A CAMOUFLAGE

A CAMOUFLAGE
#18 Being Fake Cinderella



Back to CANTIKA. POV



Hadir pula wartawan dari media TV, cetak dan online yang mengabadikan moment pertunangan “fake” ini. Seperti biasa mengambil gambar dan video sesuka hati Mereka, lalu diakhiri wawancara Kami berdua mirip ketua BASARNAS sedang ‘konpres’ penemuan bangkai pesawat jatuh dengan ‘dibrondong’ pertanyaan. Dari awal emang Gue dan Yansen udah di ‘set’ tentang cerita cinta Kami berdua. Dimulai dengan dimana pertama ketemu? Dan hingga berakhir disini untuk bertunangan, bertujuan supaya Orang\-orang gak curiga dengan cerita “Cinderella” ini terbungkus rapih.


Tidak hanya Kami berdua diwawancara tapi juga pihak Keluarga, dan juga para tamu undangan pun tak luput tersorot dari lampu kamera yang secara Live tayang di TV swasta. Bukan karena Yansen seleb terkenal sehingga tayang secara Live begitu saja, tapi Franda bayar mahal TV untuk menayangkannya.


Bagi Gue kilatan dan cahaya lampu camera yang gak ada henti\-hentinya bikin Gue pusing Pala. Dipastikan, seumur hidup nggak bakal lupa semenit pun tentang hari ini, hari dimana Gue jadi “Cinderella”, meskipun ini ‘fake’ tapi Gue bahagia. Semoga dengan adanya pertunangan ini Gue bisa naik kasta, dan berharap besok ataupun lusa gak ada lagi Orang\-orang yang ngerendahin hidup Gue terutama keluarga besar Gue sendiri.



“Ini apaan sih? Jujur deh acara Pertunangan ini heboh banget, padahal cuma makein Cincin trus dipamerin doang yah elahhh. Kapan kelarnya ini? Sumpah deh lama beuddd,” Gerutu Gue terus\-terusan dalam hati karena udah capek dan belum lagi hati bawaannya gak enak mulu.



Gue gak bisa akting ketawa, apalagi tersenyum sama Orang yang gak kenal, dan lebih gak bisa senyum lagi sama Keluarga besar Gue, rasanya Bibir kaku bingit. Bisa lihat Bokap yang sehat dan segar bugar saat ini aja udah seneng. Baguslahh Ortu Gue harus ada yang sehat, seenggaknya yang nyakitin harus sehat karena yang disakitin sekarang lagi sekarat. Mereka sengaja datang menghadiri acara Pertunangan Gue, tak lain buat cari muka dan menjilat guna mendapatkan partner bisnis baru dengan leluasa.



“Kalo diizinkan, Gue pen nembak\-nembakin Orang yang telah menzolimi hidup Gue sekarang juga,” bathin Gue kesel liat Oma dan Tante Mia sok\-sokan perhatian ma Gue.



Au ahhh! Kok Gue jadi kepikiran Nyokap. “Ya Tuhan, tolong jaga Mamihku sebentar aja, Aku disini sedang menjalani kewajibanku atau lebih tepatnya menepati janjiku pada orang yang telah menolongku,” ucap Gue terus berdoa. Sembari menyeka Air Mata yang tiba\-tiba rembes.


Lagi dan lagi lampu camera masih mengarah ke arah Kami berdua sebagai pasangan baru, gerakan apapun itu akan terekam Camera dan Gue ngedip sekalipun bakal ada buktinya. Tangan kanan Gue terus ‘nyantel’ ke tangan kirinya Yansen seolah Gue gak mau lepas.


Sementara Yansen dengan biasa acting tersenyum ramah pada siapapun, beda dengan Gue yang kecut dari awal dan irit bicara. Apalagi kehadiran keluarga besar Gue bikin il\-feels banget deh.



“Buat hadir di pesta tunangan aja pada bisa, tapi giliran Gue SMS, telpon dan WA minta duit aja kagak ada mau gubris. Pokoknya pada tega banget, apalagi yang namanya Pambudi yang ada malah nomer Ponsel Gue diblokir. Apa bener yang begitu namanya seorang Bapak? Lu boleh benci sama mantan Bini, tapi gak boleh benci sama Anak\-anak Lu karena gak ada yang namanya bekas Anak,” cicit Gue gak bisa ditahan lagi.



“Hahaha... sabar dan tahan dulu emosinya ya Nona Cantika yang Cantik jelita. Btw, Kita sedang menjalani “peran” jadi tolong tersenyum manis di depan kamera ya. Setidaknya tunjukan pada Mereka Kalo Kamu bahagia bertunangan sama Aku, Ok!” Goda Yansen tersenyum, dan tak sengaja Dia denger unek\-unek yang Gue keluarin.



“Heheh... Iya kak, maaf banget ya Aku lupa,” timpal Gue.



“Bangke Beuddd! Sumpah Gue eneg banget liat Keluarga Gue yang sok\-sok an perhatian dan meluk\-meluk Gue lagi. Cepetan balik Lu pade, ogah liat muka\-muka penjilat,” maki Gue dalam hati.



