
Matahari sebentar lagi akan terbenam, tetapi duo sejoli itu tetap berjalan. Badai bertiup sangat kencang, membuat rambut-rambut mereka beterbangan.
Nancy berkali-kali memejamkan matanya, karena sudah berkali-kali juga pasir dan debu menusuk kedua netra cokelatnya itu.
Jim merasa ini ide buruk, untuk pergi tanpa sepengetahuan dua temannya yang lain. Akan tetapi, bukan ide yang bagus juga untuk terus menunggu di tempat terbuka seperti itu. Bisa-bisa sekumpulan licorp menyerang mereka.
Berbicara soal licorp dari tadi suara raungan terdengar saat mereka berjalan. Jim dapat memastikan bahwa suara itu lumayan jauh dari tempatnya kini.
"Jim, lihatlah! Sebuah bangunan," Ujar gadis yang berada di sebelahnya sembari menarik-narik lengan baju Jim. Ia menunjuk sebuah bangunan yang masih berdiri dan tentu saja dengan lumut-lumut yang menghiasi dindingnya.
Lelaki itu mengangguk, ia meraih telapak tangan Nancy, lalu berjalan cepat ke arah bangunan itu.
Setelah sampai di pagar, Jim langsung berjongkok. Mengintip dari luar, untuk melihat keadaan. Gembok pagar itu juga telah dirusak.
Apakah seseorang sudah memasuki tempat ini?
"Jim, aku pikir Rafa dan Nathan yang telah merusak gemboknya," Ujar Nancy.
"Kau benar, itu bisa saja. Ayo masuk!"
Jim berjalan perlahan, rerumputan yang sangat panjang membuatnya sama sekali tidak bisa melihat tanah. Tangan kanannya masih menggenggam tangan Nancy erat dan tangan kirinya memegang handgun yang selalu ia bawa saat pertama kali menemukannya.
Suara erangan terdengar jelas, Jim cepat-cepat menunduk, diikuti Nancy di belakangnya.
Sepasang licorp perempuan mondar-mandir di sekitaran pintu masuk bangunan. Pakaian mereka terlihat kotor dan sudah robek-robek.
Jim berpikir, jika ia menembaki dua makhluk itu apakah tidak akan menarik perhatian? Ia tidak tahu ada berberapa licorp yang ada di sini.
Hari sudah gelap. tidak apa kan, jika kami mengendap-endap dan membunuh mereka satu persatu?
Jim menoleh ke belakang, menatap wajah Nancy yang tampak gelisah. Melihat itu, ia langsung memutar tubuhnya untuk menghadap Nancy sepenuhnya.
Jim mengangkat tangan gadis itu yang sejak tadi ia genggam dan menutupnya dengan kedua tangannya.
"Tidak apa," Bisik lelaki itu lembut, ia melepaskan kedua tangannya dari tangan gadis itu. Sebelum itu, ia menyempatkan untuk mengecup telapak tangan Nancy.
Wajah gadis bernetra cokelat itu memanas, mungkin saja wajahnya kali ini sudah memerah. Nancy memegangi kedua pipi kanan dan kirinya. Memejamkan matanya erat, berusaha menenangkan detak jantung yang berpacu sangat kencang.
Jim! Kau ingin membunuhku ya?! Bisa-bisa jantungku keluar dari tempatnya!
Nancy menggelengkan kepalanya kuat-kuat, bukan saatnya untuk ini.
"Aku punya rencana, kita tidak perlu membunuh licorp kali ini. Kita akan melewati pintu itu." Jim menunjuk sesuatu, itu adalah pintu samping dari bangunan ini.
Para pemuda itu berjalan dengan posisi berjongkok, berjalan dengan sangat perlahan. Rerumputan yang panjang senantiasa menutupi tubuh mereka.
Akhirnya mereka sampai di depan pintu tersebut, Jim segera berdiri dan meraih handle pintu, namun pintu itu ternyata terkunci.
"Akh, sial," Gerutu Jim, "Nancy, aku akan membuka paksa pintu ini. Mungkin ini akan menarik perhatian, jadi..."
Lelaki itu memberikan handgun miliknya kepada Nancy. Gadis itu agak ragu menerimanya, ia sama sekali belum pernah memegang benda ini.
Jim mengerti, ia mencontohkah cara menggunakan handgun dengan benar. "Seperti ini." Tangannya seolah-olah menarik pelatuk dan memberikan efek suara sendiri saat pelurunya keluar.
Nancy tertawa ringan, ia menerima benda tersebut. Gadis itu menghela napas panjang dan membalikkan badannya. Kedua tangannya terangkat, bersiap untuk membidik.
"Baiklah, bersiaplah Nancy," Ujar Jim.
Lelaki itu mengambil ancang-ancang dan menubruk keras pintu itu dengan tubuhnya. Nancy menahan napasnya, ia dapat mendengar suara raungan dari tempatnya berdiri.
Tangannya berkeringat saat suara makhluk-makhluk sialan itu semakin terdengar jelas. "Jim ..."
Butuh berberapa kali percobaan agar pintu itu terbuka sepenuhnya, "Ayo, Nancy!"
Gadis itu tampak panik, ia mengekori Jim dari belakang. Sebelum itu ia menarik pelatuknya segera, peluru itu meluncur, menembus kepala salah satu licorp dengan tragis.
