A Piece Of Memory

A Piece Of Memory
Bab 12 - Petunjuk Kedua?



"Rafael, Rafael."


"Hm?" Rafael menolehkan kepalanya, ia tersenyum menatap gadis mungil dengan rambut sebahu yang mendongakkan kepala untuk memandangnya.


"Berapa usiamu?"


"Haha, kenapa? Apa aku setua itu?" kekeh lelaki itu pelan.


"Bukan begitu, aku kan' hanya bertanya... lagian kau itu tinggi sekali!" Jawab gadis itu yang memerhatikan perbedaan tinggi badannya dengan Rafael. Jim saja kalah tinggi dengannya.


Rafael tertawa kecil, ia mengacak rambuk Nancy gemas, lalu menjawab pertanyaan yang gadis itu tadi lontarkan, "25 tahun."


Nancy ber-oh ria sembari merapikan rambut yang sudah kacau akibat lelaki satu ini.


"Umurmu, hm... coba kutebak, 19 kan?"


Nancy kembali mendongakkan kepalanya, matanya yang bulat menatap wajah Rafael, mengerjap-ngerjap cepat.


Lelaki itu hanya tersenyum, dugaannya tepat sekali. "Aku punya seorang adik, usianya 19 tahun... jadi ketika aku melihatmu, mengingatkan aku kepadanya,"


"Oh, begitukah? Jadi di mana dia sekarang?"


"Entahlah, aku kehilangannya," Rafael tersenyum miris, ia menatap ke depan, memperhatikan jalannya.


Gadis itu menutup mulut dengan kedua tangannya, "Ah, maaf...," cicitnya pelan.


"Tidak apa." Rafael mengibaskan tangannya, kembali memerhatikan jalan.


Kedua pemuda itu berjalan beriringan, pergi tanpa petunjuk yang pasti. Mereka berjalan di antara pepohonan dan sesekali melompat melewati sungai. Sejauh ini tidak ada yang berbahaya, tetapi Nancy pikir dirinya akan merasa aman sekarang.


Nancy melirik Rafael dengan sudut matanya, apakah ini lelaki yang sama dengan yang ia lihat kemarin?


Jika dilihat dari belakang, bahu dan punggungnya seperti bahu dan punggung milik Jim.


Ck, wajar saja aku salah.


Gadis itu sibuk dengan pikirannya, sampai sesuatu melintas di kepalanya.


"Rafael, apakah kau juga melewati sebuah petunjuk untuk sampai kesini," Tanya Nancy sembari menarik ujung baju lelaki itu agar berhenti berjalan.


Rafael diam sejenak, lalu mengangguk, tanda mengiyakan. Ia mengeluarkan secarik kertas kecil dan langsung memberikannya kepada Nancy.


"Pergilah ke barat," Gumam gadis itu membaca tulisannya. Ia mengangguk, lalu mengembalikan kertas itu kepada Rafael.


"Jika aku dari barat dan kau dari timur, seharusnya petunjuk itu sudah ditemukan kan, kenapa kita tidak melihatnya?" Nancy kembali bertanya, ia sungguh dalam mode serius sekarang.


Lelaki di hadapannya terlihat berpikir sembari melipat kedua tangan di depan dadanya.


Rafael mengangkat bahunya, itulah yang ia cari sejak kemarin. Ia tidak melihat satupun benda yang mungkin bisa jadi petunjuk.


"Rafael, bagaimana jika kita pergi mencari petunjuk itu dulu," Usul gadis itu sembari melompat-lompat, membuat rambut sebahunya bergoyang-goyang.


Lelaki itu tertawa, ia kembali mendaratkan tangan kekarnya ke kepala Nancy, lalu mengacaknya pelan.


"Ya ayo! Jika temanmu melakukan hal yang sama, kita pasti bisa menemukannya."


...


"Nat, makan dulu ayo! Kau belum makan sejak kemarin kan?"


"Tidak, aku tidak akan makan sebelum Nancy kita temukan!"


Jim mendengus, ia sudah lelah membujuk anak laki-laki itu untuk makan sejak tadi.


Lelaki itu memandang perapian, di sana terdapat satu ekor ikan yang ia tangkap tadi. Lalu, pandangannya beralih kepada 3 tusukan di sebelahnya, itu bekas miliknya.


Jim langsung berdiri, ia berjalan ke arah Nathan. Kemudian menarik kerah belakang baju anak laki-laki ini dengan satu tangannya.


"Nathan, ayo makan!!"


"Tidak!!!"


Lelaki itu mendecak kesal, Nathan sungguh sangatlah keras kepala. "Jika kau tidak ingin makan sebelum menemukan Kakakmu, kau akan mati!"


"Itu mulutnya, tolong," Ujar anak laki-laki terkejut, barusan Jim menyumpahinya.


"... Lagian aku yakin Nancy sudah makan sekarang dan aku juga yakin pasti Nancy-lah yang akan menemukan kita," Imbuh lelaki itu, melepaskan pegangannya pada kerah baju Nathan, lalu kembali ke perapian.


