
Lelaki itu mengerjap-ngerjapkan matanya menatap langit-langit batu yang tepat di atasnya. Seharusnya ia tidur sekarang, mengingat ia telah mengalami hari yang berat kemarin.
Kini ia berada dalam gua tempat Nancy tinggal. Nancy, gadis yang telah menyelamatkan nyawanya. Ia sangat bersyukur telah bertemu dengan gadis itu, jika tidak mungkin saja yang tersisa dari tubuhnya hanya tulang belulang.
Oh sial, ia kembali teringat pada kawanan serigala itu. Jujur ia merasa takut, sedikit trauma dengan kejadian tadi.
Jim menghela nafas pendek, meraba kain tipis tempat ia berbaring, setidaknya ini lebih baik daripada tanah yang lembab nan kotor. Dan juga sehelai kain tipis yang menyelimuti tubuhnya.
Lelaki itu memejamkan matanya, mencoba untuk tidur. Bagaimanapun ia tetap harus tidur.
***
"Kau tak *apa?" Gadis itu mengintip dari balik pohon tempat Jim bersandar. Kemudian ia berjalan, mengambil tempat tepat didepan lelaki yang kini hanya terdiam menatapnya*.
"Halooo?"
"Emh, eh, maaf..aku hanya sedikit *syok." Jim tersadar, ia memalingkan pandangannya menatap hal lain disekitarnya. Ia merasa agak canggung dan malu, dia yang seorang laki-laki diselamatkan oleh seorang gadis yang mungkin saja lebih kecil dari dirinya. Dimana harga dirinya*?
Ia diam sejenak, menatap rintik-rintik hujan yang perlahan mereda.
Tetapi sedetik kemudian lelaki itu terhenyak, ia cepat-cepat mengenyahkan pemikiran seperti itu dari pikirannya. Seharusnya ia bersyukur telah diselamatkan, ia hampir saja celaka.
Gadis itu berjongkok di depannya. Jim sempat terkejut, tahu tahu wajah mereka sudah berhadap-hadapan satu sama lain. Jim agak memundurkan tubuhnya berberapa senti. Kemudian gadis itu bersuara.
"Hei, bagaimana kau bisa kabur?"
"Ha? Bagaimana?" Jim memiringkan kepalanya, tidak mengerti maksud si gadis.
Gadis itu kembali bertanya, "Maksudku, bagaimana kau bisa keluar dari rumah besi itu dengan selamat. Dan melihat luka-luka di tubuhmu sepertinya kau sempat kena tembak ya?"
Jim hanya mendengarkan dengan dahi yang sudah belipat-lipat, ia sama sekali tidak mengerti dan tidak tahu apa yang gadis itu katakan. Sejenak kemudian ia tersentak. Tentu saja, ingatannya hilang saat ia bangun tadi.
Lelaki itu menghela nafasnya, kemudian tersenyum. "Maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku tidak bisa mengingat apapun, kecuali namaku."
Gadis itu melotot, ia terkejut. "A-aah benarkah?! Bagaimana?!
Jim hanya mengangguk. Memangnya mau menjelaskan apalagi, tidak mungkin ia berbohong.
Gadis itu mengulum bibirnya, menatap sepatunya yang kotor terkena tanah dan air. Ia tampak berpikir.
Jim setia menunggu. Ia memandang tanah, lalu memain-mainkannya dengan telunjuk. Merasa canggung dengan si gadis yang masih diam sembari memandang wajahnya. Ia tak ingin bertatapan langsung.
"Kalau begitu siapa namamu?"
Jim mengangkat kepalanya mendengar nada suara yang merdu itu. Ia tersenyum kemudian mengulurkan tangannya.
"Namaku Jim, dan terimakasih telah menyelamatkanku."
Gadis itu tersenyum lebar, ia meraih uluran tangan Jim lalu menjabatnya. "Hihi...hai Jim, namaku Nancy. Sama-sama!"
***
Jim benar-benar tidak bisa tidur. Ia segera duduk, walaupun dengan sedikit bersusah payah. Lelaki itu mulai terbiasa dengan luka-luka yang ia miliki ini, dan luka-luka itupun juga sudah diobati.
Bukan, bukan Nancy yang mengobatinya tetapi adik laki-laki gadis itu yang menaruh rasa curiga pada dirinya. Jim tak bisa marah, wajar saja anak laki-laki itu mencurigainya.
Ia menatap lilitan kain berwarna putih yang melingkar di bagian kakinya yang terluka. Bukan hanya disana saja, dibagian punggung dan dadanya pun turut dihiasi kain yang sama. Itu semua hasil kerja adik dari Penyelamatnya itu.
"Hei kau!"
Jim terkesiap, ia cepat-cepat menoleh kearah sumber suara. Mendapati seorang anak laki-laki yang tengah memandangnya dengan ekspresi, err-tidak enak.
Wajahnya berkedut, matanya menatap tajam. Ia duduk di atas kain tipis, tempat dirinya berbaring. Berseberangan dengan posisi Jim saat ini.
Jim menghela nafas pendek."Nathan, kau tidak tidur?" Tanya Jim dengan hati-hati, sungguh ia sangat tidak nyaman berbicara pada seseorang yang menatapnya seperti itu.
