A Piece Of Memory

A Piece Of Memory
Bab 15 - Melewatkan Sesuatu



"Hati-Hati, Nathan!"


Itu Nancy, gadis itu baru saja memperingati adiknya agar tidak berlari-lari di tanah yang tidak rata. Dan semua itu percuma saja, Nathan sudah terjatuh, mencium tanah yang ia pijak.


Nancy hanya menggelengkan kepalanya pelan sembari memijat pelipisnya, ia berjalan melewati adiknya itu, berusaha untuk tidak peduli.


"He bocah, bangun! Perjalanan masih panjang," Ujar Jim dengan posisi berjongkok untuk melihat keadaan anak itu.


Nathan bangkit dari posisi jatuhnya tadi dan langsung berdiri, seolah tidak terjadi apa-apa.


Setelah melewati tempat ditemukannya petunjuk kedua tadi, para pemuda itu melanjutkan perjalanannya dengan membawa secarik kertas berisikan sebuah petunjuk singkat.


'Selamat! Kau berhasil memecahkan teka-teki no.2, dan kini saatnya meneruskan perjalananmu. Lihatlah tanda yang ada di tanah, itu adalah petunjuk untuk mengetahui arah mana yang kau tempuh kali ini!'


Dengan melihat tanda yang ada di tanah, para pemuda itu melanjutkan perjalanannya. Sudah 3 jam mereka berjalan dan ini saatnya untuk istirahat.


"Wah, kalian tidak lelah? Kita sudah berjalan cukup lama. Kalian tidak ingin istirahat?" Itu Rafael, lelaki itu tampaknya sudah lelah. Bajunya sudah basah oleh keringat.


"Iya, benar juga..." Balas Jim yang keadaannya juga sama dengan Rafael. Ia menengadahkan kepalanya, ingin nelihat seberapa teriknya matahari kali ini.


"... Ayo istirahat dulu." Lanjut lelaki itu sembari menyandarkan tubuhnya pada pohon yang ada di belakangnya.


Nancy dan Nathan memberhentikan langkah kakinya. Kedua pemuda itu tampaknya sama sekali tidak lelah.


Rafael menjatuhkan tubuhnya ke tanah, ia melepas sepatu kemudian memijat pergelangan kakinya. "Arg! Lelah sekali!"


"Haha, lemah... sudah berapa lama kau tinggal di sini?" Ledek Nathan. Anak laki-laki itu berjalan ke arah Rafael, ia bersikap jail dengan mengacak-ngacak surai tebal milik lelaki itu.


"Anak nakal, usiaku jauh lebih tua 10 tahun darimu... jangan mengacak-acak rambutku, dasar!" Rafael mendengus, ia langsung berdiri dan mengapit kepala Nathan dengan lengannya, kemudian balas mengacak surai cokelat itu dengan gemas.


Nathan tertawa keras, sungguh ia baru tahu fakta itu. Usia Rafael sekarang adalah 25 tahun.


Jim dan Nancy menertawai kejadian yang terjadi di depan mata mereka.


Para pemuda itu beristirahat di bawah pohon yang cukup besar dan rindang. Memakani beberapa buah-buahan dan sesekali mengganggu satu sama lain.


"Rapel, apa yang ingi—"


"Tolong panggil aku, Rafael. Jika namaku itu terlalu panjang, kau bisa memanggilku, Rafa," Potong lelaki itu, ia merorasikan bola matanya dan mendengus kesal.


Nathan meringis kecil, ia mengatakan kata 'maaf' sepelan mungkin, hampir tidak terdengar.


"Baiklah... Rafa, apa yang ingin kau lakukan setelah pergi dari tempat ini?" Nathan mengatakan kembali perkataannya yang sempat terpotong.


Rafael berpikir sejenak, ia meletakkan tangan di dagunya. Kemudian tertawa kecil.


"Entahlah, dulu yang aku punya hanya adikku. Dia satu-satunya keluargaku... Ah, aku punya orang tua dulu. Ibuku meninggal karena melahirkan, ayahku sangat stres dan membenci adikku, ia berkata bahwa anaknya itu penyebab kematian dari istrinya. Jadi, setelah itu... AH, MAAF! Kenapa aku harus menceritakan ini? Ini melenceng dari pertanyaan yang kau ajukan tadi, Nat." Lelaki itu tertawa, ia mengusap bagian belakang lehernya.


