ZEVANIA

ZEVANIA
Menemukan Nya



"Van kita jalan yuk! " ajak Zeva


"Jalan kemana Va? " tanya Devan


"Kemana aja kek sekalian cari tau kakek gue " ucap Zeva


"Yaudah siap siap gih kita biar pergi " ucap Devan


"oke" kata Zeva singkat


Setelah beberapa waktu Zeva keluar dari kamarnya dengan dres diatas lutut dan berlengan pendek berwarna marun yang membuat penampilan nya tampak lebih anggun


"Wihhh cantik banget princess gue" ucap Devan memuji Zeva


"Tumben lo muji biasanya juga ngehina" ucap Zeva


"Dih lo itu serba salah tau ga, dibaikin salah diajak berantem salah didiemin aja juga salah, mau lo apa si sebenernya" decak Devan kesal


"Lagian lo sukak kali berubah-ubah kayak bunglon tau ga" ucap Zeva


"Bunglon pala lu peang, sekata kata lo sama gue" ucap Devan kesal


"Tapi gue lebih suka kalau lo bersikap manis tau ga" ucap Zeva


"Kenapa terpesona ya sama kelembutan gue " ucap Devan pede


"Dih songong lo yah, gue cuma suka aja kalau lo ga marahin gue mulu gue juga pengen disayang dan di manja tau ga " ucap Zeva lirih


"Udah deh gue ga suka liat lo lemah kaya gini lo itu princess gue yang paling pemberani dan tegar jadi jangan bersikap begini oke" ucap Devan


"Makasih ya Dev gue tau gue bukan sepupu kandung lo bahkan gue ga bisa bayangin gimana jadinya gue tanpa lo dan nyokap bokap lo" ucap Zeva


"Apapun setatus lo sekarang lo akan tetep jadi sepupu terbaik gue" ucap Devan


"Sayang Devan deh" ucap Zeva langsung memeluk Devan


"Gue juga sayang sama lo Va" ucap Devan membalas pelukan sepupunya itu


"Yaudah ayo pergi gue laper" ucap Zeva


"Perasaan lu laper mulu makan terus tapi ga gemuk gemuk" ejek Devan


"Bagus dong kalau gue ga gemuk,ntar kalau gemuk malu maluin lo yang ada" ucap Zeva


"Hehe yaudah skuyy" ucap Devan


Setelah itu mereka pun bergegas menuju ke sebuah resto seafood terkenal disitu


"Lo mau pesen apa? " tanya Devan


"Gue lobster sama cumi goreng crispy aja deh" ucap Zeva


"Ok mbak Lobster nya dua porsi , cumi crispy nya satu porsi terus udang saus padangnya satu porsi sama kerang ijonya seporsi dan lemon tea nya dua ya" ucap Devan pada pelayan


"Baik tuan ditunggu ya pesanannya" ucap Pelayan itu dan berlalu pergi


"Oh iya gue udah dapet petunjuk tentang kakek lo Va" ucap Devan


"Serius lo? " tanya Zeva


"Iya tadi gue selidiki tentang kakek lo dan gue udah tau alamat nya ada dimana" ujar Devan


"Yaampun Dev makasih banyak ya lo udah bantuin gue" ucap Zeva terharu terhadap sepupunya itu


"Tenang aja Va selagi gue bisa pasti gue bantuin lo" ucap Devan


"Gimana kalau selesai makan kita pergi ke tempat itu" ucap Zeva


"Boleh aja ntar kita samperin kesana, oh iya Va ternyata kakek lo salah satu orang terkenal di sini" ucap Devan


"Maksud lo kakek gue artis" ucap Zeva


"Bukan artis juga kali Va" ucap Devan


"Lah tadi lo bilang terkenal" ucap Zeva


"Jadi tu yah kakek lo salah satu pembisnis handal di negara ini dan perusahaannya juga sudah berkembang sampai ke negara negara lainnya" ucap Devan.


