A CAMOUFLAGE

A CAMOUFLAGE
#10 Hopelessness



Seminggu berlalu begitu lambat, Hati dan Pikiran tak menentu tiap Waktu. Pikiran terus tercampur aduk antara Nyokap dan juga Sekolah. Belum lagi, Ujian\-ujian Praktek Olah Raga, Tulis dan Lisan dari beberapa Mata Pelajaran sudah dimulai dan jadwal UN sudah di depan Mata.



Rutinitas berbeda dari sebelumnya, sekarang pulang Sekolah ke Rumah dulu untuk Mandi dan Ganti Baju. Kemudian lanjut ke Rumah Sakit dikarenakan Nyokap masih dalam keadaan Koma.



Cuma bisa Ngintip dibalik layar monitor yang disediakan pihak RS untuk pihak keluarga. Hati berasa Hancur berkeping dan Air Mata mengalir membasahi Pipi, tiap menatap Nyokap dalam keadaan terbaring tak berdaya. Wajah dan Bibir Pucat pasi berwarna putih dan Kantung Mata hitam seperti Panda. Sudah Enam hari Nyokap Koma, ketakutan demi ketakutan membayangi Gue setiap waktu, jika benar\-benar Nyokap meninggalkan Gue dan Viona selamanya. Huhuhuuu...



\~}\~}\~}\~}



Flashback ON


Sore ini, Kamis penghujung Bulan February, Jam Tangan menunjukan Pukul 15.56 WIB. Lagi dan lagi Jakarta diguyur Hujan Deras dan Petir menggelagar bersahutan.


Lampu berwarna Merah di atas Pintu Ruang Operasi menyala, Indikator Lampu menyala tanda Operasi sedang berlangsung. Sudah Tiga Jam lebih Dua Puluh Menit, Operasi Pengangkatan Tumor.


Dokter bilang, ini Operasi besar jadi membutuhkan Waktu Lumayan lama yaitu sekitar 6 Jam lebih. Tatapan kosong masih tertuju pada Pintu Ruang Operasi. Dengan menyimpulkan Kedua Tangan di Dada, berdoa memohon pada Sang Maha Pencipta untuk kesuksesan Operasi ini.


Berjalan bolak\-balik mirip Setrikaan, ternyata bisa mengurangi rasa Panic.



“Kuatkan Aku ya Rabb atas segala kehendakmu ini dan tolong selamatkan Mamaihku,” lirih berdoa. Sembari, menggerak\-gerakan Tangan mengepal lalu membukanya lagi karena berasa membeku.


Gue mencoba menoleh ke arah Kanan dan Kiri, tapi tak ada siapapun. Lagi, dan lagi Duduk di depan Ruang Operasi pun Seorang Diri. Tak ada Keluarga, Teman atau Kerabat hanya sekedar untuk menguatkan dan memberikan Support. Kaki sudah tak kuat lagi menopang beban Tubuh, memilih Duduk adalah pilihan terbaik karena pikiran Gue entah kemana? Belum lagi Badan Gue mulai Melemah dan Gemetar.


Rasa Sakit Hati ini berasa Pedih dan juga Hancur, tak siap jika bayang-bayangan itu menjadi nyata. Sayangnya, Bayangan itu terus melintas di Kepala Gue. Seakan memberitahukan bahwa Firasat yang tak akan bisa dihindari lagi. Ahhh ****!


Otak terus berfikir, tentang rentetan awal-awal kejadian Nyokap Sakit. Dimana, perjuangan Gue dan Nyokap sudah sampai sejauh dan sekuat ini.Berbagai rintangan dan pengahalang datang silih berganti. Gue cuma bangga sama diri Gue sendiri, bisa lewatin ini semua. Thanks a lot God.


Tiba-tiba Suster silih berganti Keluar Masuk ke Ruang Operasi, mengambil dan membawa sesuatu di Tangannya. Dengan Suara langkah Kaki berlari terburu-buru itu membuat Gue ikutan Panic.


Dada mulai sesak, akhirnya berusaha menyandarkan Kepala ke Dinding dan Memejamkan Mata. Guna mulai mengatur pernasfasan yang kurang stabil. Dengan menarik Nafas Inhale dan mengeluarkan Nafas Exhale. (Gue gak Bengek ya Guys, tapi Gue belajar dari Guru Yoganya Nyokap. Jadi, kalo Kita lagi Mumet dan berasa Dada Sesak. Coba deh pejamkan Kedua Mata, mulai atur Nafas, tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan sebanyak 17X. Tak lupa, nikmati tarikan nafas tiap detiknya, sebagai Rasa Syukur pada Tuhan). Setelah berhasil mengatur Pernapasan, kemudian pijatlah Dahi dan Ibu Jari secara perlahan. Rasa Berat di Kepala pun sudah berkurang.


