A CAMOUFLAGE

A CAMOUFLAGE
#9 A Roller Coater



Dunia Fantasi



Yup! Hidup Gue itu Seru beuddd... Seseru naik wahana permainan Roller Coaster, kadang ada diatas dan harus ada di bawah tiba\-tiba.



Menurut Gue ini Takdir dari Sang Maha Pencipta. Mau tidak mau, siap tidak siap ya Kita harus bisa terima itu semua dengan mengikuti alur yang sudah ada karena Kita sebagai Manusia, sudah punya Garis atau jalan Hidup masing\-masing.



Ketika posisi di bawah, seringkali tak bisa bernafas lega karena banyak tekanan yang begitu besar. Disaat, ingin naik lagi menuju Puncak itu pun tidak mudah, harus ada Effort yang kuat dan Satu lagi dibutuhkan a Miracle karena Banyak Jalan terjal menghadang yang harus dilalui. Itulah kehidupan.


Ujian datang silih berganti pada roda kehidupan Naik\-Turun, Pasang\-Surut dan Kembang\-Kempis semua itu bikin Gue Dewasa sebelum waktunya. Bukan Dewasa lagi tapi Tua malah. Sampe Gue sendiri lupa, kalo Gue ini abege yang butuh menjalin Pertemanan, Persahabatan dan bahkan punya Pacar buat cerita Cinta nanti setelah lulus SMA.



Kalo boleh Jujur, Gue gak pernah menikmati masa\-masa Indah SMA, yang sering Orang\-orang bilang masa SMA adalah Masa terindah. Dimana, Sahabat SMA adalah Sahabat sejati yang akan terus awet menemani dan saling melengkapi sampai Masa Tua. \(Katanya\)



Lain halnya sama Gue, yang sibuk dengan Dunia Gue sendiri. Malah, saking seringnya nemenin Nyokap jadi banyak belajar tentang penyakit Psychologies dan bagaimana cara mengatasinya?



Posisi Gue saat ini belum sampe Puncak, slow but sure I’ll be there.



Kembali ke titik awal adalah sebuah harapan, berharap Mamih, Papih, Gue dan Viona di Satu Rumah. Tapi setelah Gue pikir\-pikir Harapan ini cuma ‘halu’, gak mungkin juga Nyokap mau nerima Bokap dan begitupun sebaliknya. Pastinya, kesembuhan Nyokap adalah mimpi terindah bagi Gue. Setelah kehilangan Bokap, sekuat tenaga Gue gak mau Nyokap juga ikut ninggalin Gue.



Berharap, Nyokap Sehat kembali dan bisa pulang ke Rumah seperti sedia kala. Tapi mungkin akan banyak perubahan, dan tidak akan sempurna seperti dulu karena tanpa Bokap. Berharap Nyokap juga udah bisa menerima kenyataan, bahwa Papih sudah meninggalkan Kami bertiga. Semoga Beliau bisa berlapang Dada.



Masih banyak keinginan dan cita\-cita yang harus Gue capai. Paling tidak, Gue udah punya Pegangan yaitu ‘Kontrak Nikah’ dengan Yansen. Setidaknya, itu salah satu alat ‘Kendaraan’ untuk membawa Gue menuju Puncak.



^\_^ ^\_^ ^\_^



Menang Judi


Kemaren\-kemaren Gue itu kere, pokoknya Gembel banget deh. Jangankan mau beli Ponsel terbaru, mau Makan aja susah dan harus Mikir\-mikir dulu dan yang paling penting ada Uang buat beli Bensin, biar Motor bisa Jalan ke Sekolah dan ke RS.



Drama yang paling sedih, sisa Saldo cuma ada Rp.41,000.00., \(Empat Puluh Satu Ribu\).


Dan Hari ini Saldo Gue ada Satu Miliar, atau lebih tepatnya lagi Rp1,040.041.000.00., \(Satu Miliar Empat Puluh Juta Empat Puluh Satu Ribu Rupiah\).


Fyi, yang 40juta itu hasil dari penjualan Kasur bekas. Hehehe...



Itulah rejeki, sekalinya ada ya ada pada datang dan pas kalo lagi anyep, anyep banget.



Tak lupa bersyukur, dengan menunaikan Zakat sebanyak 2% untuk disumbangkan ke Yayasan Kanker dan sesama Penderita Kanker yang membutuhkan.



Gue pengen banget Hidup tenang dan tanpa beban karena itu Gue langsung lunasin semua Hutang\-Piutang. Terutama, tunggakan biaya RS, sekolah, Listrik, PAM dan gaji Bi Sum. Selebihnya, Gue simpen buat biaya Nyokap pasca operasi karena Gue yakin akan lebih banyak lagi biaya yang dibutuhkan.


.


^\_^ ^\_^



Mimpi dan Harapan


Yup, hari ini Gue Sekolah seperti biasa, setelah kemarin bolos karena Badan yang kurang Fit.


