A Piece Of Memory

A Piece Of Memory
Bab 1 - Memory Loss



"A-apa yang ingin kau lakukan?!" Seru anak laki-laki itu, menahan semburan darah yang keluar dari kepalanya. Lelehan darah perlahan mengalir menyusuri bentuk wajahnya, kemudian menetes.


Suara tawa menggelegar, terdengar diseluruh sisi dari ruangan itu. Ruangan yang terbilang kecil dan tanpa jendela. Hanya terdapat satu pintu disana. Tidak ada jalan keluar.


"Hukuman untukmu," Pria yang kini menjadi lawan bicaranya tertawa, kemudian mengangkat bahunya, berlagak tidak peduli.


Pria itu kemudian berjongkok, menatap lelaki kecil di depannya yang sudah ketakutan setengah mati dengan sorot mata dingin. Ia mencengkram bahu lawan bicaranya, dan membisikkan sesuatu.


"Seharusnya kau tak macam-macam Jim, ini akibatnya"


Lelaki bernama Jim itu tak kuasa menahan rasa sakit. Tangisnya pecah, air matanya menyatu dengan darah, mengalir dengan cepat. Pandangannya kabur, sudah berapa banyak darahnya yang keluar?.


"Kau sudah gila—"


"Sial..."


"...untuk semua yang telah kau perbuat, dan kini kau ingin...membunuhku?"


Jim sudah kehabisan tenaganya, ia tidak sanggup lagi, bahkan hanya untuk duduk.


Tubuhnya ambruk, pingsan di tempat.


***


Deg!


Jim terbangun. Matanya terbuka lebar, langsung menatap matahari tepat diatas kepalanya yang terlentang menghadap langit.


Nafasnya memburu, kepalanya sakit bingung dengan apa yang ia saksikan tadi. Bagai film abu-abu yang berputar. Mimpikah? Tetapi terasa sangat nyata.


Lelaki itu menggerakkan tangan kanannya, kemudian meletakkannya didepan wajahnya, menghalau sinar matahari yang menusuk matanya.


Tubuhnya tidak dapat digerakkan, sangat sakit, bahkan ia tidak tahu ekspresi apa yang cocok untuk menggambarkan rasa sakitnya ini. Terutama pada kakinya, bagai dihimpit bongkahan batu yang besar.


Pikirannya kosong. Ia tidak tahu dalam situasi apa ia kini. Hanya memandang langit biru, dan awan yang berangsur menutupi matahari.


Satu hal yang ia tangkap.


"Jim...namaku Jim."


Ia sempat terkejut, mendengar betapa serak dan beratnya suaranya. Jim tersenyum geli, matanya menyipit masih memandang gumpalan awan di atas kepalanya yang perlahan menghitam.


Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Wajahnya tampak khawatir, mengingat dirinya belum bisa bergerak. Jim menghela nafas, pasrah jika hujan ingin menghantam tubuh lemahnya. Lagipula ia sangat haus sekarang, entah berapa lama ia tertidur.


...


Sudah 3 jam, yang ia lakukan hanya terlentang di tanah yang lembab tanpa melakukan apapun. Lelaki itu menggerutu, tidak ingin hujan lagi, air hujan sudah lebih cukup untuk membasahi tenggorokannya.


Langit berubah gelap, tanpa bintang dan bulan. Membuat keadaan sekitar terlihat menyeramkan. Jim berkali-kali mengumpat, merutuki nasibnya. Apalagi dengan adanya lolongan serigala yang ia dengar dari telinga kirinya.


Tubuhnya bergetar, takut. Ia tidak bisa untuk hanya berbaring dan pasrah. Ia pasti akan menjadi santapan makhluk makhluk itu.


Satu-satunya jalan adalah pergi dari tempat ini.


Jim menarik sebatang tanaman yang ia rasa kuat untuk mengangkat tubuhnya. Sulit rasanya, apalagi dengan kondisi tubuhnya yang seperti ini. Ia menarik batang tanaman itu sekuat tenaga, jika putus ia akan meraih tanaman selanjutnya. Seperti itu hingga ia dapat duduk dengan sempurna.


Nafasnya tersengal-sengal. Lelaki itu tersenyum miris, bahkan hanya untuk duduk ia membutuhkan waktu 10 menit.


Matanya bergerak, menatap pohon-pohon besar yang ada di sekitarnya. Walaupun malam dan tanpa pencahayaan, tidak membuat lelaki ini bingung hanya untuk sekedar mengetahui ia ada di tengah hutan yang lebat.


