
*Perlahan terdapat pergerakan dari Zeva dia membuka perlahan kedua kelopak mata nya
Memperhatikan sekelilingnya yang berdomina berwarna putih dan perlahan matanya melirik kearah selang yang menggantung di sampingnya*
"Zev lo udah sadar"? tanya Chilla
" Gue kok bisa ada disini? " ucap Zeva
"Lo tadi pingsan Zev,tapi sekarang lo udah ga papa kan?" tanya Chilla
"Tadi gue mimpi buruk Chill, masak papa sama mama gue dirumah sakit dan parahnya papa gue dibilang meninggal" uca Zeva bergetar
"Lo harus kuat Zev, gue yakin lo mampu lakuin ini semua, inget lo masih punya mama yang sangat butuh dukungan dari loh sekarang" ucap Chilla menatap ibah pada sahabatnya itu
"Maksud lo apa Chilla, gue ga mimpi itu nyata? " tanya Zeva
"Zev, tolong ngerti" ucap Chilla melemas
"Engga Chilla lo harus jelasin maksud nya gue tadi ga mimpi dan papa memang udah ga ada ha jelasin! " bentak Zeva
"Haha ga mungkin dong lo becanda kan sama gue, ini enggak lucu sumpah" tawa Zeva getir seraya memukul mukul Chilla
"Gue selalu ada di sisi loh Zev, lo harus tabah" ujar Chilla berusaha tegar
"Haaaa ga mungkin itu ga mungkin gue mau liat mama Chill, gue mau liat sekarang, dimana ruangan mama" ujar Zeva seraya melepaskan selang infus yang tertancap di punggung tangannya
"Astaga Zeva, loh harus hati-hati" pekik Chilla
Zeva sama sekali tidak mendengarkan kata-kata Chilla dia langsung bergegas menuju ruang walaupun terseok-seok
Melihat Zeva yang terus berjalan dengan langkah tertatih-tatih Chilla pun terpaksa mengikuti nya dan menuntunnya keruang dimana Rima dirawat
Dengan perlahan Zeva membuka pintu ruang rawat VVIP itu, tampak lah Rima yang terbaring lemah dengan di penuhi selang di seluruh tubuhnya
Banyak perban yang membungkus tubuh nya yang rapuh
Sungguh sosok Rima yang sangat berbeda dengan yang tadi pagi dia temui
Zeva pun melangkah dengan bergetar menuju Rima
dipegangnya tangan ibunya yang pucat, Zeva lun menangis terisak didepan wajah ibunya
"Ma bangun ma, jelasin sama Zeva siapa yang udah buat mama begini? " ucap Zeva seraya mengelus perlahan punggung tangan Rima
"Sabar zev, lo harus kuat buat mama lo, okay" ucap Chilla.
"gue mau liat papa " ucap Zeva lemas
"Yaudah sekarang kita pulang,dan menyiapkan pemakaman bokap lo " ajak Nessa yang sedari tadi menemani Rima
"Iya zev, tadi gue udah hubungi Kakak gue buat jagain mama lo, tenang aja kakak gue salah satu dokter yang ada di rumah sakit ini" Ucap Chilla
Mendengar penjelasan mereka, akhirnya Zeva menurut
Mereka pun bergegas pulang dan menuju rumah Zeva
Sesampainya dirumah sudah banyak orang yang datang untuk melayat
Sudah banyak saudara yang berkumpul di halaman rumah Zeva
"Sayang" panggil Khadija
"Tan papa tan, papa tinggalin Zeva tan" Ucap Zeva terisak dipelukan Dija
"Sayang kamu harus ikhlas dan tabah tante dan yang lain akan selalu ada buat kamu, kita hadapi semua ini bersama-sama oke" ucap Dija
*Zeva pun dengan perlahan menghampiri Raimon yang sudah terbujur
"Pa huuu papa ga boleh tinggalin zeva pa " isak zeva
"Sabar sayang" ucap Dija seraya mengelus punggung Zeva.
