
"*Tuan Jim, apa yang anda lakukan di sini?"
Jim melompat terkejut, ia rasa dirinya sudah ketahuan. Itu David, pengawal pribadi Ayahnya.
Jim tidak menyukai orang ini, wajahnya terlihat dingin dan tampak tidak bersahabat. Dan juga kini orang itu memperlihatkan tatapan tajam padanya.
"Tidak ada apa-apa, aku akan segera kembali ke kamarku," Jawab Jim, meringis kecil sembari menggerakkan kakinya, berjalan mundur.
"Jika Ayahmu tahu tentang kau menyelinap masuk ruangannya, dia tidak akan—"
Jim meneguk ludahnya dengan susah payah. David memang tidak melanjutkan ucapannya, tetapi ia tahu betul sifat ayahnya itu.
David meliriknya sekilas, kemudian masuk ruangan itu.
"Jim, sedang apa kau?"
Jim menolehkan kepalanya segera dan melihat Kakaknya berdiri di sana, menatapnya heran.
Lelaki itu menggeleng pelan dan melangkah pergi, "Tidak ada~tidak ada Kak*..."
***
"Jim?"
Itu Nancy, ia melongok menatap wajah Jim yang berkeringat banyak sekali lagi.
Jim hanya menggeleng dan mengulurkan tangannya. Gadis itu cepat mengerti, ia menarik tangan lelaki itu, membantunya untuk duduk.
Nancy masih diam, belum mengeluarkan suara lagi. Jim sering seperti ini, ia akan berkeringat jika bermimpi buruk, setidaknya itu yang Nancy yakini sekarang.
Memang Jim pernah mengatakan tentang 'bukan mimpi biasa' dan 'ingatan', tetapi sepertinya lelaki itu juga ragu tentang hal itu.
"Jim, mau aku ambilkan air?" Tanya Nancy dengan lembut.
"Tidak apa, nanti saja," Jawab Jim memaksakan senyumnya kepada gadis itu.
Nancy kembali diam, melihat butiran air yang membasahi wajah tampan itu.
Jim mengerjap-ngerjap, tersadar bukan hanya Nancy yang menemaninya di situ, tetapi juga Rafael yang duduk dengan melipat kakinya dan bertopang dagu.
Lelaki itu menatapnya. Kemudian angkat suara.
"Nancy."
"Hm, ya?"
"Jim sudah bangun, dan mungkin sulit untuknya untuk tidur lagi. Nancy, kau tidurlah." Rafael memperlihatkan senyum andalannya, ia mengusap lembut surai cokelat milim gadis itu lembut.
Jim mengerutkan dahinya, tangannya bergerak, kemudian menepuk tangan lelaki itu yang seenaknya mendaratkan tangannya pada rambut gadis itu.
Rafael tidak terkejut, ia menyunggingkan senyumnya, "Kenapa? Jim marah?"
Jim mendengus sarkas. Nancy yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. "Kalian jangan bertengkar ya!"
Gadis itu mengambil posisi di sebelah Adiknya yang tertidur pulas sejak tadi.
Nancy tertidur cepat sekali, setelah dirasa gadis itu sudah menjelajahi alam mimpi, Jim langsung memberikan tatapan tajam kepada orang baru itu.
"Wow, santai Kak~"
"Kau suka pada Nancy?" Tanya Jim masih memperlihatkan tatapan tajamnya.
"Tidak, santai saja... gadis yang imut bukanlah tipeku, dan juga Nancy itu layaknya adik bagiku," Tutur lelaki itu, mengubah posisinya menjadi bersandar.
"Kau punya adik? Perempuan?" Jim mengendurkan mimik wajahnya, ia mengikuti Rafael, bersandar pada dinding di sebelahnya.
Rafael menggeleng, "Bukan, laki-laki."
"Kenapa tidak kau anggap saja Si Nathan sebagai adikmu dan malah Nancy-ku...eh?!" Jim menepuk mulutnya, tersadar sudah mengatakan 'Nancy-ku'. Ia merutuki dirinya, mengumpat samar. Kemudian melirik lelaki di sebelahnya yang sudah tertawa.
Rafael tertawa, ia berusaha mengontrol tawaannya, tidak ingin terlalu keras dan membangunkan yang lain.
Jim mendecak, ia malu, tetapi berusaha untuk tetap cool.
"Aku tidak mau Nathan, anak itu tidak cocok jika dijadikan adik... lagian dia sudah jadi adik dari Nancy kan'?
"Kenapa harus Nancy? Apa karena dia tidak punya seorang kakak? Dan kau menjadikan ia sebagai partner permainan adik-kakakmu?" Tanya Jim sinis, ia melipat kedua tangannya meledek lelaki yang terpaut 6 tahun dengan dirinya itu.
"Baiklah kalau begitu, bagaimana dengan kau saja?"
