
Lucian Dew
Dua bulan kemudian ...
Dew tampak melihat ke arah sebuah benda mirip pensil dan ia menunggunya dengan tanpa berkedip sama sekali.
"Thank God," ucap Dew dan memeluk benda kecil itu.
Dew langsung mandi dan setelah itu ia akan ke dokter kandungan. Ya, Dew baru saja memakai alat test pack untuk memeriksa kandunganya karena ia sudah tak datang bulan selama dua bulan.
Lucian sudah ke perusahaan sejak pagi dan itu membuat Dew tak bisa mengatakannya pada sang suami bahwa dirinya sedang hamil saat ini. Sedangkan Dew ingin mengatakan ini secara langsung dan tak ingin lewat ponsel.
*
Dew ke rumah sakit sendirian dan ia hanya ingin memastikan saja kondisi kehamilannya meskipun yakin dirinya sedang hamil saat ini.
"Ya, anda memang sedang hamil dan ini sekitar 8 minggu," ucap sang dokter.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Dew.
"Sangat sehat dan nanti aku akan memberikan vitamin saja," jawab Dokter.
"Terima kasih, Dokter," jawab Dew lega.
"Oh ya, aku pelukis. Apakah aku masih bisa melukis? Kehamilan sebelumnya aku menghindari bau cat karena aku takut terjadi apa - apa pada bayiku," ucap Dew.
"Tentu saja masih bisa asal tak terlalu sering," jawab Dokter.
Ketika hamil Luca, Dew jarang sekali memeriksakan kondisi kehamilannya ke Dokter karena tak memiliki biaya. Jadi hanya mengandalkan nalurinya saja dalam menjaga kesehatan bayinya.
Setelah puas berkonsultasi, Dew akhirnya langsung pergi ke perusahaan Lucian. Dia pergi ke sana tanpa memberitahu Lucian terlebih dulu.
Sesampainya di sana, wanita cantik itu tampak berjalan anggun melewati lobby. Beberapa pegawai melihat ke arah Dew yang memang jarang datang ke sana.
Seperti saat ini, Dew satu lift dengan wanita yang akan menemui Lucian dan Dew tak tahu hal itu. Kedua wanita yang sama sama cantik itu berjalan keluar bersamaan dari lift dan berjalan menuju ke ruangan Lucian.
Dew yang instingnya tajam dengan hal hal seperti ini menghentikan langkah wanita itu dengan berdiri di depannya.
"Kau mau ke mana?" tanya Dew yang tak mengenal wanita itu.
"Siapa kau berani menghalangi jalanku? Aku ingin bertemu Lucian," jawab wanita itu yang tak lain adalah seorang artis baru yang sama sekali tak dikenal Dew.
"Apa urusanmu bertemu Lucian?" tanya Dew mulai menginterogasi.
"Hei, ini bukan urusanmu dan aku adalah teman dekatnya," jawab wanita itu dengan wajah kesal.
"Kau tahu bahwa Lucian sudah menikah?" tanya Dew.
"Tentu saja, lalu apa masalahnya? Wait ... kau istrinya?" sahut wanita itu melihat Dew dari bawah sampai atas.
"Ya, dan aku mengusirmu dari sini. Pergilah," jawab Dew.
"Cih, Lucian pasti tak tahan dengan wanita pengekang sepertimu karena dia pria yang bebas," ucap wanita itu.
"Ya, aku sudah memborgol tangan serta kakinya agar tak berjalan ke arah wanita - wanita sepertimu. Sekarang pergilah atau kau akan tahu akibatnya karena aku akan membantingmu di atas lantai hingga sepatu high heels mu patah dan kau berjalan terpincang - pincang," jawab Dew.
"Wooow ... Kau sangat bar bar rupanya dan sangat tak berkelas. Apakah kau dari kalangan bawah?" tanya wanita itu dengan merendahkan Dew.
"Ya, dan wanita kalangan bawah ini kini telah memiliki dan menguasai semua saham milik suaminya di perusahaan ini," jawab Dew tegas dan tersenyum penuh kemenangan.
Wanita itu tak bisa membalas kata - kata Dew hingga akhirnya berbalik pergi dengan wajah kesal dan marah.
"Aku akan menginjak wanita mana pun yang mengganggu rumah tanggaku. Cam kan hal itu!" ucap Dew