A Piece Of Memory

A Piece Of Memory
Bab 5 - Living Corpse



Jim duduk bersandar pada dinding belakangnya, ia merasa sedikit lelah. Perjalanan bolak-balik mencari ikan tadi membuat kakinya berdenyut.


Ia mendengus, masih mengingat saat mereka sudah setengah jalan untuk pulang, Nathan tiba-tiba berteriak dan berlari kembali ke sungai tadi. Jim merasa ingin melempar anak itu ke jurang, saat tahu yang ia tinggalkan adalah ranting kayu yang ia ambil tadi.


Jim menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Merasa pusing dengan tingkah anak laki-laki itu.


"Hei, ada apa?"


Jim tersenyum dan langsung menoleh, menatap gadis bersurai cokelat yang berjalan ke arahnya.


Jim menggeleng, "tidak ada apa-apa." masih dengan senyum yang menghiasi wajahnya, entah kenapa dan bagaimana setiap ia menatap wajah Nancy, hatinya selalu damai.


Gadis yang ajaib, sangat ajaib.


Nancy duduk di sebelahnya, bersandar pada dinding yang sama. Hening. Lagi.


Sesudah kejadian di sungai tadi, Jim merasa canggung jika duduk berdua saja dengan Nancy. Lebih tepatnya takut ada pengacau yang mengganggu alias Nathan.


Jim terkesiap, ia terkejut merasakan sesuatu mendarat di bahunya. Lelaki itu menoleh, mendapati Sang gadis yang sudah tertidur dengan bahu Jim sebagai bantalannya.


Ia diam-diam tersenyum. Tangannya bergerak perlahan mengusap rambut Nancy dengan lembut. Ia bergerak sepelan mungkin, tidak ingin membangunkan gadis itu.


"Kalian ini mesra sekali ya? Hm."


Jim terkejut setengah mati, tubuhnya terlonjak membuat gadis yang tertidur itu tiba-tiba terbangun.


"AH! BEBEK KUCING AYAM!!!" Nancy langsung berdiri, ia memasang kuda-kuda, matanya menatap was-was.


Jim dan Nathan melongo menatap gadis yang berlatah kaget itu.


"Bisa tidak, kalau kaget itu yang kalem?" Nathan melipat kedua tangannya, melengos membuang muka dari Sang kakak yang jika kaget selalu seperti itu.


Jim masih duduk di lantai, ia mengelus dadanya, menetralisirkan degup jantungnya yang masih berpacu cepat. Ia seperti pencuri yang tertangkap basah hendak mencuri ayam milik orang lain.


"NATHAN!" Nancy berteriak, mukanya memerah. Bukan karena marah, tetapi malu.


Diam-diam gadis itu melirik Jim yang masih menenangkan jantungnya, lalu menatap tajam kepada adiknya itu. Nancy kesal, ingin rasanya ia hanyutkan anak itu kesungai, tapi ia tidak akan melakukannya.


Nancy membuang muka, pergi dari sana sambil menghentak-hentakkan kakinya. Ia memberikan tatapan mematikan kepada adik yang sangat ia sayang itu ketika melewatinya.


Nathan tidak peduli dan tetap memasang muka datar.


Anak laki-laki itu berjalan mendekati Jim yang menolak untuk melihat ke arahnya.


"Ada apa kau dengan kakakku?" Tanya Nathan yang berbaring di samping Jim sembari memejamkan matanya.


"Tidak ada apa-apa kok, bocah kecil diam saja."


"Bocah kecil?!. He, usiaku sudah 15 tahun!!"


"15 tahun? Masih kecil~"


Nathan menggeram, kalimat itu sangat sensitif. Ia selalu mendengar itu dari kalangan teman-teman sekelasnya.


Umur yang terpaut tiga tahun dengan teman-temannya, membuat dirinya seperti bocah kecil yang hanya lompat kelas karena pintar. Mereka tidak pernah sekalipun memuji dan hanya iri.


Mengingat masa-masa itu membuat kepalanya sakit, ia masih ingat saat orang-orang itu berlomba-lomba untuk memukulnya. Ia tidak pernah dan tidak akan ingin menceritakan kepada keluarganya, tidak ingin melihat mereka khawatir.


Nathan menggelengkan kepalanya dengan keras, menghilangkan sekilas ingatan yang tiba-tiba muncul di kepalanya.


Ia melirik Jim di sampingnya yang sudah tertidur pulas.


Anak laki-laki itu perlahan memejamkan matanya, berusaha untuk tidur.


...


"Hei, bangunlah."


Jim mengerjap, matanya langsung menatap Nathan yang menggoyangkan tubuhnya pelan bermaksud untuk membangunkan.


Lelaki itu langsung bangkit untuk duduk, mendengar suara Nathan yang seperti berbisik-bisik.


Jim ingin membuka suaranya, tetapi Nathan lebih cepat menutup mulut lelaki itu dengan telapak tangannya.


Dahi lelaki itu berkerut, tidak mengerti apa yang terjadi. Nathan menempelkan telunjuknya di bibirnya, isyarat untuk diam.


Tidak lama kemudian Nancy datang dengan busur yang ada di tangannya. Gadis itu berjongkok, kemudian bersuara sepelan mungkin.


"Jim, ikut aku keluar."


Yang dipanggil hanya menurut, belum bisa bertanya apa-apa.


Jim yang tidak tahu apa-apa, menirukan gerak-gerik Nancy. Diikuti Nathan di belakangnya dengan gerakan yang sama.


