YOU MUST MARRY ME

YOU MUST MARRY ME
Bab 48



Lucian Dew


Dew merasakan perutnya menegang dan ia mengira bahwa inilah saatnya ia melahirkan. Wanita itu memegang perutnya dan berjalan cepat ke dalam mansion karena sejak tadi ia ada di taman untuk mengumpulkan bunga yang akan dilukisnya.


Dew naik ke tangga di beranda belakang dan tangannya memegang pinggiran tangga.


Dew terllihat ngos -ngosan karena ia berusaha berjalan cepat sembari menahan sakit di perut buncitnya.


"Bibi! Panggilkan suamiku di ruangan kerjanya," ucap Dew pada pelayan.


"Baik, Nyonya," jawab pelayan itu dan segera menuju ke ruangan kerja Lucian.


Lucian sudah bekerja dari rumah selama satu bulan karena menunggu Dew sampai melewati masa persalinan.


Dia tak ingin terjadi apa- apa pada sang istri di kelahiran putra keduanya nanti.


Dew berjalan ke arah sofa ruang tamu dan dirinya tak bisa duduk karena ia merasa tak nyaman jika duduk. Dew pun hanya bisa mondar mandir sembari menunggu datangnya sang suami.


Tak berapa lama, Lucian datang dengan terburu - buru karena ia merasa Dew akan melahirkan.


Lucian melihat Dew mondar mandiri di ruang tamu dan ia lega ketika melihat sang suami sudah ada di depannya.


"Perutmu sakit?" tanya Lucian memegang tangan Dew.


Dew mengangguk dan kemudian Lucian menggandeng Dew ke luar dari mansion melalui pintu depan.


"Sepertinya ini saatnya," ucap Dew dan Lucian merangkul bahunya untuk membantunya berjalan.


Dew sedikit susah berjalan karena ia merasa bagian tubuhnya sudah mengalami pembukaan.


Dew berusaha tenang dan mengatur nafasnya yang sudah dilatihnya selama ini.


Lucian segera membawa sang istri ke rumah sakit. Dan jarak ke rumah sakit cukup jauh. Lucian sebenarnya ingin tinggal di apartemennnya untuk sementara agar bisa ke rumah sakit dengan cepat jika Dew akan melahirkan, tapi Dew tak mau karena ia lebih suka di mansion yang luas.


Dew yakin bahwa kelahiran bayi keduanya ini akan lancar karena ia dulu sudah pernah melahirkan dan cukup mengerti jeda waktu antara setiap pembukaan jalan lahir.


"Oh God, aku merasa kepalanya akan keluar," ucap Dew yang berusaha tenang meskipun ada rasa panik di dalam hatinya.


"Tenang dan atur nafasmu," jawab Lucian tenang agar Dew tak panik.


"Hmm, tapi ini tak seperti kelahiran Luca dulu. Sepertinya aku akan melahirkan di jalan, Honey," ucap Dew.


"Oh my ... Aku akan menyetir dengan cepat," jawab Lucian yang mulai panik.


Dew memegang perutnya yang semakin menegang dan dia merasa akan mengejan.


"Honey, aku sudah tak kuat lagi," ucap Dew ketika ia sepertinya sudah tak bisa menahan dirinya untuk tak mengejan.


Ingin rasanya Lucian mengumpat dan ia semakin cepat mengendarai mobilnya.


"Tahan, oke?" kata Lucian dan Dew mengatur kembali nafasnya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit dan Lucian segera turun dari mobilnya untuk mengangkat Dew.


"Panggil perawat cepat!!" teriak Dew dan wanita itu tampak sudah mengejan.


"Oh my God," sahut Lucian yang mulai frustasi dan berlari memanggil perawat lalu kembali ke mobil.


Perawat kini sudah ada di depan Dew dan Dew sudah tak bisa berdiri lagi hingga akhirnya mengejan di kursi depan.


"Ambilkan beberapa alat medis, cepat!!" teriak dokter muda yang sedang bertugas hari itu.


Lalu Dew mulai mengejan teratur sesuai arahan dokter itu sembari mereka menunggu dokter kandungan datang.


Lucian melihat semua proses itu hingga akhirnya Dew melahirkan di bangku depan mobil. Hanya dengan dua kali mengejan, Dew melahirkan dengan sangat lancar meskipun melahirkan di dalam mobil.