"Kembalilah bercerita, bagaimana kau kehilangan adikmu itu?" Tanya Nancy yang sepertinya sangat penasaran tentang perjalanan hidup Rafael itu.


"Ayahku membunuhnya..."


Gadis itu menutup mulutnya cepat, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Jim pun hanya diam sejak tadi, kepalanya secara perlahan terasa sakit.


"... Setelah membunuh, mayatnya dibuang begitu saja. Karena itu aku kesal setengah mati, aku marah, aku ingin membalas semuanya." Tangan Rafael terkepal kuat, rahangnya mengeras. Tapi sedetik kemudian ia terkejut.


"AKH JIM!! Kau mimisan!"


Jim hanya diam, kepalanya terasa berputar-putar dan pandangannya mulai kabur.


"Jim!!" Nancy berseru, ia terkejut saat kepala Jim telah mendarat di bahunya. Lelaki itu sudah kehilangan kesadaran.


"Apa yang terjadi?!" Rafael juga berseru panik. Ia mendekat ke arah tubuh Jim, lalu melihat wajah lelaki itu yang sudah tampak sangat pucat.


"Kejadian seperti ini rasanya pernah terjadi. Saat itu, kami berjalan dan Jim tiba-tiba terjatuh dan pingsan. Mungkin ia hanya kelelahan." Nathan angkat suara, ekspresi anak itu tampak tenang, walaupun ia tadi sempat terkejut.


"Kita tunggu saja ya, Rafa," Ujar Nancy tersenyum tipis.


"Oke, baiklah."


...


Sudah 3 jam berlalu sejak lelaki itu pingsan, akhirnya Jim bangun juga. Ia merasa bingung dengan keadaan sekitar, ini bukan tempat yang ia lihat terakhir kali.


Tangan dan kakinya bergerak, meraba pasir-pasir putih yang kini ia tiduri. Sangat lembut.


Pantai ya?


Jim merasakan sesuatu yang mengganjal kepalanya. Ia mencoba untuk melihat ke atas, matanya menatap langsung sepasang netra cokelat yang sangat ia kenal.


"Hai, sudah bangun?" Bisik Nancy lembut. Ia tersenyum, senyum yang indah tentunya.


Jim terpesona dengan kecantikkan yang kini ia lihat. Darahnya berdesir dan seketika tubuhnya kaku. Ia tidak ingin beranjak dari posisinya kini.


Gadis itu tetap tersenyum, masih setia menatap wajah tampan itu. Sejak tadi ia membiarkan Jim beristirahat dengan pahanya sebagai bantalan, menunggu di sini sembari kedua temannya yang lain mencari sesuatu.


Mata Jim mengerjap-ngerjap, ia segera bangkit dari posisinya awalnya. Lelaki itu memandang sekitar dan kembali menoleh kepada Nancy.


"Kenapa kita bisa ada di sini?"


"Ah itu, kami pikir jika menunggumu bangun akan menyita banyak waktu. Jadi, Rafa menggendong tubuhmu untuk sampai ke sini... nanti kau berterima kasih padanya ya?"


Jim mengangguk mengerti, ia menyisir ke belakang rambutnya dengan sela-sela jari, merasa kepanasan.


Matanya kembali melihat ke sana dan kemari, mencari dua orang lainnya. "Mana yang lain?"


"Mereka mencari sesuatu untuk menyebrangi lautan yang luas ini."


"Artinya, sebentar lagi kita akan keluar dari sini?" Jim kembali bertanya, ia terlihat antusias.


Nancy tersenyum kecut, "Kuharap juga begitu, tapi sepertinya bakal sulit," Gadis itu mengambil napas, lalu mengembuskannya, "Pulau ini benar-benar terpencil, bagaimana jika kita pergi dari sini, kita malah semakin tersesat?"


Bahu Jim seketika melemas, ia pikir juga tidak semudah itu. Jika pesisir pantai adalah jawabannya, maka untuk apa petunjuk-petunjuk itu? Ia rasa ada sesuatu yang telah mereka lewati.


Lelaki itu mendengus kesal, butuh waktu berberapa lama untuk bisa pergi dari sini? Pulau ini bukanlah tempat yang kecil.


Jim segera berdiri, tangannya terjulur hendak membantu Nancy. Gadis itu mengangguk, menerima uluran tangan lelaki itu.


"Kita mau kemana?"


"Ayo kita susul yang lain, ada sesuatu yang kita lewati kurasa."