
Panas dari matahari tidak sepanas di siang hari, jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Dan kini mereka sekarang berjalan, menuju tempat untuk mendapatkan petunjuk pertama yang selama ini Nathan maksud.
Semilir angin diam-diam berembus, menerpa wajah para pemuda itu. Rambut mereka yang lebat karena sudah tidak pernah dipotong lagi, bergerak-gerak bersamaan dengan arah angin.
Pohon-pohon yang rindang menjatuhkan daun-daun kering yang sesekali mendarat di kepala para pemuda itu, membuat tangan mereka bergerak menyapunya.
Para pemuda yang berjalan dalam diam, tiba-tiba berhenti.
"Petunjuk pertama,"
Nathan menggerakkan tangannya, menunjuk sesuatu. Sebuah danau.
Jim membelalakkan matanya, terpesona dengan keindahan yang tersaji di depannya. Hampir saja ia menangis, ini sangat indah.
Di sana juga terdapat air terjun, datang dari atas. Terjun bebas ke bawah, menghantam danau.
Pohon-pohon rindang di sekitarnya, menambah pesona danau itu.
Nancy yang sudah pernah melihatnya pun, berdecak kagum. Semuanya memandang pemandangan itu dalam diam, menikmati semuanya sembari menahan napas.
Ikan-ikan juga sesekali menampakkan moncongnya, kemudian kabur kembali ke bawah.
Jim perlahan mengembuskan napas, yang dari tadi ia tahan. Lelaki itu menolehkan kepalanya kepada anak laki-laki yang masih menatap hal yang sangat indah itu.
"Jadi apa?"
"Oh, iya!" Nathan meringis kecil, ia berjalan mendekati danau disusul Jim di belakangnya.
Jim baru saja ingin membuka mulutnya, tetapi seakan tahu apa yang akan Jim katakan, Nathan langsung berbicara.
"Kenapa aku bisa tahu ini petunjuk pertamanya? Dengarkan aku," Nathan memandang ke depan sembari memasukkan tangan ke kantong celananya. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa tebakanku benar?"
Anak laki-laki itu menangkap ekspresi yang di tunjukkan Jim, lalu menyeringai.
"IYA!" Jim merasa kesal sendiri, anak itu sangat menyebalkan.
Nathan hanya tertawa kecil, kemudian kembali fokus, hendak memberikan penjelasan tentang danau ini.
"Ada sesuatu yang aneh di danau ini,"
"Aneh bagaimana?"
"Setiap 6 hari sekali, danau ini akan berubah warna,"
Jim mengernyit, bagaimana bisa danau ini berubah warna?
"Aku juga tidak mengerti kenapa, tetapi kalau makhluk seperti licorp ada, mengapa danau ini tidak mungkin bisa berubah warna?"
Jim bergidik ngeri, anak ini bisa membaca pikirannya!
Nathan menghela napas pendek, "Sayangnya... aku tidak tahu hari ke berapa sekarang, aku sudah lama tidak kemari,"
Jim berdecak kecewa, jadi harus bagaimana? Siapa yang menjamin tempat ini aman untuk menunggu danau ini berubah warna?
"Ini hari ke-5,"
"Kau yakin, Kak?"
Nancy berjalan mendekat, ia menatap ke dua laki-laki itu bergantian sembari melipat tangan di depan dadanya.
Gadis itu mengangguk, "Di hari kita terakhir melihatnya 3 bulan yang lalu, di awal bulan kan?"
Nathan mengangkat bahu, mengisyaratkan ketidak tahuannya. Nancy mendengus kesal.
"Aku menghitung setiap hariku selama berada di hutan ini," Nancy perlahan tersenyum sendu, matanya mulai basah. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menghapus kesedihan yang ia rasakan sekarang, ini bukan saatnya untuk menangis.
Jim yang melihatnya hanya menepuk bahu gadis itu lembut, menyemangati, hanya itu yang ia bisa lakukan.
Lelaki itu kembali memandang danau, "Jika benar apa yang Nancy katakan, kita akan menunggunya disini,"
"Di sini? Bagaimana jika ada licorp?"