Jim memberikan tatapan aneh kepada lelaki itu, Rafael justru tertawa. "Kenapa?"
"Cari orang lain sajalah, jangan aku!"
"Kenapa, Jim? Apakah kau punya seorang kakak?" Tanya Rafael di sela tertawaannya.
Jim menggeleng, raut wajahnya berubah serius. "Aku tidak tahu, apakah kau sudah mendengar bahwa aku kehilangan ingatanku?"
Rafael menghentikan tertawaannya, mendengarkan lelaki itu berbicara. "Iya, aku sudah mendengarnya... dari Nancy, tapi aku tidak menyangka itu kau." Jawab lelaki itu dususul helaan napas samar.
"Iya, itu aku..." Jim tersenyum kecut, ia menundukkan kepalanya. Dadanya terasa sesak sekarang.
"... Tapi, aku selalu mendapat sebuah mimpi. Di sana ada Ayahku, Kakakku dan seseorang bernama David. Aku ragu apakah itu benar ingatan milikku atau sebuah mimpi biasa yang acak? Jika, benar itu adalah sebuah ingatan... aku tidak tau apakah akan senang atau tidak? Mimpi yang sangat tidak menyenangkan. Dari mimpi-mimpiku bisa dilihat bahwa Ayahku seorang yang gila!..." Jim menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"... Tapi aku masih meragukan semua itu, apakah diriku benar-benar seorang bernama 'Jim' itu? Aku mendapatkan nama itu dari salah satu mimpiku. Di sana aku tengah kesakitan, dipukul dengan batu di bagian kepalaku dan ada darah, yang aku yakini sebagai darahku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi seseorang itu mengatakannya sebagai 'hukuman'."
Jim meraba bekas luka yang ada di dahinya. Saat ia memegangi bekas luka itu, kenangan buruk itu berputar lagi dalam ingatannya.
Lelaki itu menolehkan kepalanya kepada Rafael yang menatapnya dengan tatapan terkejut. Tangan laki-laki itu jelas terkepal.
Rafael menarik napas, lalu menghembuskannya keras. "Apa yang pertama kali kau lakukan saat sampai di hutan ini?" Tanta Rafael lagi.
"Ah, aku juga bingung akan hal itu. Aku terbangun dari berberapa hari yang lalu, sedangkan Nancy dan Nathan sudah setahun ada di sini. Jika aku memang tertidur selama setahun, bukankan yang tersisa dariku hanya tulang belulang? Aku pasti sudah habis dimakan makhluk-makhluk yang ada di sini kan'? Jelas Jim, dahi lelaki itu tampak berkerut karena keheranan.
"Jadi, menurutmu seseorang yang telah membawamu kemari?" Tanya Rafael dan dijawab dengan anggukan.
Diam sejenak, tidak ada yang berbicara lagi. Jim memeluk lututnya dan menoleh ke samping lagi.
Jim menghela napas panjang, "Hoi, Rafael!"
"Hm?"
"Kenapa tadi kau marah?"
"Hm? Aku tidak marah?"
"Tadi aku dapat melihatnya!"
"Oh, yaa... aku hanya tidak suka dengan seseorang yang ada di ingatanmu itu, dia melukaimu dengan batu! Aku merinding, tidak bisa kubayangkan!"
Jim tertawa kecil, ia tersentak baru tersadar akan sesuatu. Kenapa ia menceritakan semua ini kepada Rafael? Orang yang baru saja ia temui!
Bahkan ia belum menceritakan cerita lengkapnya kepada Nancy dan Nathan.
Ibunya pasti akan marah jika ia berbicara pada orang asing. Tunggu! Apa ia punya seorang ibu?
Setelah sejauh ini bermimpi, yang ia ketahui. Ayahnya adalah seorang yang gila dan Kakaknya sangatlah pemarah. Memang bagaimana cara ia memastikan bahwa ibunya adalah seorang yang lemah lembut?
Jim lagi-lagi tersentak, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menghapus semua pikiran buruknya itu.
"Jim."
Jim tersadar dari lamunannya setelah suara lelaki bernama Rafael menyapa telinganya.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Apakah kau masih mau mencari kebenaran tentang kehidupanmu?" Tanya lelaki itu pelan.
"Iya, itu pasti akan kulakukan, tetapi aku harus memulangkan adik-kakak itu dulu. Selama di hutan ini aku akan terus bermimpi, mencari tiap kepingan ingatanku dan juga... aku harus mencari tahu tentang hutan ini, kau juga merasakan hal aneh kan'?
Rafael tersenyum, ia menyenggol bahu Jim agak keras. "Bukan merasa lagi! Hutan ini memang sudah aneh sekali!" Kelakar Rafael, tertawa bersama Jim di malam yang sepi itu.
Ditemani suara makhluk-makhluk hutan yang entah apa itu.
Setidaknya sekarang hati Jim menghangat, ada seseorang yang bisa mendengar semua ceritanya.