A CAMOUFLAGE

A CAMOUFLAGE
#6 Meet A Fairy



Posisi duduk di lantai, menutup Wajah dengan kedua Lengan dan menenggelamkan diantara kedua Lutut, atau memeluk Lutut Merupakan cara ampuh dalam menghilangkan rasa takut, akibat Kepala kelebihan beban.



Sesekali kuselipkan Doa dan harapan untuk Kesembuhan Nyokap adalah yang paling utama. Lebih tepatnya lagi bermimpi karena bagi Gue mimpi itu gratis dan sebagai penyemangat hidup. Mimpi dimana Gue bisa lagi hangouts bareng temen\-temen, bisa lagi traveling meskipun cuma naek KRL ke Bogor, bisa lagi perawatan Rambut dan Wajah bareng Mamih seperti dulu, Makan di Restoran bareng dan Shopping tentunya. Pokoknya harus kembali “normal” seperti dulu.


Setelah lulus SMA nanti, yang jelas inginnya lanjut Kuliah, atau kalah pun gak Kuliah tahun ini ya gak masalah. Gue pengen Kerja dulu, seenggaknya buat Makan sehari-hari gak harus jual-jualin perabotan Rumah dan gak harus ngutang sana-sini dulu.


Entahlah, mungkin ini terlalu “halu” tapi ini memang semua yang Gue harapkan. Manusia adalah Makhluk egois dan Gue lah salah satunya Makhluk itu, selalu menginginkan kehendak sendiri dan melakukan yang terbaik buat Gue, Viona dan Nyokap.



Ting!



Bunyi Hp membuyarkan lamunan, mimpi, khayalan juga “keHaluan” Gue dengan cepat\-cepat membuka Ponsel. Ternyata ada Message dari sebuah Platform tempat jual\-beli barang\-barang O\*X.



\+6285716316XXX


Malam, Bu. Saya lihat iklan kasur King Koil king size di O\*X masih ada?



.



Me:


Masih Bu


.



\+6385716316XXX


Pasnya berapa?


.



Me:


50 aja Bu


.



\+6285716316XXX


40 Gimana?


.



Me:


Ok


.



\+6285716316XXX


Kapan bisa lihat barangnya?



.



Me:


Besok Sore Jam 5, langsung ke Rumah aja, nanti Saya share location alamatnya.


.



\+6285716316XXX


Sip



Yup, Ini adalah satu\-satunya Kasur yang tersisa dari ke\-7 Kamar. Harga baru Kasur ini bisa beli Mobil baru, sekitar 250juta karena bekas jadi Gue jual di O\*X dengan harga 50juta, tapi Orang tadi nawar 40juta Oke\-in ajalah, lagian kan BU banget.



Hampir di semua Kamar gak ada lagi Furnitures, apalagi di Ruang Tamu, Ruang Keluarga dan Ruang Makan\+Dapur mirip lapangan bola! Habis sudah, ini barang terakhir dari semua Perabotan Rumah. Gue sama Viona tidur di Kasur busa atau lebih tepatnya matras.



Meskipun belum deal dengan Peminat Kasur tadi, tapi seenggaknya lamunan Gue udah kemana\-mana. Bisa bayar tagihan RS biar pun dikit, buat biaya Makan sehari\-hari, bayar Listrik dan PAM.



Kembali dengan Posisi semula, menenggelamkan Kepala pada kedua lutut... Meskipun hawa dingin mulai menyelimuti, tapi entah kenapa Gue merasa nyaman berlama\-lama duduk disini.



❤️ ❤️ ❤️



Tdok, tdok, tdok, tdok...



Tiba\-tiba ada suara langkah Sepatu terdengar jelas dan berhenti tepat di depan Gue dan saat itu juga “halu” Gue berhenti.



“Ehemmm... Ada yang bilang mau lakuin apapun demi Ibunya, termasuk jual Perawan. Masih ada gak Perawannya?” Ucap suara Wanita paruh baya, mengusap kepala Gue dengan lembut dan sedikit membubuhi ketawa kecil diakhir kalimat.


Gue beranikan diri mengangkat Kepala supaya bisa melihat siapa Orang misterius ini? Terlihat Sepatu Heels Beigi Suede dari merk Chanel, Kaki jenjang dan mulus terawat, meskipun sudah berumur. Dengan memakai Rok model strapples dibawah lutut yang senada dengan warna Sepatu.



