A Piece Of Memory

A Piece Of Memory
Bab 11 - Panggil Saja, Rafael



Hujan sudah mereda, tetapi tidak membuat Nancy berhenti untuk memikirkan nasibnya. Kepalanya berkali-kali menengadah, menatap langit yang telah berubah warna menjadi jingga.


Semakin sering ia lihat, semakin hilanglah cahaya matahari di atas sana.


Gadis itu menggigit bibir bagian dalamnya kuat-kuat. Memeluk tubuhnya sendiri, merasa kedinginan akibat berubahnya suhu di sekitar menjadi lebih dingin.


Walaupun suhu di sekitar menjadi dingin, suhu di tubuhnya adalah kebalikannya. Wajah gadis itu memerah dan berkali-kali ia terbatuk dan juga bersin.


Pakaiannya yang lembab membuat keadaan tubuhnya lebih parah. Pusing juga menyerang kepalanya.


"Jim, Nathan... kalian di mana?" Ujar gadis itu dengan suara paraunya, ia sudah lelah berteriak, kakinya juga sangat sakit sekarang. Matanya mengerjap-ngerjap, merasakan panas pada bola matanya.


Napasnya terasa sesak. Dari kecil ia sudah mengindap penyakit asma, seharusnya ia tidak boleh terkena flu, itu dapat memicu penyakitnya lebih parah.


Terdengar bunyi dari paru-parunya, ia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Tubuhnya ambruk, matanya memberat, sulit untuk di buka.


Tinggal hitungan detik saja, Nancy kegilangan kesadarannya.


...


"Jim!!!"


Nathan berlari ke arah lelaki yang tengah memunguti barang-barang yang Nathan sendiri tidak tahu apa itu, tetapi kata Jim itu adalah 'barang penting'.


"Jiiiiiim!!!!" Seru anak laki-laki itu karena Jim tidak kunjung menoleh.


"Ada apa lagi sekarang?" Tanya lelaki bersurai hitam itu lemah, belum juga melihat ke arah Nathan. Ia sudah lelah sekarang, tubuhnya terasa sangat sakit dan matanya berat menahan kantuk.


"Kenapa kita malah ada di sini! Seharusnya kita mencari Nancy, ingat?"


"Di luar masih ada licorp, memangnya kita mau keluar lewat mana?"


Nathan mendecak kesal, Jim kini tampak tidak peduli. Ia sangat mengkhawatirkan Kakaknya, ini sudah malam dan Nancy sekarang di luar sendirian.


"Jim," Panggil Nathan dengan muka datarnya melihat lelaki itu sudah memejamkan matanya, tertidur bersandarkan pada dinding.


"Jim."


"JIM!!!!" Teriak Nathan, tidak peduli dengan makhluk-makhluk aneh di luar sana yang sudah memekik-mekik ribut karena ulahnya.


Jim membuka matanya pelan, kemudian langsung berdiri. Lelaki itu berkali-kali menguap, walaupun sangat lelah, ia berusaha untuk menahannya.


Siapa bilang ia tidak peduli dengan Nancy? Ia peduli, sangat peduli, tetapi kini ia sudah sangat lelah. Jika dipaksakan ia akan ambruk di tengah jalan, lalu Nathan akan panik dan mereka diserang licorp. Jim sudah membayangkan semua itu terjadi.


Namun, karena anak laki-laki di sebelahnya inilah yang membuat harus menahan dan pergi dari sini untuk terus mencari.


"Iya iya," Balas Jim mengalah, "Tapi, kita cari air dulu ya... mau cuci muka."


Nathan mengangguk, diam sejenak, kemudian terlintas di benaknya sesuatu. "Jim, sejak kapan kau bisa bermain pistol?"


"Bermain pistol? Ini bukan mainan Nat," Ujar lelaki itu membenarkan.


"Ya, apapun itu."


"Entahlah, secara tiba-tiba aku dapat menguasainya," Jawab Jim dengan senyum miris menghiasi wajahnya.


"Oh ayolah, jangan sedih teman. Bisa saja kau dulu adalah seorang tentara atau polisi yang hebat! Atau jangan-jangan kau adalah pembunuh bayaran! Makanya membunuh licorp bukan masalah buatmu," Kelakar Nathan dengan ekspresi yang dibuat-buat terkejut.


Jim terkekeh, ia menggeleng kepala pelan. "Anak aneh," Gumamnya.


"APA?!"


"Ha? Kenapa?"


"Aku dapat mendengarnya tahu!"


"Mendengar apa?"


