
Sebulan lebih Gue jadi penghuni tetap di Rumah Sakit ini, bukan sebagai Pasien atau Staff apalagi Dokter, tapi sebagai Wali buat Nyokap.
Sebelumnya rawat jalan bolak-balik periksa. Finally, dari hasil general check-up dan juga CT-Scan keluarlah hasil yang bikin Gue drop, yaitu Nyokap terkena Kanker Usus Stadium 4.
Sementara itu, Penyakit Nyokap bukan cuma Kanker, tapi juga penyakit gangguan mental yang sudah Tiga tahun lebih dideritanya. Dokter menyarankan, supaya Nyokap dirawat inap karena Gue masih harus Sekolah jadi gak ada waktu buat ngerawat.
Dokter tidak menyarankan Kemo karena Stadiumnya sudah lanjut, kalo pun memaksakan Kemo hanya akan menyakiti Pasien. Ditambah lagi kondisinya lemah yang tidak memungkinkan.
Nyokap saat ini hanya Diam seribu bahasa dan sesekali menyeka air mata membasahi pipinya. Entahlah, Sakit apa yang dirasa? Sakit Hati atau Sakit dari pusat nyerinya. Nyokap sering teriak-teriak, tanpa mengatakan bagian mana yang sakit.
Dengan kondisi saat ini, Gue hanya bisa berdoa semoga semua baik-baik saja. Kalo boleh berharap, pengennya Nyokap segera Sehat lagi dan badai ini bisa cepat berlalu.
Tak ada kalimat yang berani Gue ucapin depan Nyokap, meskipun Nyokap juga gak pernah merespon setiap Gue ngomong. Gue cuma bisa memeluk dan sesekali menghapus air matanya, kenyataannya Nyokap juga gak peduli dengan sekitarnya.
Ditambah lagi, kondisi fisik Nyokap saat ini udah banyak berubah dari Badan kurus kering karena hilangngnya nafsu makan, kulit wajah pucat pasi dan rambut rontok. Semua itu nambah beban pikiran, Gue merasa berdosa dan gak becus buat ngerawat Nyokap.
“Aku ke luar dulu ya Mih.” Gue pamit sambil melepaskan genggamannya. Jujur, Gue udah gak tahan pengen mewek dan teriak sekeras mungkin di tempat rahasia. Seperti biasa tak ada respon dari Nyokap, hanya tatapan kosong tertuju ke langit-langit.
“Tuhan, Aku gak sanggup lagi dengan semua ini. Tolong kuatkan Aku, supaya tetep sehat dan kuat merawat Mamih dan juga Adikku Viona. Dan satu lagi ya Tuhan, sebentar lagi Aku akan menghadapi UN, semoga Aku bisa melewatinya dan segera lulus.” Doa-doa yang Gue panjatkan disetiap sujud. Termasuk meminta kesembuhan Nyokap meskipun itu mustahil, tapi Gue tetep lakuin tiap menit memohon sama Tuhan supaya Nyokap sembuh.Titik!
Awalnya Gue pengen ke tangga darurat karena di tangga darurat bisa mewek sepuasnya tanpa ada yang tau. Tapi gak bisa karena tiba-tiba pihak Finance RS nelpon Gue diminta ke Kasir. Gak pake lama, Gue pun langsung ke kasir.
Yup, Rumah Sakit X yang terletak di Jakarta Selatan ini Lumayan berkelas. Selain semua fasilitas kesehatan yang komplit. Dari segi kebersihan jangan diragukan lagi.
Semua fasilitas lengkap. termasuk ada Resto dan Café, free wifi disetiap Kamar, Kids Play Ground, Mushola, Laundry, Salon, Minimarket, Atm center dan yang terpenting adalah pelayanan dari RS yang sangat memuaskan dengan adanya alat-alat canggih dan modern.
Ibarat kata. Kita beli Barang ada harga, ada rupa. Nah… RS ini juga begitu, karena semua pelayanannya memuaskan jadinya lumayan mahal.
Gue milih RS ini bukan karena Gue Orang “kebanyakan duit”, tapi karena jarak antara Rumah Gue dan Rumah Sakit gak jauh. Hanya butuh waktu 5 menit untuk sampe ke RS ini dengan naek Sepeda Motor.
Menurut Gue sih, hasil dari penelitian selama sebulan lebih. Hari sabtu merupakan Puncak Pass kesibukan, karena Dokter-dokter Spesialis sibuk di poli masing-masing yang sudah dipenuhi antrian yang mengular.
Begitupun Apotek, disibukan dengan antrian Pasien yang hendak mengambil obat yang telah diresepkan Dokter. Dan juga parkiran yang tak kalah seru penuhnya.
