A CAMOUFLAGE

A CAMOUFLAGE
#5 A Hope



Jam Tangan “Tomat” kegigit menunjukan pukul 02.45 WIB, tapi anehnya Mata ini sama sekali belum juga berhasil terpejam, setidaknya untuk mengistirahatkan Otak. Ditambah lagi, Suster silih berganti mengecek keadaan Nyokap yang makin hari semakin memburuk.



Kemarin siang Gue di WA sama Bu Lely \(Finance RS\) untuk segera ke ruangannya. Sebenernya, dengan langkah berat Gue mendatangi ruangan Bu Lely karena takut Pihak RS minta Nyokap segera angkat Kaki.



Isi bahasan dari pertemuan, untuk memberitahukan bahwa RS memberikan kebijakan atas nama “Kemanusiaan” untuk menolong Nyokap secepatnya akan dioperasi.



“Thank GOD finally,” ucap Gue dalam setiap sujud. Tak lupa bersyukur, atas apapun itu karena masih ada Orang\-orang baik mau menolong Nyokap Gue.



Dengan adanya kabar baik itu sedikit beban Gue berkurang, tapi tetep rincian Rupiah mengalir deras seiring waktu berjalan, mirip mesin BI pencetak Rupiah.



Melihat kondisi Nyokap saat ini yang terkadang tak sadarkan diri. Alasan ini pula membuat Gue sendiri hopeless. Entahlah, berhasil atau tidaknya Operasi itu, Gue cuma bisa berpasrah pada yang Maha Pencipta.



Dengan adanya pesan dari Suster Marni \(Asisten Dokter Fredy\), bahwa hari ini jam 16.00 Gue ditunggu di Ruangan Dokter Fredy, sudah dipastikan ada yang mau disampaikan serius nih, tebak Gue.



Deg!


Tepat jam 16.00 WIB, Gue duduk di Kursi antrian di Poli Oncology sama dengan Pasien\-pasien lainnya yang akan berobat untuk menunggu panggilan. Tak lama kemudian, Suster Marni memanggil dan mepersilahkan Gue masuk.



“Well, kita Langsung saja. Jadi Operasi Ibu Widya akan dilakukan dua hari lagi. Jujur, ini atas inisiatif Saya Pribadi dan juga Rumah Sakit”.



“Namun, Operasi Ibu Widya bagai buah simalakama. Istilahnya dilakukan tindakan salah dan tindakan ditunda pun malah lebih salah. Kamu berada dalam posisi maju kena, mundur pun juga kena. Saya minta Kamu berdoa, sabar dan tabah apapun hasilnya itu. Karena terus terang, Saya juga tidak bisa jamin Operasi ini akan sukses,” Jelas Dokter Fredy, sembari membuka Kacamata dan menghela nafas dalam.



“Iya Dok, Aku paham sekali. Pokoknya terimakasih banyak atas bantunnya,” ucap Gue sembari menggenggam Tangan Dokter berbadan tambun itu. Tak lupa ikut menarik nafas panjang karena Dada berasa Sesak, lalu menyeka Air Mata yang rembes tiba\-tiba.



\~}\~}\~}\~}\~}\~}


Hari ini, masih dibulan February akhir karena itu Hujan turun hampir tiap hari. Jam Tangan menunjukan pukul 05.11 WIB, dengan sikon saat ini di luar Hujan lebat, bercampur Angin dan Petir menggelegar.


Gue paksain pulang ke Rumah, lagi\-lagi menerabas Hujan lebat Karena sudah Tiga hari gak pulang ke Rumah dan begitupun juga Sekolah bolos.



Entahlah! Rasa kesal, sakit hati, kecewa juga dendam menjadikan Gue kuat dan gak takut apapun. Demi melihat keadaan Adek Gue satu\-satunya Viona. Sesampainya di Rumah, Si Kecil Viona masih tertidur lelap dan Bi Sum lagi menyiapkan Sarapan pagi. Gue langsung mandi dan berpakaian seragam sekolah, kemudian bangunin si kecil, dan becanda\-canda sebentar lalu sarapan.



Pukul 07.00 WIB jadwal Gue untuk berangkat Sekolah, sembari mengantar Adek Gue sekalian ke Sekolah yang tak jauh dari Rumah.



Jadwal masuk sekolah Viona jam 08.00 dan pulang jam 17.00 yang merupakan Sekolah TK plus daycare \(penitipan Anak\). Malah banyak juga yang masuk lebih awal yaitu jam 6 atau jam 7 pagi, atau menyesuaikan dengan jam Orang Tuanya berangkat kerja.