Tiba\-tiba MC mempersilahkan Gue dan keluarga duduk bareng di meja khusus yang telah disiapkan untuk acara makan bersama. Begitupun dengan Yansen, langsung nyerobot makan yang ditemani dengan Mama Franda dan Bu Laras. Tak lupa, para wartawan juga tamu undangan sama\-sama menikmati hidangan yang telah disiapkan dan sebagian Tamu memilih cabut duluan.


Sementara, Gue duduk di meja berbeda yang udah didekor sangat mewah nan elegant, tambahan warna Velvet dan emas menjadikan kesan super glamour. Sangat terpaksa karena dorongan MC Gue pun duduk bareng dan berhadapan dengan Keluarga besar.



“Papih bangga sama Kamu Nak, Selamat ya atas pertunangannya dan semoga lancar sampe hari H pernikahan,” ucap Bokap memulai percakapan.




“Jangan nyari masalah ini tempat umum tersorot lampu kamera, inget Kamu sekarang siapa?” Ancam Bokap.



“Oh! Mumpung tempat umum biar semua tahu busuknya Papih sekeluarga, beres kan!” Bales Gue.



“Jangan rusak acara penting Kamu,” hardik Bokap.



“Hah! Penting katamu Pih?! Lebih penting lagi Papih datang ketika Anak\-anak Kamu kelaparan dan hampir mati karena gak ada duit buat beli makan. Lagian gak ada yang peduli juga kalo Aku mati sekalipun. Asal Papih tau, hari ini bukan perayaan pertunangan saja, tapi perayaan “kesuksesanku” menjual diri demi yang lagi sekarat biar bisa sembuh dan demi Aku dan Viona supaya tidak kelaparan.


“Harusnya Papih gak usah datang, Aku malu! Dan asal tau aja, Franda udah tahu semua busuknya Papih dan Nenek sihir,” murka Gue gak bisa ditahan lagi dan menumpahkan semua emosi yang udah lama dipendam.



“Aku berdiri di Ballroom mewah ini, gak lebih dari seorang \*\*\*\*\* yang menjajakan tubuhnya demi pundi\-pundi Rupiah. Tubuh dan hidupku udah kugadaikan. Mau dibilang itu salah? Emang kenyataannya seperti itu. Kedepannya, Papih sekeluarga gak perlu datang ke acaraku, yang ada bikin mood Aku rusak tau!”



“Wajah Papih kok kurang waras ya? Muncul setelah Dua tahun lebih menghilang dan menghindari kewajiban sebagai Ayah dengan tanpa dosa dan beban. Apa pernah minta maaf atau hanya nanya kabarku hari ini? Gak sama sekali!” Teriakku kesal.



Plakkk!


Satu tamparan keras melayang di Pipi kiri Gue, “Cantika, Kamu kurang ajar ya lama\-lama,” hardik Bokap.


Tak lama kemudian, Bokap mengepalkan tangan kanannya lalu membuang muka karena tidak terima dengan apa yang Gue ucapkan dan berjalan menuju pintu keluar. Tante Mia dan Oma pun langsung menyusul karena merasa khawatir, atau lebih tepatnya lagi menahan malu karena yang Gue ucapin bener adanya.



Gue pun duduk seorang diri di meja keluarga, dengan lamunan yang pergi jauh entah kemana? Satu hal, bukannya menyesal dengan udah Gue ucapin yang jadi unek\-unek selama 3 tahun menderita tapi Gue bahagia sangaddd. Biar tau, biar Mereka sadar kejahatan apa yang telah mereka perbuat.



Tak berapa lama kemudian, Yansen menghampiri dan menarik tangan Gue keluar dari Ballroom menuju parkiran, dengan buru\-buru dan mata berkaca\-kaca. “Kamu yang sabar dan tabah ya apapun itu Kita hadapi bersama,” ucapnya. Sembari merangkul Bahu dan menyelimuti Punggung Gue dengan Tuksedonya.



Gue cuma bisa ngekor kemana Yansen melangkah, Sudah dipastikan ada hal buruk terjadi. Gue gak bisa lagi bawel tanya ini\-itu? Karena hati kecil Gue paham, bahwa ini bakal terjadi seperti yang dokter Fredy jelaskan waktu itu.


Pada intinya pihak Rumah Sakit menginginkan Gue ada saat ini juga disana, sayangnya gak sempet ganti baju dan masih memakai Gaun “laknat” ini


Setelah sampai di Rumah Sakit lalu dikasih rekaman CCTV, bahwa Nyokap telah meninggal Dua jam yang lalu. Gue pun menuju Kamar jenazah dengan langkah gontai dan hampir lupa cara bernafas. “Inalilahi wainailaihi rojiun... dan bener adanya Nyokap udah gak bernafas lagi, bathin Gue tak percaya.


Gue cuma bisa manatap nanar lalu nangis histeris, nyesel banget karena Gue gak ada pas Nyokap butuh Gue disaat\-saat terakhirnya. Berasa Kepala mulai berat, pandangan mulai kabur, Badan lemah seketika, nafas mulai berat dan Gue pun ambruk dengan pandangan sangat gelap.