
"Jim, tanah itu berbunyi!" Nathan menunjuk-nunjuk tanah itu sembari meloncat-loncat panik.
Jim mendecak, menoleh ke belakang. "Aku juga mendengarnya!"
Nathan ikut-ikutan berjongkok di samping Jim, sekali lagi menekan tanah yang sama.
Dan yang benar saja, tanah itu kembali bercahaya dan membentuk sebuah persegi.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat...
Lima.
Di detik kelima, cahaya itu redup dan berbunyi, seperti saat kau menekan tuts piano.
Kedua pemuda itu saling pandang dan tersenyum, seolah mengerti pikiran satu sama lain. Jim dan Nathan segera berdiri, menginjak-injak sekitaran tempat itu untuk mencari cahaya dan bunyi yang sama.
Satu persatu cahaya bermunculan, kedua laki-laki menghindar, mencari tempat yang tidak mencangkupi wilayah tanah yang bercahaya dan berbunyi.
Mereka berdua bersama berhitung di dalam hati masing-masing. Menunggu dalam diam.
Sudah di hitungan detik kelima, keluarlah nada-nada seperti saat kau bermain piano dengan menekan secara sembarangan, mengeluarkan bunyi yang berisik.
Nathan mendengus kesal, "Aku tidak bisa bermain piano!"
"Yaudah, aku pun juga,"
Anak laki-laki itu melirik Jim sembari mencolek lengan lelaki itu, "Benarkah?"
"Kenapa?" Tanya Jim sembari memicingkan matanya.
Nathan mengangkat bahu, "Siapa tahu kan' selain menjadi pembunuh bayaran kau juga bekerja sebagai pemain piano," Ujar anak bersurai cokelat itu dengan nada mengejek.
"Aku bukan pembunuh bayaran! ...tapi, mungkin itu bisa dicoba."
Nathan mendelik, "Apa?! Menjadi pembunuh bayaran?!"
Jim memukul keras bahu anak laki-laki itu, "Bukan! Bermain piano," Ujar lelaki itu sembari berjalan ke depan.
Lelaki itu memandang persegi-persegi yang tercetak di tanah, itu membuatnya lebih mudah untuk menekan 'tuts' yang ingin ia tekan.
Jim memalingkan kepalanya, menoleh kepada Nathan yang sudah duduk berselonjor kaki dan bersandarkan pada sebuah batu yang besar.
"Tapi Nat, aku tidak tahu harus menekan yang mana terlebih dahulu," Ujar lelaki itu meringis kecil.
Nathan memandang sekitar, bola matanya bergerak cepat ke sana kemari.
Ada pohon, ada batu, dan ada... eh apa itu?
Anak laki-laki itu langsung berdiri, kemudian berjalan ke arah sebuah kotak, yang bersembunyi di balik batu yang sangat besar.
"Hei, lihat!" Seru Nathan sembari menggoyangkan benda itu ke atas ke bawah, ingin menebak apa isinya.
"Wah, apa isinya?"
"Tunggu, tunggu."
Tangan Nathan bergerak untuk membuka kotak seukuran kepalanya itu. "Terbuka!"
Jim berjalan mendekat, ingin melihat apa isi kotak itu juga.
Di dalam kotak itu berisi selembar kertas dan satu buah sekop mainan kecil.
Tangan Nathan terulur, mengambil sekop mainan dengan tatapan datar. Bibirnya bergerak mengumpat samar.
Jim menolak untuk peduli dengan sekop mainan itu, matanya terfokus pada selembar kertas lusuh di sana. Ia mengambil kertas itu dan mengamatinya secara seksama.
Seperti not musik, hanya ada angka-angka.
Lelaki itu mengamati lagi persegi-persegi yang ada di tanah, lalu menghela napas.
"Nathan, sini kau bantu aku," Panggil Nathan sembari mengibaskan tangannya.
Nathan menurut dan berjalan mendekat. "Ada apa?"
"Ayo kita lakukan," Jawab Jim tanpa melihat ke arah anak laki-laki itu. Nathan mengintip kertas itu sebentar, lalu mengangguk tanda mengerti. Nathan anak yang cerdas, ingat?
"Tapi, tunggu mana yang nomor satu?"
"Ya, pasti kananlah."
"Oke oke."
"Selesai!" Nathan berseru senang, ia menjatuhkan dirinya ke tanah, merasa lelah.
Jim masih setia berdiri di tempat, menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Tanah tempat sepatu Jim berpijak bercahaya, tetapi kali ini buka kuning, melainkan biru.