Jim membanting pintu dan menahan dengan tubuhnya. Nancy segera menarik meja yang terletak tidak jauh dari posisinya berdiri, untuk menahan pintu yang sudah rusak itu.
"Jim, ini." Nancy mengembalikkan handgun itu kepada pemiliknya. Jim menerimanya, lalu tersenyum.
"Ayo, kita harus terus berjalan." Lelaki itu berjalan terlebih dahulu. Ia berjalan perlahan karena mendengar sesuatu.
"Licorp," Gumam Jim.
"Apa? Makhluk itu juga ada di dalam sana?" Tanya Nancy berbisik.
Jim mengangguk, ia berjalan mendekat dan mengintip. Ada 4 sampai 5 makhluk itu di sana.
"Mengendap-endap adalah cara terbaik saat ini," lanjut lelaki bersurai hitam itu. Ia kembali mengintip, kali ini tujuannya untuk berjalan melewati sekumpulan licorp tanpa ketahuan.
Nancy menghela napas pendek, dari tadi tubuhnya menegang, tidak bisa tenang. "Kau yakin?"
"Hanya ini caranya, Nancy."
Gadis itu akhirnya mengangguk pasrah. Jim kembali berdiri, ia berjalan sembari menundukkan tubuhnya. Berjalan dengan sangat berhati-hati. Berjalan sembari menatap was-was.
Meja!
Lelaki itu bersembunyi di balik meja yang ada di depan sana. Ia mengelus dadanya, menenangkan detak jantungnya yang dari tadi berpacu sangat cepat.
Nancy merasa sesak di bagian dadanya, dia terlalu takut untuk berjalan ke arah lelaki itu. Jim mengernyitkan dahi ketika melihat gerak-gerik aneh Nancy.
"Tidak apa Nancy, kemarilah! Aku akan melindungimu," Ujar Jim setengah berbisik, ia sudah bersiap dengan handgun-nya. Kembali mengangguk untuk meyakinkan gadis itu.
Nancy memberanikan diri untuk melangkah, ia meringis ketika melihat betapa menjijikkannya licorp dengan sudut matanya.
Gadis itu sampai dengan selamat, ia memeluk tubuh Jim sangat erat. Lelaki itu tersentak, ia memberanikan tangannya untuk mengelus punggung Nancy yang sudah bergetar.
Jim membisikkan sesuatu, "tidak apa, tidak apa, aku ada di sini. Ah, Siapa ya yang menolongku dari sekumpulan serigala yang kelaparan?"
Nancy melepaskan pelukannya, ia mencibir kesal. "Ini berbeda," gumam gadis itu sembari merengut lucu.
Jim tersenyum gemas. Ia mengusap pelan surai cokelat milik Nancy, membuat wajah pemiliknya merona.
"Emh, Jim! Sepertinya kita harus pergi sekarang."
"Oh, ah iya! Ayo kita pergi."
Lelaki itu kembali mengintip untuk melihat keadaan. Ada tiga jalan di sana, jalan untuk terus maju, jalan ke lantai atas dan jalan untuk ke ruang bawah tanah.
Jika mereka memutuskan untuk terus maju, tidak ada cara lain selain membunuh makhluk menjijikkan itu, dan itu sangatlah berisiko. Begitupula dengan tangga ke atas, sangat jauh dari tempat mereka bersembunyi saat ini.
Jadi hanya ada satu jalan yang paling aman, ke ruang bawah tanah.
Secara perlahan Jim berjalan ke arah tangga menuju ruang bawah tanah itu. Jarak antara tempat tadi dan tangga itu hanya tiga meter.
Setelah sampai, lelaki itu segera melambaikan tangan, isyarat untuk Nancy segera ke tempatnya. Gadis itu mengangguk, ia berjalan secara perlahan sama seperti yang dilakukan Jim tadi.
Dan berhasil dengan selamat.
"Kau berhasil, ayo masuk ke dalam."
...
Jim dan Nancy membisu, terkejut dengan sesuatu yang mereka lihat saat ini.
Laboratorium kah?
Jim melihat lebih teliti dan sontak lebih terkejut lagi. Di sepanjang dinding-dinding ini terdapat tabung berukuran besar.
Bukan itu yang membuat lelaki itu terkejut, tetapi sesuatu di dalamnya.
Itu, tubuh manusia?!
Jim segera menoleh ke samping, untuk melihat keadaan Nancy setelah melihat pemandangan mengerikan ini. Gadis itu sudah menitikkan air mata.
"Nancy, jangan dilihat jika itu membuatmu tertekan."
Nancy menggeleng perlahan, "Mereka semua adalah orang yang pernah aku lihat di kapal besar saat pertama kali kemari," Ujar gadis itu lirih.
Jim membelalakkan matanya.
Sebenarnya apa yang mereka lakukan di pulau ini? Ini Sungguh kejam.
"Jim ..."
"Hm?"
"Apakah menurutmu tujuan dari membawa orang-orang ini adalah menjadikan mereka semua sebagai makhluk-makhluk tanpa pikiran yang ada di luar sana?"
Jim kembali menatap Nancy. Ia terkejut, tidak terpikirkan olehnya hal semacam itu.
"Jika begitu nyatanya, berarti saat ini kita tepat berada di sarang licorp, Nancy."