Ia mengusap wajahnya frustasi. Ribuan air masih berjatuhan membasahi bumi, tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dan lolongan serigala kembali terdengar, disusul suara lainnya, seperti jangkrik dan kodok. Malam itu hutan terlihat hidup, tapi tidak ada satupun yang dapat menolongnya.


Lelaki itu mengangkat tubuhnya, mencoba untuk berdiri. Ia berpegangan pada batang pohon yang ada di belakangnya, hujan yang belum kunjung berhenti membuat tanah menjadi becek dan licin. Ia hampir saja terpeleset jika tidak berpegangan.


Jim berjalan dengan hati-hati, ia menjangkau semua benda yang di dekatnya. Sekali-kali ia terbatuk dan bersin-bersin, di tengah hujan dalam waktu yang cukup lama menyebabkan dirinya terserang flu.


Ia mendadak berhenti, suara lolongan serigala semakin lama semakin terdengar. Jim tidak tahu dalam posisi manakah dirinya, apakah ia yang mendekati kawanan makhluk buas itu atau para serigala itu yang kini berjalan kearahnya.


Jim membalikkan badannya, kondisi malam yang gelap menyebabkan jarak pandangnya menjadi sangat terbatas. Ia tidak tahu sebongkah batu setinggi pergelangan kakinya berdiri disana, kakinya menyandung batu itu dan akhirnya terjatuh.


"Akh batu sialan!" Jim meringis, ia menahan tubuhnya dengan kedua tangannya. Kakinya berdenyut, sakit sekali.


Lelaki itu berusaha sekali lagi. Ia berusaha keras mengangkat tubuhnya, mengabaikan rasa sakit dikakinya. Berpegangan kembali pada batang pohon yang sama sebelum ia terjatuh tadi.


Akhirnya Jim dapat kembali berdiri dengan berpegangan pada pohon-pohon tentunya. Lelaki itu menoleh kekanan, sedetik kemudian matanya melotot. Badannya mendadak kaku, jantungnya berdegup kencang.


Serigala!


Oh, sial. Hewan buas itu menatapnya. Bukan hanya 1, tetapi 3. Makhluk itu menggeram, memperlihatkan gigi besar dan tajamnya. Bulu-bulu hitamnya tampak basah terkena air hujan.


Jim kini sangat panik, wajahnya menoleh kesana-kemari hendak mencari bantuan. Tetapi orang gila mana yang jalan-jalan di tengah hutan yang lebat dan sangat gelap, di tambah hujan deras seperti ini.


Iya, orang gila itu adalah dirinya.


Serigala itu mulai mendekat, secara perlahan namun pasti. Diikuti 2 serigala lain di belakangnya. Sudah dipastikan serigala yang di depan adalah pemimpin kawanan. Mereka keluar untuk mencari makan malam.


Dan makan malam itu kini sudah didepan mata.


Jim meraih ranting basah yang ada di dekatnya untuk menghalau para serigala yang kini berjarak 4 meter dari dirinya. Tentu saja itu tidak ada gunanya, mau apa kau dengah sebuah ranting pendek yang basah untuk melawan 3 ekor serigala yang kelaparan?


Lelaki itu terduduk di tempat, kakinya melemas. Nafasnya memburu, ketakutan setengah mati. Tubuhnya bergetar hebat, ia memejamkan matanya, tidak ingin melihat kematiannya sendiri.


Dalam hatinya ia berharap untuk sebuah keajaiban.


Bagai suara angin, sebuah anak panah melaju cepat dari arah belakang lelaki itu. Mata yang tadi tertutup mendadak terbuka, nafasnya tercekat. Anak panah itu menggores tubuh salah satu serigala. Para hewan buas itu semakin menggila, mereka terasa terancam.


"Serigala-serigala itu, semakin ingin memakanku!" Jim menggerutu, tubuhnya menegang menatap hewan buas yang kini mempercepat langkahnya.


Lagi-lagi anak panah, tetapi semakin lama semakin banyak. Satu persatu melaju, menyerang dan menggores kulit dari ketiga serigala yang kini kewalahan menghadapi serangan anak panah yang entah dari mana asalnya.


Syukurlah, kawanan hewan buas itu berlari menjauh.


Tubuh Jim kembali melemas, ia menghembuskan nafas lega. Lelaki itu menarik tangannya kedada, ia dapat mendengar detak jantungnya yang berpacu cepat.


"Kau tak apa?"


Jim menoleh cepat ke arah datangnya suara. Matanya melotot.


Keajaiban itu datang dalam wujud seorang bidadari.


Lidahnya kelu, ia diam seribu bahasa. Memandang Si penyelamat hidupnya. Seorang gadis dengan netra cokelatnya yang indah.