A Piece Of Memory

A Piece Of Memory
Bab 6 - Ingin Keluar Dari Sini



"Kenapa banyak sekali mayat di tempat ini?! Kakak kau tahu sesuatu kan?"


"Diamlah Jim, aku juga tidak mengerti apa yang ayah rencanakan."


***


Jim terbangun, nafasnya tersengal-sengal. Keringat membasahi pakaiannya, ia mengangkat tubuhnya untuk duduk. Jantungnya berdegup kencang.


Ia menarik rambutnya kebelakang, kemudian bersandar pada dinding belakangnya.


Lelaki itu memandang sekitar, "Huuf...kukira aku sudah mati." Jim bernapas lega, mengingat bagaimana ia berjuang melawan makhluk sialan yang beraroma busuk itu. Mengingatnya saja sudah membuat perut Jim bergejolak.


"Belum, kau belum mati."


Jim cepat-cepat menoleh, melihat seorang anak laki-laki bertubuh jangkung dengan mangkuk air dan sehelai kain di tangannya.


Nathan duduk menghadap Jim yang masih bernafas tidak teratur. Ia mencelupkan kain ke dalam mangkuk yang berisi air, lalu mengelap keringat Jim.


Lelaki yang di depannya mengernyit dan menatapnya dengan tatapan aneh.


"Sialan! Nancy tidak ada, dia sedang di luar. Hanya ada aku di sini!" Nathan mendecak kesal, mengerti maksud dari tatapan Jim itu. Anak laki-laki itu melempar kain basahnya kembali ke dalam mangkuk.


"Tidak usah marah, aku hanya bercanda." Jim tersenyum geli, anak ini memang cepat sekali kesalnya. Ia mengambil kain basah tadi, lalu mengelap sendiri wajahnya yang basah oleh keringat.


Nathan mendengus kesal dan membaringkan badannya di atas kain tipis miliknya. Matanya sudah terpejam.


"Sudah berapa lama aku tertidur?" Tanya Jim, masih dengan tangan yang bergerak mengelap tubuhnya.


"Tiga hari." Jawab Nathan cuek.


"Ooh."


"EH? TIGA HARI?!"


Nathan kembali mendecak, lelaki besar ini sungguh berisik. Ia kembali duduk, menatap Jim dengan tatapan dingin.


"Seriusan tiga hari?" Ujar Jim lagi, matanya menatap Nathan tidak percaya.


"Iya, Nancy saja sampai menangis."


"Nancy menangis? Karena aku?" Jim membelalakkan matanya, ada perasaan senang di dalam hatinya, perlahan bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.


Ia langsung melupakan fakta bahwa ia sudah pingsan selama 3 hari, pikirannya tertuju kepada satu orang, yaitu Nancy.


Nathan hanya menggelengkan kepalanya pelan, mendengus sarkas. "Dasar bucin!"


Jim tersadar, ia bangkit untuk berdiri berencana untuk minum. Matanya menatap ke arah kakinya yang kembali dililit oleh kain berwarna putih. Ia melirik anak laki-laki yang masih duduk bersandar pada dinding.


Lelaki itu tersenyum tipis. Tentu saja, Nathan lah yang telah mengobatinya.


"Nathan, terima kasih."


Yang dipanggi hanya berdehem, melirik Jim yang berjalan pincang keluar.


...


Tadi itu apa?


Jim bergumam, ia tengah mendudukkan tubuhnya ke atas batu-batu besar di sekeliling sungai.


Pikirannya terfokus pada sekilas mimpi yang ia alami tadi. Jim ingin mengklaimnya sebagai suatu potong ingatan yang pernah ia lupakan. Walaupun ia masih bingung dengan hubungan mimpi pertama dan kedua, tetap saja itu terasa nyata.


Aku memiliki seorang kakak?


Jim menghela napas frustasi, kenapa ia tidak bisa mengingat muka-muka orang yang ada di dalam mimpinya, semua tampak kabur.


Dan mengenai topik yang dibicarakan. Apa-apaan, itu mayat? Jim dapat mengingat sekumpulan mayat yang dikumpulkan dalam satu ruangan.


Perut Jim kembali bergejolak. Lelaki itu menutup mulutnya, menahan mual.


"Jim? Jim!!!!!!!"


Jim mendongak, menatap ke depan, melihat seorang gadis yang berlari ke arahnya dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


Jim memiringkan kepalanya sembari tersenyum. Gadis itu sangat imut, berlari sambil tersenyum manis hanya karena melihat dirinya.