“Ikut Saya yuk ke Restoran sebentar aja, Saya mau minta bantuan Kamu,” pintanya dengan suara berbisik, sambil menarik Tangan kanan.



Tidak ada bantahan atau penolakan, Gue langsung “ngekor”.



Tampak Rambut pendek Hitam lebat disasak rapih, Kalung Mutiara itu jelas terlihat senada dengan Antingnya. Elegant!



Atasan memakai kemeja tanpa kerah, atau lebih tepatnya lagi Kemeja model Kimono berwarna Putih tulang. Dilengkapi tali Pinggang membentuk simpul pita di bagian depan. Cantik!



Menenteng tas dari koleksi Chanel, dengan model classic berwarna Beigi yang senada dengan Sepatu. Gorgeous!



Hemmmm... Wangi banget, dengan aroma parfum yang Gue kenal. Btw, udah lama gak nyium wangi perfume mahal ini. Yup, wangi ini dari salah satu dari koleksi Chanel yaitu CHANCE Chanel. Jadi keinget koleksi Parfume Nyokap, yang udah abis Gue jual\-jualin buat biaya hidup.


“Huhhhh... Maafin Aku Mihhhh, semuanya abis kujual\-jualin buat Biaya Hidup dan berobat Mamih juga,” jerit Gue dalam Hati.



Rupanya, Ibu berkemeja Putih terus menggenggam Tangan Gue, mirip Anak kecil yang digandeng erat Ibunya takut hilang.



Restoran dan Cafe yang buka 24 jam itu terlihat sepi. Dan sekarang Jam Tangan Gue menunjukan pukul 21.56 WIB.



Sebuah keuntungan besar buat Gue dan juga Ibu berkemeja Putih, dengan keadaan Resto sepi karena mau bahas yang sedikit sensi. Ibu berkemeja putih ini memilih tempat duduk di pojok Kanan, yang tidak dilalui Orang\-orang pokoknya sepi banget.



“Silahkan duduk,” ucapnya, sambil menarik Kursi dan mengarahkan Gue duduk supaya berhadapan dengannya. Sebelum duduk, Ibu berkemeja Putih itu memanggil Pelayan Restoran.



Yup, sekarang Gue bisa lihat jelas. Siapa Orang yang duduk behadapan dengan Gue? Seorang Wanita paruh baya yang masih menyisakan Kecantikannya. Kulit Wajah putih mulus dan bening, begitupun dengan Kulit Leher dan Tangan yang tampak kencang terawat, dengan Alis tampak alami hanya dipoles Maskara, bulu Mata lentik yang diperjelas bantuan eyeliner. Ibu berkemeja Putih ini, lebih tepatnya mirip dengan Ratna Dewi Soekarno, di Jepang lebih dikenal Debby Soekarno atau Dewi Fujin \(salah satu Istri dari Presiden Soekarno\). Cantik!



“Mas, Teh Anget dua, satu Burger, satu Coklat anget, satu Salad dan satu Yogurt Mangga ya,” pesannya pada pelayan Laki\-laki. Tanpa melihat daftar Makanan di Menu.



“Apa Dia Dokter yang sering Makan disini?”



“Apa Dia Wali Pasien sama kek Gue yang berbulan\-bulan disini?”



“Apa Dia Owner Restoran ini barangkali?”



“Ahhh, tapi serahlah Dia Siapanya RS ini?”



Yang jelas Gue penasaran banget, Dia mau minta tolong Apa? Dengan menanyakan keperawanan Gue tadi?



Please! Cepetan dong ngomong Ibu Cantik “The Chanel addicted”. Biar Gue tau dan gak penasaran lagi.



Tak lama kemudian, dua Gelas Teh Celup dengan merk “TJong Ji” disuguhkan oleh Pelayan Laki\-laki tadi.



“To the points aja ya Sayang,” ucapnya. Disusul dengan mencium dan menyeruput secangkir Teh yang masih panas, lalu kembali menatap Gue dalam dan tak berkedip.



“Entahlah, Gue penasaran Apa Dia Peramal? Yang bisa baca pikiran Manusia,” tebak Gue. Gue cuma bisa menunduk dan diam, sesekali membalas tatapan Mata Elang itu yang seakan ingin menerkam Gue hidup\-hidup.



