A Piece Of Memory

A Piece Of Memory
Bab 4 - Pembelajaran Bertahan Hidup



Jim merasa bersalah telah membuat Nancy menceritakan kisah yang terjadi dalam satu tahun terakhir itu. Memang ia belum mendengar keseluruhan ceritanya, tetapi di sana sudah jelas diceritakan bahwa ini adalah perbuatan kriminal.


Masih menjadi tanda tanya bagaimana Nancy dan Nathan dapat keluar dari tempat itu. Gadis itu menitikkan air mata di tengah-tengah ceritanya, mungkin karena fakta bahwa ia tidak akan bisa pulang.


Kini Nancy tengah duduk di depan gua memeluk kedua lututnya, menatap sendu ke depan. Adiknya berusaha keras menghibur Sang kakak.


Banyak sekali pertanyaan yang ingin Jim tanyakan kepada kakak-beradik itu, ingin menghampiri mereka dan memaksa untuk menceritakan seluruh kisah itu sampai selesai.


Untung saja Jim sangat cerdas, ia dapat berpikir dua kali untuk tidak melakukan hal semacam itu. Bisa-bisa Nancy menangis dan Nathan melemparinya dengan batu.


"Nanti saja deh." Jim memalingkan wajahnya, menatap sungai didekatnya. Ia sejak tadi duduk disana, tidak ingin berpindah tempat.


"Hei kau, tanggung jawab sana!"


Lelaki itu menoleh ke arah anak laki-laki yang mendudukkan diri di dekatnya. Anak laki-laki menunjuk kakaknya yang masih dalam posisi yang sama.


"Nancy jika sedang bersedih memang begitu, sulit untuk menghiburnya."


Jim mengikuti arah yang ditunjuk dan kembali menoleh menatap Nathan yang melipat tangan didepan dadanya.


Jim mengangguk-anggukkan kepalanya, sekali lagi melirik Nancy.


Jadi ini bidadari yang menyelamatkannya? Oke, Sifat Nancy yang kedua : Cengeng.


Err-cengeng rasanya agak berlebihan, jelas-jelas Nancy bersedih karena teringat akan Ibunya dirumah dan adik bungsunya yang gadis itu tidak tahu keadaannya.


Lelaki itu menopang dagu dengan tangannya, berpikir bagaimana cara menghibur gadis yang ia baru temui semalam itu.


Mereka berdua diam, masing-masing hanyut dalam pikiran, memikirkan sebuah cara untuk membuat gadis yang satu-satunya dikelompok itu berhenti bersedih.


Tiba-tiba dan tanpa diminta suara gemuruh terdengar jelas ditelinga kedua laki-laki disana. Membuat mereka berdua terkejut dan menjauh satu sama lain.


Jim benar-benar malu, ia menutup muka dengan telapak tangannya. Lelaki itu mengintip dari sela-sela jarinya, menatap Nathan yang tengah melongo dengan tidak elit.


Hening sejenak diantara keduanya, sudah di pastikan yang terjadi selanjutnya. Jim pasrah, ia menundukkan mukanya, menahan malu.


"Hah? Ahahahahahahaha!!!"


"Apa-apaan, memangnya ada awan diperutmu?" Nathan tertawa sejadi-jadinya, ia memegang perut menahan geli. Matanya menyipit, memukul-mukul lengan lelaki yang ada di depannya.


Jim mengelus lengannya, menggelengkan kepalanya mendengar seberapa kerasnya anak ini tertawa.


"Eng, eh?" Nathan mendadak berhenti tertawa, ia menyentuh bibirnya. Anak laki-laki itu menghela nafas, tersadar bahwa selama ini ia tidak pernah tertawa lepas seperti itu.


Ia tersenyum, lalu menyentuh pundak lelaki yang sedang menatapnya bingung.


"heh, ternyata kau ini pembawa berkah ya ..."


Jim mengernyit, tidak mengerti apa yang terjadi dengan anak itu sejak tadi. Tertawa terbahak-bahak, lalu mendadak berhenti, tersenyum sendiri dan sekarang dia menyebut Jim pembawa berkah. Mungkin karena terlalu lama di hutan telah membuat otaknya sedikit bergeser.


"Sekarang temuilah kakakku."


"Ha? Kenapa?"


"Hibur dia."


"Eng, bagaimana?"


Nathan menahan kesal, ia mendorong tubuh Jim hingga jatuh ke tanah. Masa bodo dengan kaki lelaki itu yang belum pulih sepenuhnya.


"Temui sajalah, jangan banyak tanya lagi!" Nathan melotot, mengancam lelaki yang terduduk di tanah yang tengah mengelus lututnya.


Jim berdiri dari duduknya dengan hati-hati. Lukanya sembuh lebih cepat daripada yang ia pikirkan. Ia tidak tahu apa yang Nathan lakukan saat mengobati kakinya. Mungkin suatu saat anak itu dapat menjadi dokter yang hebat.


