YOU MUST MARRY ME

YOU MUST MARRY ME
Bab 37



Lucian Dew 37


Dew tampak terpaku sembari menyetir. Dia sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh Leticia tadi. Ayahnya meninggal dan Dew tak tahu apa yang harus dilakukannya karena apa pun yang terjadi dulu, Dew tak pernah membenci sang ayah sejak dulu.


"MOOOMM!!! AWAAASS!!!" teriak Luca ketika Dew menerobos lampus merah dan hampir saja menabrak mobil yang lewat.


Dew menginjak pedal rem mobilnya dalam dalam dan tampak shock.


"OH MY GOD!!" teriak Dew kaget dan Luca juga terlihat shock.


Dew kemudian meminggirkan mobilnya dan memelulk Luca untuk menenangkannya.


"Maafkan Mommy," ucap Dew.


"Hmmm ... Mommy baik baik saja?" tanya Luca.


"Ya, sekali lagi Mommy minta maaf," ucap Dew dan Luca mengusap punggung Dew untuk memberitahu bahwa dirinya baik baik saja. Justru Luca merasa bahwa Mommy nya lah yang sedang bermasalah.


Setelah itu, Dew langsung melaju kembali karena tak melihat polisi di sana dan jalanan tak terlalu ramai. Karena jika ramai, bisa dipastikan mobil Dew pasti akan tertabrak dari belakang.


*


Beberapa menit kemudian Dew dan Luca tiba di mansion. Dew langsung mengantarkan Luca ke kamarnya.


"Mom, are you okey?" tanya Luca ketika melihat wajah sang Mommy masih tampak tak semangat.


Dew melihat ke arah Luca dan tersenyum.


"Mommy baik baik saja, Sayang," jawab Dew.


"Apakah karena wanita tadi?" tanya Luca yang tadi melihat ibunya berbicara dengan seorang wanita yang tampak dikenal oleh ibunya.


"Tidak," sahut Dew.


"Siapa dia, Mom?" tanya Luca.


"Dia teman lama Mommy," sahut Dew.


*


*


Dua jam berlalu, Dew masih berada di studionya dan hanya menatap sebungkus rokok yang ada di tangannya.


Dew akan menghentikan kebiasaan merokoknya karena ia sedang program hamil dan tak ingin membahayakan kehamilannya nanti. Dan Lucian menyuruh Dew untuk benar benar menghentikan kebiasaan merokoknya itu karena membahayakan kesehatannya.


Tak lama kemudian Lucian menelepon Dew dan wanita itu langsung mengangkatnya.


"Halo," jawab Dew pelan dan tak semangat.


"Hei, ada apa? Kau terdengar tak semangat," sahut Lucian dari seberang sana.


"Hmm, aku bertemu kakak tiriku tadi," jawab Dew jujur karena ia tak ingin menyembunyikan apa pun dari Lucian.


"Dia mengganggumu?" tanya Lucian.


"Tidak, hanya saja dia bilang bahwa ayahku meninggal dan itu membuat perasaanku menjadi gusar," jawab Dew.


"Maaf aku tak ada di sampingmu ketika kau membutuhkanku," sahut Lucian berusaha mengerti apa yang dirasakan Dew.


"Tak masalah. Aku tidak sedih karena tak ada kenangan menyenangkan di antara kami. Hanya saja ada rasa gusar di dalam hatiku dan aku tak tahu apa itu," jawab Dew pelan.


"Katakan apa pun yang ingin kau curahkan padaku. Aku akan mendengarkannya," ucap Lucian.


Dew tersenyum dan tanpa sadar matanya berkaca - kaca karena akhirnya ia memiliki tempat untuk berkeluh kesah.


Lalu Dew mulai menceritakan masa lalunya ketika bersama sang ayah dulu dan itu membuatnya sedikit lega. Apa yang dipendamnya selama ini, ia curahkan semuanya pada Lucian ddan pria itu dengan sabar mendengarkannya.


Bahkan Dew menceritakan bagaimana dirinya diusir tanpa perasaan oleh sang ayah yang tak menganggapnya sebagai anak lagi ketika sedang hamil Luca.


Cukup lama Dew berbicara dengan Lucian dan benar bahwa hal itu membuat perasaannya menjadi lebih enteng. Dew bersyukur bahwa ayah Luca tak seperti ayahnya. Meskipun terlihat tengil, Lucian sangat dewasa dan bijaksana dalam memandang suatu masalah.


Lucian berpikir lebih jauh dengan menawarkan sebuah solusi, dan bukan membiarkannya menguap atau bahkan menjadi besar jika ada masalah. Tak seperti ayahnya yang cenderung memutus masalah dengan paksa tanpa ada solusi dan terkesan sangat otoriter.