A Piece Of Memory

A Piece Of Memory
Bab 3 - Nancy's Story



Satu tahun yang lalu...


"Nancy..Nathan.."


Nancy menoleh, ia menatap seorang wanita paruh baya yang duduk diatas sofa di ujung ruangan itu. Kemudian gadis itu menghampirinya.


"Hm? Ada apa, ma?"


Nancy mendudukkan dirinya di samping wanita yang tidak lain adalah Ibunya.


Wanita itu belum menyebutkan maksud dirinya memanggil anak-anaknya itu, yang ia lakukan hanya melipat kain yang bertumpuk di sampingnya dengan tatapan sendu.


Nancy masih setia menunggu, ia dapat melihat gelagat aneh dari Ibunya. Tentu saja, Nancy adalah anak yang cerdas, tidak mungkin ia tidak mengetahuinya.


"Nathan, kemarilah!" Nancy berseru memanggil Nathan, ia celingukan mencari keberadaan Adiknya. Kalau tidak salah dengar, ibunya juga memanggil nama Adiknya itu.


Ia kembali melirik Ibunya, masih melakukan hal yang sama. Nancy bangkit dari duduknya, memilih untuk mencari Nathan daripada merasakan atmosfer yang tidak enak di sekelilingnya akibat diamnya Sang Ibu.


"ya..."


Belum melangkahkan kaki, Nathan sudah berdiri diambang pintu sambil mengucek matanya.


Dia baru saja terbangun dari tidurnya, Nancy tahu dari sisa air liur yang mengering disudut bibirnya.


Nancy kembali duduk di samping ibu, menatap Nathan yang berjalan gontai menuju kearahnya. Lalu, anak laki-laki itu mendudukkan dirinya dilantai, berhadapan-hadapan dengan Sang Ibu.


"Ma..kenapa memanggil?" Nancy kembali menanyakan pertanyaan dengan maksud yang sama. Matanya memandang Ibu dengan tatapan bertanya-tanya.


Gadis itu melirik Adiknya yang kebetulan sekali sedang menatapnya. Nancy memberi kode kepada Sang Adik dengan menunjuk Ibu dengan dagunya : 'Mama kenapa?'


Nathan hanya mengangkat kedua bahunya, entah untuk apa. Mungkin ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Ibu atau dirinya yang tidak mengerti maksud dari kakak perempuannya itu.


Nancy mendengus, menatap Adiknya yang menunjukkan muka paling bodoh sedunia. Menurut Nancy seperti itu.


"Kalian mau tidak belajar di pulau?"


Satu pertanyaan meluncur dari bibir Ibunya, walaupun matanya masih terpaku pada urusannya melipat kain.


Nancy mengernyit, saling pandang dengan sang adik yang juga menunjukkan ekspresi yang sama.


"Maksud mama? Belajar kepulau?"


"Ada seseorang yang menawarkan hal itu kepada mama, mereka ingin kalian belajar di sebuah pulau pribadi milik keluarga kaya di sana."


Ibu menatap anak-anaknya secara bergantian. Dirinya juga merasa ragu tentang hal ini, tetapi ada syarat yang tidak bisa ia tolak untuk kelangsungan hidupnya dan anak-anaknya.


Nancy terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Ini terlalu mendadak dan kenapa harus dirinya beserta adiknya yang pergi kepulau itu.


"Bukan hanya kalian, orang-orang itu juga menawarkan kepada seluruh orang-orang dikota ini," Lanjut Ibu, kembali memandang tumpukan kain di sampingnya, mengambil sehelai lalu melipatnya.


"Kapal yang menjemput kalian akan datang besok, pagi pagi sekali."


Ucapan Ibu lagi-lagi membuat gadis itu mengernyit, seolah-olah mereka setuju akan hal ini.


Nancy menoleh kepada Adiknya, tampak dari wajahnya raut muka tidak senang.


"Aku tidak mau, ma." Nathan membuka suara, nada suaranya terdengar dingin. Matanya tidak memandang wajah Ibu langsung.


Nancy mengangguk, setuju dengan adiknya. "Aku juga ma, aku tidak yakin dengan omong kosong belajar ke pulau ini. Bagaimana jika terjadi hal buruk pada kami."


Ibu menatap kami bergantian, bias suaranya menegas. "Kalian harus mau, Mama sudah berkata 'iya' pada orang-orang itu."


Untuk sekian kalinya Nancy tercengang, tidak percaya apa yang barusan ibunya katakan. Gadis itu bangkit dari duduknya, disusul Nathan di belakang yang juga tidak senang dengan keputusan Ibu ini.


