
Jim terus-terusan mengusap keringat yang membasahi wajahnya. Ia kini merasa sangat lelah, ingin rasanya berhenti untuk mengistirahatkan kakinya yang sudah dipaksa berjalan selama 3 jam.
Kepalanya menengadah, lalu sontak menyipitkan mata akibat sinar matahari yang begitu menusuk.
"Ayolah Jim, kenapa lambat begitu?"
Jim melirik Nathan yang menatapnya dengan tatapan meremehkan, Jim juga melihat anak itu memperlihatkan seringai yang menjengkelkan.
Sial, dia meremehkanku.
Nathan kembali berjalan sembari bersenandung ria. Nancy pun sudah tidak kelihatan lagi, entah dimana sekarang gadis itu berada.
"Nat, mana kakakmu?" Jim mempercepat langkahnya, menjajarkan dirinya dengan anak laki-laki itu.
"Jauh di depan. Jangan khawatir, dia bisa menjaga dirinya sendiri... lagi pula jika ada sesuatu pasti dia akan berteriak"
Jim mengangguk mengerti sembari mengusap keringat yang lagi-lagi menelusuri bentuk wajahnya.
Mereka bertiga sudah sepakat untuk melakukan perjalanan ini. Apalagi Nancy, gadis itu yang terlihat paling semangat. Hanya berbekalkan busur panah Nancy, pisau dapur Nathan dan buah-buahan yang bisa dimakan selama perjalanan.
Mereka pergi dari gua yang selalu dapat melindungi dari hujan badai yang dingin, terik panas matahari sangat menyengat dan dari hewan-hewan buas yang siap menerkam. Bagi Nancy dan Nathan meninggalkan tempat yang bisa disebut rumah itu sangatlah berat, karena mereka tidak tahu apa yang menanti mereka di luar sana.
Dan disilah mereka berjalan menyusuri hutan dengan matahari yang sepertinya tidak merestui perjalanan ini. Pergi mencari petunjuk pertama, petunjuk untuk awal dari semuanya.
Lelaki itu mendenguskan sarkas, perjalanan ini sangat melelahkan dan kakak-beradik itu tidak mengijinkannya istirahat barang sekalipun. ia melirik anak laki-laki yang berjalan santai di sampingnya. Jim lagi-lagi menghela napas keras.
"Aneh," Gumam Nathan, walaupun masih terdengar jelas di telinga Jim.
Jim hanya mendecak, kemudian berjalan lebih cepat, menjauh dari anak menyebalkan itu.
Akan tetapi, baru lima langkah berjalan, Jim mendadak berhenti. Badannya memanas dan napasnya memburu. Pandangannya perlahan kabur.
Sial, apa yang terjadi?
Lelaki itu memegang kepalanya yang terasa seperti berputar-putar. Kemudian terjatuh.
Nathan sangat panik, ia mengguncang tubuh kurus Jim yang perlahan kehilangan kesadarannya.
***
"Kakak, jawab aku!" Jim berlari mengejar Kakaknya yang terus-terusan mengabaikannya.
Matanya mulai basah karena menyadari kakak yang ia sayang diam-diam menyimpan rahasia besar darinya, rahasia yang menyeramkan, rahasia yang menyangkut nyawa ribuan orang.
"Jim, dengarkan aku! Aku hanya melakukan apa yang ayah suruh, jadi jangan menanyakan apapun.. AKU TIDAK TAHU APA YANG AYAH INGINKAN!!!"
***
"KAKAK!!"
Jim terbangun, ia berteriak sangat kencang membuat Nancy dan Nathan melotot kaget.
Lelaki itu mengangkat tubuhnya. Ia meremat rambutnya ke belakang, mengingat-ingat sepotong ingatan yang datang melalui mimpinya tadi.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa setetes air mata sudah lolos meluncur ke pipinya.
"Jim, kau tidak apa?" Nancy mengelap wajah Jim yang basah oleh keringat. Ia menatap khawatir lelaki itu.
Sejak Nathan berteriak siang tadi, Nancy tidak henti-hentinya merasa panik. Jim sudah pingsan selama 2 jam dan selama itu juga Nancy terus-terusan bergerak dengan gelisah, adiknya Nathan pun berkali-kali menenangkannya.
Jim menggeleng, tenggorokkannya tercekat, sulit untuk berbicara.
"Hey, maaf... seharusnya saat kau kelelahan tadi kita bisa beristirahat sebentar, jadi nanti umm-kalau kau capek bilang saja, Oke?"
Nathan melirik sekitar, tidak berani menatap Jim langsung. Ia merasa bersalah telah memaksa lelaki itu untuk terus-terusan berjalan.
Jim menggeleng keras. "Tidak apa, sebenarnya aku bersyukur itu terjadi,"
"Ha?"
