pergi menemui keluarga ku. Aku akan membiarkan Hwan hee merenungi kesalahan nya, baru aku akan menemui nya. Enak saja aku hanya ingin mencintai nya, dia malah menuduhku dengan Ji sung." Batin Ha jin, ia disini benar-benar seperti orang asing yang sok menjadi asik.
Ha jin ingin sekali pulang, ia merindukan keluarga nya. Tapi ia tidak tahu caranya untuk kembali.
"Kalian latihan saja, untuk mini konser nanti aku sudah menghafal koreo nya. Aku sekarang akan mencari dimana Ha jin."
"Hyeong, kamu jangan terlalu membuat nuna selalu marah. Kalau seperti itu bisa saja nuna akan melakukan yang kamu tuduhkan. Apalagi dia baru saja pulih dan ingatan nya benar-benar payah." Seo min panjang lebar menjelaskan pada Hwan hee berharap temannya itu akan mendengar nya.
"Maaf, kali ini aku tidak profesional sebagai leader. Tolong kalian saling berlatih dengan giat aku akan pergi." Hwan hee mengambil tas nya setelah pamitan pada teman-teman nya.
"Aku tidak tahu mau kasian dengan siapa, tapi sepertinya nuna Ha jin memang tidak mengenal mantan nya. Tapi karena cemburu Hwan hee malah menuduh sembarangan." Mereka saling mengangguk dan akan berlatih lagi karena itu juga dianggap perintah dari seorang leader.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain 😘
IG : @istimariellaahmad98
See you...