"Mama sadar apa yang mama lakukan?!" Nancy meninggikan nada suaranya. Ia tahu akan dosa jika berbicara seperti itu kepada orang tuanya. Tapi kali ini ia sungguh tidak terima.


"Mereka menawarkan sejumlah uang kepada mama, jika mama membiarkan kalian belajar disana, bukannya itu bagus? Kalian akan mendapatkan lebih banyak ilmu dan teman-teman baru!"


Nancy jelas mendengar nada suara tidak rela dari ucapan Ibunya barusan.


Ibu menghela nafas sejenak sebelum melanjukan ucapannya. "...Dan mama butuh uang itu. Newa harus segera dioperasi." Ucapnya lirih.


Hati Nancy tersentuh, mendengar nama Newa, adik bungsu mereka yang harus melakukan operasi karena penyakit yang dideritanya sangat parah. Membuat tembok di hatinya runtuh.


Gadis itu menatap sang adik yang berdiri dibelakanngnya. Ia mengangguk meyakinkan Nathan akan hal ini, demi Newa.


Nathan tersenyum, ia balas mengangguk tanda setuju.


"Baiklah, akan kami lakukan."


...


Nancy menatap jam bandul berukuran kecil di meja yang terletak dikamarnya. Jarum pendek jam itu menunjukkan pukul 4 dini hari.


Gadis itu segera berdiri, membuka jendela kamarnya. Matanya menangkap keadaan di sekitar wilayah rumahnya yang ramai.


Ia mengingat apa yang dikatakan Ibunya kemarin, bahwa bukan hanya dirinya yang pergi. Dan tentang yang Ibu katakan tentang uang dan Newa.


Nancy tahu jika dirinya berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya juga sudah meninggal dunia sejak ia berumur 10 tahun. Ibu melakukan semuanya sendiri sejak hari itu.


Ibunya mungkin sudah lelah, dan juga fakta bahwa adik bungsunya sakit keras dan harus melakukan operasi segera. Lalu datanglah kesempatan seperti ini, tidak mungkin ditolak, lagipula ini baik untuk dirinya,


...mungkin.


"Nancy, ayo cepat turun!"


"Iya ma!" Nancy menjawab seruan ibunya dari kamarnya yang terletak di lantai atas. Gadis itu menarik tas sandang yang berisi baju-baju dan hal-hal yang diperlukan nantinya. Meskipun ia tidak tahu berapa lama dirinya akan pergi.


Gadis itu keluar dari kamar, lalu menutupnya. Ia berjalan menuruni tangga kayu yang berderit ketika dipijak.


"Kakak kenapa lama sekali?"


Nancy hanya meringis kecil, ia menggaruk kulit kepalanya. Itu Nathan, ia sudah rapi dengan memakai kaos hitam dan jeans biru. Dirinya juga hanya memakai kemeja biru langit dan jeans putih. Tidak berlebihan.


Gadis itu menoleh menatap Ibunya, ia tersenyum dan berjalan mendekati Ibu.


"Kalian pergilah segera." Ujar ibu lirih, ia mencoba untuk memaksakan senyumnya. Matanya sudah basah. Kemudian ia memeluk anak-anaknya satu persatu, pelukan yang erat dan tulus.


Nancy membalas pelukan Ibu. Setetes air mata jatuh kepipinya, hatinya merasa sakit jika harus meninggalkan Ibu dan adik bungsunya itu.


Begitupun Nathan, tampak jelas anak itu berusah keras menyembunyikan air matanya.


Gadis itu melepas pelukannya, ia pamit sekali lagi kepada Ibunya dan berjalan keluar dari halaman rumah.


Rumah yang tidak akan lagi bisa ia datangi.


...


"Kak."


"Hm?" Matanya tidak lepas dari pemandangan yang ia saksikan kini. Ia sudah berada di dalam kapal yang dijanjikan untuk menjemput mereka.


Kapal itu sangat besar, gadis itu sempat kagum dengan bagian luar kapal yang ber-cat kan warna merah dan hitam. Tiang tiangnya pun terbuat dari besi dan tidak ada sisi yang berkarat.


Tetapi saat dirinya memasuki bagian dalam kapal, ia merasa berada dalam penjara. Mereka hanya disuruh duduk di sebuah ruangan besar yang tidak ada satupun kursi di sana dan tanpa melakukan apapun.


Ini sudah beberapa jam sejak keberangkatan, ia tidak tahu keadaan langit sekarang.


Nancy sungguh kesal. Orang-orang itu juga belum mengatakan apapun, tentang keadaan pulau yang menjadi tempat tujuan mereka dan apa saja yang akan dilakukan sesudah sampai disana. Tidak ada! Tidak ada sama sekali.


