
"NANCY HILANG!!!"
Nathan berseru panik, anak itu berkali-kali mengangkat kepalanya, menatap langit yang perlahan menjadi gelap.
Ia mengacak-acak rambutnya gelisah, dirinya tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Apa Nancy melalui jalan yang berbeda tadi?
Jim pun sama paniknya ia berjalan lebih dulu, menyusuri jalan yang ia lalui sebelumnya. Tangannya bergerak-gerak memotong dedaunan yang menghalangi pandangan lelaki itu.
"Apa kita berjalan begitu cepat tadi?" Pandangan Jim masih fokus menatap depan, mencari-cari sosok mungil yang ia kenali itu.
"Entahlah, mungkin seseorang yang berbeda?"
Lelaki itu tiba-tiba berhenti, menoleh ke belakang. Jawaban yang Nathan lontarkan tadi, mungkin saja bisa terjadi.
"Nathan, apa kau pernah melihat seseorang selain dirimu dan kakakmu di hutan ini."
Nathan yang dari tadi bergerak-gerak panik, akhirnya berhenti setelah satu peryanyaan meluncur dari bibir Jim.
"Eng, selain orang-orang dari bangunan besi... aku tidak melihat satupun orang di sini,"
"Kalau gitu-"
"Aku tidak tahu nasib orang-orang yang ada di sana," Ujar Nathan, perlahan anak itu menghela napas, "Tapi tidak menutup kemungkinan jika mereka kabur ke sini!"
Jim menganggukkan kepalanya pelan, bersamaan dengan langit yang menjatuhkan air matanya, mendarat di kepala dua pemuda itu.
"Hujan." Lelaki itu masih berdiam diri, membiarkan ribuan air hujan mengenai dirinya.
"Jim, bagaimana dengan Nancy?! Dia sendirian di sana!!" Nathan mengeraskan suaranya, melawan bisingnya air hujan.
Jim membalikkan tubuhnya, hendak kembali berjalan. Namun kalimat penenang keluar dari bibirnya, "Tenanglah Nat, dia kakakmu, seharusnya kamu tahu bagaimana dia, dia gadis yang kuat... dan aku masih ingat bagaimana kakakmu menyelamatkanku saat kupikir aku akan mati saat itu juga, aku percaya padanya, dan kau juga harus bersikap demikian."
...
Nancy melangkahkan kakinya ke sembarangan arah, hujan yang turun deras membasahi seluruh tubuhnya.
Jujur ia masih bingung, bagaimana teman-temannya itu berjalan begitu cepat sehingga ia tidak dapat mengejarnya.
Apa mungkin ia melewati jalan yang salah? Gadis itu tampak berpikir, tetapi itu tidak mungkin terjadi. Ia jelas-jelas melihat seseorang-
"Eh,"
Nancy tiba-tiba berhenti, matanya mengerjap-ngerjap.
"Seseorang?" Gadis itu seketika menyadari sesuatu, bukan Jim dan Nathan lah yang ia ikuti tadi, tetapi orang lain.
Dan sudah jelas itu bukan licorp, tubuhnya benar-benar seperti manusia yang sehat.
Nancy mengangkat kepalanya, ia berlari, ingin mencari seseorang yang ternyata masih hidup di hutan ini selain dirinya, Jim dan juga Nathan.
"Hei, Siapapun!!! Jika-"
Gadis itu tiba-tiba menutup mulutnya rapat, seharusnya ia tidak berteriak seperti itu. Bagaimana jika licorp mendengarnya? Bagaimana jika orang yang ia panggil bukanlah seseorang yang baik?
Nancy pasrah begitu saja, ia terduduk di tempat. Ia merasa ingin menangis saja, di waktu sendiri seperti ini, banyak memori yang terlintas di benaknya.
Gadis itu menghela napas lelah, tiba-tiba dirinya teringat seseorang, Jim, lelaki itu melupakan ingatan yang penting baginya. Jadi teringat saat ia menyelamatlan Jim dari tiga ekor serigala yang kelaparan.
Saat itu persis seperti sekarang, hujan. Nancy berharap dirinya tidak harus diselamatkan oleh lelaki itu tanpa dikejar makhluk buas terlebih dahulu.
Gadis itu mengangkat tubuhnya, daripada diguyur hujan seperti ini, lebih baik dirinya mencari tempat untuk berteduh.
...
"Jim!!!"
Lelaki itu mendengus kesal, Nathan sangat berisik pikirnya. Percuma saja memberikannya kalimat penenang, tidak akan berhasil.
Sudah dari satu jam yang lalu mereka mencari, tanpa istirahat. Yang awalnya tadi merasa kelaparan, sekarang rasa itu tidak muncul lagi.