-/-/-/-/-/-/-/
Di tengah hiruk pikuk lalu lalang Pasien, Perawat, Dokter, Pengunjung dan juga cleaning service telah disibukan dengan tugasnya.
Gue duduk termenung depan kasir rawat inap, sedang menunggu merinci total biaya keseluruhan Operasi Nyokap nanti.
Akhirnya, Wanita berjilbab hijau toska itu menyerahkan satu lembar kertas, dengan santai dan biasa ketika menghadapi Wali dari Pasien dengan mimik wajah memelas dan kucel plus galau karena memikirkan Kesembuhan dan juga biaya.
“Dengan Wali pasien Bu Widya? Berikut ini setelah Saya rinci semuanya kurang lebih segini Jumlahnya. Untuk info saja ini sudah termasuk biaya Operasi, Dokter, Obat-obatan dan Perawatan pasca Operasi selama 1 minggu dan 2x kontrol rawat jalan berikutnya. Oh iya ini merupakan Contoh dari salah satu Pasien yang selesai Operasi di bulan kemarin, ya jadi kurang lebih segini ini,” Jelasnya sambil menunjuk pada selembar kertas.
Rp. 98,546.000.00,.
“OMG… Semahal inikah untuk bisa mengangkat tumor sialan itu?” Bathin Gue terus membeo dan juga terus mikirin gimana caranya dapatin uang segitu banyaknya.
“Oh iya Mba, deposito atas nama Bu Widya sudah harus diisi lagi ya, soalnya mulai menipis.” Tambahnya.
“Emang tinggal berapa depositonya?” Tanya Gue was-was, sembari Gue remas kertas rincian dengan sengaja.
“Rp. 2,330.000.00,.” jawabnya singkat. Lalu menuliskan angka di kertas post it kuning.
“Pardon me??? Gimana ini ya Tuhan???” teriak Gue syok, alhasil Orang-orang sekitar pada noleh ke arah Gue.
Gimana gak kaget, 37 hari yang lalu Gue masukin deposito ke Rumah Sakit ini 100jt dan hari ini udah habis aja dan harus diisi lagi.
Sementara Asuransi yang Nyokap punya sudah membatasi klaim dan Satu lagi Asuransi Nyokap gak tidak meng-cover penyakit Kanker.
Sorry to say, untuk pengobatan lewat PBJS pun Gue gak ada waktu untuk ngurus dan antri sana-sini karena lagi-lagi terbentur waktu Sekolah.
Drttt…drttt…drrttt
“Hallo Mbak Cantika, Ibu lagi kambuh. Tolong sekarang juga Mbak ke Kamar Ibu ya.” Pinta Suster Nina dengan suara yang parau. Suster Nina, sudah akrab semenjak Nyokap di rawat inap disini.
Dengan adanya Telepon masuk, langsung buat Gue sadar dan lari ke Kamar Nyokap. Bak tubuh tak bertulang, Gue akhirnya terkulai lemas duduk di kursi samping Nyokap sambil menggenggam tangan supaya bisa menenangkan Nyokap.
Fiughhh, ternyata sudah Satu jam lebih Gue jalan tanpa tujuan, mengelilingi Rs yang lumayan Luas. Disusul Pelukan dan belaian dipunggungnya, membuat Nyokap tenang sesaat. Jujur, gak tega lihat kondisinya sangat menderita kesakitan sampe harus menggigit anduk kecil supaya pas menggertakan gigi, giginya gak patah.
“Sssakiiiit,” ucap Nyokap singkat. Antara seneng dan sedih ketika keluar satu kata. Senengnya Nyokap udah bisa merespon, tapi sedihnya kata pertama yang keluar adalah “sakit”.
Gue cuma bisa senyum, senyum dan senyum. “Sabar ya Mih , Insaallah Mamih sehat lagi dan ini juga kan lagi diobatin di Rs dengan bantuan banyak Dokter,” Gue meyakinkan Nyokap supaya kuat dan tegar.
Jarum jam dinding menunjukan pukul 21.26 WIB. Nyokap pun udah tidur pulas Karena Dokter baru saja datang Visit, untuk memeriksa dan menambah dosis obat yang dibutuhkan.
***Di tangga darurat***
“Seberat inikah beban Anak SMA? Harus berjuang Sendiri,” pecah juga tangis dan berteriak sekeras-kerasnya.
Kalo Papih gak jahat, gak mungkin Mamih bisa seperti ini dan gak mungkin juga Gue nanggung beban seberat ini sendirian. Tiba-tiba keinget betapa kejamnya Bokap sama Keluarganya sendiri, ninggalin Kami bertiga seperti sampah demi si Lont* sialan itu.