“Begini, Saya berharap Kamu bersedia Menikah sama Anak Saya, nanti Saya bantu Kamu semuanya. Mulai dari biaya pengobatan Ibu Kamu, biaya Kamu sehari\-hari, termasuk Kamu harus lanjut Kuliah. Atau ikut Les\-les Masak, Make\-up atau Jait. Pokoknya yang menurutmu itu cocok dengan minat Kamu deh.”



“Atau barangkali Kamu mau Kuliah? Saya pun akan support itu semua sampe Kamu lulus. Saran Saya sih, kalo Otak Kamu mampu Kuliah Jurusan Kedokteran aja supaya sepadan dengan Anak Saya.” Jelasnya, dengan sesekali menarik nafas dalam Ketika menyebutkan Anaknya.



“Whattt? Whattt? Gue harus Kuliah di Kedokteran, mau, mauuuu pokoknya mau banget.” Teriak Gue dalam hati, dengan perasaan yang gak percaya dan meledak berbunga bahagia. Gue hanya tersenyum dan mengangguk ramah.



“Ya, Pokoknya Kamu harus Kuliah, supaya Kamu punya Pride untuk Kamu sendiri dan juga Keluargamu.”



“Oh iya, Kamu jangan khawatir saat Nikah dengan Anakku, Dia itu Gay jadi Kamu aman. Kamu bisa simpan Keperawananmu untuk Suami “real” yang Kamu cintai kelak.”



“Asal Kamu tau, Pernikahan ini sebagai formalitas saja. Supaya pihak Keluarga Besar, Sahabat, Teman, Kolega, bahkan Rekan bisnis Saya tidak curiga dengan kelainan pada Anak Saya.”



“Saya Orangnya terbuka dan memahami itu, tapi tidak dengan Orang\-orang disekeliling Kita, mereka tidak memahami itu sama sekali. “ Ucapnya panjang lebar. Dan kembali menyeruput Teh dalam\-dalam, dengan pandangan fokus terus menatap Gue serius.



“Setelah menikah, Kamu harus tinggal bareng dengan Anak Saya, mengurusi semua kebutuhannya. Dan yang paling penting supaya lingkungan sekitar tidak curiga.



“Setiap acara Keluarga Kamu harus datang, lebih bagus lagi Kalo datangnya sama Yansen. Saya tidak berharap banyak dari “Pernikahan Kontrak” ini. Saya hanya mau, Sejarah mencatat bahwa Anak Saya pernah menikah dengan Wanita.”



“Walau bagaimanapun Yansen tetep Manusia dan Anak Saya satu\-satunya. Cacat dimata Orang lain, tapi Mulus dimata Saya, yahh mungkin karena Saya Ibunya. Saya akan akan terus melindunginya.”



“Yansen Orang baik dan Dia seorang Dokter Bedah Jantung di RS cabang yang di BSD, umurnya 40 tahun.” Jelasnya, dengan tersenyum lebar dari Bibir nude yang senada dengan eyeshadow.



“Oh iya, sampe lupa perkenalan kalo udah keasikan ngomong begini nih Saya. Kenalkan, Nama saya Franda, Kamu panggil Saya Mama saja, sama Yansen juga manggil Saya Mama.” Ucapnya, terbahak dan menyodorkan Tangan menggenggam Tangan Gue.



“Iya Bu, eh Mama maaf lupa, Saya Cantika, Salam kenal juga,” ucap Gue gugup tertunduk malu, membalas perkenalan yang terlambat tadi, karena baru pertama ngobrol dengan Orang yang Asing.



“Kalo Kamu setuju, besok Saya bawakan kontraknya yang harus Kamu tanda tangan. Saat itu juga, Saya transfer 1 Milyar ke Rekening Kamu. Kamu dapat Satu unit Rumah, di Cilandak gak begitu gede sih cuma 500m2, dua unit Mobil buat Kamu dan Ibu Kamu dan lain lagi dengan Deposito buat masa depan Kamu.”



“Oh iya, karena Kamu nanti yang “ngurusin” Yansen di Apartmentnya, nanti Saya kasih Uang jajan tiap bulannya 100juta. Itu termasuk untuk biaya Makan, Kuliah dan life style Kamu juga ya.” Tambahnya, dengan menjelaskan semua secara gamblang.