"kaya dong kakek gue" ucap Zeva murung


"Lah bagus dong kok malah murung" ucap Devan


"Gue takut aja ga diterima,sama kaya nyokap kandung gue yang terusir dari kediamannya sendiri bahkan yang mengusir orang tuanya sendiri" ucap Zeva lirih


"Ya gue takut aja Dev, kalau ga diterima gimana apalagi kakek pasti punya keluarga belum tentu keluarga nya mau nerima gue" ucap Zeva


"Yah kita ga bakal tau kalau kita belum samperin dan liat kenyataannya" ucap Devan


"Udah pokoknya kita liat nanti aja gimana jadinya" ucap Devan kembali


*Setelah itu pembicaraan mereka terhenti karena pesanan mereka telah siap disajikan


Setelah itu mereka pun bergegas menikmati makanan yang mereka pesan


Setelah menghabiskan semua pesanannya mereka pun bergegas meninggalkan restoran itu dan masuk ke mobil lalu mereka pun melaju menuju ke alamat yang didapatkan Devan


Setelah beberapa waktu menjelajahi jalanan akhirnya mereka tiba di sebuah bangunan yang cukup megah


Dinding-dinding pilar tinggi menjulang dan saat mereka sampai didepan gerbang masuk mereka dihentikan oleh seorang petugas keamanan*


"Mohon maaf ada yang bisa saya bantu tuan? " tanya keamanan itu


"Kami ada perlu dengan tuan Sebastian" u ucap Devan


"Apa tuan sudah membuat janji" tanya petugas keamanan itu


"Tidak kami belum membuat janji" ucap Devan kembali


"Katakan padanya bahwa Carlote Collins mencarinya" ucap Zeva


"Collins ba-baik lah silahkan masuk saya akan memanggil tuan besar" ucap petugas keamanan


"Baiklah" ucap Devan


Setelah itu keamanan itu lansung berlari menuju balkon belakang rumah tuan nya


"Tuan besar saya ada berita penting" ucap keamanan


"Ada apa tidak biasanya kau berlaku seperti ini" ucap Seorang pria yang sudah berumur lebih setengah abad


"Nona Collins mencari anda tuan" ucap keamanan itu kembali


"Untuk apa lagi anak itu kemari aku sudah muak melihatnya usir saja pengganggu seperti nya" decak seorang wanita yang sedari tadi diam


"Bu-bukan itu nyonya besar tetapi dia berkata bahwa namanya adalah Carlote Collins" ucap keamanan itu


"Car-carlote" ucap pria itu bergetar


"Iya tuan" ucap keamanan itu


*Setelah mendengar nama yang sangat dia rindukan itu pria tua itu langsung berjalan cepat menuju keluar bahkan dia sama sekali tidak mementingkan pinggang nya yang mulai terasa nyeri


sesampainya dia diluar dia melihat seorang pria melihat kearah nya dan seorang wanita memunggunginya


Melihat hal itu Sebastian langsung bertambah gemetar dia pun melangkah perlahan dan memanggil wanita itu*


"Carlote" ucap Sebastian


Mendengar nama sang ibu disebut Zeva langsung membalikkan badannya perlahan


*Deg


Deg


deg*


*Zeva menatap pria yang sudah berumur itu dengan pandangan tak berkedip


Raut wajah pria itu sungguh tegas


Tanpa terasa buliran bening keluar dari pelupuk mata Zeva


Dia sungguh tidak menyangka bahwa dia menemukan paman dari ibunya itu


Seketika badannya bergetar hebat sungguh dia tidak pernah menyangka bahwa dia akan ada dalam situasi ini*


Lamunannya buyar saat terdengar pria tua itu bertanya padanya


"Dimana Carlote ku kenapa dia tidak ada disini? " tanyanya melihat seorang gadis muda yang sedikit mirip dengan Carlote


"Di-dia dia sudah tiada" ucap Zeva lirih.


Mendengar itu seakan dunia Sebastian runtuh baru saja dia merasa mendapatkan berkah dan dalam beberapa detik saja Seakan-akan berkah itu diambil dan malah melemparkan dia kedalam jurang tak berdasar


"Tidak itu tidak benar haha kau bercanda gadis kecil kau pasti berbohong ayo katakan yang sebenarnya" pekik Sebastian langsung jatuh terduduk