Bisa jadi itu pengaruh Red Wine yang bikin Gue ‘Tepar’ banget seharian. Tapi setelah tidur seharian, Badan Fit banget mirip Ponsel yang abis di Charged.


Bisa jadi ini juga pengaruh ‘tamparan’ Satu Milyar eimmm?



Cuaca hari ini di Sekolah Cerah banget, secerah Hati Gue saat ini. Mungkin, karena seminggu lebih kemarin Jakarta diguyur Hujan deras hampir tiap hari.



Mulai hari ini, Gue udah bisa ketawa lepas dan yang paling panting bisa Focus belajar lagi. Malah, Sekarang ada harapan Baru mulai ‘Kepoin’ untuk mendaftar di PTN \(Perguruan Tinggi Negeri\), dan mantengin terus kapan Jadwal Ujian SBMPTN \(Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri\) di mulai.


.



\*\*\*\*\*



Flashback ON



Bumi Yansen


Bertubuh Tinggi sekitar 185cm dan Badan berisi, lebih tinggi Dia dikit deh. Berwajah Maskulin dengan Rahang yang kuat, Mata agak Sipit, Hidung mancung, Bibir penuh, dengan Alis tebal, Bulu Mata lentik dan Berkaca Mata.



Satu lagi, Kulit Yansen berbeda dari Kulit Mama Franda, Yansen memiliki Warna Kulit Sawo Matang.



Rambut gondrong sebahu dibiarkan tergerai acak\-acakan. Orangnya Sopan dan Pendiam, pokoknya Irit banget Suaranya.



Gesture\-nya menunjukan kalo Yansen adalah Orang Baik karena Pembawaannya Tenang, Ramah dan juga Pendiam. Menurut Gue, Wajahnya Khas Orang Indonesia Timur banget. Sekilas mirip Chico Jericho.


Tak ada percakapan diantara Kami Ketika dalam perjalanan pulang menuju RS. Sampai akhirnya, Yansen membuka percakapan dengan nanya alamat.


“Rumahnya dimana?” Tanyanya datar, Sambil fokus nyetir. Entahlah, bisa jadi hanya basa\-basi.



Maklum, Cewek kan biasa ‘Bawel’ Gue pun berusaha menunjukan Alamat Rumah sambil menunjukan Jalan pulang.



Tapi begitu sampe Rumah, Gue malah lupa Kalo tujuan Gue itu ke RS. Dengan terpaksa, Yansen pun memutar balik Mobilnya dan melaju menuju RS yang tak begitu jauh dari Rumah Gue. Begitupun juga Gue, Gue paling anti ngobrol sama Orang asing yang baru kenal.



Malah dalam perjalanan pulang sempet ketiduran nyenyak banget.



“What? Kok Gak jadi pulang ke Rumah, tapi ke malah Rumah Sakit. Emang Kamu sakit apa?”Tanya Yansen, sambil melirik Wajah Gue penasaran.



“Bukan Aku yang Sakit, tapi Mamihku.” Jawab Gue datar, dengan suara parau dan males ngomong karena ngantuk banget.



“Sakit Apa?” Yansen mulai penasaran.



“Mulai Gue jelasin dari A\-Z, dengan sekuat tenaga membuka Mata yang udah Low Batt.



Yansen mulai mencuri\-curi Pandang ke arah Gue, dengan pura\-pura melirik Spion.


“Ahh cie\-ciehh Hahaha... Ketauan Kamu, melihat Akoh yang Cantik ini ya.” Bathin Gue mulai ngoceh ke\-pede\-an dan pura\-pura tidurrrr pulesss....



Pas di Lampu Merah, Yansen sepertinya bisa membaca situasi kalo Gue lagi BU dan pada akhirnya Gue terima tawaran Nikah dengannya. Dalam diam Yansen mengedarkan Pandangan, menerawang ke arah Kiri Spion samping Gue dan lanjut ke atas melihat gedung\-gedung.


Setelah Lampu Lalu lintas Hijau kembali Menyala, Yansen menarik Nafas dalam. Seperti mengirimkan ‘Sinyal’ Dia memahami posisi Gue saat ini, sambil mengangguk\-anggukan Kepala dan mengulum Bibirnya.



Ketika tiba di Rumah Sakit, Yansen sempet menanyakan siapa Nama pasien Mamihku. Dengan tanpa rasa Curiga, langsung Kukasih tau Nama Nyokap.



Tak lupa, Gue ngucapin Makasih banyak karena sudah repot\-repot nganterin Pulang.



Yup, akhirnya Gue sampe juga di RS. Tanpa ragu Gue masuk melalui Pintu UGD \(Unit Gawat Darurat\), seperti masuk ke Rumah Kedua tanpa keraguan dan sudah terbiasa. Senyum dan Sapa dari Perawat menyambut Gue ramah, maklum sebulan lebih udah jadi penghuni tetap.



Flashback OFF