Jim menopang dagunya, hendak berpikir. Ia menarik napas, lalu menghembuskannya keras-keras. Ingin rasanya beristirahat sebentar, tetapi inilah alam liar, tidak bisa berjalan sesuai keinginanmu.
"Dari gua tadi, membutuhkan waktu beberapa lama untuk sampai kemari?"
"30 menit," Jawab Nathan singkat.
"Kita kembali ke sana saja dulu,"
Lelaki itu sudah memutuskan, kepalanya menengadah memandang langit yang perlahan berubah warna menjadi warna jingga. Cantik.
Lalu berjalan memimpin jalan, kembali ke gua kecil tempat ia beristirahat tadi.
...
Nancy duduk bersandar pada dinding gua, ia memandang dua laki-laki yang sudah terlelap di depannya. Mereka sepertinya sudah lelah sekali, karena itu ia yang berjaga sekarang.
Gadis itu menatap sekitar, memainkan kukunya dan bersenandung kecil. Membosankan.
Tubuhnya bergerak, ia berjalan keluar, ingin menikmati angin malam.
"Nancy?"
Baru berberapa langkah menuju moncong gua, ia berhenti dan menoleh saat dirasa ada yang memanggilnya.
"Hm ya?" Gadis itu tersenyum tipis, ia berjalan mendekati lelaki yang sudah membuka matanya. Kemudian mendudukkan diri di sana.
"Kau tidurlah biar aku yang berjaga sekarang," Jim mengangkat tubuhnya untuk duduk, ia mengusap matanya dan merapikan rambutnya sedikit. Lelaki itu tidak tahu, bahwa hal sekecil itu membuat wajah Nancy yang sejak tadi memperhatikan memerah.
"Um-ya, baiklah... tunggu eh-tapi, aku tidak mengantuk!"
Jim memiringkan kepalanya, bingung. Ia menatap wajah Nancy lekat-lekat, membuat si pemilik wajah menjadi salah tingkah.
Lelaki itu hanya tersenyum geli, melihat tingkah imut gadis pemilik netra cokelat indah itu.
"Tidak usah, temani aku kalau begitu. Jam sebelas nanti kita harus kembali ke danau itu kan?,"
Ia mengulurkan tangannya, mengusap surai lebat milik Nancy. Gadis itu terdiam, melihat perilaku Jim yang tiba-tiba ini.
Perlahan senyum terukir di wajah kedua pemuda itu, senyum yang sangat tipis. Jim menjauhkan tangannya dari rambut Nancy, kemudian beralih memegang tangan gadis itu.
Jantung Nancy sudah berpacu cepat, ia tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini. Selalu saat ada laki-laki yang mendekati dirinya, ia selalu menolak secara kasar dan ketus. Nancy bukanlah perempuan yang lembut, ia akan berkata tidak suka jika ia memang tidak suka.
Bahkan Nancy tidak tahu bahwa jatuh cinta semanis ini.
Jim memandang dalam diam tangan Nancy yang kasar, di tangan ini terukir kisah hidupnya untuk bertahan hidup di dalam hutan ini. Melihat ini lelaki itu tersenyum pedih, ia mengangkat mukanya.
"Nancy, aku serius akan membawamu keluar dari hutan ini. Aku berjanji."
Gadis itu tidak tahu mau berkata apa, ia hanya memperlihatkan senyumnya yang sangat tulus dan manis. Semanis gula.
Jim menjadi gemas sendiri, ia mendekatkan tubuhnya, ingin memeluk gadis ini erat-erat. Akan tetapi sebelum itu, ia melirik Nathan didekatnya.
Dan yang benar saja anak itu sudah membuka matanya, menatap semua itu dalam diam dengan raut muka yang sangat datar.
"O-oh Nathan, kau sudah bangun?"
...
Matahari belum terbit, tetapi para pemuda itu sudah melangkahkan kakinya menuju tempat di mana petunjuk pertama berada.
Jim memimpin, ia perlahan menghirup udara segar, kemudian menghembuskannya. Tubuhnya merasa lebih sehat sekarang.
Mereka berjalan dalam diam, berjalan dengan teratur, seperti kereta api. Jim di depan, Nathan di tengah dan Nancy di belakang. Jim mendengus samar.
"Nancy, sekarang jam berapa?" Pandangan Jim masih terus ke depan, bertanya karena hari masih sangat gelap.