\*\*\*\*


Jam 12.30 WIB adalah jadwal Makan Siang yang disiapkan Sekolah setiap harinya. Bagi Gue, setiap kali Lunch tiba adalah untuk “perbaikan Gizi” karena Makan siang itu mirip sarapan di Hotel. Terdapat Makanan, Minuman, Buah\-buahan dan berbagai cemilan komplit. Tertata rapih dan mewah, dari hidangan Pembuka sampe hidangan Penutup dengan menu tiap hari bervariasi, dari ala western dan Indonesia tentunya dari berbagai Daerah. Ulalalaaa... So yummmmm!


Yup, Sekolah Gue adalah Sekolah Nasional \+\+ dengan menyesuaikan Standar Kurikulum dari Inggris, menggunakan bahasa wajib Inggris, dan bahasa Mandarin sebagai tambahan.



Meskipun, International language yang digunakan tapi masih tetep menjujung tinggi Nilai\-nilai bangsa, Norma, Sejarah, Bahasa, Budaya, Budi Pekerti dan terutama Pancasila. Salah satunya adalah pelestarian Bahasa dan Tarian Daerah, dengan masing\-masing Siswa bisa memilih untuk minat mempelajari Daerah \(Jawa, Sunda, Batak, Bali, Aceh, Papua, Sumba, Minahasa dan Padang\). Begitupun, untuk Pelajaran Agama ada 5 \( Islam, Protestan, Katholik, Buddha dan Hindu\) tinggal memilih sesuai dengan Kepercayaan masing\-masing.



\*\*\*\*


Di RS kembali Gue berada, sepulang sekolah tadi dengan lagi\-lagi menerabas Hujan deras.



What happened today?



Hujan lebat mulai dari Dini hari sampai sekarang Jam 19.56 WIB masih aja Hujan deras.



“Hujan itu rejeki dan berkah, semoga hari ini juga ada kabar baik memihak Nyokap,” doa terucap dalam sujud terakhirku.



“Mamih yang kuat ya kan mau Operasi, insaallah Mamih nanti sehat dan bisa jalan\-jalan lagi bareng Aku dan Viona, Aku keluar dulu ya Mih mau cari udara seger,” bisik Gue ke Nyokap, sembari berjalan menuju sebuah tempat.



Dengan kejadian kemarin Live Show itu, sebenernya merasa jijik untuk berada disini lagi. Tapi mau kemana lagi? Hanya tempat ini yang gratis dan sepi tanpa banyak Orang kepo tentang “kegilaan” Gue. Yup, di tangga darurat RS inilah tempat pelarian Gue, disini bisa menangis, teriak dan memaki siapapun yang Gue benci, bahkan memaki Diri sendiri yang payah ini. Lagi\-lagi, kertas jumlah biaya estimasti operasi Nyokap masih ada di Jaket dan kembali Gue check jumlahnya.



“Ya Tuhan, jika memang nyawaku bisa menyelamatkan Ibuku silahkan ambil,” lirih Gue. Dengan menyimpulkan kedua tangan memohon pada yang Maha kuasa.


Tiba-tiba terasa aura dingin menyelimuti, berhasil membangunkan bulukuduk dan mulai merinding. Gue maklumin itu semua karena ada di tangga darurat RS, tapi tetep Gue bersikap “Bodoamatan” dan gak takut. Justru, hal yang paling Gue takutin saat ini, jika nyawa Nyokap tak bisa tertolong dan meninggalkan Gue selamanya.


“Ya Tuhanku… Jangan siksa Anak SMA dengan ujian seberat seperti ini, Aku bener gak sanggup lagi,” lirihku memohon pada Tuhan yang maha kuasa.



“Aku Anak SMA masih Perawan, ada mau beli Perawanku?Gue BU nih buat biaya operasi Nyokap Gue,” teriak Gue.



Entahlah, setan apa yang merasuki Gue? Tiba\-tiba Gue manjadi Monster yang mampu menonjok dan menendang dinding berkali\-kali. Tararaaammm... Alhasil punggung Tangan Gue berdarah dan memar.



“Fiugghhh... Berilah kesabaran untukku, sudah hampir 2 bulan ini harus bolak balik RS\-Rumah\-Sekolah dan semoga cepat berakhir semua ini,” ucap Gue. Harapan dan Doa terus Gue panjatkan seolah Tuhan ada di samping Gue.