A Piece Of Memory

A Piece Of Memory
Bab 9 - Tersesat



Jim berjongkok di bawah rindangnya pohon, mengistirahatkan kakinya. Ia berkali-kali menghembuskan napas lelah, matanya terpejam, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.


Setelah di temukannya petunjuk pertama, mereka ke gua untuk kembali tidur. Dan langsung bangun ketika matahari sudah terbit. Mereka langsung berjalan, mengikuti apa yang tertera di kertas yang mereka temukan kemarin. Berjalan ke timur.


Kini mereka sedang beristirahat. Jim melirik gadis di sebelahnya yang sudah memejamkan mata, rambut sebahunya bergoyang-goyang terkena embusan angin.


Lelaki itu menopang dagu dengan tangannya, memandang gadis bersurai cokelat lebat itu dari samping.


"Jim."


"Hm?" Jim menolehkan kepalanya ketika suara milik anak laki-laki yang ia kenal menyapa telinganya. Anak itu duduk di batang pohon yang berseberangan dengan posisi Jim saat ini.


"Menurutmu aneh tidak ..."


"Tentu saja aneh, semua di hutan ini aneh... termasuk kau," Ujar Jim memotong dengan tidak sopan sekaligus meledek adik dari gadis cantik di sebelahnya itu.


"Kau yang aneh!" Nathan melemparkan secara bertubi-tubi batu seukuran ibu jari ke arah Jim, tapi tidak satupun yang kena.


"Aduh," Nancy terbangun, ia mengelus dahinya yang terkena lemparan batu. Matanya terbuka lebar, melotot ke pada Nathan yang memalingkan pandangannya, pura-pura tidak tahu.


Jim tertawa, tangannya terjulur, ikut mengusap dahi gadis itu. Nancy terkejut, tetapi sejurus kemudian ia terdiam. Nathan yang melihat itu, kembali mengambil lebih banyak batu dan langsung melemparkan kepada pasangan yang saling pandang di depannya.


"NAT!!!"


"Ih NATHAN!!!"


Nathan hanya menatap tajam sembari melipat tangan di depan dadanya.


Jim menggeleng pelan, mengganti posisi awalnya menjadi duduk. Ia meluruskan kakinya dan menundukkan pandangannya.


Terlintas sesuatu di benaknya, "Kalian pernah tidak berpikir bahwa semua ini jebakan?" Masih dengan pandangan ke bawah, Jim bersuara. Kemudian mengangkat kepalanya menghadap ke arah depan.


"Itu yang ingin kubilang tadi, tapi kau memotong ucapanku," Nathan mendengus kesal, ia mengeluarkan secarik kertas yang sudah disepakati sebagai petunjuk pertama itu.


Jim meringis kecil, lelaki itu memerhatikan gerak-gerik Nathan, menunggunya untuk kembali berbicara.


"Aku juga merasa bahwa kita ini sengaja dituntun untuk ke suatu tempat," Ujar Nancy memberikan pendapatnya, menatap Jim dengan sorot mata ke seriusan.


"Akh, kita harus bagaimana? Mengikuti petunjuk itu atau mengambil jalan sendiri untuk keluar dari tempat ini? Aku tidak tahu, pikiranku kacau."


"Jim," Panggil Nathan lemah, anak laki-laki itu berdiri dari duduknya dan menatap Jim yang kini tengah mendongak menatapnya.


"Semuanya sekarang terserah kau saja, selama ini sejak kau membunuh licorp pertamamu, kami sudah menganggapmu sebagai pemimpin. Jadi Pak Ketua silahkan kau pimpin kami."


Jim tertegun mendengarnya, Nathan, anak itu sudah dewasa sekarang. Ia mengulas senyum, kemudian berdiri.


"Benar Pak Ketua, kami akan selalu mengikutimu!" Nancy tersenyum lebar, menyipitkan matanya, memberi eye smile yang lucu.


"Terima kasih," Hanya itu yang bisa ia katakan, tidak peduli tentang 'membawa kembali ingatan yang hilang' sekarang prioritasnya adalah membawa kakak beradik ini dapat pulang ke rumah mereka.


Jim menepuk pundak Nathan pelan, kemudian mengulurkan tangannya, membantu Nancy berdiri. Gadis itu tersenyun tipis, membalas uluran tangan lelaki itu.


Mereka sudah siap untuk pergi. Siap untuk berhadapan dengan sesuatu di luar sana. Siap untuk segalanya.


...


Para pemuda itu berjalan ke arah timur sembari bergandengan tangan layaknya anak kecil. Tentu saja dengan Jim di ujung kiri, Nancy di tengah dan Nathan di ujung kanan.


Jim mendadak berhentikan langkahnya, Nancy yang melihat juga ikut-ikutan berhenti, membuat Adiknya, Nathan yang masih berjalan tertarik ke belakang, karena tautan jari mereka belum lepas.