Nancy menengadahkan kepalanya, menatap bintang-bintang, membaca waktu. Hidup di alam liar, membuatnya harus mengerti hal-hal seperti ini.
Baru saja ingin menjawab, Nathan sudah berbicara terlebih dahulu, "Cih, Kenapa harus bertanya ke Kak Icy? Sekitaran jam 11 ke 12!"
Jim menatap Nathan dengan ujung matanya, ia menggeleng pelan melihat tingkah anak berumur 15 tahun itu. Sangat kekanakkan, tetapi melihat dia begitu menyayangi kakaknya, itu wajar saja.
Rombongan itu kembali diam, mereka sudah sangat dekat dengan danau yang kemarin mereka lihat.
"Akhirnya sampai," Nancy mendudukkan tubuhnya di batu besar dekat danau. Membiarkan kedua laki-laki itu saja bekerja.
Tinggal berberapa menit menuju perubahan warna air di danau ini. Jim berjongkok di depan danau, ia melihat sekitar. Lelaki itu mencatat dalam kepalanya, apa saja yang ada di sekitar sini, untuk menjadi petunjuk pemecahan teka-teki ini.
"Nathan, selain berubahnya warna air di danau ini, apalagi yang menurutmu aneh?" Tanya Jim, ia sadar kemarin belum mendengar semua penjelasan Nathan. Ia sangat lelah waktu itu.
"Ikan-ikan."
"Ikan-ikan?"
"Setelah air danau berubah warna, 7 ekor ikan akan naik ke permukaan. Ikan-ikan akan berbaris, seperti kereta api," Jelas Nathan, ikut berjongkok di sebelah Jim.
Jim mengangguk, menatap air, menunggu ikan yang dimaksud keluar.
Sudah beberapa menit menunggu, perlahan-lahan air danau itu berubah warna menjadi seperti warna pelangi. Jim langsung berdiri, menutup mulutnya, tidak percaya. Ini sangat indah. Nancy pun berlari ke arah danau, melihat keindahan yang terjadi saat ini.
Ikan yang sempat dibicarakan tadi akhirnya keluar, menuju permukaan sungai dengan teratur.
Semuanya terdiam melihat fenomena itu sampai Nathan menyadari sesuatu.
"A-aa Jim! Ayo kita selesaikan ini, ke anehan ini hanya berlangsung sebentar!" Nathan berteriak, mengacaukan lamunan semuanya.
"Kenapa kau tidak bilang?!" Jim terkejut, ia menatap sekitar dengan cepat, lelaki itu berpikir keras.
"Maaf, aku benar-benar lupa!"
Jim menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Ia pikir ia harus tenang memikirkan ini.
*Baiklah, ada sungai berwarna-warni, 7 ekor ikan dan 6 hari.
Lalu, di sekitar danau ada 7 batang pohon! Jumlah yang sama dengan jumlah ikan*.
Jim selesai dengan pikirannya, ia melepaskan sepatunya segera. Nancy dan Nathan menatap bingung.
"Kau sedang apa?"
Jim melirik Nathan yang bertanya, "Lihat saja dulu,"
Lelaki itu masuk ke dalam danau, pakaiannya sudah basah. Ia berenang ke arah ikan-ikan dan anehnya binatang air itu tidak kabur saat ia dekati.
Jim melihat ke arah pandangan ikan-ikan itu, mereka melihat ke arah salah satu pohon. Jim mengangguk mengerti. Ia kembali berenang ke tepian, mengambil sebuah batu dan berjalan ke arah pohon tadi.
"Pohon ini, bukan pohon sesungguhnya!" Seru Jim langsung menoleh menatap Nathan yang tampaknya mulai mengerti.
Nathan mengambil batu di tangan Jim, lalu menghancurkan pohon itu. Sebuah kertas muncul keluar, membuat mereka berdua saling pandang.
Anak laki-laki itu mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang tertera di sana.
"Pergilah ke timur,"
Semuanya diam sejenak.
"Hanya itu?" Jim mengintip memastikan.
"Iya hanya ini," Nathan menghela napas, ia melirik air danau yang warnanya kembali seperti semula.
"Inilah petunjuk pertamanya."