Nancy sudah berada di depannya, tetapi wajah manis yang ia tunjukkan tiba-tiba berubah. Tangannya terkepal seperti akan memukul sesuatu. Jim meneguk ludah.


"Eh?"


Bugh!


"Nancy, kenapa kau memukulku?" Jim memegangi pipinya yang menjadi sasaran pukulan gadis itu. Memang tidak terasa sakit, tetapi ia terkejut karena pertama kali mendapatkan sebuah pukulan dari gadis itu.


"Kau membuatku khawatir! Kenapa tidurnya lama sekali ha?!" Nancy berseru, tangannya terkepal, matanya mulai basah.


Jim tersentak, gadis itu menangis?


Ia segera berdiri dan menatap netra cokelat terindah itu dari dekat. Nancy menggeleng keras, ia menghapus air matanya segera.


Lelaki itu terdiam, tidak menyangka gadis itu sekhawatir ini pada dirinya.


"Aku tidak apa-apa kok, lihatlah aku sehat-sehat saja kan?" Jim memegang bahu Nancy yang sedikit bergetar, menenangkannya.


Gadis itu perlahan mengangguk, sekali-kali tangannya bergerak mengapus jejak air mata di pipinya. Ia mendorong tubuh Jim agar menjauh darinya. Kemudian menubruk tubuh lelaki itu, lalu memeluknya erat.


"Jangan seperti itu lagi!" Nancy melepaskan pelukannya.


Jim terdiam sejenak melihat perlakuan gadis itu, bibirnya melengkung, ia tersenyum senang. "Iya, tidak akan seperti itu lagi."


"Ew,"


Jim mendecak, Sudah menduga akan seperti ini lagi. Ia menatap anak laki-laki yang berdiri diambang pintu yang menatap ke arahnya dengan tatapan jijik.


"Nathan jelek!"


"APA?!"


...


Nancy memainkan kukunya sambil bersenandung, ia bersandar pada tembok sembari membersihkan busur dan anak panahnya. Oh jangan salah, ia yang membuat benda itu sendiri.


Gadis itu melirik Nathan disebelahnya, Adiknya itu tengah tertidur. Dari dulu Nathan memang tukang tidur. Bahkan sampai sekarang pun, di saat kondisi seperti ini dia selalu menyempatkan diri untuk tidur.


Nancy mengembuskan napas lelah, ia mengelus surai panjang dan lebat adiknya itu.


Tatapannya menyendu, melihat Nathan selalu tidur di atas batu keras nan kotor. Ia selalu berharap ada seseorang yang berbaik hati membantu mereka untuk keluar dari tempat ini. Ia berdo'a dalam hati dengan mata terpejam sampai ia mendengar bias suara yang ia kenal.


"Nancy, kau ingin tidak keluar dari tempat ini?"


"Ha?"


Nancy membelalakkan matanya, apakah ia tidak salah dengar? Jim berjalan ke arahnya dengan sorot mata penuh keseriusan.


Lidah gadis itu langsung kelu, ia tidak menyangka do'anya langsung terkabul begitu saja. Dan itu karena lelaki di depannya ini.


Nancy langsung berdiri, ia berjalan mendekati Jim.


"Ke–keluar ... dari tempat ini?"


Jim mengangguk yakin, ia sejak tadi berpikir dan terus berpikir. Tentang dua mimpi yang membuat pikirannya kacau. Ia ingin segera keluar dari tempat ini dan menemukan jati dirinya yang sebenarnya.


Tekadnya sudah bulat dan ia ingin membawa kakak-beradik ini dalam perjalanannya.


"Ya, aku tidak peduli apapun penghalangnya. Intinya aku akan membawa kalian keluar dari sini."


Nancy hanya diam membisu, ia sudah mencoba dan terus mencoba. Hutan ini sangat luas, kemungkinan tersesat bisa sangat besar. Dan ia juga sudah berkali-kali menyerah.


"Kau benar-benar yakin dengan ucapanmu? Kami sudah berkali-kali mencoba untuk keluar dari sini."


"Aku benar-benar yakin, Nathan." Jim menatap anak laki-laki yang masih dalam posisi berbaring itu—sempat terkejut karena anak ini tidak sedang tertidur. Ia tidak mungkin menarik kata-katanya.


Nathan bangkit dari posisi awalnya, ia berjalan mendekati Jim. Tatapannya sangat datar, ia memegang bahu lelaki itu.


"Kalau begitu kau harus mengetahui sesuatu, ini bukan hutan biasa kau tahu? Ada beberapa petunjuk yang tersebar di hutan ini dan kau harus memecahkannya."