Memang bukan hanya dirinya yang berada di ruangan besar itu, banyak sekali orang di sini dan ada beberapa yang ia kenal. Itulah yang membuatnya tenang, walaupun harus duduk tanpa beralaskan apapun.


"Aku merasa tidak nyaman." Nathan memulai pembicaraan, tubuhnya bergerak-gerak gelisah sejak tadi.


"Semua orang disini juga merasakan hal yang sama, Nat."


"Uuh, tapi—"


"Semuanya, sekarang kita sudah sampai. Berdirilah kemudian turun dengan teratur!"


Semua orang dalam ruangan itu menoleh, menatap seorang pria yang hanya mengatakan sepatah kata lalu keluar. Nancy menggeram, itu sungguh tidak sopan menurutnya.


Satu persatu orang keluar melalui pintu yang dilewati pria tadi. Nancy mengangkat tubuhnya disusul Nathan. Ia sudah menyiapkan umpatan kasar yang akan ia lontarkan kepada orang yang bertanggung jawab atas perlakuan yang tidak mengenakkan ini.


Kini mereka sudah keluar dari kapal itu, tetapi ini sungguh diluar ekspetasi mereka..bukan, semua orang yang ada disana. Mereka digiring menuju bangunan besi yang sudah berdiri tepat di depan pelabuhan.


"Apa-apaan kalian!" Nancy menepis tangan dari seorang pria yang mencoba menyeret tubuh mungilnya untuk masuk ke dalam bangunan besi super besar itu.


"Jalan!"


Gadis itu terkesiap, tidak menyangka akan dibentak seperti itu. Ia terdiam, menurut di bawa kedalam.


Saat masuk ke dalam, ia mengerutkan dahi yang ia lihat hanya besi, lantai besi, dinding besi dan langit-langit besi, seluruh bangunan itu adalah besi.


Mereka semua dibagi dalam beberapa tim, dan setiap tim diarahkan ke ruangan masing-masing.


Nancy menoleh cepat kepada adiknya, kemudian ia menghela napas lega. Setidaknya Nathan satu tim dengannya.


Mereka semua dimasukkan kedalam sebuah ruangan yang cukup besar untuk ditinggali 15 orang, termasuk dirinya dan juga adiknya.


Hanya ada satu jenis perabot disana, tempat tidur. Nancy mendecak, apa yang dipirkan orang-orang gila itu. Mereka menggabungkan ruangan untuk laki-laki dan perempuan?!


"Kalian cepatlah masuk, dan letakkan barang kalian masing-masing disebelah tempat tidur." Ujar seorang pria dari dalam ruangan, ia berjalan kearah mereka, kemudian menatap satu persatu dari orang-orang yang akan menghuni tempat itu dengan sorot mata dingin.


"Tetapi sebelum itu—" Pria itu mengambil sesuatu dari kantong pakaiannya, kemudian menarik tangan seorang wanita dari kelompok itu. Lalu menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita itu.


"Apa itu?"


"Tidak perlu kau pikirkan." Pria itu menarik orang selanjutnya dan melakukan hal yang sama seperti tadi.


"Apa maksudmu 'tidak perlu'?!" Nancy meninggikan suaranya, matanya melotot. Ini sungguh keterlaluan, pria ini menyuntikkan sesuatu yang dirinya tidak tahu apa itu dan berkata 'tidak perlu kau pikirkan'?!.


"Ini benar-benar keterlaluan!"


Pria itu menyeringai, ia menepuk kepala gadis itu lembut. Kemudian ia membisikkan sesuatu.


"Hei imut, kami kan sudah membelimu, jadi diam saja ya, kau tidak berhak protes, Ibumu sudah menyerahkanmu kepada kami"


"Ha? A-apa?"


"Emh, memang, kami sedikit berbohong. Ah, tapi kau kan sudah disini dan kami sudah memberikan uangnya pada ibumu" Pria itu menjauhkan wajahnya dan berseru kepada semua orang disana.


"Kalian tidak akan pernah pergi dari pulau ini, jadi berdoalah!"


Selesai menyelesaikan pekerjaannya, Pria itu pergi dari ruangan itu dan menutup pintunya.


Nancy terduduk di tempatnya, tubuhnya bergetar, ia menahan air matanya agar tidak jatuh.


...tidak bisa keluar dari sini.


Bukan hanya Nancy, seluruh orang disana ketakutan. Tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui fakta itu.


Gadis itu mengusap bekas suntikan dilengannya. Ia berpikir keras untuk keluar dari tempat ini.


"Dasar orang-orang gila itu!"