Mereka sudah berada di pintu keluar, Nancy yang memimpin langsung berjongkok. Terdengar erangan dari sini, erangan makhluk buas.


Jim mengernyit, berpikir makhluk apa yang menunggu di luar. Singa kah? Serigala kah? Sepertinya berbahaya.


Lelaki itu memberanikan diri untuk mengintip, matanya seketika membelalak. Ia cepat-cepat menutup mulutnya yang hampir berteriak.


Nancy yang melihat reaksi Jim langsung berbisik. "Makhluk itulah yang kukatakan padamu kemarin. Itu licorp. Living corpse"


Jim semakin membelalakkan matanya. Living corpse? Mayat hidup?. Lelaki itu memegang kepala di sisi kiri dan kanannya, merasa pusing dengan fakta yang baru saja ia ketahui ini.


"Kami sudah pernah bertemu dengan jenis ini, yang ini buta tetapi pendengarannya sangat sensitif."


Nathan menjelaskan, berbicara sepelan mungkin. Mereka bertiga kini berdempet duduk berjongkok sembari berbisik-bisik.


Berusaha sebisa mungkin untuk meminimalisirkan suara yang keluar. Takut keberadaan mereka diketahui oleh makhluk yang mondar-mandir di halaman gua itu.


Jim dapat melihat makhluk itu secara jelas. Tubuhnya sangat aneh, berwarna hitam dan tampak membusuk, itu menyebabkan aroma sekitar menjadi tidak sedap. Bola matanya tidak ada dan kepalanya menjulang tinggi.


Lelaki itu bergidik ngeri. Ia menoleh kepada Nancy dan berbisik. "Apa rencananya?"


Nancy tampak berpikir, matanya bergerak-gerak melihat sekitar. Ia mencari cara untuk menakhlukkan licorp satu ini.


Gadis itu mengingat-ingat apa yang pertama kali ia lakukan saat berhadap-hadapan dengan makhluk itu. Oh tidak, ia hanya lari dan berlari, mereka selamat karena sebuah batu besar mengimpit tubuh kurus licorp dengan mengenaskan, itu hanya sebuah keberuntungan.


Nancy memijit pelipisnya, ia ingin menangis saja.


Nathan juga sedang berpikir, ia bergerak pelan tetapi kakinya tidak sengaja memijak daun kering dan itu menimbulkan suara yang nyaring di tengah kesunyian ini.


Ia mengumpat, kenapa bisa ada daun kering disini?!


Licorp, makhluk itu langsung menoleh dan memekik-mekik ribut. Ia langsung berlari kearah datangnya suara.


"Maafkan aku."


Jim, Nancy dan Nathan langsung berpencar. Menghindari monster yang hendak menerkam mereka.


"Kalian pergilah sejauh mungkin, biar aku yang mengalihkan perhatiannya!"


Jim merelakan dirinya untuk menjadi umpan, lelaki itu melempar sebongkah batu kepada makhluk sialan itu. Kemudian berlari sekencang yang ia bisa.


Ia kembali menahan sakit, kakinya mengalami pendarahan. Luka yang ia derita belum sembuh sepenuhnya. Jim menggigit bibirnya untuk mengalihkan rasa sakit yang bertubi-tubi ini.


Akan tetapi sial oh sialan, monster itu berlari lebih cepat dari dugaannya.


Lelaki itu berlari sepanjang jalan di hutan, hewan-hewan yang ia temui pun langsung kabur melihat makhluk besar dan mengerikan di belakang sana.


Ia berpikir dengan sangat keras, tangannya bergerak naik memukul-mukul kepala yang belum juga memunculkan ide.


Mata Jim terfokus pada satu pohon di depannya. Ia berlari lebih cepat, kemudian kakinya bergerak menapakkan kaki dipohon itu. Tubuhnya melompat melayang dan menendang makhluk sialan yang sudah didepan mata.


Licorp itu terlempar sejauh satu meter, tubuh makhluk itu bergerak-gerak untuk bangkit. Jim merasa jijik sendiri.


Lelaki itu meringis merasakan kakinya yang sudah sangat ngilu, ia menggigit bibirnya kuat-kuat. Nafasnya memburu, ia berusaha untuk bangkit lagi.


Jim berpikir kembali, tentu saja dengan usaha yang tadi belum cukup untuk membunuhnya. Ia sudah berdiri dengan ancang-ancang untuk berlari lagi.


Kakinya bergerak setengah pincang, matanya sudah berkunang-kunang. Darah di kakinya sudah merembes ke celananya.


Monster itu celingukan, ia mencari-cari orang yang ia kejar tadi.


Itu menjadi kesempatan bagi Jim untuk menaklukkan makhluk aneh berlendir itu. Ia bergerak memutari licorp, sampai ia berada tepat di belakang monster itu.


Ia mencekik dan menendang. Bau busuk yang keluar sangat menyengat. Kepalanya sangat pusing. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat, ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya.


Makhluk yang sedang dicekik itu berteriak kesetanan. Tubuhnya mengeluarkan lendir-lendir dan itu memang lendir yang sangat bau.


Jim yang di dekatnya pun hampir saja pingsan, ia bertahan mati-matian.


Satu pukulan keras terakhir.


Akhirnya makhluk itu mati.


Jim menghela nafas lelah. Ia terduduk, kemudian memuntahkan keluar seluruh isi perutnya. Ia benar-benar mual dan kepalanya sangat pusing.


Pandangannya kembali kabur dan sedetik kemudian lelaki itu pingsan.