Jim memperbaiki posisinya, ia siap untuk bercerita. Tubuhnya menghadap ke arah kakak-beradik itu dan menatap mereka secara bergantian.
"Sebenarnya...setiap aku tertidur, aku selalu bermimpi, tapi ini bukan mimpi biasa yang tidak ada artinya. Ini benar-benar mimpi yang sangat penting... dan kurasa itu adalah sepotong-potong ingatanku yang perlahan muncul setiap aku tertidur,"
"Bagaimana kau tahu jika itu bukan mimpi biasa?" Nathan menopang dagunya, mendengarkan penjelasan lelaki itu.
Jim tersentak, ia sendiri yang mengklaim bahwa mimpi-mimpi itu adalah ingatannya yang hilang, bisa saja itu salah dan pasti terdengar aneh bagi orang-orang yang mendengarnya.
Bahkan namanya sendiri pun diambil dari nama orang yang sering disebut dalam mimpinya.
Lelaki itu mendecak, seperti bukan saatnya menceritakan isi dari mimpi-mimpi itu kepada Nancy dan Nathan.
"Tapi itu terasa... Ah-kau benar Nat, lupakan, ayo kita berjalan lagi. Semakin cepat, semakin bagus," Jim mengangkat tubuhnya, segera berdiri dan berjalan lebih dulu.
"Hoi Jim, kau marah?" Nathan menggapai bahu lelaki itu dan menariknya, membuat Jim termundur ke belakang.
"H-ha? Ha? Kenapa aku marah? Ha?"
Nancy menutup mulutnya menahan tawa, memandang wajah Jim yang kebingungan seperti itu. Lucu.
Nathan melepaskan pegangannya pada bahu Jim dan menyikut lengan Kakaknya, "Lihat dia melamun lagi,"
Jim kembali sibuk di dalam pikirannya, ia yakin bahwa mimpi yang diputar saat ia tertidur itu adalah kunci untuk mencari siapa jati dirinya.
Lelaki itu perlahan berjalan, ia melangkahkan kakinya tanpa sadar. Menatap ke depan dengan tatapan kosong. Tidak tahu bahwa ia berjalan ke arah sebuah pohon yang kokoh dan rindang.
Bruuk!
"JIM!!!"
...
15.30.
Mata laki-laki itu perlahan mengerjap-ngerjap, "Enggh... apa yang terjadi?" Jim kembali terbangun. Ia mengusap dahinya perlahan, ada benjolan disana. Lelaki itu meringis, merasakan sedikit rasa sakit.
Nancy langsung menoleh, menatap Jim yang sudah kembali bangun, setelah pingsan karena menabrak pohon.
"Kau menabrak pohon, kemudian pingsan," Ujar gadis itu sembari memperlihatkan deretan giginya yang rapi dengan mata yang tertutup membentuk sebuah senyuman.
Lelaki itu perlahan tersenyum, senyum yang miris. Ia merutuki dirinya. Dua kali pingsan di hari yang sama? Yang benar saja.
Ia memandang sekitar, tempat yang berbeda. Tempat ini seperti gua, gua yang kecil dengan mulut yang besar di tengahnya.
"Nancy,"
"Hm?"
"Ini bukan tempat yang tadi ya?"
Jim bertanya, menatap gadis yang duduk di samping dirinya.
"Oh, Nathan tidak ingin membuang waktu, makanya dia menggendongmu sampai ke sini dan katanya kau sangat berat... Hihi,"
Jim tiba-tiba tersenyum, menatap wajah gadis yang tampak berbinar-binar.
"Nancy, kau sedang bahagia ya?"
Ia tidak bertanya bagaimana Nathan bisa mengendongnya tubuh Jim yang sesungguhnya lebih besar daripada tubuh anak itu, dan malah bertanya tentang gadis cantik yang manis dan selalu tersenyum.
Nancy mengatupkan bibirnya, tetapi sesaat kemudian kembali tersenyum. Jim benar, ia sedang bahagia sekarang, entah kenapa.
"Hm, begitulah,"
Lelaki itu mengulurkan tangannya, mengusap surai cokelat gadis itu. Ia sungguh melakukan itu tanpa sadar, Nancy sangat menggemaskan.
Gadis itu terdiam, menatap Jim yang masih memperlihat senyum tipisnya. Tempat itu seketika sunyi, hanya terdengar suara angin yang sesekali menerpa wajah dua pemuda yang saling mengagumi mata masing-masing.
"Whoa!"
Jim langsung menarik tangannya sembari memalingkan wajahnya. Kesal.
Begitu pula dengan Nancy, gadis itu melipat kedua tangan di depan dada dan menatap nyalang ke pada adik yang sangat ia sayangi itu.
"Tidak ada waktu untuk pacaran, ayo kita pecahkan teka-teki untuk mendapatkan petunjuk pertama... sebelum malam tiba,"