YOU MUST MARRY ME

YOU MUST MARRY ME
Bab 39



Dew berjalan perlahan menuju ke arah kamar yang ia sebenarnya tak tahu di mana letak kamar Lucian.


Lampu apartemen itu suda redup dan tampak hanya lampu dapur saja yang menyala. Dew membuka dua kamar di depannya dan dua kamar itu tampak kosong.


“Di mana dia?” tanya Dew lirih dan akhirnya masuk ke dalam salah satu kamar.


Lalu Dew menyalakan lampu kamar agar lebih terang karena ia ingin ganti baju. Dew memeriksa lemari dan melihat koper Lucian di sana.


Itu artinya Lucian tidur di kamar itu. Setelah itu Dew mengambil gaun tidur di dalam kopernya.


Dew kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan ia berendam sebentar di bath tub untuk melepas rasa penatnya setelah menempuh perjalanan selama 11 jam lamanya.


Setelah mandi, Dew pun keluar dari kamar mandi. Dia sudah memakai gaun tidurnya dan hanya akan berbaring saja karena ia masih jetlag akibat perbedaan waktu yang cukup jauh.


CEKLEK


Dew membuka pintunya dan setelah keluar dari kamar mandi, tiba tiba ada yang memeluk pinggangnya dari samping.


“LUC!!!??” teriak Dew kaget.


Lucian tertawa melihat keterkejutan Dew dan wanita itu memukul tangan Lucian yang melingkar di perutnya.


“Kau benar benar menyebalkan!!!” kesal Dew karena masih kaget dengan apa yang Lucian lakukan.


Lucian menciumi tengkuk leher Dew dan membalikkan tubuhnya.


“Kau sengaja mengerjaiku?” tanya Dew.


Lucian hanya tersenyum saja dan memagut bibir Dew. Lalu Dew menahan dada Lucian dan melepaskan tautan bibir mereka kemudian menatap mata nakal itu.


“Kau tahu aku akan datang?” tanya Dew.


Dew mengerutkan keningnya karena tak tahu bagaimana caranya Lucian mengawasinya.


“Tak perlu banyak berpikir. Yang penting sekarang kau sudah ada di sini menemaniku meskipun aku tahu kau pasti sangat berat meninggalkan Luca,” ucap Lucian lirih dan mengusap lembut pipi Dew.


“I miss you,” lanjut Lucian dan mulai memagut mesra bibir sang istri yang sangat dirindukannya itu.


Dew menyambut ciuman itu dan mereka saling memagut hingga akhirnya Lucian membawanya ke atas ranjang besarnya.


Lucian merebahkan tubuh Dew di atas ranjang dan langsung membuka gaun sutra berwarna coklat yang dipakai oleh Dew.


Tangan Lucian mulai menyusuri tubuh polos Dew yang sangat dirindukannya setiap malam.


“Lain kali ikutlah bersamaku setiap aku ke luar negeri,” ucap Lucian lirih.


“Akan kupikirkan,” sahut Dew dengan tubuh yang sudah menggeliaat ketika Lucian mulai menyusuri tubuhnya dengan tangan dan ciumannya.


Setelah cukup lama melakukan pemanasan akhirnya Lucian menyatukan tubuh mereka berdua dan bergerak seirama.


Tangan mereka saling bertautan di atas kepala Dew dan mereka saling memuaskan satu sama lain.


Cukup lama percintaan itu berlangsung hingga akhirnya mereka sama sama mencapai puncak kenikmatannya.


“I love you,” ucap Lucian yang akhirnya mengatakan hal itu pada Dew.


Dew tersenyum karena apa yang dirasakan Lucian sama dengan Dew meskipun sebenarnya awalnya Dew bingung tentang perasaannya pada Lucian karena menurutnya ini terlalu cepat.


Tetapi ternyata percintaan panas yang mereka lalui sebelumnya sudah membuat mereka memiliki rasa satu sama lain meskipun harus dipancing dengan hal seperti ini.


Selain itu, kepergian Lucian ke luar negeri membuat mereka tanpa sadar saling merindukan satu sama lain.