Nathan mendengus sarkas, ia menghentak-hentakkan kakinya, pergi terlebih dahulu.


Jim hanya tertawa, mengikuti dari belakang.


...


07.00


Ini dimana?


Gadis itu menatap selimut tebal yang tengah ia gunakan dan selimut lainnya yang ia gunakan sebagai kasur.


Ini menjelaskan kenapa badannya tidak merasa sakit ketika bangun. Biasanya ia tidur hanya beralaskan kain tipis dan keesokkan harinya tubuhnya pasti terasa sakit.


Sebenarnya ia sudah terbiasa dengan itu, yang menjadi pertanyaannya sekarang ini ia berada dimana?


Gadis itu kembali memandang sekitar. "Rumah kayu, ya?" Gumamnya.


Ia memutuskan untuk berdiri, lalu berjalan ke arah jendela. Sontak gadis itu menutup mulutnya, melihat bahwa ini adalah sebuah rumah pohon.


"Sudah bangun?"


Nancy cepat-cepat menoleh, ia mendapati seorang laki-laki tampan dengan senyum ramah yang menghiasi wajahnya.


"Eh? Kau yang membawaku kemari?" Tanya Nancy sembari memiringkan kepalanya.


Lelaki itu mengangguk, senyum tidak pudar dari wajahnya. Ia meletakkan keranjang berisi buah-buahan di lantai, yang akan ia sajikan sebagai sarapan kepada tamunya.


Nancy perlahan mendekat, "Bagaimana caraku berterima kasih?" Senyum mengembang di wajahnya, matanya menyipit lucu.


"Tidak masalah, mana mungkin aku tega membiarkan seorang gadis tergeletak di tanah seperti kemarin," Ujar lelaki itu, ia mendudukkan diri di lantai, diikuti Nancy setelahnya.


"Siapa namamu?"


"Panggil saja, Rafael."


"Rafael, namaku Nancy," Ujar gadis itu bersemangat, ia memang selalu seperti itu ketika bertemu dengan orang baru.


Rafael terkekeh pelan, ia mengulurkan tangannya, ingin berjabat tangan. "Kalau begitu salam kenal ya."


"Iya!" Nancy membalas uluran tangan Rafael, lalu menggoyangkannya dengan semangat.


"Aku tidak menyangka ada orang lain yang selamat dari ledakan itu," Ujar Nancy sembari mengunyah mangga yang ada di tangannya.


Rafael diam sejenak, ia mengambil satu buah apel, lalu memakannya. Matanya tidak lepas dari gadis yang tengah mengunyah itu, pipinya hampir saja tumpah.


"Hm, pasti masih banyak orang lain lagi yang selamat dari ledakan itu," Balas lelaki itu sembari mengabiskan kunyahan di mulutnya.


Nancy mengangguk, "Aku saja yang sudah beberapa tahun di sini, beberapa hari yang lalu, menemukan seorang lelaki... sayangnya dia seseorang yang kehilangan ingatannya."


"Beberapa hari yang lalu? Berarti dia baru saja datang ke pulau ini?"


Nancy terdiam, ia baru saja sadar akan hal itu. Jika begitu kejadiannya, Jim datang dari mana?


Tunggu, berbicara soal Jim... lelaki itu masih hilang bersama adikku!


Nancy mendadak berdiri, ia mengambil busur dan juga anak panahnya yang tergeletak di lantai samping tempat tidur.


Rafael yang tersadar dari lamunannya terkejut. "Ada apa?"


"Oh, aku harus menemukan teman-temanku. Kami berpisah sejak kemarin," Jawab gadis itu sembari melangkah ke luar.


"Tunggu!"


Nancy menoleh saat pergelangan tangannya ditarik oleh lelaki itu.


"Ah maaf, bolehkah aku ikut bersamamu?"


...


"Nathan, aku sudah menyerah... tolong biarkan aku beristirahat."


Nathan mendecak, ia menyeret tubuhnya Jim yang sudah tergeletak di tanah, berbaring menghadap langit.


"Jim! Jika terjadi sesuatu pada Nancy bagaimana?!" Rengek anak laki-laki itu sembari menghentakkan kakinya.


"Tunggulah sebentar, biarkan aku beristirahat," Jim berujar pelan, matanya sudah terpejam. Tinggal menunggu hitungan detik, lelaki itu sudah tertidur.


Nathan akhirnya luluh, ia bersandar pada pohon. Badannya sangat sakit, tetapi kekhwatiran kepada Sang Kakak sangat besar lebih melebihi rasa sakit di tubuhnya.


"Kak Icy, bertahanlah."