Entah kenapa Firasat jelek ini datang?


Apa yang terjadi dengan Nyokap? Gue cuma bisa pasrah.


Akhirnya, setelah 6 Jam lebih lamanya menunggu Operasi kelar juga. Pintu Ruangan itu kebuka perlahan, Gue pun langsung berdiri dan menghampiri Dua Dokter yang belum terlihat jelas Wajahnya karena masih menggunakan masker dan hanya berdiri Tegap di belakang Dokter Fredy.



Meskipun memakai Masker Gue tahu betul kalau Ketiga Dokter tengah tersenyum, dengan melihat Garis Mata yang menukik dan membuat kerutan. Bisa jadi, itu senyuman keberhasilan, kemudian disusul Dokter Fredy membuka Maskernya.



“It’s Okey, sekarang Kamu udah bisa tersenyum.” Kata Dokter Fredy, sambil berjalan dan menepuk Pundak Gue.



Tak ada jawaban dari Mulut Gue, entahlah berasa terkunci Rapat dan cuma isak tangis yang bisa Gue lakuin.



Akhirnya, tibalah Perawat mendorong Hospital Bed dan membawa Nyokap langsung ke Ruang ICU. Gue genggam terus tangan Nyokap, yang masih lelap terpejam dalam mimpi dan mengantarnya sampai depan Ruang ICU.



Meskipun, masih di Ruang ICU tapi Gue selalu setia nunggu di Luar Ruangan. Ruangan itu disediakan oleh Pihak RS untuk Wali Pasien yang mendampingi, harus Siap Siaga 24 Jam. Tanpa pengecualian buat Gue karena Gue harus pergi Sekolah.



Flashback OFF



\>\~\>\~<\~<


Sembilan Hari berlalu, tapi Nyokap belum sadar juga. Tiba di Rumah tepat Pukul 17.30 WIB sepulang Sekolah.


Tampak beberapa Orang Berbadan Tegap dan Tinggi, berdiri di depan Gerbang. Dengan memakai Seragam Safari berwarna Hitam. Melihat pemandangan mengerikan seperti itu, Gue langsung Ngegas ke arah Gerbang, yang ada dipikiran Gue cuma Satu yaitu Viona.



“Maaf, ada apa ini Pak? Gue pun memberanikan Diri bertanya ke Bapak\-bapak berseragam itu.



“Maaf, Mbak ini siapa ya?” Tanya salah satu dari Mereka, dengan mengenggam HT ditangannya.



“Saya Penghuni Rumah ini.”



“Oh Ok kalo gitu Mbak masuk aja, nanti juga akan tau,” Jawabnya. Lalu membukakan Pintu Gerbang sebelah Kiri.



“Ada apa lagi ini, ya Tuhan?” Gumam Gue, sambil memarkirkan Sepeda Motor di Garasi dan berlari ke Pintu masuk yang terhubung dari Garasi.




Tengah Duduk di Anak Tangga, Lelaki bertubuh Gempal. Dengan Rambut panjang dikuncir Kuda, memakai banyak Cincin Batu Permata dan memakai Jam Tangan keluaran Richard Mille berwarna Jingga.Berpakaian Dandy, memakai atasan Kaos Polo berwarna Putih, Cardigan senada Jam Tangan dan Blue Jeans. Umurnya sekitar 50\-an sepantaran Papih lah kira\-kira.



Tatapan Matanya tajam bak Anak Panah, Wajahnya Dingin dan Bengis seakan ingin menghajar dan meremukan Gue seketika. Terkadang, menatap Gue jijik dan membuang Muka.



Keringat di Dahi mengalir melewati Alis tebal menuju Mata dan Perih terasa.



“Tak ada ada lagi yang perlu ditanyakan, silahkan Kalian angkat Kaki sekarang juga. Saya sudah menebus Rumah ini dari lelang di Bank Sebulan lalu dan ini Sertifikatnya,” Ucap suara barithon. Lalu melemparkan Sertifikat Rumah ke Lantai.



“Boleh Aku Check, timpal Gue. Sembari berusaha memberanikan diri dengan menelan Saliva berkali\-kali dan mengambil Surat lelang di Lantai.



