
Oma: POV
Muncul juga Anaknya Pambudi di depanku. Ya itu Dia, Cantika, sesuai namanya Anak itu Cantik parasnya mengikuti garis Ibunya, Widya.
Dengan warna Kulit kuning langsat, Rambut hitam nan lebat, Iris Mata besar berwarna hitam legam dengan kelopak Mata membentuk biji almond, bulu Mata lentik, Bibir penuh dan berwarna merah, tinggi semampai sekitar 170cm dengan Dada dan Bokong penuh.
“Sudah besar rupanya Anaknya Budi,” pikir liar. Ingin langsung mencarikan jodoh atau menjualnya Cantika demi melebarkan Anak perusahaanku.
Setidaknya, Anak ini tidak mengetahui apa\-apa yang terjadi, kalau sebenernya Akulah dalang dibalik semuanya.
Jujur, Aku sangat berdosa melihat Keluarga kecil Pambudi berantakan seperti sekarang ini. Namun, apa boleh buat inilah yang Aku harapkan karena dari awal, Aku tidak menyetujui pernikahan Pambudi dengan Widya gadis kampung dan miskin itu.
Cantika dan Adiknya biarkan Mereka tumbuh dengan seadanya, mau jadi apapun nanti Aku tak peduli, terserah! Toh, Aku gak mengakui Mereka sebagai Cucuku hanya saja di depan Budi saja, Aku seolah menyayangi Cucu\-cucuku padahal itu “acting”.
Hemmm... Malam ini rasanya, malam terbaikku karena bisa mentertawakan derita Cantika dan Widya yang sedang sekarat.
Jangankan Uang 1 Miliar, 1 Juta US$ pun bisa Aku berikan malam ini juga, tapi itupun jika Aku setuju. Nilai 100 juta yang Cantika butuhkan adalah nilai receh bagiku. Namun, tak bisa Kukasih begitu saja untuk nyembuhin luka Widya, apalagi luka itu Aku sendiri yang buat. Hahaha.... No Way!
Aku bukanlah Orang bego, yang mau memberikan Uangku begitu saja. Apalagi untuk menyelamatkan nyawa Orang yang telah mengambil hidup Anakku.
“Cantika, tidur aja di Rumah Oma ya,” rayuku basa\-basi.
“Enggak bisa Oma, Mamih lagi sekarat soalnya, ini aja pihak RS nelponin Aku terus.”
“Kan ada Suster yang jaga, udah kamu santai aja,” kembali merayu dan memaksa Cantika tidur disini. Kupaksa tidur di Rumahku, rencana kuajak ke Eropa untuk menemaniku. Itupun, seandainya Cantika mau tinggal disini.
Namun, rupanya Anak itu adalah Anak yang baik dan sangat menyayangi Ibunya yang gila.
Budi yang sekarang lagi dimabuk Wanita adalah hasil Karyaku, dalam diam Aku tertawa dan menari\-nari.
B\*itch yang kujadikan umpan buat hancurin keluarga Budi bukanlah Orang biasa. Dia adalah selebritis Tanah Air yang sedang naik daun, sudah kubayar mahal untuk memainkan ‘Drama’ ini semua.
Apa boleh buat? Itu semua diluar kendaliku dan diluar dugaanku. Bisa dibilang itu juga bagian dari takdir yang Maha Pencipta.
Bersyukur perusahaan Budi semua jatuh ke Tanganku karena sudah kubuat bangkrut dan kubeli murah dengan atas izinnya. Sebagian lagi, kuambil alih Perusahaan Budi saat sedang sekarat tanpa sepengetahuannya.
Aku tak ada niatan sedikitpun untuk menolong atau mengadopsi Cantika dan Adiknya.
Meskipun hartaku banyak tapi Aku tak sudi memberikan sepeser pun, melihat Wajah Cantika yang 100 persen mirip Wanita kampungan itu saja buatku mual.
Sebenernya, Budi tak banyak memiliki piutang karena sudah dilunasi dengan perusahaannya yang collapsed.
Orang\-orang menyamar sebagai deb collectors yang sengaja kukirim untuk menekan Widya, dengan tujuan supaya mental Dia down.
Aku juga merintah Biduan dangdut itu untuk menekan Budi, supaya tidak menghubungi Istri dan Anak\-anaknya. Apalagi mengirimkan Uang bulanan. No Way!
Aku juga disini yang mengirimkan “ Cairan” supaya Widya gila, melalui ARTnya si Sum yang bego itu. Tanpa banyak tanya, Sum menuruti yang kuperintahkan karena yang Sum tahu itu Vitamin.
Tak perlu Dukun sakti yang membantuku mengerjakan ini semua, cukup langkah strategy supaya berjalan dengan alur semestinya.
Entahlah, hatiku sekarang merasa diatas angin dan Aku merasa Alam Semesta berada di pihakku.
Tak ada cacat dalam hidupku, Aku ingin Budi menjalankan hidup dengan apa yang Aku harapkan. Bersanding dengan Orang yang lebih pantas, bukan dengan Orang Kampungan dan tak berpendidikan.
Mendengar Widya lagi “sekarat” membuat hatikku berbunga\-bunga, tak sabar nunggu kabar kematiannya.
Dear Readers...
Terimakasih sudah mampir dan tolong kasih ❤️ dan Jejak (komentar) ya, hal kecil tapi sangat berarti.