Ia berjalan dengan perlahan, menemui Nancy seperti yang Nathan suruh lakukan. Kalau dipikir-pikir kenapa ia mau-mau saja diperintah oleh anak itu, jelas-jelas secara fisik Jim tampak lebih tua dari dirinya, mungkin, ia tidak tahu pasti berapa umurnya.


"Nancy!"


Lelaki itu berdiri disamping Nancy dengan kaku, matanya melihat kesana kemari, tidak sanggup menatap netra cokelat itu secara langsung. Ia masih merasa bersalah.


Nancy menoleh, menatap lelaki di depannya. "Ya?"


Suaranya serak, rasa bersalah Jim jadi berasa berkali-kali lipat. Lelaki itu berpikir keras, ia sudah disini tetapi tidak tahu apa yang akan ia katakan.


Perutnya kembali berbunyi, untung saja tidak sekeras tadi. Nancy tidak mendengarnya, ia masih menunggu, menatap Jim yang tidak kunjung mengatakan maksudnya.


Kalimat yang dilontarkan Jim selanjutnya sungguh tidak ia rencanakan, terlepas begitu saja. Ia mengatakan apa yang tubuhnya rasakan.


Bahkan Jim sangat terkejut, tidak menyangka akan mengatakan itu.


"Nancy, makan!"


...


"Wahahahahahahahaha!!!"


Nancy tidak bisa berhenti tertawa sejak tadi, itu sangat lucu. Ia berjalan sembari memegangi perut. Sesekali menyeka air di sudut matanya.


Jim yang berjalan dibelakangnya menahan malu, menutupi muka dengan telapak tangannya. Wajahnya sudah merah sampai ketelinga.


"Sudah dong," Cicit lelaki itu samar, ia menatap punggung Nancy dari sela-sela jarinya.


Kini mereka berjalan menyusuri hutan untuk mencari makanan, Jim lapar, tentu saja. Sejak ia terbangun kemarin ia belum makan apapun. Nancy juga pernah berkata, jika memerlukan sesuatu panggil saja dia. Dan kini ia memerlukan makanan, tetapi itu malah menjadi bahan tertawaan.


"Hei!"


Nathan memanggil, ia meninju pelan lengan lelaki besar yang berjalan disampingnya itu. "Kerja bagus," bisiknya sembari mengedipkan matanya.


Jim menghela nafas samar, setidaknya Nancy tidak bersedih lagi. Ia tersenyum tipis menatap punggung Sang gadis yang masih bergetar menahan tawa.


Hutan tampak indah sekarang, ia dapat mendengar kicauan burung-burung dan merasakan hembusan angin yang berbisik kepadanya. Aroma kayu dan daun terasa menenangkan. Sesekali ia melihat tupai dan monyet di antara pohon-pohon yang rindang.


Berbeda saat ia pertama kali bangun.


"Nancy, sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Jim memandang wajah gadis itu saat berbalik menoleh kepadanya.


"Su~ngai"


"Kita akan mencari ikan, di sana tidak ada ikan" Ujar Nathan menjawab pertanyaan Jim.


Lelaki itu ber-Oh kecil, diam dan mengikuti saja, membiarkan duo itu mengarahkannya.


...


"Nah, itu sungainya!"


Nancy berlari mendekati sungai. Ia melepas sepatunya dan masuk ke dalam. Gadis itu mengambil sebuah tongkat yang ia bawa sejak tadi. Tongkat itu terbuat dari kayu dengan bagian yang tajam di ujungnya.


"Jimmy, kemari" Nancy memanggil, ia mengibaskan tangannya, isyarat untuk menyuruh lelaki itu kemari.


Jim mendecak samar, gadis itu benar-benar membuatnya seperti anak kecil dan panggilan apa itu, 'Jimmy'?!.


"Jimmie jimmie, ayo ayo ke sana" Ujar Nathan dengan nada mengolok-olok, kemudian tertawa keras setelahnya.


Anak laki-laki itu tertawa sampai-sampai tubuhnya terjungkal ke belakang. Jim berjalan menghampiri Nancy yang menunggunya di tepi sungai. Gadis itu tengah menajamkan ujung tongkat kayunya.


Nancy menoleh, ia tersenyum. Gadis itu memberikan tongkat kayu miliknya kepada Jim. Lelaki itu menerimanya, menatap Nancy dengan bingung.


Yang ditatap hanya tersenyum, kemudian menunjuk seekor ikan yang bergerak-gerak di dekat mereka. Lelaki itu cepat mengerti, ia segera melepas sepatunya.


"Kami sudah setahun tinggal dihutan ini, awalnya kami ketakutan dan kelaparan, tidak tahu harus bagaimana. Kami hanya memakan dedaunan dan menangis sepanjang malam ..."


Nancy memulai bercerita, menatap kedalam netra hitam lelaki itu. Ia menghela nafas pendek, kemudian melanjutkan ceritanya.


"Kami berpikir, jika seperti ini terus, hidup kami tidak akan lama lagi. Kami mencoba untuk keluar dari zona aman itu ..."


Jim mendengarkan, ia sudah turun kesungai. Sungai itu dangkal dan arusnya pun tidak terlalu deras. Tongkat kayu sudah di tangannya, ia mengarahkan ujung tongkat pada seekor ikan yang tidak jauh dari pandangannya.