Benar adanya, Rumah ini adalah Rumah Papihku dan masih atas Nama Beliau. Dengan, adanya Bukti Roya atau Sertifikat Penyataan Lelang dari Bank, berdasarkan Alamat Rumah dari Kepemilikan Nama yang Sama.



Tak lupa Gue pun Photoin semuanya, sebagai bukti bahwa Bokap Gue KEJAM!!! Langsung Gue kirim semua bukti Photo\-photo itu ke Oma.



“Oma, tolong sampaikan Terimakasihku pada Papih ya atas The Best Surprise\-nya. Karena Rumah sudah dilelang Bank tanpa sepengetahuanku, Aku dan Adikku jadi Gelandangan.” Begitulah Kira\-kira Isi pesan Wa dan Message, tapi gak ada balesan dari Oma. Apa mungkin Dia ikut malu? atau Apa ini rencananya Dia? Bodoamat!



Kaki Gue lemes Cuy!


Mundur selangkah dengan tiba\-tiba ambruk, waktu baca Surat keterangan Lelang dari Bank itu.



“Karena Saya tidak tahu menau dengan ini semua, begitupun keadaan Papih sekarang dimana? Saya kurang tau. Tiga Tahun lebih Papih meninggalkan Kami dan Dua Tahun lebih Kami tida berkomunikasi.” Gue berusaha menjelaskan duduk perkara Permasalahan.



“Oh ok, tapi Saya juga gak mau tahu itu semua. Saya mau Kamu dan Orang\-orang di Rumah ini angkat Kaki segera dari Rumah ini sekarang juga.” Ucap Pria berwajah sangar itu, berusaha Meyakinkan Gue dan rupanya ingin segera menendang Gue secepatnya.



“Iya Pak, Saya paham tapi tolong kasih Saya waktu Satu Minggu aja biar Saya nyari Kontrakan dulu.” Gue berusaha membujuk Pria berdada Burung itu.



“No! Besok Kamu harus Cabut dari sini. Saya mau segera Renov Rumah ini dan sesegera mungkin dijual lagi dengan harga lebih. Lebih cepat lebih baik.” Ucapnya, sembari menyemburkan kepulan asap dari Bibir yang tampak menghitam itu.



“Oh iya Pak.” Timpal Gue dan gak berasa Air Mata turun tiba\-tiba membanjiri Pipi. Menelan Saliva dan berusaha memandangi Rumah megah yang sudah menjadi Saksi Bisu dari Gue lahir sampe hari ini.



Apa yang Gue khawatirkan selama ini, rupanya sampe juga ke titik ini. Titik dimana Gue dan Adek Gue ditendang secara halus sama Bokap Gue sendiri. Arghhhh!!!!



Awal Bokap Pergi dari Rumah ini, membawa semua koleksi Mobil Sport Mewahnya. Begitupun, dengan koleksi MOGE \(Motor Gede\) udah Dia angkut duluan. Aset\-Aset lainnya, seperti Perusahaan, Tabungan dan Deposito, Apartment, Tanah dan juga beberapa Rumah. Semua dibawanya dan tak tersisa.



Hanya Rumah ini yang tersisa. Sempet terfikir, mungkin Rumah ini akan diwariskan buat Gue dan Viona. Tapi Gue salah dan ternyata itu, Bullshit!



Oh begini rupanya Bokap Gue Menendang Gue. Ok, baiklah!!!



Langsung mikir, besok berarti harus bolos Sekolah lagi dan cari Kontrakan. Hufttt...



Gue langsung menginstruksikan Bi Sum supaya buru\-buru berkemas. Dan malam ini pula Gue gak tidur, kerena shock.



Tak ada yang tersisa dari Rumah berukuran 700m2, Halaman belakang 200m2 dan Halaman depan 100m2. Karena memang Furnitures udah ludes Gue jualin.



Mulai Packing barang\-barang Pribadi Gue dan Selanjutnya barang Viona juga Nyokap. Sampe Jam Lima Pagi Gue ‘Marathon Packing’ dan hampir Dua truk ternyata. Wow...



Setelah Jam Satu siang, Gue pun Mandi dan Makan untuk terakhir kalinya disini di Rumah ini. Gue bingung harus kemana nyari Kontrakan karena gak ada Waktu lagi.


Finally, Gue nelpon temen SMP yaitu Siti Nuraini Suaeb atau yang bisa Gue panggil Rini, Anak dari Haji Suaeb juragan Kontrakan di daerah Mampang. Gue sengaja cari Kontrakan, yang gak terlalu jauh dengan Rumah Sakit dimana tempat Nyokap di Rawat dan untungnya Ada yang kosong.