A CAMOUFLAGE

A CAMOUFLAGE
#11 Fitting



Jam Empat Sore Langit Jakarta masih sangat Terik, saking teriknya Sinar Matahari Sore mampu menghangatkan Kulit dan membuat Silau Mata. Belum lagi, Polusi bercampur terik Matahari dan kemacetan Jakarta yang bikin hari Gue Indah banget kalo pulang sekolah. Ulalaaaa...


Ditambah lagi, Bis\-bis Kota dan Angkot yang berhenti ngetem disembarang tempat. Lengkap sudah, Huhuhu....



Jam Empat Bell berbunyi, tanda Kelas less berakhir dan Hari ini less terakhir untuk Pendalaman Materi UN. Setelah itu, Ujian Praktek dari beberapa Mata Pelajaran yang sudah banyak dimulai dan kemudian lanjut Minggu Tenang menuju UN.



Masalah Gue tak hanya dengan keadaan Rumah, tapi sebenernya di Sekolah juga banyak masalah. Salah satunya, banyak jadwal kegiatan Ujian Praktek yang ketinggalan karena banyak Temen\-temen Sekolah yang menolak disatu Kelompokkan bareng Gue. Dengan alasan, hidup Gue terlalu sibuk dan jarang masuk sekolah. Gue gak pernah bisa menang debat dengan alesan seperti itu, memang benar adanya. Waktu Gue kesita untuk urusan Rumah dan juga Rumah Sakit. Alhasil, terpaksa Gue sendirian untuk semua ujian praktek.


Namun, Tuhan gak pernah tidur ‘keleesss’ , Guru\-guru ngedukung Gue dan memberikan Semangat. Untuk tetap berusaha menjalankan Ujian Praktek walaupun Sendirian. Entahlah, mungkin karena Simpati atau sekedar ‘kasihan ’ melihat Gue yang tengah berjuang demi Keluarga.



Dalam perjalanan dari Kelas menuju ke Parkiran Sekolah di Basement. Sontak, Ponsel bergetar yang di Otak Gue cuma Satu yaitu Nyokap tapi ternyata Nomor tak dikenal muncul.


Drrt, drrt, drrt...


“Hallo... Cantika, ini Yansen. Kamu Apa Kabar?



“Baik Kak”, jawab Gue heran kok tiba\-tiba nelpon.



“Kamu dimana?” tanya Yansen.



“Aku masih di Sekolah Kak”



“Iya dimananya?” Yansen kembali menanyakan Posisi Gue.



“Sekarang Aku di Parkiran”



“Aku sudah nunggu Kamu di Luar Sekolah, Ayo bareng, Kita sudah ditunggu Mamah di Butiknya Tante Ann.”



“Iya Kak,” jawab Gue datar.



.



What???


Yansen tiba\-tiba jemput Gue di Sekolah.


Tau dari mana Dia Nomor Ponsel Gue?


Heran dan Kaget Kok tiba\-tiba aja jemput?



Gimana jadinya, kalo Gue gak bisa atau gak ada di Sekolah coba?



Kaki berat melangkah, berjalan keluar menuju Gerbang disamping Pos Security, khusus Pejalan Kaki atau Pedestrians. Setelah tengok Kanan\-Kiri ternyata Yansen belum ada, akhirnya Gue pun nunggu beberapa menit di Halte Bus.



Tak lama, ada suara yang memanggil\-manggil nama Gue dengan jelas. Yup, suara itu datang dari Mobil Honda Jazz tahun 2009 berwarna Silver yang tengah Parkir di Mini Market. Bersamaan dengan Tangan melambai ke arah Gue dari Kaca Mobil yang terbuka.


Menoleh dan berjalan menuju Mobil Silver itu. Dengan Wajah ‘ogah\-ogahan’ dan cemberut yang gak bisa Gue tutupin.


Senyum Ramah dari ‘Wajah Capek’ menyambut Gue, sepertinya Yansen baru pulang Praktek.


Jujur, Gue benci banget sama Yansen. Liat Wajahnya aja Jijik, nyebelin dan gak mau jadi Istrinya. Pokonya, pen lari sejauh mungkin. Entahlah?


Dia Celeb, Ganteng, Dokter lagi tapi bagi Gue gak ngaruh bangeudddd... Gue gak suka, apalagi Dia udah Tuwir, umur Gue sama Yansen aja beda 23 tahun.


Tapi mau gimana lagi? Ini udah ‘Deal’ Perjanjian Nyokapnya Yansen dan Gue. Ibarat kata, Gue udah dibeli Mamah Franda. So Irritated!


Lagi, dan lagi tak ada percakapan waktu perjalanan menuju Butik. Dalam perjalanan, Gue terus membuang Muka pura\-pura lihat ke arah luar, lalu merebahkan Badan dan terlelap tidur. Sampe akhirnya, tiba juga di Butik Mewah itu.