Setelah 30 menitan di Tangga darurat akhirnya Gue balik ke Kamar Nyokap, ternyata Nyokap masih tidur pulas. Setelah ngamuk-ngamuk, Dada berasa gak sesak lagi dan Kepala lumayan udah gak pusing lagi dan berasa ringan. Biarlah yang harus kulewati, ya kulewati dengan semestinya. Ikuti semuanya, seperti Air mengalir.
Setelah mengisi beberapa Jurnal dan Quiz online untuk tugas besok akhirnya selesai juga. Sekarang sudah pukul 11.44 WIB Mata pun berasa berat banget.
“Cuzzz ah… Bobo besok Sekolah.” Ucap Gue, berusaha menasehati diri sendiri.
***
Seperti biasa, sebelum berangkat Sekolah Gue pulang dulu ke Rumah untuk mandi, ganti baju dan sarapan. Selain itu, tugas wajib Gue adalah nganter si Bontot Sekolah dan berangkat bareng dengan naek motor Mio Merah yang jadul. Hahaha… Gini aja minjem.
Yup, Motor ini punya Mang Ujang, tukang kebun Gue dulu. Tapi sekarang udah Gue berhentiin dengan terpaksa karena gak ada duit buat bayarnya.
Ketika sampe Sekolah, temen-temen lagi pada ribut ngumpul di depan Papan pengumuman.
“Ada apaan sih?” tanya Gue ke Siswa-Siswi yang lewat, tapi gak ada yang jawab.
Gue pun terpaksa meringsak masuk kerumunan dan lihat Papan pengumuman itu karena penasaran. Yup, itu adalah pengumuman Siswa-siswi yang telat bayar SPP. Khusus untuk kelas 3, jika belum melunasinya dilarang mengikuti UN.
Selamat! Nama Gue juga ada disitu terpampang nyata.
Gue berusaha tenang, setenang mungkin tanpa memikirkan pengumuman tadi. Tapi Jujur aja itu sulit banget, tiap detik Gue jadi kepikiran SPP yang harus di bayar. Disesi waktu break pukul 10.00 WIB, Gue sempetin makan bekel yang dibawain Bi Sum yaitu Nasi, Telor ceplok dan Oreg tempe. Apapun itu Gue syukuri dan nikmati untuk saat ini.
Awal-awal temen-temen heran dengan bekel Gue yang sesederhana ini, tapi lama-kelamaan mereka ngerti dengan sikon yang sedang Gue alami.
“Cantika, Lu dipanggil tuh sama Ms. Aida disuruh ke ruangannya sekarang,” ucap Desy sembari menepuk punggung Gue. Gak pake lama, Gue pun langsung cuzzz meluncur ke ruangan Ms. Aida.
Pertanyaan dari A sampe Z selesai Gue jawab, tanpa ada yang ditambahin ataupun dikurangin. Yup, pada intinya pihak Sekolah ingin tau kondisi Keluarga Gue saat ini dan termasuk keuangan.
Jujur, Gue sih bilang ke pihak sekolah untuk memberikan keringanan supaya Gue masih tetap ikut UN. Kalo pun nanti, setelah kelulusan Ijazah Gue di tahan Sekolah ya gak masalah. Gue juga janji, kalo udah ada Uangnya langsung lunasin semua yang hampir setahun lebih belum bayar.
Ms. Aida juga bilang, kalo Bokap Gue udah gak bisa lagi dihubungi. Gue cuma diam seribu bahasa tanpa mau tau atau komen, karena memang Bokap udah pergi jauh ninggalin Keluarganya. Tak lama kemudian Gue langsung pamit karena kelas berikutnya sudah dimulai.
Jadi ketika itu, Gue masuk sekolah ini bukan keinginan Gue tapi Bokap. Bokap pengen Anaknya sekolah, di sekolah terbaik versi Beliau. Ujungnya malah kek gini, kan Gue sendiri yang repot SPP 15juta/bulan.
Menurut Gue, kalo pun mau pindah sekolah nanggung banget. Satu lagi, untuk bisa masuk sekolah ini juga gak mudah harus melewati beberapa test masuk. Ditambah lagi, 150 juta untuk uang gedung bukan jumlah sedikit.
Begitupun SPP Adek Gue 6 Bulan belum bayar, tapi sempet Gue jelasin tentang sikon saat ini. Ya tapi sama aja sih, memahami atau tidak, tetep yang namanya Sekolah juga harus bayar Gaji Guru-guru, Staff, Listrik, Air dan belum yang lainnya.
Dear Readers... Terimakasih sudah mampir, Tolong kasih ❤️ dan Jejak (komentar) ya hal kecil tapi sangat berarti.