“Asal Kamu tau, Anak Saya itu celebrity karena memandu acara kesehatan di salah satu TV Swasta. Jadi, nanti pas Kamu Tunangan dan lanjut Nikah, jangan kaget kalo Media mengekspos hidup Kamu, Ok!” Ucapnya bangga pada Anaknya, dan kembali meyakinkan kalo pernikahan ini akan banyak menguntungkan Gue.



“Mama Franda yang Cantik, Aku gak peduli mah anak mamah itu Celeb atau Bukan. Yang Aku mau “uang” Mama sekarang.” Bathin Gue terus membeo.



Setelah 30 menit percakapan Kami yang serius. Pelayan Laki\-laki dengan cepat menata pesenan di atas Meja berupa Burger, Yogurt Mangga, Salad dan Coklat anget.



“Ini Burger dan Coklat anget buat Kamu, Kamu masih butuh Makanan itu karena Kamu masih muda, “ucapnya. Dengan menyodorkan Burger dan Coklat anget.



“Ayo dimakan, jangan malu\-malu,” perintah itu menegaskan dengan bahasa di Matanya.



“Salad dan Yogurt buat Mama, karena Mama sudah berumur jadi harus menjaga pola Makan”. Jelasnya, sambil menyuapkan Salad dengan campuran smoked beef, telor rebus dan taburan Roti panggang.



“Ini Kartu Nama Mama, kalo Kamu berminat langsung hubungi Mama ya. Besok Kita bisa ketemuan disini lagi jam 10 pagi mumpung masih sepi.” Pintanya dan senyuman kemenangan sambil berbisik.



Sebelum Bu franda melangkah jauh, meninggalkan Gue. Tanpa pikir panjang dan berbelit\-belit bak drama Korea.



“Aku siap, Aku mau Bu, sekarang aja tanda tangani Kontrak itu.” Ucap Gue tiba\-tiba se\-berani ini sama Orang yang baru kenal. Dengan menarik Tangan dan menggenggamnya tanpa beban. Apapun yang terjadi setelah nikah nanti “bodoamat”.



Yang ada dipikiran Gue saat ini, Gue BISA BAYAR biaya Operasi Nyokap. Selain itu, Gue bisa terbebas dari yang namanya “beban keuangan”, hutang\-hutang dan tunggakan bisa segera dilunasi, termasuk SPP Sekolah Gue ma Viona.



Toh, setelah Mamih operasi akan lebih banyak lagi kebutuhan. Gue gak mau munafik atau jual Mahal. Jujur, saat ini sangat BU \(butuh uang\). Jangankan “pernikahan Kontrak”, Jual Diri sekalipun akan Gue lakuin Demi Nyokap bisa operasi.



“Ya udah Kamu ikut ke Rumah Mama sekarang, gimana mau?” Ajaknya



“Iya.” Langsung mengiyakan ajakannya, sambil menganggukan Kepala tanpa curiga.



“Kita bikin bareng point\-point perjanjiannya, Hak dan Kewajiban antara Kamu dan Saya. Supaya suatu hari tidak ada yang dikecewakan. Gak lama Kok, kontrak itu cuma 5 tahun aja.” Tambahnya, dengan menggenggam erat Tangan Gue dan beriringan menuju Lobby utama.



Di Lobby terparkir sebuah Mobil Mercedes AMG GT 63 S berwarna Putih. Dengan sigap, Lelaki berbaju Safari Hitam membukakan Pintu untuk Kami berdua.



“Edi, Kita langsung ke Rumah Ancol aja ya,” pintanya pada Lelaki itu.



Begitupun Pak Edi, langsung menganggukan Kepala dan berkata, “Siap Bu”.



Dalam perjalanan ke Rumah Mama Franda, Gue gak berani membuka percakapan. Gak ada keberanian untuk itu, hanya menunduk dan sesekali melihat keluar jendela tampak jalanan yang masih macet.



Jam Tangan menunjukan pukul 23:34 WIB sudah larut.



“Semoga Mamihku baik\-baik aja, Mih... Bentar Aku ada sedikit urusan ya, sabar sedikit aja. Nanti setelah selesai Aku ke samping Mamih lagi.” Bathin Gue meracau, berusaha mengirim pesan lewat “telepati”.