Matanya fokus menatap gerak gerik ikan itu, ia menyesuaikan arah tongkat agar tepat mengenai ikan yang meliuk-liukkan badannya itu.


Satu.


Dua.


Tiga!


"Wah, Nancy lihat!"


Jim berhasil. Ujung tongkat itu telak mengenai tubuh Sang ikan. Ia tersenyum senang menatap Nancy yang juga tersenyum menatapnya.


"Kami sering mendapat kesulitan dalam hidup di hutan ini, tapi itu tidak berlangsung lama. Kami berusaha membuat hidup di sini nyaman ..."


Gadis itu melanjutkan ceritanya. Ia mengulum senyum, matanya menyipit lucu. Tetapi sedetik kemudian senyumnya memudar.


"Jim, ada fakta yang harus kamu ketahui tentang hutan ini. Hutan ini sangat berbahaya, ada makhluk yang aneh dalam hutan ini, emh ..."


Jim memiringkan kepalanya, bingung. Nancy mengusap lengannya, ia memejamkan mata, dahinya berkerut, seperti sedang ketakutan.


"Nancy ada apa?" Lelaki itu berjalan mendekati gadis yang sedang memeluk lengan itu.


"Ada makhluk aneh di hutan ini, kau sebaiknya hati-hati." Nancy mengangkat kepalanya, menatap Jim dengan sorot mata keseriusan.


"Makhluk aneh seperti apa?" Jim kembali bertanya, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Nancy, ingin mendengar lebih jelas.


"Aku tidak tahu mau menyebutnya apa, kau akan tahu saat melihatnya. Mereka ada di mana-mana, kau pasti akan melihatnya!"


Lelaki itu menatap lawan bicaranya, ia tidak tahu mau memberikan komentar seperti apa. Tetapi itu sukses membuatnya takut, ia memandang sekitar, takut makhluk yang di ceritakan Nancy memang benar adanya.


Ia kembali menatap Nancy yang kebetulan sekali menatap dirinya. Jim sempat terkejut, melihat gadis itu dari jarak sedekat ini.


Dengan melihat Nancy saja ketakutan sekilas yang ia alami sirna seketika. Ajaib sekali perempuan ini.


Mereka saling pandang dalam diam. Cukup lama, hanya ada keheningan dan suara gemericik air yang terdengar. Mata gadis itu perlahan menyayu, Jim hanya diam. Ia tidak tahu harus berkata apa, matanya tetap fokus menatap Nancy. Yang ia tahu saat itu Nancy terlihat sangat cantik.


"Kalian sedang apa? Waw."


Keduanya tersentak, kemudian menoleh, menatap anak laki-laki yang berdiri tidak jauh dari mereka. Tangannya memegang beberapa ranting kering.


Anak laki-laki itu menaik turunkan alisnya dan tersenyum penuh arti.


Nancy terlihat salah tingkah, ia menutup mukanya yang sudah memerah. Sedangkan Jim kembali ke air sembari membawa tongkat kayu lagi, hendak menangkap lebih banyak ikan.


Malu. Tentu saja. Jim mengumpati Nathan dalam hati. Ia menangkap ikan dengan muka yang memerah, menahan malu.


...


Jim berusaha untuk menghidupkan api dengan menggesekkan dua bongkah batu kecil berulang kali.


Nancy dan Nathan hanya menonton, menopang dagu melihat usaha keras lelaki itu. Tidak berniat menolong sama sekali.


Jim yang melihat itu hanya melongos, melanjutkan pekerjaannya.


Ikan yang dikumpulkan berjumlah 5 ekor. Jim sengaja menangkap lebih, ia sangat lapar, mungkin ia akan makan dua. Jim sudah membayangkan ikan itu saat ia gigit.


"Ayolah, api keluarlah," gumam lelaki itu tidak sabaran. Ia sudah sangat lapar sekarang, perutnya pun sudah berbunyi lagi.


Jim mengesekkan batu itu sekali lagi. Seketika keluar percikkan api dari batu itu dan membakar kayu di bawahnya.


"Wah, lihat Nancy!"


Jim bersorak, ia tersenyum senang. Nancy yang dipanggil itu pun lantas tersenyum, menampakkan deretan giginya yang rapi.


Lelaki itu segera mengambil ikan yang sudah ditusuk dengan ranting kayu, lalu membakarnya. Nancy dan Nathan melakukan hal yang sama, terdengar gelak tawa dari mereka berdua melihat betapa antusiasnya Jim.


"Nah Jim, pelajaran bertahan hidup sampai di sini dulu, terimakasih atas kerja kerasnya," Ujar Nancy sembari tersenyum. Matanya menyipit membentuk eye smile, benar-benar lucu.


"Tadi itu pelajaran?"


"Iya."


"Ooh."


Jim tidak banyak peduli, ia menyambar ikan yang sudah sekiranya matang untuk ia makan. Ia langsung melahap ikan itu, walau terasa membakar di lidah.