"Jim, bagaimana ini?!"
Tidak ada lagi hujan, kini hanya ada tetes-tetes air yang jatuh dari pohon-pohon tinggi di sekitar hutan ini.
Baju yang mereka pakai pun sangat basah, sungguh mengganggu, tetapi mereka tidak memusingkan hal tersebut. Yang penting sekarang Nancy harus ditemukan, bagaimana pun caranya.
Dua orang pemuda itu tiba-tiba menghentikan jalannya, mereka mendengar suara yang kencang dari arah belakang. Mereka menunggu, dari wajah mereka menunjukkan rasa ingin tahu yang mendalam.
Seseorang berlari kesetanan ke arah mereka, berlari seperti orang gila. Berteriak, meraung, memicu sejenisnya untuk ikut berlari mengejar dua orang laki-laki yang berteriak hampir bersamaan.
"LICORP!!!"
Jim dan Nathan berlari beriringan, wajah mereka mengisyaratkan ketakutan. Lebih dari 5 makhluk itu di sana, mereka tidak akan bisa melawan semuanya jika hanya bermodalkan sebuah pisau dapur.
Mereka berlari dan berbelok arah, berbagai cara agar makhluk itu kebingungan dan berhenti mengejar. Percuma saja, licorp mempunyai penciuman yang tajam.
Bahkan ada yang sudah berubah menjadi aneh, tidak terlihat seperti manusia lagi. Memikirkan itu saja sudah membuat Jim mual.
Lelaki itu tidak bisa memikirkan ide sekarang, pikirannya sedang terbagi-bagi. Di saat seperti ini, Nancy, gadis yang sekarang entah dimana rimbanya masih saja mendominasi pikirannya.
"Lihat, sebuah bangunan!" Nathan menunjuk sesuatu.
Jim mengangguk, mempercepat larinya. Mereka masuk melalui pintu seng yang terbuka lebar, kemudian membanting pintu itu dan menahan dengan tubuhnya.
Lelaki itu mengatur napasnya, masih dalam posisi menahan pintu. Nathan terduduk di tanah, anak itu tadi sempat terjatuh, terpeleset karena larinya.
"Nathan, tolong carikan sesuatu di dalam untuk menahan pintu ini," Ujar Jim pelan, napasnya masih belum teratur. Nathan mengangguk, kemudian berjalan masuk ke dalam.
Suara dari balik pintu masih terdengar jelas, Jim meringis, telapak tangannya terluka karena memegang bagian yang tajam dari pintu seng ini ketika menutupnya.
Jim tidak habis pikir, bagaimana manusia bisa berubah menjadi seperti ini? Menjadi makhluk ganas dan mengerikan.
"Nat?"
"Aku datang!" Anak laki-laki itu terlihat mendorong sebuah lemari beroda yang seukuran dengannya. Ia mendorong dengan susah payah.
Dengan usahanya lemari itu berhasil dipindahkan, Jim bergeser, menggantikan tubuhnya untuk menahan pintu dengan sebuah lemari yang berat.
"Apa isinya? Kenapa berat sekali" Nathan membuka pintu lemari perlahan, matanya menyipit was-was.
"Sebuah pistol! Keren!" Anak laki-laki itu berseru antusias, baru pertama kali ia memegang sebuah hand-gun.
"Berikan padaku,"
"Ha? Kenapa? Aku yang menemukannya!" Nathan merasa tidak terima, ia memasukkan benda itu ke dalam bajunya lembabnya.
Jim merotasikan bola matanya, mendengus kesal. "Kau tahu cara menggunakannya?"
"Ya, tidak sih... tapi-"
"Nathan, untuk sementara biar aku saja yang memegangnya," Jim mengulurkan badannya, merebut secara halus benda yang dianggap sebagai 'benda keren' oleh Nathan itu.
Anak laki-laki bersurai cokelat itu mendecak kesal, ia melipat tangan di depan dadanya. Menunjukkan bahwa dirinya sedang marah.
Jim menggeleng kepalanya pelan, ia mencoba menembaki sesuatu dengan benda itu. Matanya menangkap sebuah botol kaca berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Satu!
Dua!
Tiga!
Suara kaca pecah terdengar jelas ketika peluru meluncur, menembus badan botol yang rapuh.
"Pelurunya masih ada!"
Jim kembali mengintip ke dalam lemari. Ia banyak menemukan benda-benda yang mungkin bisa berarti penting. Lelaki itu memungutnya satu persatu dan menyimpannya.
"Ayo Nat, kita ke dalam, siapa tahu kita bisa menemukan sesuatu untukmu."