Lelaki itu terkejut dan melompat, menghindar. Nathan pun langsung kembali berdiri, menyaksikan apa yang terjadi.
Nathan mencolek lengan Jim, membuat lelaki itu menoleh. "Haruskah aku gali?" Tanya anak laki-laki itu sembari menunjukkan sekop mainannya.
Jim menggangguk, mundur berberapa senti, memberi ruang untuk Nathan.
Tanah yang mengeluarkan cahaya biru, secara perlahan tangan Nathan bergerak menggalinya, dengan bantuan sekop di tangannya.
Jim menunggu sembari melipat kedua tangan di depan dadanya.
Nathan selesai dengan pekerjaanya, ia melempar sekop itu sembarangan. Kemudian menyeka keringat yang membasahi dahinya.
Anak laki-laki itu kembali mengulurkan tangannya, mengambil secarik kertas yang sama dengan yang ia dapatkan saat menemukan petunjuk pertama, tetapi kali ini tulisannya lebih panjang.
Ia memberikan secarik kertas itu kepada Jim, yang langsung menerimanya tanpa pikir panjang.
Belum sempat lelaki itu membacanya, suara dari kejauhan menyapa telinganya, suara yang sangat ia kenal.
"Nathan!!!! Jim!!!!"
Kedua laki-laki itu menegakkan tubuhnya, langsung menoleh, dan berlari mendekat.
"Nancy!"
"Kak Icy!!"
Nathan langsung memeluk tubuh Kakaknya yang sempat menghilang satu hari yang lalu. Nancy menerimanya dengan senang hati. Ia mengacak surai lebat milik adiknya itu saat mendengar isakan yang menyapa gendang telinga kirinya.
"Oh, ayolah Nathan kau menangis?"
"Tidak! Siapa yang menangis?!"
Jim tersenyum lega, sudah ia katakan bahwa Nancy yang akan menemukan mereka. Lelaki itu menatap ke depan saat sadar bahwa ada seorang lelaki yang berdiri tepat di belakang Nancy, menatapnya.
"Eh, kau siapa?" Jim bertanya sembari memiringkan kepalanya.
Nathan pun sama, ia melepaskan pelukannya dan menatap seseorang itu.
Orang yang ditatap pun terkejut, entah karena apa. Ia menoleh kepada Nancy.
"Ah, ini Rafael... dia yang membantuku mencari kalian."
Rafael melambaikan tangannya ragu, tetapi dengan senyuman cerah yang menghiasi wajahnya, menyapa teman-teman barunya itu.
"Hai," Sapa Rafael singkat.
"Nathan." Ujar anak laki-laki itu singkat, menyebutkan namanya sembari menjabat tangan Rafael yang lebih besar darinya.
Jim melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nathan, ia mendekat dan menjabat tangan lelaki itu sembari tersenyum, "Aku Jim, panggil saja begitu."
Rafael mengontrol senyumnya, lalu melapaskan jabatan singkat itu.
"Hai Nathan, hai Jim."
Semua orang tersenyum, tetapi tidak dengan Jim, dia merasa aneh dengan tatapan dan senyuman orang ini pada dirinya. Ia menggelengkan kepalanya, tidak boleh berprasangka buruk.
Apa karena lelaki ini datang bersama Nancy, makanya ia tidak suka?
Jim menolehkan kepalanya kepada Nancy yang secara kebetulan juga menatapnya. Lelaki itu terkejut memundurkan tubuhnya berberapa senti.
"Nancy?"
"Jim..." Panggil gadis itu lirih, matanya sudah basah membuat lelaki itu tambah terkejut.
"Aku takut." Imbuh Nancy menutup seluruh muka dengan kedua telapak tangannya. Saat melihat wajah Jim, entah kenapa ia ingin mengadukan semua hal yang terjadi saat dirinya terpisah dengan lelaki ini.
Jim menarik bahu Nancy mendekat dan memeluknya singkat. "Hei, tidak apa... semuanya sudah berkumpul. Tidak akan ada yang terpisah lagi." Ujar lelaki itu sembari menghapus jejak air mata yang sempat mengalir menyusuri bentuk wajah Nancy.
Gadis itu mengangguk dan memasang senyuman khasnya, tambah membuat Jim gemas. Sampai seseorang menghancurkan suasana itu.
"La la la, Ayo Rapel... kita pergi."
Rafael hanya pasrah lengannya ditarik Nathan sembari bersenandung. Lelaki itu tertawa, ia sempat melirik ke arah pasangan yang memasang muka datar, kesal dengan anak laki-laki bersurai cokelat itu.
"Tapi Nat, namaku Rafael."
"Terserah!"