Nathan mendecak, segera melepaskan tangannya dengan paksa. Jim yang belum berkata apapun, tiba-tiba berjongkok, membuat yang lain ikutan berjongkok.


"Licorp,"


Semuanya terdiam, terdengar dari kejauhan suara meraung. Nathan memberanikan diri untuk mengintip, anak itu mendengus samar. "Ada tiga licorp!" Seru Anak itu, tetapi masih dalam suara yang terbilang kecil.


Jim menghela napas pendek, kemudian bersuara, "Baiklah, berarti satu lawan satu,"


"Oke." Nathan mulai mengambil langkah pertamanya mengendap-endap, badannya yang masih berjongkok ditutupi oleh semak-semak yang setinggi kepalanya.


Jim menatap Nancy yang masih ragu, tautan tangan mereka belum terlepas sejak tadi. Lelaki itu mengelus punggung tangan gadis bersurai cokelat itu dengan ibu jarinya, kemudian bersuara lembut menenangkan, "Nancy, kau bisa menghadapinya kan?"


Nancy perlahan menarik napas kemudian menghembuskannya. Ia mengangguk, "Serahkan kepadaku, aku yang menyelamatkanmu dari para serigala itu, ingat?"


Tautan tangan mereka perlahan terlepas, Nancy mengendap-endap, melakukan hal yang sama dengan Nathan.


Gadis itu menyiapkan busurnya, kemudian bersiap-siap meluncurkan anak panah.


Jim perlahan berdiri setengah membungkuk, ia berjalan perlahan, tidak ingin menimbulkan suara sedikit pun. Melangkahkan kakinya menuju posisi yang pas untuk membunuh makhluk sialan itu.


Semuanya sudah siap di posisinya, menunggu Jim memberi aba-aba, hendak melakukannya secara bersamaan.


Satu!


Dua!


"Tiga!!!"


"Mana angka satu dan duanya!!" Nathan mengeluh, mengambil ancang-ancang untuk menghadapi makhluk aneh dan menjijikkan itu.


Jim melompat, menjatuhkan musuh dengan badannya dari samping. Kemudian membunuh makhluk itu dengan cara mencekiknya dari belakang. Cara itu berhasil, licorp kali ini wujudnya masih seperti manusia. Tidak seperi yang ia hadapi terakhir kali.


"Kau pandai berhitung tidak sih?!!" Nathan menjatuhkan licorp dengan pisau dapur yang selalu ia bawa di kantungnya, yang Jim sendiri pun tidak tahu darimana anak itu mendapatkannya.


Nancy pun langsung berdiri, melepaskan tiga anak panah sekaligus. Dan untunglah anak panah itu berhasil mengenai tubuh licorp dan menjatuhkannya.


Gadis itu tersenyum lebar, merasa bangga, ini pertama kalinya ia dapat membunuh makhluk itu.


Para pemuda itu kembali berkumpul, Nathan berjalan gemas ke arah Jim yang memalingkan wajahnya, pura-pura tidak tahu.


"Lain kali berhitunglah dengan benar!" Anak itu mengguncang bahu lelaki itu keras-keras, Jim hanya pasrah menerimanya.


"Sudah-sudah, ayo kita lanjutkan perjalanannya," Ujar Nancy, bersikap lebih dewasa. Ia memimpin jalan sembari mengambil anak panah yang melekat pada tubuh lunak licorp yang berhasik ia jatuhkan tadi.


"Ayo istirahat sebentar, aku lapar!" Nathan memegang perutnya yang sudah berbunyi sejak tadi.


Jim berpikir sejenak, "Ya, ayo kita makan!" Jim berseru semangat sembari merangkul pundak Nathan dan melangkah ke sembarangan arah. Lelaki itu juga menahan lapar sejak tadi, dari tadi malam mereka belum memakan apapun.


"Hei, kalian mau ke mana?!" Nancy berlari mengejar dua orang laki-laki yang melangkah ke sembarangan arah, melenceng dari tujuan mereka sebelumnya.


Gadis itu terus berlari dan berlari, yakin bahwa teman-temannya itu melewati jalan ini, tetapi sejurus kemudian ia mendadak berhenti, saat mengetahui dirinya sudah tersesat. Teman-temannya berjalan begitu cepat, sehingga ia tidak berhasil mengejarnya.


"Jim!!! Nathan!!!"


Nancy duduk di tempat, tidak ingin pergi ke mana-mana, takut jika dirinya lebih tersesat lagi.


Ia berseru berulang kali, memanggil-manggil nama dua orang laki-laki itu.


Dan sial bagi Nancy sekarang, langit sudah menghitam, menandakan akan turun hujan. Gadis itu ketakutan, ia memeluk tubuhnya sendiri.


"Aku tersesat."