Yansen memanggil Nama Gue sambil mengelus\-ngelus Pipi Gue. “Cantika Ayo bangun, Kita udah sampe nih,” ucapnya.



Kok dalam Hati Gue sedih dan pengen ‘teriak’ sekenceng mungkin ya, waktu Yansen sentuh Pipi Gue.



“Mamih, tolong Aku Mih. Om ini Nakal Dia sentuh\-sentuh Pipi Aku,” bathin Gue mulai membeo kesel dan inget Nyokap.



Gue berusaha membuka Mata dengan terpaksa, gak lupa mengelap Pipi yang tadi dipegang Yansen.


Setelah Gue bangun, Yansen segera turun dari Mobil dan membukakan Pintu, dengan Senyuman Ramah.


Gue masih dalam keadaan setengah sadar karena Gue bener\-bener ketiduran ‘lelap’ banget. Hampir Dua Jam lebih, perjalanan dari Daerah Ragunan menuju PIK \(Pantai Indah Kapuk\).


Tibalah, disebuah bangunan mewah dengan Empat Pillar dan Pintu kayu Dengan ukiran Jepara yang Cantik. Begitupun, Kaca jendela disebelah Kanan dan Kiri, dengan ukuran menjulang tinggi sama dengan Pintu.


Ketika Daun Pintu dibuka, disambut Bunga Lili Pink berukuran besar di Meja yang diterangi Lampu Kristal menggantung mewah. Hemm... tercium aroma Bunga Lili yang khas.


Pemandangan lain, disuguhkan oleh Beberapa Kursi dan juga Meja dengan Warna dan Type berbeda\-beda. Sepertinya, dibuat nyaman untuk Customers yang menunggu hendak membuat Gaun.


Tentunya, berbagai macam Model Baju Pengantin dari ala\-ala Daerah Indonesia hingga Internasional terpajang. Tampak Bridal Gown itu tergantung rapih, berdasarkan Warna dari White, Broken White, Peach, Pink, Pink dusty, Blue, Tosca, Orange, Grey and Black. Wow, so Gorgeous...


Mata Gue dimanjakan oleh Pemandangan Indah dari Gaun\-gaun Pengantin juga bunga Lili dan Hidung dimanjakan dari aroma therapy Bunga LiLy, So Relaxing.



Mama Franda sudah menunggu dengan tenang, sambil memainkan Ipad\-nya. Sepertinya, Mama Franda lagi sibuk dengan meeting via Zoom meeting.


Tampak, memperhatikan Screen IPad dan sesekali memberikan argumen sambil mencatat sesuatu di Bukunya. Tak kalah sibuk, Seorang Sekertaris tengah Duduk disamping Mamah Franda yang juga ikut mencatat. Yup, Sekertaris itu Wanita Dewasa yang berumur 40 an.



“Ma...”



“Mamah...” Sapa Yansen dengan suara lebih keras lagi.



“Oh hey, udah datang kalian Rupanya... Maaf ya mamah lagi sibuk nih, ada Kerjaan dikit \(Meeting via Zoom\). Soalnya mama gak bisa datang ke Swiss, Duh lagi males banget Pergi jauh\-jauh.” Ucapnya, sambil meminta Izin untuk Rehat sejenak ke Lawan Meeting\-nya itu. Disusul, mencium Yansen erat, dan kemudian Memeluk Gue.



“Hey, little One. How are You? Long time no see ya,” sapa Mama Franda. Dengan tangan masih sibuk tertuju ke Ipad dan juga Ponselnya, disusul Beberapa kali menjawab panggilan masuk.



“Baik Mah,” Jawab Gue tersenyuman Ramah dan disusul mencium Tangannya.



Tak lama kemudian, Wanita Paruh Baya dengan ciri khas Sanggul dan Bunga segar terselip di Rambutnya datang.


Yup, Beliau adalah Orang Hebat dan kebanggaan Indonesia. Sang Designer pun masuk ke Ruangan, dengan senyum Ramah. Umurnya sekitar 60an, tapi masih tampak muda dan sehat. Didampingi Satu Orang Asisten Wanita yang sudah siap dengan Buku, Pencil dan Pencil gambar di tangannya. Kami, bersalaman dan berkenalan.


Tante Ann, biasa Yansen manggil Sang Designer itu. Beliau langsung melihat Badanku, tak lupa memuji dan menawari Gue jadi Model buat acara Fashion Show bulan depan. Gue cuma bisa tersenyum, karena mau gimana pun, gak punya basic dan juga Pengalaman di bidang permodelan atau Catwalk.


Mama Franda langsung menolak mentah\-mentah tawaran Tante Ann itu. “Tapi untuk menjadi tamu undangan atau membantu sesekali jadi Model bolehlah,” Ucapnya sembari tersenyum.



Setelah bincang\-bincang, tiba saatnya memilih Baju yang sudah disiapkan. Tante Ann langsung membawa beberapa Baju atau lebih tepatnya mirip Gaun pengantin. Bukan Gue yang milih Model gaunnya, tapi Mamah Franda. Begitu pun sepatunya yang sengaja dipesan Satu set.