Hal ini merupakan pengalaman pertama kali bagi Lucian melihat Dew melahirkan dan dengan cara yang anti mainstream pula.


Lucian menghembuskan nafasnya lega ketika mendengar tangisan dari bayinya itu. Hal unik itu menjadi pusat perhatian di area rumah sakit karena Dew melahirkan di dalam mobil yang terparkir di depan ruangan emergency.


Setelah proses melahirkan itu, Dew di bawa masuk ke dalam ruangan emergency untuk melanjutkan proses setelah melahirkan.


Sedangkan bayi mereka dibawa ke ruangan bayi untuk dibersihkan dan dirawat sementara sampai sang ibu telah selesai menjalani perawatan pasca melahirkan.


Lucian masih mendampingi Dew setelah tadi ikut membawa bayinya ke ruangan bayi.


Lucian menelepon orang tuanya untuk mengabarkan hal ini dan menceritakan dengan singkat proses melahirkan yang cukup dramatis tadi.


*


*


Dew sudah ada di ruang perawatan VVIP dan Lucian masih menemaninya di sana.


Dew tersenyum dan mengusap pipi Lucian dengan lembut.


"Bagaimana rasanya?" tanya Dew.


"Amazing. Dan aku akan membeli rumah di dekat rumah sakit jika kau hamil lagi," jawab Lucian dan Dew tertawa pelan mendengar hal itu.


"Di mana bayi kita?" tanya Dew.


Lalu Lucian mengambil bayi mereka yang ada di box bayi yang ada di sebelah Dew.


Dew melihat putranya yang tampak sehati itu dan tersenyum bahagia.


"Dia tampan sekali," ucap Dew lirih dan beranjak duduk dengan bantuan tangan kanan kirinya. Sedangkan tangan kanannya mendekap bayinya.


Lucian kemudian memberikan bayinya pada Dew karena sepertinya Dew akan menyusuinya.


"Kau akan menyusuinya?" tanya Lucian yang tak pernah melihat proses itu.


"Hmm, air susunya sudah keluar dan itu artinya dia ingin menyusu," ucap Dew dan membuka kancing piyama rumah sakit yang dipakainya.


Lucian melihat dengan seksama proses itu dan menurutnya itu adalah pemandangan yang indah yang pernah dilihatnya selain tubuh sang istri tentunya.


Lucian tersenyum dan mengecup kening Dew lalu mengusap punggung Dew agar wanita itu mengeluarkan ASI -nya dengan lancar.


"Thank you, i love you," ucap Lucian.


Dew melihat Lucian dan tersenyum.


"I love you too, Honey," sahut Dew.


"Kau sudah memutuskan nama mana yang kau pakai untuk anak kita?" tanya Lucian.


"Hmm, aku memilih nama Lucas. Tak jauh berbeda dengan Luca agar aku lebih gampang memanggil kalian bertiga dengan nama depan Luc,” jawab Dew dan membuat Lucian tertawa pelan.


*


*


Satu jam kemudian, satu persatu keluarga Kingsford pun datang termasuk Luca yang tadi datang bersama nenek dan kakeknya.


Luca begitu bahagia dengan kelahiran sang adik dan ia begitu excited dengan teman barunya itu. Luca bahkan sudah berani menggendong sang adik tanpa canggung sama sekali.


Kelahiran putra kedua di keluarga Lucian membawa kebahagiaan bagi mereka semua dan mereka bahkan sudah merencanakan untuk memilik anak ketiga karena Dew ingin memiliki keluarga besar seperti sang mertua.


*


Lima tahun berlalu …


“Everyone named Luc, hurry up!!” teriak Dew pada ketiga pria nya agar cepat menuju ruang tamu karena mereka akan pergi ke mansion River Kingsford — sang kakek.


Tak lama kemudian, Lucian, Luca, dan Lucas berjalan cepat ke arah ruang tamu di mana sang ratu sudah menunggu di sana.


Akan ada makan malam keluarga di mansion Beau seperti yang tiap bulan diadakan keluarga Kingsford itu.


“Kau sangat cantik,” kata Lucian dan mengecup bibir Dew.


“Kau juga sangat tampan dan mereka juga,” jawab Dew yang kemudian melihat ke arah dua pangerannya itu.


”Ayo kita berangkat,” kata Lucian dan Dew mengangguk.


Luca menggandenga sang adik dan mereka berempat keluar dari mansion bersama.




TAMAT