*Setelah beberapa waktu mereka pun berangkat ke pemakan untuk mengebumikan Reimond
Dan setelah selesai dimakamkan mereka pun kembali kerumah*
"Tan aku mau kerumah sakit" ujar Zeva
"Enggak sayang kamu harus istirahat terlebih dahulu " ucap Dija
"Tapi mama butuh aku tan" ucap Zeva meyakinkan
"Tante benar sayang kamu harus istirahat terlebih dahulu, jika kamu juga ngedrop siapa yang akan menjaga mama hem? " tanya Riki suami dari Dija
"Lagian mama lo udah dijaga sama kakak gue lo tenang aja" bujuk Chilla
"Dan lo sekarang harus istirahat besok kita temenin lo kerumah sakit kok tenang aja" ucap Nessa seraya menarik tangan Zeva menuju kamar nya
*Sesampainya dikamar mereka meninggal kan Zeva sendirian agar bisa beristirahat
Tapi bukannya beristirahat Zeva malah terus menerus terisak
menghabiskan waktu bersama, dia pun melangkah dan membuka laci nakas disampaikannya
Dia mengambil album foto mereka saat mereka dipasar malam
Memandangi satu persatu poto-poto itu
Hingga tanpa sadar akhirnya dia pun tertidur sambil memeluk erat album itu
Rembulan dan bintang pun menghilang
Malampun kini telah berganti menjadi pagi
Sekilas terdengar suara burung yang berkicau
Perlahan sinar mentari memancar kan sinar yang indah
Sungguh benar-benar pagi yang tampak indah
Tetapi berbeda dengan Zeva,
Perlahan matanya terbuka, kepalanya langsung berdenyut nyeri
Badannya lemas dan sulit untuk bangkit dari tempat tidurnya
Sungguh dia sangat lah lemah pagi ini, tetapi dia memaksakan badan nya agar bisa bangkit dan berjalan perlahan menuju kamar mandi
Dia pun mulai membersihkan badannya, setelahnya menggunakan pakaiannya dan ia pun bergegas turun kebawah
Di pandangannya tante dan omnya sedang duduk disofa ruang tamu
didepan mereka tampak dia orang berpakaian rapi sedang berbicara serius*
"Tante" panggil Zeva
"Zeva kau sudah bangun, kemari silahkan duduk" uuca Dija
Zeva pun melangkah dan duduk di sofa samping Dija
"Perkenalkan ini detektif, dia tante sewa untuk menyelidiki kejadian yang terjadi kepada kedua orang tua mu" Jelas Dija
"Menurut om, pasti ada saingan bisnis papa mu yang iri karena kemarin papa dan mamamu baru saja memenangkan tender besar dari perusahaan Cast Grup" ucap Riki
"Apa kau setuju jika kita menyelidiki kasus ini? " tanya Dija
"Aku setuju apa pun keputusan tante, sekarang aku ingin pergi kerumah sakit" ujar Zeva
"Baik lah kalau begitu kita tutup pembicaraan kita dan kalian mulai lah menyelidiki kasus ini" ujar Riki kepada kedua orang detektif itu
*setelah detektif itu pergi mereka pun bergegas pergi menuju rumah sakit
Sesampainya dirumah sakit mereka langsung menuju dimana ruang Rima dirawat
Dengan perlahan Zeva membuka pintu ruangan itu, ternyata didalam ruangan itu sudah ada Chilla dan kakak laki-laki nya Ergo
"Terimakasih yah Chill, lo udah jagai mama gue" ujar Zeva tulus
"Lo tenang aja Zev, gue udah anggep tange Rima sebagai mami gue sendiri dan ini kewajiban gue buat jaga dia selagi gue mampu" ucap Chilla
"Ya sudah saya permisi dulu, masih banyak pasien yang harus saya periksa" ujar Ergo
"Makasi yah dok sudah mmbantu menjaga dan merawat kakak saya" ujar Dija
"Itu sudah tugas saya bu, tidak perlu sungkan" jawab Ergo seraya meninggalkan mereka
*Tanpa terasa waktu terus bergulir dengan cepat
Detik waktu terus berganti
Tak terasa kini sudah 38 hari Rima terkapar dirumah sakit
Bahkan sudah banyak upaya yang dilakukan oleh mereka tetapi Rima masih saja betah akan tidur panjangnya
Tetapi mereka tidak pernah putus asa
krekk
perlahan pintu ruangan Rima terbuka menampilkan pemandangan yang sungguh membuat jantung Zeva berdetak berkali-kali lipat*
"mama.....
***Terima kasih author ucapkan kepada pembaca novel author
Novel ini masih banyak kekurangan yang harus author perbaiki
Jadi author mohon dukungannya dan komen nya
Nantikan kisah selanjutnya
See you***