Ada Tiga Gaun yang dipilihkan, lalu Gue dan Yansen di gandeng Tante Ann untuk masuk ke sebuah fitting room dengan ukuran Ruangan lumayan luas 4X4.



“Ihh... Kok Yansen ikutan masuk ke sini sih nyebelin deh,” kesel Gue.



Setelah Gaun melekat di Badan Gue, tirai dibuka otomatis dan Badan Gue ikut memutar ke arah Mama Franda tanpa harus susah\-susah putar balik Badan. \(Keren yah, kek di film\-film, huhhh mimpi Apa Gue? Norak kan\) Hehehe...



Gaun pertama yang Gue pake kali ini, dengan model ala Cinderella. Susah juga ternyata memakai Gaun Pengantin itu, harus butuh bantuan setidaknya Tiga Orang. Seksi banget Gaun ini, Payudara Gue hampir luber, dengan atasan Model Sabrina. Wow...


Yansen hanya Diam melihat Gue tanpa Ekspresi, tanpa menunjukan suka atau gak suka. Sedangkan, Mama Franda memuji terus\-terusan dan bilang, You’re So beautiful darling.



Kemudian, lanjut dengan Gaun Kedua. Gaun Putih Tulang dengan taburan Mutiara, bagian Dada tertutup rapat sampai leher dengan model turtles neck, dan bagian Lengan dibiarkan terbuka memamerkan Ketiak. Bagian bawah Rok ala Gelas Wine, yang menggelembung sampai Selutut.


“Terlihat sederhana dan terasa nyaman, tapi kurang Wah,” ucap Mama Franda.



Gaun Ketiga, lebih Modis menurut Gue dengan memakai tambahan Bahan Brokat. Dengan Bagian bawah mengambil Tema ala Putri Duyung. Atasan, dengan Model dibagian depan tertutup dan Punggung dibiarkan terbuka membentuk V sampai ke Pinggang. Gaun Cantik ini, dipadukan dengan Kalung Emas Panjang yang menghubungkan Bahu Kanan dan Bahu Kiri dan tangan panjang.



Dari Ketiga Gaun yang Gue Coba, Gue lebih ‘sreg’ yang Ketiga. Bagian Punggung terbuka dengan Kalung emas dan mutiara sebagai penghubung di bahu, So Gorgeous.



Beberapa kali Yansen menatap Tubuh Gue, Gue cuma pake CD \(Celana Dalam\) berwarna Putih. Gue sih cuek aja, toh Dia juga gak nafsu sama Gue. Gue biarin Yansen menonton Bagian Dada, Perut, Kaki Jenjang dan Punggung. Yansenlah adalah orang pertama lihat ini.



“Kamu suka yang mana? Untuk Calonmu,” Tanya Tante Ann pada Yansen. Sembari menata kembali Gaun\-gaunnya itu, yang dibantu oleh Asistennya.



“Belum tau ”, jawabnya, sembari mengangkat Kedua Bahunya.



“Kalo Kamu suka Yang mana?” Tante Ann mencoba bertanya ke Arah Gue.”



“Yang Ketiga,” Jawab Gue singkat. dengan masih telanjang Dada dan menggunakan CD, sembari ikut membereskan Gaun Pengantin.



Tiba\-tiba Yansen memakaikan Cardigan yang Ia kenakan, untuk menutupi Dada Gue tanpa satu kata pun. Setelah itu, Dia kembali Duduk disamping Tante Ann.



Tak lama kemudian, Mama Franda masuk dan memberikan pernyataan Kalo Gaun ke Tiga lebih bagus, yeayyy sama selera kita.


Fixed, Gaun ke Tiga. Permintaan Mamah Franda, dikasih taburan Mutiara Air laut yang grade AAA dan Simpul Pita dibagian belakang untuk menambah Cantik lagi. Begitupun Tante Ann, langsung mengiyakan.



Akhirnya, Fitting pun kelar. Mamah Franda masih harus meeting lagi dengan beberapa Rekan Bisnisnya dan cabut duluan.



Setelah berada di dalam Mobil, lagi\-lagi tak ada percakapan diantara Kami.


Tiba\-tiba bunyi ‘Dangdutan’ dari Perut Gue keceng banget ’Lavaaar’ dan gak bisa diajak kompromi. Bunyi berkali\-kali, padahal udah Gue tahan dari dalam dan luar. Tapi tetep aja masih bunyi. Gue malu, cuma bisa liat kaca Jendela pemandangan sudah Gelap.


Sampe akhirnya, Yansen membelokan Mobilnya ke sebuah Mall yang berada di Bibir Laut. Tanpa ada kalimat ‘pamit’ ngajak Makan.



\-^\_^


Mohon Maaf, episode ini banyak banget typo\-nya.