Nathan akhirnya menurut, ia mengikuti Jim, berjalan di belakang lelaki itu.


Jim kembali menoleh ke belakang, "Makanlah dulu, setelah ini kita akan melanjut perjalanan untuk menemukan petunjuk kedua it–"


"Kita tidak pergi mencari Nancy lagi?"


Jim menggeleng, "Kurasa menemukan petunjuk kedua, bisa mempertemukan kita dengan Nancy."


"Begitukah? Baiklah!" Nathan berseru semangat, ia segera melahap habis sarapannya.


Nancy akan marah jika aku tidak memberikanmu makan Nat. Kakakmu itu pasti akan memukuliku.


Lelaki itu menggelengkan kepalanya cepat, memilih untuk menunggu Nathan selesai mengabiskan sarapannya. Menatap sungai di sampingnya dengan tatapan kosong.


...


Nancy duduk di atas bongkahan batu yang besar, menunggui Rafael yang sedang mencari-cari sesuatu.


Ia melipat kedua kakinya, duduk sembari bertopang dagu.


"Rafa, sudahkah?" Ujar gadis itu merasa bosan. Ia sudah memutuskan untuk memanggil lelaki itu dengan sebutan 'Rafa' saja, Rafael? Itu terlalu panjang.


"Bersabarlah, aku akan segera ke sana!" Seru Rafael dari dalam bagunan tua di sana.


Sepertinya pernah ada orang lain yang masuk ke dalam bangunan tua itu, karena 'orang lain' itu meletakkan lemari berukuran sedang yang berat untuk menahan pintu itu agar tidak terbuka.


Gara-gara mereka tangan Nancy jadi terkilir, ia tadi membantu Rafael untuk mendorong pintu yang ternyata ada sebuah lemari di sebaliknya.


Jahat sekali mereka!


Rafael tidak menampakkan batang hidungnya sejak tadi. Nancy memilih untuk pergi menghampirinya.


Aroma di dalam bangunan sangatlah busuk, itu sebabnya ia tidak ingin masuk ke dalam sana, tetapi kali ini ia memaksakan diri untuk masuk.


Banyak barang-barang di dalam sana, Nancy berkali-kali melompat untuk masuk ke bangunan tua itu.


"Rafa?"


"Oh, Nancy kemarilah!" Lelaki itu mengibaskan tangannya, menyuruh untuk mendekat.


"Ada apa?" Tanya gadis itu lagi sembari menutup mulut dan hidung dengan satu tangannya.


Rafael menunjukkan sesuatu, itu sebuah gelang karet hitam dengan garis-garis merah.


Bukan hanya itu, terdapat nama 'Nancy' di dalamnya.


Mata gadis itu melotot, "Akh! Itu milikku!!!" Seru Nancy meraih gelang karet itu.


"Iya, ini benar-benar milikku yang..." Gadis itu terdiam, merendahkan volume suaranya di akhir kalimat.


"... Yang pernah kuberikan kepada Nathan... Teman-temanku!! Mereka pernah kemari!!" Seru Nancy kembali, Ia memandangi gelang itu lamat-lamat. Kenapa Nathan meninggalkan benda ini di sini?


"Jadi mereka yang meletakkan lemari di pintu tadi," Ujar Rafael, menunjuk ke arah pintu dengan mata yang masih setia menatap Nancy.


Gadis itu mengangguk cepat, ia menarik lengan Rafael untuk segera pergi dari sana.


"Ayo, nanti mereka semakin jauh!"


"Iya iya, tapi kurasa seharusnya kita lewat sana."


Sebuah lubang seukuran badan manusia terpampang jelas di sisi dinding yang ditunjuk Rafael.


...


"Hoi Jim, bagaimana cara kita bisa mengetahui petunjuk kedua itu?"


"Entahlah, aku tidak tahu." Jim mengangkat kedua bahunya, lelaki itu dari tadi cuma asal berjalan saja. Intinya kali ini mereka tengah berjalan ke arah timur.


Nathan menghela napas lelah, ia menjatuhkan dirinya dengan sengaja.


"Nat, bangunlah."


"Tidak mau!"


"Kau ini kenapa nakal sekali!"


Nathan mendudukkan tubuhnya, ia sudah menyerah. Anak laki-laki itu memajukan bibirnya. Jim yang melihatnya merasa jijik.


"Jangan seperti itu! Aku jijik melihatnya!!" Jim meraih lengan Nathan, lalu menariknya, meminta anak itu untuk berdiri segera.


Nathan yang tertarik paksa segera berdiri, tetapi saat itu juga tempat yang ia duduki tadi mengeluarkan cahaya, berwarna kuning terang.


Kedua pemuda itu terkejut. Jim berjongkok, ingin melihat lebih jelas cahaya itu. Lelaki itu memicingkan matanya, langsung menoleh ke belakang.


"Kau tadi kentut ya?"


"Hah? Tidak!!"


"Lalu, kenapa warnanya kuning?"


"Kentut itu tidak berwarna, sialan! Ini jelas-jelas petunjuk keduanya!"


Cahaya itu perlahan menghilang, meninggalkan sebuah nada yang indah.