"Ck, bagaimana aku bisa tidur?! Jika aku tahu kau akan menyerangku dengan pisau yang kau sembunyikan dibalik bajumu!" anak laki-laki yang dipanggil Nathan itu mendengus sarkas, ia meninggikan suaranya, menuduh lelaki di depannya sembarangan.
Entah darimana ia mendapat ide seperti itu.
Jim lagi-lagi menghela nafas pasrah, ia memilih untuk diam saja. Ia tidak bisa marah, bagaimanapun anak laki-laki inilah yang mengobati dirinya.
"A ha! Tidak bisa menjawab? Ha Ha Ha."
Jim kembali mengernyit. Apa yang salah dengan anak ini? Alisnya terangkat kemudian tersenyum.
Anak laki-laki itu terhenyak, kemudian memalingkan wajahnya. Mulutnya bungkam seketika, kehabisan kata-kata.
Jim tertawa, ia sempat mendengar umpatan samar dari bibir anak itu.
Nathan sangat lucu. Mungkin, mungkin saja mereka bisa akrab.
...
"Hai, tidurmu nyenyak?"
Lelaki itu tersenyum. Ia suka mendengar nada suara Nancy, sangat merdu, gadis itu seperti sedang bernyanyi saja.
"hm, begitulah." Jim berbohong, ia sama sekali tidak bisa tidur. Ia berjalan tertatih-tatih dengan bantuan Nathan di sampingnya Walaupun Jim sempat mendengar gerutuan di telinganya, tetap saja ia terharu. Nathan membantunya tanpa disuruh dan tanpa diminta.
Jim duduk di samping Nancy, disusul Nathan di sisi yang lainnya. Mereka duduk dengan pemandangan sungai didepan mereka.
Belum ada yang membuka suara. Pandangan Jim masih terpaku pada air sungai yang mengalir deras didepannya, di sisi sungai itu terdapat batu batu besar dan bunga-bunga berwarna-warni yang tumbuh dengan subur di sana. Sangat indah. Sesekali percikan air mengenai kakinya, terasa dingin.
"Emh, Jim..."
"Ya?" Jim masih memandang pemandangan di depannya. Kemudian menoleh sepenuhnya, menatap si pemilik suara yang telah memanggilnya.
"Ini mungkin pertanyaan aneh," Ucap Nancy terpotong. Ia menggaruk kulit kepalanya, kemudian meringis kecil menatap Jim ragu.
"Kau bilang kau hanya mengingat namamu saja kan? Hm, jadi aktivitas seperti makan, minum, berpakaian lupa juga tidak?"
Nancy selesai menyesaikan kalimatnya, kemudian menatap lelaki di depannya dengan tatapan berbinar, menunggu jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan.
Jim tersenyum kecil, ia baru saja mengetahui sifat Nancy yang pertama : Ingin tahu akan segala hal.
"Ck, apasih kak! Tentu saja tidak, bagaimana sih!" Nathan mendecak. Ia menyenggol bahu kakak perempuannya itu cukup keras, menyebabkan si empunya kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh kesungai.
"NATHAN!"
Nancy berseru, ia menatap tajam saudara berbeda 4 tahun dengannya itu dari sudut matanya. Kemudian gadis itu memegangi dadanya, menenangkan jantungnya.
Jim hanya tertawa melihat interaksi dari dua bersaudara itu. Dalam hati kecilnya ia bertanya-tanya, apakah ia juga mempunyai saudara?
Diam-diam ia merutuki dirinya sendiri, mengapa bisa-bisanya ia hilang ingatan seperti ini.
"Jim?"
Jim terkesiap, ia tersadar dari lamunannya. Kemudian ia meringis kecil, mengusap bagian belakang lehernya.
"Maaf, aku melamun"
"Tak apa, jadi bagaimana?"
"Ha? Apanya?"
"Ck, pertanyaanku tadi!" Nancy mengingatkannya kembali."
Jim menggeleng pelan, "Ah, syukurlah hal seperti itu tidak terjadi. Aku masih mengingatnya," Jelas lelaki sembari menyunggingkan senyum, lebih tepatnya tersenyum miris.
Nancy hanya ber-O ria, kemudian tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang rapi.
"Jarang sekali seseorang mengalami hilang ingatan total, seharusnya kau tahu itu kak," Imbuh anak laki-laki di sebelah gadis itu.
Nancy hanya mendecak kesal, tidak membalas perkataan adiknya itu lebih lanjut.
Hening sejenak, sampai Jim bersuara.
"Bolehlah aku bertanya?"
Nancy dan Nathan mengernyit, mendengarkan bias suara yang berat itu. Kemudian mengangguk, mempersilahkan Jim mengatakan pertanyaannya.
Selama ini Jim memikirkan ini. Dirinya yang terkapar tidak berdaya di tengah hutan yang lebat, dan sepasang kakak beradik yang tinggal di sebuah gua dengan pakaian yang lusuh dan berantakan. Bagaimana ia tidak penasaran...
"Tentang apa yang terjadi dihutan ini."
Sekilas matanya menangkap sepotong pakaian yang hanyut oleh derasnya air sungai.
Iya, pasti ada sesuatu di hutan ini.